Resensi “The Silkworm”, Cormoran Strike’s Series

1402650223Judul: The Silkworm – Ulat Sutra
Seri: Cormoran Strike #2
Penulis: Robert Galbraith
Penerjemah: Siska Yuanita dan M. Aan Mansyur (kutipan bab)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit / Halaman: Cetakan I, 2014 / 536 Halaman

Setelah sukses dengan kisah sebelumnya, J.K. Rowling melanjutkan kisah tokoh detektif partikelir rekaannya dalam novel berjudul “The Silkworm/Ulat Sutera.” Bila di novel sebelumnya, Cormoran Strike bergelut dengan kasus model terkenal Lula Landry, kali ini detektif bertubuh besar ini kembali terlibat dengan kasus pesohor lainnya, seorang penulis terkenal bernama Owen Quine. Cukup dalam waktu lima hari, saya berhasil melahap 50 bab dari novel setebal 536 tersebut.

Sipnosis

Cerita dimulai dengan hiruk pikuk bisnis detektif agensi milik Cormoran Strike yang maju pesat pasca terkuaknya misteri kematian Lula Landry. Klien pun semakin banyak muncul berdatangan yang tentunya dengan bayaran menggiurkan. Sampai pada suatu saat, kantor Strike didatangi oleh Leonora Quine yang memintanya untuk mencari suaminya seorang penulis novel ternama, Owen Quine yang pergi dari rumah tanpa kabar. Dengan penuh rasa iba terhadap sang istri, Strike menerima pekerjaan tersebut meskipun tidak ada kejelasan apakah dia akan dibayar oleh kliennya.

Ternyata kasus menghilang Owen Quine tidak sesederhana yang dipikirkan sang detektif.  Setelah beberapa hari mencari keberadaannya, Strike akhirnya menemukan sang penulis, namun sayangnya dalam keadaan sudah tak bernyawa. Sang penulis rupanya dibunuh secara keji mengikuti ritual dalam draft naskah yang ditulis Quine sendiri berjudul Bombyx Mori, bahasa latin untuk ulat sutera.  Semua tersangka terdiri dari orang-orang yang terlibat dalam novel tersebut, termasuk istrinya sendiri yang sempat ditahan oleh pihak polisi.

Review

Dari kecil saya sudah menjadi pengagum berbagai kisah-kisah detektif dan misteri. Sebut saja, tokoh-tokoh unik seperti Sherlock Holmes, Hercule Poirot, Perry Mason, Columbo, Remington Steele, serta Adrian Monk telah menghiasi hari-hari saya sampai hari ini. Meski sudah berkeluarga seperti saat ini, saya masih tetap aktif mencari informasi tentang novel detektif, termasuk tokoh detektif era sekarang. Disinilah akhirnya saya berkenalan dengan kisah detektif unik era kekinian bernama Cormoran Strike kreasi dari J.K. Rowling.

Saya tidak mengikuti kisah fantasi Harry Potter yang ditulis J.K. Rowling sebelumnya, karena memang saya kurang menyukai kisah-kisah fantasi. Namun setelah saya mendapat rekomendasi dari salah satu teman saya tentang detektif Cormoran Strike rekaannya, saya jadi penasaran bagaimana seorang J.K Rowling – yang menggunakan nama Robert Galbraith – bisa menyiptakan tokoh detektif dengan karakter yang kuat sekaligus meramu kisah misteri menjadi suatu bacaan yang menarik.

Seperti pada kasus sebelumnya, kali ini Cormoran Strike dibantu oleh sekertarisnya Robin Ellacott.  Petualangan mereka dalam merangkai peristiwa dan mengumpulkan bukti-bukti pun membuahkan hasil. Strike  berhasil mengungkapkannya identitas sang pembunuh yang tentunya sangat mengecoh pembaca.

Novel tipikal “whoddunit” ini memang cukup unggul dari segi plot dan twist bila dibandingkan dengan novel sebelumnya. Banyak percakapan penuh rahasia yang membuat pembaca akan dibuat bertanya-tanya. Saya yakin percakapan sekilas itu sengaja dibuat untuk membuat pembaca tidak bisa mereka-reka rangkaian kejadian dan menerka siapa pelaku sebenarnya.

Seperti di novel sebelumnya, Cormoran Strike juga digambarkan sebagai tokoh detektif yang berkarakter kuat. Kehilangan salah satu kakinya yang membuat ia harus menggunakan kaki palsu, J.K. Rowling mencoba membuat detektif “raksasa” tersebut terlihat lebih manusiawi. Mengingatkan saya ketika Sir Arthur Conan Doyle membuat Sherlock Holmes yang suka mengkonsumsi narkotika dan tidak mengetahui kalau bumi itu mengitari matahari. Atau seperti Adrian Monk yang dibuat mengidap penyakit kejiwaan “obsessive compulsive disorder.” Semua itu dibuat supaya sang protagonis terlihat lebih manusiawi, tidak melulu sebagai tokoh “hero” jenius nan sempurna.

Yang menarik, di novel ini Robin sang sekretaris mulai mendapat kesempatan untuk terjun ke lapangan dalam tugas penyelidikan setelah ia merajuk kepada Strike untuk diturutkan dalam tugas detektifnya. Peran Robin sebagai “Watson” untuk Cormoran Strike mengingatkan saya dengan tokoh Della Street, sekretaris dari – pengacara sekaligus detektif – Perry Mason atau Sherona yang bekerja sebagai asisten dari – detektif konsultan – Adrian Monk. Ada yang menarik dari pemasangan tokoh detektif pria dengan rekannya yang seorang wanita. Bila di kisah Perry Mason dan Adrian Monk, para detektif tetap menjaga hubungan profesionalisme dengan rekannya yang berbeda gender tersebut, maka di kisah ini, sang penulis mencoba menciptakan hubungan yang kompleks. Ada percikan romantisme terasa di antara mereka, meski keduanya berusaha tetap profesional. Saya yakin banyak pembaca wanita yang ingin bumbu romantisme terus diciptakan.

Selain itu, jalinan hubungan Strike dengan orang terdekatnya seperti sang sekretarisnya Robin, kedua adiknya Lucy dan Al, serta mantan tunangannya Charlotte digambarkan dengan sangat baik oleh Rowling. Mungkin buat pembaca yang terbiasa dengan kisah detektif Sherlock Holmes atau Detective Conan yang langsung “to the point” ke misteri, tentunya tidak akan suka dengan awal yang terlalu bertele-tele. Namun novel ini sangat cocok bagai mereka yang menyukai kisah suspense misteri berbalur drama. Dan tentunya tidak sabar untuk buku ketiga dari serial Cormoran Strike mendatang. Saya hanya bisa memberikan rating 4 dari 5 bintang untuk The Silkworm mengingat banyak fakta yang hanya disimpan sang penulis.

M. Fadli

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s