Hantu Hutan Norbury (Sherlock Holmes)

scary-woods

Sherlock Holmes sedang duduk di dekat perapian sambil mengkatupkan jari-jarinya, ketika aku baru kembali dari jalan-jalan sore. Kulihat di meja sampingnya terdapat secarik surat.

“Surat untuk memintamu menangani kasus lagi, benarkah?” tanyaku.

Holmes tidak menjawab pertanyaanku, dia terus saja melamun. Aku sadar bahwa dia tengah tenggelam dalam alam pikirannya, dan aku mengerti aku tak harus mengganggu pemikirannya. Tanpa ijinnya aku mengambil surat itu dan membaca isinya.

Mr. Sherlock Holmes yang Terhormat,
Saya tak bisa berpangku tangan memikirkan nasib adik kandung saya yang tak bersalah itu mendekam sendirian dalam penjara yang seharusnya bukan tempat akhir hidupnya. Saya tidak tahu harus memohon pertolongan kepada siapa lagi, selain kepada Anda. Mungkin di pihak kepolisian, semua faktanya memang tidak dapat terlepas dari peranan saudara saya, namun saya benar-benar yakin bahwa saudara saya bukanlah pembunuh Mr. Tomb Murdock yang terkenal itu. Kirimkan telegram ke Nattan, Jewsellyn, Norbury, jika Anda berminat membantu saudara saya, dan nanti sore saya akan pergi ke tempat Anda untuk menjelaskan masalahnya.

N. Hayter

“Tolong berikan telegram ini pada Mrs. Hudson agar dikirimkan ke alamat yang disebutkan dalam surat itu, Watson,” Holmes sudah kembali ke alam nyatanya. Ekspresinya telah kembali seperti biasa, lebih segar dari sebelumnya.

“Kau mungkin pernah mendengar tentang kisah Hantu Hutan Norbury, Watson,” kata Holmes ketika aku kembali ke ruang duduk lagi.

“Berita menghebohkan di koran beberapa waktu yang lalu itu. Rupanya klienmu akan menyuruh kita membuktikan bahwa hantu itulah pembunuh sebenarnya,” jawabku.

Holmes tergelak.
“Kalau kita melihat kasus-kasus yang terdahulu, awalnya kita seperti berhadapan dengan alam lain di luar kemampuanku, namun akhirnya kita dapat memastikan adanya penjelasan yang konkrit di balik sebuah kasus. Kasus yang dibawa klien kita ini terlihat sangat sepele. Hanya saja kita harus memiliki keseluruhan faktanya dulu sebelum menarik suatu kesimpulan. Kau sudah baca koran hari ini? Daily Telegraph ada di atas meja itu Watson,”

Aku mengambil koran yang dimaksud Holmes dan membaca berita utamanya.

Hutan Norbury Kembali Makan Korban, Kali ini Bukan Hantu.

Mr. Tomb Murdock, seorang pemilik perusahaan Tomb & Brown, inc. dan pemilik pabrik gandum terkenal di Middlesex, kemarin ditemukan tewas mengenaskan di hutan Norbury. Mayat Mr. Murdock ditemukan di area lapang di tengah hutan. Tubuhnya telentang dan tangannya terjulur ke kanan dan kiri. Kepalanya dalam keadaan hancur seperti dihantam benda keras. Mr. Jones, yang merupakan mantan kusir keretanya telah ditangkap atas tuduhan pembunuhan pada mantan tuannya. Keadaan mayat Mr. Murdock lebih mengenaskan dari kejadian sebelumnya di hutan itu, karenanya kepolisian mengabaikan protes Mr. Nattan bahwa bukan adiknya yang membunuh melainkan hantu yang sama pada kasus kematian Mr. Egler beberapa waktu yang lalu. Mr. Jones ditangkap karena semua fakta menurut kepolisian Scotland Yard mengarah padanya. Berdasarkan pengakuan Mrs. Murdock, dirinya melihat suaminya memergoki Mr. Jones mengunjungi Mrs. Debora, pelayan rumah Mr. Murdock, malam harinya. Terlihat Mr. Jones mengunjungi rumah itu dengan menunggangi kuda dan membawa senjata. Sebentar terjadi adu mulut antara Mr. Jones dan Mr. Murdock. Lalu kemudian Mr. Murdock masuk ke dalam rumah diikuti pelayannya dan Mr. Jones pergi dari rumah itu bersama kudanya. Tak lama setelah kepergian Mr. Jones, Mr. Murdock lalu menyusulnya dengan menunggangi kuda pula. Mrs. Murdock melihatnya hingga Mr. Murdock hilang di kegelapan malam menuju hutan Norbury. Itulah kali terakhir Mrs. Murdock melihat suaminya hidup. Hingga keesokan harinya, pagi-pagi sekali Mr. Jones memberitahu Mrs Debora bahwa tuannya tewas mengenaskan di tengah hutan, yang kemudian Mrs. Debora melapor pada nyonyanya. Yang memberatkan Mr. Jones adalah ditemukannnya kuda yang ditunggangi Mr. Murdock malam itu, sedang diikat di rumahnya.

“Bagaimana menurutmu, Watson?”
“Kalau menurut kepolisian sudah dapat dipastikan bahwa Mr. Jones adalah pembunuhnya, kurasa kau tak akan berminat lagi pada kasus ini,” jawabku.

“Well, kurasa Mr. Jones tidak sebodoh itu untuk melaporkan tewasnya Mr. Murdock pada Mrs. Debora disaat dia tahu posisinya. Kurasa kita tidak akan mendapatkan apa-apa sampai nanti sore,”

Sore di bulan Oktober 1898 itu sungguh muram. Suasana kota London yang ramai ditutupi oleh cuaca mendung dan angin semilir. Sembari menunggu datangnya klien kami, Holmes berdiri di dekat perapian sambil menggesek biolanya. Harus aku akui sejujurnya aku sedikit terganggu dengan nada iramanya yang tidak begitu bagus. Aku sendiri sedang duduk di kursi malasku sembari membolak-balik buku catatanku. Sebenarnya masih banyak kasus-kasus yang pernah ditangani oleh sahabatku, Sherlock Holmes, dalam buku catatanku yang belum aku publikasikan. Terutama kasus-kasus yang sepele seperti kasus ini, selama ini aku hanya menuliskan kasus-kasus yang rumit, unik, dan menarik saja, semata-mata demi mempertahankan reputasi sahabatku. Namun aku yakin, suatu saat pasti akan dipublikasikan, entah itu olehku sendiri, atau oleh orang lain yang juga ikut andil dalam kasusnya, dan dengan seijin Holmes tentunya.

“Kau masih menyimpan catatan kasus sepele tentang Kaleng Buncis itu, Watson? Betapa akhir yang menggelikan ketika kita semua tahu bahwa kaleng itu ternyata dibuat oleh Dr. Eyrul Mounim, dokter dari Sumatra itu sendiri,”

Aku tergelak mengingat-ingat kasus itu.
“Mr. Fedly, kawan kita dari Australia itu akhirnya harus membayarmu untuk kasus yang sia-sia saja baginya,”

“Jangan lupakan juga kasus Kematian Misterius di Sebuah Club itu, namun nampaknya kau tak perlu repot-repot menulis kisahnya. Teman kita, inspektur Yogger Lennon, telah mempublikasikannya kemarin,”

“Kasus permainan aneh dari klub detektif itu ya. Kurasa kau sangat tertarik dengan angka-angka uniknya,”

Tiba-tiba pintu dibuka dan Mrs. Hudson menunjukkan sebuah kartu nama pada kami. Di kartu nama itu tertulis nama Mr. Nattan Hayter. Lalu Holmes mempersilahkan tamu sekaligus klien kami itu masuk. Mr. Nattan orangnya sedikit gemuk, berambut ikal dan badannya tegap. Wajahnya tampan setidaknya untuk seusianya yang sekitar tiga puluhan. Kumis dan janggutnya tipis, nampak sekali bahwa dia rajin membersihkannya.

“Mr. Sherlock Holmes?”

Sahabatku menunjuk pada sebuah kursi. “Silahkan duduk Mr. Nattan. Dan tenangkan diri Anda dulu. Saya tidak tahu, apakah pengaruh dari kasus ini atau memang tidak tahu-menahu daerah London atau ada hal lain, yang menyebabkan Anda harus memilih jalan memutar untuk sampai di sini,”

“Demi jupiter, kalau saya tahu Anda sudah menunggu di stasiun, pasti saya tidak harus susah payah mencari alamat Anda. Saya baru tiga tahun tinggal di Inggris dan belum mengenal dengan baik daerah London. Tapi kenapa Anda malah membuntuti saya?”

“Saya seharian ini tidak bepergian, Mr. Nattan. Saya hanya melihat bekas tanah merah pada sepatu Anda. Tanah seperti itu banyak berada di daerah yang berlawanan dengan arah menuju Norbury.”

Tamu kami tersenyum melihat sepatunya sendiri. “Pengamatan Anda jeli sekali, Mr. Holmes,”

“Well, saya dan rekan kerja saya, Dr. Watson, ingin mengetahui apa yang membuat Anda yakin bahwa adik kandung Anda tidak bersalah?”

“Adik saya pernah mengungkapkan isi hatinya pada saya, sir. Mr. Murdock itu punya istri, begitu juga Jones dulunya. Ketika istrinya meninggal karena sakit yang dideritanya, Jones sangat terpukul. Jones tahu bagaimana perasaan saat kehilangan orang yang sangat dicintainya. Dia pun tidak akan tega kalau sampai membunuh suami Mrs. Murdock,”

Aku melihat ekspresi Holmes begitu kecewa. “Mr. Nattan, itu tidak dapat membuktikan bahwa adik Anda bukan pelakunya. Seorang penyayang juga bisa jadi pembunuh berbahaya disaat dirinya sedang berada pada posisi kepepet,”

“Tapi saya yakin sekali, Mr. Holmes. Dia telah hidup bersama saya bertahun-tahun lamanya. Dan saya tahu persis bagaimana sifatnya,”

“Well, apakah Mr. Jones pernah bermasalah dengan mantan tuannya?”

“Mr. Jones itu orangnya baik. Bertolak belakang dengan mantan tuannya. Dia tak pernah punya rasa dendam, meski saat bekerja dulu dia sering kali tidak digaji. Sampai akhirnya saya yang menyuruhnya berhenti dari pekerjaan itu,”

“Setelah dia berhenti, kalian berdua tentunya membutuhkan biaya hidup,”

“Saya mengabdi kepada pemerintah sebagai penjaga hutan Norbury. Meskipun gaji saya tidak seberapa besar, namun masih cukup untuk menghidupi kami. Anda pun tidak perlu khawatir dengan dugaan bahwa adik saya akan merampok kekayaan Mr. Tomb Murdock.”

“Bagaimana dengan kuda Mr. Murdock yang ditemukan berada di rumah Anda?”
“Menurut pengakuan Jones, kuda itu datang sendiri. Jones kenal betul dengan kuda milik mantan tuannya itu, dan berniat mengembalikannya keesokannya, karenanya dia mengikat kuda itu di kandang kuda kami,”

“Baiklah, kalau memang keyakinan Anda besar sekali, saya akan dengan senang hati menangani kasus ini. Apakah ada fakta-fakta lain yang bisa membantu penyelidikan kami?”

Tamu kami mengkerutkan keningnya. Nampak bahwa dia sedang berpikir keras. Lalu kemudian ekspresinya berubah gembira.

“Jalurnya berbeda, Mr. Holmes. Jones sempat memberitahu saya di mana mayat Mr. Murdock ditemukan, dan itu bukan di jalur yang Jones lewati sekembalinya dari…”

Cerita tamu kami dipotong oleh Holmes dan sekali lagi aku melihat ekspresi kecewa dari sobatku.

“Ayolah Mr. Nattan. Adikmu diberitakan membawa senjata dan itu…” Tamu kami membalas aksi memotong pembicaraan Holmes.

“Ayolah Mr. Holmes. Perbedaan jaraknya tiga ratus meter, dan seharusnya dokter dari kepolisian telah menemukan butiran pelurunya. Adik saya memang mengambil jalan pintas saat berangkat sesuai petunjuk jalur aman hutan yang saya berikan padanya, karena saya yang menyuruhnya untuk mengambil senjata milik saya itu yang tertinggal di hutan. Tak perlu mencari kesana kemari untuk mengambil senjata itu, dan lokasi senjata dengan lokasi mayat pun berbeda jauh. Dia lalu kembali dari rumah Mr. Murdock dengan melewati jalan umum, karena harus mampir ke agen pengiriman telegram untuk mengirimkan telegram untukku.”

“Untuk perlu apa Mr. Jones mengunjungi Mrs. Debora malam itu?”

“Mengantarkan surat pribadiku padanya, sir. Saya tidak mau berkomentar tentang isi surat itu, saya yakin tidak ada hubungannya dengan kasus ini,”

“Sepertinya memang tidak. Tadi Anda katakan, Anda masih harus memberikan petunjuk jalur aman hutan pada saudara Anda. Berarti saudara Anda tidak tahu menahu tentang jalurnya,”

“Di hutan tidak ada jalur umum. Saya penjaga hutan itu dan saya hafal jalur-jalur yang dapat dilalui orang dengan aman,”

“Selain saudara Anda, apakah ada orang lain yang mengetahui petunjuk jalur hutan tersebut?”

“Hanya beberapa. Awalnya hanya saya, dan hari itu bertambah saudara saya, lalu pihak kepolisian. Kalaupun ada masyarakat yang tahu, mereka tak mungkin mau susah payah melewatinya. Isu adanya tumbuhan beracun dan ditambah hantu hutan itu sudah menyebar luas di masyarakat–ya Tuhan, dokter, temanmu ini kenapa?”

Aku berusaha menenangkan dan menjelaskan kepada klien kami yang memang sangat asing dan merupakan hal baru baginya, ketika Holmes sedang duduk terpekur dan tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Lalu kemudian Holmes menggeleng.
“Saya perlu mengumpulkan lebih banyak fakta lagi di Norbury. Sampai jumpa lagi Mr. Nattan, kita akan bertemu lagi di sana. Kami akan berangkat malam ini dengan kereta api awal, jemput kami di stasiun,”

Sepanjang perjalanan malam itu, Holmes terus berpidato mengenai suasana dan keadaan alam pedesaan Inggris. Dia sama sekali tidak menyinggung soal kasus yang tengah ditanganinya ini. Dari tingkahnya itu aku tidak bisa mengerti, apakah dirinya sudah menarik kesimpulan atau bahkan belum sama sekali. Namun sepertinya tidak ada bahaya di dalam kasus ini, melihat sikapnya yang acuh-tak acuh. Setibanya di stasiun terakhir, kami disambut oleh klien kami yang sudah lama menunggu.

“Sebelum kami memulai penyelidikan, bisakah Anda mengantarkan kami ke penginapan terdekat?”

Penginapan yang kami tempati sangat sederhana. Cocok sekali dengan statusnya sebagai penginapan pedesaan. Setelah menaruh koper bawaan kami di kamar, aku, Holmes dan klien kami berkumpul di ruang duduk.

“Aku ingin menanyakan beberapa hal kepada Mr. Jones. Tapi tampaknya kami kesulitan mengenai ijinnya di rumah tahanan setempat,” Holmes berkata sambil menyalakan rokoknya.

“Oh, itu gampang. Saya yang akan mengusahakan agar besok Anda dan Dr. Watson dapat mengunjungi Jones. Hal itu mudah saja saya lakukan. Apakah ada hal lain yang Anda butuhkan, Mr. Holmes? Apapun akan saya usahakan, yang penting bagi saya adalah keadilan terhadap saudara saya dapat ditegakkan,”

“Ada satu hal lagi. Tolong gambarkan di kertas ini ilustrasi peta wilayah Antara rumah Anda dan rumah Mr. Murdock lengkap dengan jalan utama dan jalur hutannya–serta lokasi mayat dan senjata Anda–baiklah, terima kasih, selamat malam Mr. Nattan, sebaiknya kami memulai melakukan penyelidikan sejak besok pagi saja. Tidak, besok tidak perlu ditemani, kami akan melakukan penyelidikan sesuai cara kami sendiri. Kami akan mengabari Anda jika menghadapi kesulitan. Kirim kabar ke sini jika ijinnya telah siap,”

Sepanjang malam sebelum aku tidur, aku memperhatikan sobatku Holmes sibuk mengamati dan mempelajari gambar peta yang digambar Mr. Nattan itu. Sebelumnya aku sempat pula mengamati sejenak, yang kira-kira ilustrasi gambarnya seperti ini:

dena

Keesokan paginya, aku dan Holmes berjalan kaki sejauh sekitar setengah mil menuju daerah hutan Norbury seperti yang tergambar di ilustrasi petanya. Di tengah perjalanan kami berpapasan dengan inspektur Lestrade dari Scotland Yard.

“Biro Anda sedang sepi akhir-akhir ini, Mr. Holmes? Sehingga harus menangani kasus-kasus yang sepele dan tidak memerlukan kemampuan pikir Anda seperti kasus ini,”

Holmes hanya tersenyum mendengarnya. “Well, kebetulan sekali saya bertemu Anda. Kuda milik Mr. Murdock telah dikembalikan?”

“Sudah. Tadi pagi kami mengembalikannya ke Porter Bork Ville. Kasihan kuda itu, mungkin ikut terlibat pertikaiannya sehingga jalannya agak aneh,”

Holmes terdiam sesaat.
“Lalu, bisakah saya mengetahui kondisi mayatnya?”
“Anda terlambat, sir. Saya hanya bisa menceritakannya saja. Kondisi mayat dalam posisi telentang, tangannya terjulur, dan wajahnya hancur. Menurut dokter dari kepolisian, dadanya juga seperti dihantam benda yang sangat keras namun tumpul. Di sebelah mayat tergeletak pula senjata milik korban,”

“Jejak kaki?”

“Saya sudah memeriksa di sekitar mayat dan Anda harus yakin bahwa tidak ada jejak kaki manusia di sana. Kalau jejak kaki kuda sudah pasti,”

“Mayatnya ditemukan di sebelah mana?”
“Ah, kalau itu, mari ikut saya,”

Kami melanjutkan perjalanan melewati jalan umum berkerikil namun sedikit lunak karena seringnya hujan. Tak jauh dari pertemuan kami, Lestrade membelok ke kiri dan kami mengikutinya berjalan masuk ke hutan. Jalan yang kami lalui nampak jelas bahwa jarang sekali ada orang yang melewatinya. Sesekali Lestrade memperhatikan batang pohon dan melanjutkan perjalanannya. Holmes pun ikut-ikutan memperhatikan batang-batang pohon di sekitarnya sambil terus berjalan di belakang Lestrade. Jalan yang kami lalui tidak lurus, terkadang berjalan ke arah kiri, lalu membelok ke kanan, begitu kami mengikuti Lestrade. Hingga akhirnya kami tiba di tanah lapang yang luasnya hanya beberapa meter saja.

“Di situ mayat Mr. Murdock ditemukan,” Lestrade menunjuk ke tengah-tengah lapangan.

Holmes berjalan ke arah yang ditunjuk Lestrade. Kemudian dia berjalan sambil merunduk kesana-kemari seperti yang biasa dilakukannya ketika sedang menyelidiki suatu tempat. Kemudian tiba-tiba dia berseru.

“Mr. Lestrade yang terhormat, sepertinya Anda melewatkan benda ini,” Holmes menunjukkan pada kami sebuah duri kecil yang ditaruh di telapak tangannya. Duri itu panjangnya sekitar lima sentimeter. Bentuknya unik, seperi kerucut dengan diameter alas yang sangat kecil.

“Maksud Anda, duri ini yang membunuh Mr. Murdock? Anda bercanda, Mr. Holmes?
Bagaimana cara duri sekecil ini bisa membunuh sampai merusak wajah korbannya?”
“Saya tidak mengatakan duri ini yang membunuh Mr. Murdock, meski duri ini beracun. Tapi biarlah saya menyimpan fakta ini. Terima kasih kami sudah diantar kemari, sir. Sampai ketemu lagi, saya dan Dr. Watson masih ingin menikmati suasana hutan Norbury yang sejuk sembari menunggu jam makan siang kami,”

Lestrade telah menghilang ditelan hutan, menyusuri kembali jalan yang kami lalui tadi. Holmes duduk di kayu bekas tebangan pohon. Kepalanya tertunduk dan matanya terpejam. Tangan kirinya bertengger di saku bajunya, sedangkan yang kanan masih mengadah ke atas sambil memegang duri kecil tadi.

“Sepertinya, Watson,” kata Holmes kemudian. “Seni kriminal di Inggris sudah mencapai titik jemu-nya. Mereka para pelaku kejahatan sudah tidak kreatif lagi. Kita lagi-lagi menghadapi duri seperti ini, Watson, kau masih ingat kasus kita terdahulu?”

“Kasus itu aku benar-benar mengerti peran duri kecilnya. Kalau kali ini bukan duri itu yang membunuh korban, aku tidak mengerti peranannya sekarang,”

“Sangat berperan, Watson. Aku ingin mencari banyak fakta lagi untuk bisa memastikan kesimpulan itu,”

“Kesimpulan!” Holmes tersenyum melihat aku berseru kaget.

“Simpan dulu keterkejutanmu. Sekarang mari kita melihat lokasi senjata Mr. Nattan,”
Aku lalu mengikuti langkah Holmes. Dia berjalan masuk kembali ke hutan dan sesekali berhenti untuk mengamati beberapa pohon di sekitarnya, lalu melanjutkan kembali perjalanannya. Beberapa ratus meter kami berjalan seperti itu, lalu Holmes berhenti lama sekali. Kemudian dia mengitari sekelilingnya sehingga posisiku berdiri berada agak jauh darinya.

Nampak olehku Holmes sedang mengamati sebuah pohon yang batangnya kokoh sekali, sedangkan kelebatan daunnya mulai menipis. Sejenak kemudian, dia melambaikan tangannya mengajakku meneruskan perjalanan. Tak beberapa lama kami telah sampai di ujung hutan. Holmes sejenak memperhatikansekeliling Porter Bork Ville, rumah tempat tinggal Mr. Murdock. Kemudian kembali kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalan umum berkerikil nan lembab di desa itu. Kami sampai di depan sebuah kantor agen pengiriman telegram. Holmes menyuruhku menunggu di luar, sementara dia masuk tanpa menjelaskan tujuannya padaku. Agak lama aku menunggunya. Lalu kemudian dia keluar dan mengajakku pergi. Kami terus menyusuri jalan umum itu sembari menikmati suasana alam pedesaan yang terkesan asing bagi dua warga yang terbiasa hidup dengan polusi perkotaan.

Sesampainya kami di depan rumah Mr. Nattan, ternyata si tuan rumah sedang berada di rumahnya. Dan Mr. Nattan sendiri yang pertama menyapa kami.

“Saya sudah menitipkan kabar ke penginapan Anda, tentang perijinannya, sir, ternyata kita malah bertemu di sini. Kalau waktu Anda masih memungkinkan, silahkan mampir sebentar,”

Holmes menyetujui saran itu, dan kami sejenak beristirahat di rumah Mr. Nattan. Rumah ini kecil, sederhana, dan bernuansakan pedesaan. Di samping rumah itu terdapat halaman yang agak luas yang sebagian lahannya dijadikan sebagai kandang kuda berbentuk bangunan kecil.

Yang membuat aku tercengang ketika aku masuk ke dalam rumah adalah perabotan rumah yang hampir semuanya merupakan perabotan yang biasa dibeli dari kota. Aku berpikir bahwa mungkin dulunya Mr. Nattan ini adalah orang yang kaya, namun karena adanya musibah sehingga hidupnya kini menjadi menyusut.

Kami disuguhkan secangkir teh ala ketimuran yang memang sedang ‘naik daun’ di kalangan masyarakat Eropa. Ketika aku hendak minum, aku sempat melihat ekspresi Holmes begitu kaku dan matanya tajam menatap satu sudut di ruangan itu. Aku berusaha mencari tahu apa yang membuatnya begitu. Namun aku hanya bisa melihat pada arah yang ditatap Holmes, hanyalah sebuah kerangka kotak yang terbuat dari besi, berukuran panjang sekitar dua meter, dan tingginya satu meter, sedangkan lebarnya juga satu meter. Di atas kerangka itu terdapat karung kecil yang terbuat dari kain dan diikat tali.

“Kapan Anda hendak mengunjungi saudara saya, Mr. Holmes?” suara Mr. Nattan memecah lamunan Holmes.

“Nanti sore. Sebelum itu kami harus menyantap makan siang kami dulu di penginapan,”
“Kalau sore, mungkin saya masih sempat menemani Anda di rumah tahanan itu,”

“Masih sempat!”
“Nanti malam saya ada urusan, sir. Saya ragu bisa menemani Anda kalau ternyata Anda akan mengunjungi Jones pada malam nanti,”

“Baiklah, kalau begitu, kami pamit dulu. Sampai ketemu nanti, Mr. Nattan,” Holmes melambaikan tangannya. Dan kami pun kembali berjalan di jalan desa itu.

Tak lama kami berjalan, kira-kira beberapa puluh meter dari rumah yang baru saja kami tinggalkan, Holmes berseru, “Jejak kudanya, Watson,”

Holmes lalu sibuk memperhatikan jejak-jejak kaki kuda itu. Aku hanya bisa menunggunya dari kejauhan, khawatir jejak kakiku mengganggu pengamatannya. Lalu tak lama kemudian dia menarik tanganku.

“Ayo, Watson, makan siang kita sedang menunggu,”

“Kita sudah mendekati akhir penyelidikan kita, Watson,” kata Holmes saat kami telah selesai menyantap makan siang kami di penginapan. “Hanya ada satu hal lagi yang masih tidak aku pahami. Dan aku berharap semuanya dapat dijelaskan tak lewat dari hari ini,”

Kami berangkat menuju rumah tahanan wilayah Norbury dengan mengendarai kereta sewaan, karena lokasinya yang agak jauh dari penginapan kami. Setibanya di sana kami disambut oleh Mr. Nattan dan inspektur Barley. Kami semua melangkah masuk ke ruang kunjungan, di situ telah duduk Mr. Jones dengan muka yang lesu. Badannya kurus, jangkung, dan wajahnya seharusnya sangat tampan jika tidak sedang menanggung kesedihan seperti ini. Holmes mendekati Barley dan membisikkan sesuatu.

“Oh, kalau bersifat rahasia, sebaiknya kita berbicara di ruangan saya saja. Silahkan kalau Dr. Watson juga ingin ikut,”

“Jadi, apa yang ingin Anda tanyakan, sir,” tanya Barley ketika kami bertiga telah berada di dalam ruangan pribadinya. Holmes memandang ke sekeliling ruangan itu.

“Saya ingin mengetahui status hukum binatang hutan di Norbury,”

Barley tertawa mendengar perkataan Holmes.
“Jangan katakan bahwa Anda ikut-ikutan tergiur dengan harganya, Mr. Holmes. Inggris dan negara sekitarnya masih membutuhkan jasa Anda dalam masalah kebaikan. Atau jangan-jangan Anda malah berada di pihak mereka. Serigala Norbury termasuk hewan yang dilindungi oleh pemerintah. Katakan, Mr. Holmes, Anda sedang tidak berada di pihak yang salah,”

Kini giliran Holmes yang tertawa, lalu kemudian menyalami Barley. “Jangan khawatir, inspektur yang terhormat. Anda perlu tahu, kita tidak perlu memasang perangkap jika ingin menangkap ‘Serigala Norbury’. Karena dia sendiri yang akan datang menawarkan diri kepada kita,”

“Saya tidak mengerti maksud Anda, Mr. Holmes,”
“Well, sebaiknya Anda tangkap saja teman kita, Mr. Nattan, itu dengan tuduhan telah menangkap atau mungkin telah menjual Serigala Norbury yang terkenal dengan keindahan bulunya itu,”

Singkat cerita setelah itu, Mr. Nattan akhirnya berubah status menjadi tahanan dan Holmes meminta agar Lestrade dipanggil ke Norbury. Setelah Lestrade tiba, Holmes meminta agar Mr. Jones dibebaskan dari tuduhan pembunuhan terhadap Mr. Murdock.

“Coba jelaskan, Mr. Holmes! Kalau bukan Mr. Jones pelakunya, lalu siapa? Pasti siapa yang memiliki duri kecil beracun itu,” kata Lestrade dengan ekspresi merendahkan.

“Tidak, tidak. Bukan siapa yang memilikinya. Peran duri beracun itu adalah sebagai ‘prolog’ dari sebuah pertunjukan ini. Teman kita, Mr. Nattan, ini adalah tuan dari duri itu. Dia menggunakan duri itu sebagai senjata pada perangkap di hutan. Namun tujuannya bukan untuk membunuh Mr. Murdock. Melainkan hanyalah mengejar kekayaan dari Serigala Norbury yang bernilai tinggi.

“Saya lalu berkesimpulan bahwa yang membunuh Mr. Egler beberapa waktu lalu adalah racun yang sama. Khawatir akan ada korban lainnya dan terbongkarnya jual beli hewan secara ilegal oleh dirinya, maka aku berkesimpulan bahwa isu hantu hutan Norbury juga merupakan buah karyanya.”

“Saya menyadari bahwa telah terjadi perdagangan hewan ilegal setelah berhasil mendapatkan salinan telegram yang dikirimkan oleh Mr. Jones di agen pengiriman telegram setempat. Isinya menggunakan sandi sederhana yang mudah sekali aku pecahkan. Ditambah dengan kotak dari besi yang merupakan kandang hewan, aku melihatnya di rumah Mr. Nattan sendiri.

“Pohon-pohon di hutan itu diberi tanda ke arah mana sebaiknya melangkah agar kaki orang yang melewati hutan itu tidak mengenai perangkapnya. Karena adanya tumbuhan beracun, dijadikan sebagai alasan oleh Mr. Nattan, agar siapapun mau tidak mau harus melewati jalurnya,”

“Penjelasan Anda menutup kemungkinan Anda akan mendapatkan biaya jasa pembebasan saudara saya, Mr. Holmes,” Mr. Nattan berkata dengan geram dan tangan terkepal.

“Anda tidak perlu repot-repot, Mr. Nattan,” Holmes tersenyum.

“Well, lalu bagaimana dengan kematian Mr. Murdock?” tanya Lestrade.

“Tentu saja semua sanggahan dari Mr. Nattan bahwa Mr. Jones hanya disuruh memberikan surat pribadi kepada pelayan Mr. Murdock, dan mengambilkan senjatanya yang tertinggal di hutan, serta mengirimkan telegram di agen pengiriman telegram itu benar adanya. Sayangnya Mr. Murdock sempat memergoki Mr. Jones dan Mrs. Debora, yang hal itu membuat Mr. Jones menjadi jengkel. Mungkin Mr. Jones lalu mengucapkan kata-kata yang juga menambah marah Mr. Murdock.”

“Ketika Mr. Murdock masuk ke dalam rumah diikuti pelayannya, seperti yang disaksikan oleh istrinya, Mr. Jones lalu beranjak menuju kantor agen pengiriman telegram. Mr. Murdock berniat mengejar Mr. Jones namun memilih memotong jalan melalui hutan. Dia tidak tahu menahu soal perangkapnya. Lantas menerobos saja jalur lurus antara rumahnya dan rumah Mr. Jones.

“Sialnya kaki kuda Mr. Murdock lalu menginjak perangkap dan perangkap tersebut melepaskan ‘peluru’nya sehingga mengenai kaki kuda Mr. Murdock, namun tidak sampai membunuh kuda itu sendiri. Aku sempat melihat jejak kaki kudanya di sekitar rumah Mr. Jones. Sebagian jejaknya agak dalam dan yang lainnya tidak. Dapat disimpulkan bahwa kuda itu sedikit pincang.

“Ketika pertama kali si kuda merasakan sakit pada kakinya, kuda itu lalu meringkik dan menjatuhkan tuannya. Kuda itu tidak lari ke mana-mana, hanya mengamuk di satu tempat. Mr. Murdock tidak sanggup menenangkan kudanya, sehingga dia pun ‘bergulat’ dengan kudanya sendiri, dan…”

“Astaga, Mr. Holmes. Jadi kuda itu pembunuhnya?” Lestrade memukulkan tangan ke dahinya.

“Well, setelah menginjak-injak tuannya sendiri dan sakitnya mereda, kuda itu lantas terus berjalan sampai berada di rumah Mr. Jones. Baik Mr. Jones maupun Mr. Nattan tidak tahu menahu soal kejadiannya, sehingga pernyataan bahwa Mr. Jones akan mengembalikan kuda itu keesokan harinya, memang benar adanya,”

“Kasus yang sepele, Watson,” kata Holmes ketika kami sudah duduk berdua lagi di kursi malas kami di Baker Street keesokan harinya. “Benar-benar sepele, bukan. Jadi jangan kau salahkan kotak penyimpanan ‘nikotin’ku itu,”

“Omong-omong soal kasus sepele, Holmes, kau tentunya harus memuji hasil tulisanku tentang kisah Kematian Brookly yang aku tulis beberapa waktu yang lalu. Kau tahu, tulisanku itu mendapat penghargaan tulisan terbaik di ajang penulisan kisah kriminal, berdasarkan voting oleh para anggota peminat kriminalitas di Scotland Yard,”

Holmes tersenyum.
“Andai aku tahu siapa saja yang memvoting tulisanmu, aku akan berterima kasih pada mereka semua,”

“Mudah saja, karena voting tersebut dilakukan secara terbuka, dan hasilnya ditempel di papan pengumuman. Aku sempat mencatatnya.”

Aku membuka buku catatanku dan membolak-balik halaman per halaman. Holmes menunggu dengan sabar sambil menghisap pipanya. Lama aku mencari halaman dimana aku mencatat nama-nama pemilih tulisanku, namun tak kutemukan juga.

“Sudahlah, Watson. Halaman yang kau cari mungkin telah diambil oleh orang tua bungkuk yang menabrakmu waktu itu,”

*THE END*

Penulis: Gifanda Manandi Tawlinsani (Bondowoso)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s