Diskusi “The Silkworm” Bareng Sang Penerjemah dan Kriminolog Ternama

df

Setelah terjemahannya diterbitkan pada Oktober 2014 lalu, novel kedua dari Robert Galbraith alias J.K Rowling “The Silkworm” pun mendapat sambutan luar biasa dari para fansnya. Kesamaan antusiasme dari para pembacanya tersebut akhirnya berlanjut dalam sebuah acara gathering yang diadakan oleh Gramedia Pustaka Utama yang digelar di Gramedia Central Park, Jakarta Barat pada 8 Februari lalu. Dalam gathering kali ini, pihak penyelenggara turut menghadirkan sang penerjemah dari The Silkworm, Siska Yunita serta seorang kriminolog terkenal, Maman Suherman.

Gathering ini semakin menarik setelah kedua narasumber mengisahkan tentang latar belakang dari novel bergenre detektif tersebut. Sang penerjemah, Siska Yunita mencoba mengupas novel ini dari sisi editor, karakter, serta ceritanya. Ia pun mengisahkan tentang perbedaan dari kedua novel, The Cuckoo’s Calling dan The Silkworm kepada para pembaca yang hadir. Kabarnya, Siska Yunita adalah orang pertama yang memegang manuscript dari kisah The Silkworm.

“Kita disini berbicara dengan pembaca yang sudah tahu bedanya The Cuckoo’s Calling dengan The Silkworm. Ketika saya menerjemahkan, bayangkan aja, pertama menerjemahkan The Cuckoo’s Calling yang ceritanya cantik, feminin, semuanya indah, renda-renda, dan itu termasuk gaya bahasanya yah. Kemudian masuk ke The Silkworm, suasananya seram, yang masuk duluan adalah Leonora Quine – istrinya Owen Quine, yang digambarkan kurus, 50 tahunan, pake mantel yang sudah lama dari tahun 80-an, saya bisa ngebayangin warnanya yang agak pink-pink nggak jelas gitu. Nah, itu baru satu aspek. Kemudian dari gaya bahasa, beda sekali. The Cuckoo’s Calling itu saya kebawa juga nerjemahinnya dengan bahasanya yang cantik, dan saya menemukan ada kata-kata baru. Tapi di The Silkworm, bahasanya lugas, tegas, nggak ada yang namanya renda-renda atau bunga-bunga. Semuanya langsung. Belum lagi kalau kita ngomongin cara terbunuhnya korban. Itu jauhnya sudah wah,” tutur Siska.

Hal yang senada juga dituturkan oleh Maman Suherman yang melihat novel The Silkworm ini dari sisi kriminalitas. Kriminolog yang dikenal di layar kaca sebagai “No Tulen” dalam acara Indonesia Lawak Klub tersebut, membedah sisi kasus pembunuhan yang ditampilkan di novel tersebut. Menurut kriminolog berkepala plontos tersebut, novel ini benar-benar memberikan gambaran teori lengkap yang selama ini ia pelajari di kriminologi.

“Setelah membaca The Silkworm, yang terpikirkan adalah ngapain saya kuliah lima tahun plus dua tahun skripsi di Kriminologi. Ketika membaca The Silkworm ini, 144 SKS Kriminologi semua ada di buku ini. Yang paling saya suka, J.K Rowling atau Robert Galbraith ini sangat menguasai teori kriminologi klasiknya Lombroso (Cesare Lombroso-red). Eropa banget, bagaimana pembunuh itu digambarkan, orang yang tipe seperti ini, maka kejahatannya akan seperti ini. Tapi yang kemudian yang menarik dari membaca buku ini, saya baru tercekat di halaman 529, ketika naskah asli Bombyx Mori itu ditemukan dengan usus penulisnya ditambah dengan percikan darah di situ. Itu mengingatkan saya dalam buku The Encyclopedia of Murder, kalau ada kekerasan sesadis itu, pelakunya selalu dituduh orang yang kelainan jiwa atau kelainan seksual. Sang penulis pintar sekali membuat kita bingung, ini laki-laki atau perempuan pembunuhnya,” tukas pria kelahiran 10 November 1965 tersebut.

Ia pun kemudian membeberkan tentang penokohan sang detektif serta karateristik novel bernuansa Inggris dengan secara mendetail. Menurutnya, beberapa tokoh detektif asal Inggris memang sangat detail dijelaskan secara terperinci mengenai bentuk fisik sang tokoh. Hal itu ia pelajari di teorinya Cesare Lombroso. Termasuk kenapa detektif seperti Sherlock Holmes, Hercule Poirot, atau Miss Marple tidak berkeluarga, tapi Cormoran Strike diceritakan memiliki keluarga dan mempunyai kisah cinta masa lalu yang memilukan.

“Menariknya tokoh Cormoran Strike ini adalah tokoh nyata, dengan segala plus minusnya. Makanya saya sangat terwakili sebagai manusia. Bukan sebagai orang yang sangat fiktif. Kalau baca buku-buku detektif, baca buku The Encyclopedia of Murder, orang-orang kriminologi itu, semua orang yang IQ-nya di atas rata-rata, di masanya akan disebut “orang deviant” atau penyimpang. Penyimpang bukan berarti dia orang yang gila, tapi dia berbeda dengan orang rata-rata. Menariknya disini, saya tahu pasti Cormoran Strike IQ-nya di atas rata-rata kalau dilihat dari cara dia bermain. Rowling memainkan karakter ini sangat manusiawi. Observasi sangat luas. Masuk akal bila ada jurnalis yang bilang, novel ini pasti bukan ditulis oleh orang yang baru mulai menulis.”

Selain acara diskusi, pihak penyelanggara juga memberikan beberapa perlombaan, quiz, serta hadiah doorprize. Di antaranya adalah lomba menulis resensi berhadiah buku The Silkworm bertanda tangan asli sang author. Berdasarkan hasil pemilihan dari pihak penyelenggara, tiga orang pemenang tersebut terdiri dari @ulinnuha (1), @brenda_gracia, (2), serta @dhanarun! (3). Sedangkan dua buku lainnya diberikan kepada Ismanto Hadi yang berhasil memenangkan lomba quiz trivia tentang novel The Silkworm, serta Aisyah Rizqiyah Syihab atau Chacha yang memenangkan doorprize berhadiah novel tersebut. Keduanya merupakan admin dari komunitas Cormoran Strike Indonesia.

“Alhamdulillah akhirnya, setelah tiga kali usaha. Usaha resensi gagal, trivia gagal, dan sudah benar-benar nggak ngarep karena biasanya nggak beruntung eh ternyata dapet. Alhamdulillah banget,” ucap Chacha bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s