Resensi Novel “The Sherlockian”

The SherJudul: The Sherlockian
Penulis: Graham Moore
Penerbit: Bukune
Kategori: Detektif, Crime, Mystery
Terbit: Desember 2013
Halaman: 556 Halaman

Sipnosis

Harold White, seorang pemuda penggemar Sherlock Holmes berusia 29 tahun yang bergabung dengan Baker Street Irregular dan dilantik dalam sebuah acara jamuan makan malam di kota New York. Di tengah kebahagiannya tersebut, ia terpaksa terlibat dengan kematian seorang petinggi di komunitas tersebut, Alex cale. Korban dikenal di komunitas Sherlockian sebagai seorang pakar terkemuka dan penulis biografi Sir Arthur Conan Doyle. Menelang akhir hayatnya, ia berkoar-koar telah menemukan buku catatan Arthur Conan Doyle yang hilang. Nampaknya hal tersebutlah yang dianggap telah memicu terbunuhnya Alex Pale yang ditemukan tewas dalam keadaan tercekik dengan seutas tali sepatu di kamar hotel tempat ia menginap. Di lokasi pembunuhan ditemukan coretan di dinding dengan torehan darah korban bertuliskan “Sederhana” atau “Elementary”, kalimat yang sering diucapkan Sherlock Holmes kepada Dr. Watson dalam novelnya.

Guna menyelidiki kematian Alex Cale dan berburu buku catatan Arthur Conan Doyle yang hilang, ia ditemani oleh Sarah Lindsay. Bahkan ia dibiayai oleh cucu dari sang penulis bernama Sebastian Conan Doyle untuk mencari buku tersebut yang membawanya berkenala ke London dan Museum Sherlock Holmes yang terletak di dekat air terjun Reichenbach, Swiss.

Tokoh kedua di novel ini adalah Arthur Conan Doyle, sang penulis kisah Sherlock Holmes. Bersetting di tahun pasca kisah pasca “kematian” Sherlock Holmes di kisah “Final Problem. Akibat kebencian sang penulis pada tokohnya sendiri, ia “membunuh” sang detektif yang akhirnya menuaian kecaman dari para penggemarnya. Mereka berharap Arthur dapat menghidupkan kembali sang tokoh.

Di antara kiriman, terdapat sebuah bom yang hampir saja membahayakan nyawa Doyle dan keluarganya. Untuk mengetahui siapa pengirim bom tersebut, Doyle akhirnya menyelidiki siapa yang mengirimnya. Tidak disangka penyelidikan tersebut berkaitan dengan pembunuhan gadis-gadis yang ditemukan tewas memakai gaun pengantin. Kesamaan dari ketiga tersebut sebuah tato bergambar burung gagak. Ditemani oleh sahabatnya, Bram Stroker, penulis novel Dracula, Doyle pun menyelidiki misteri pembunuhan berseri tersebut sekaligus mencari tahu siapa yang mengirim bom tersebut.

Review

Sebenarnya saya sudah lama membaca buku ini, mungkin setelah penerbit Bukune merilis terjemahannya dan diedarkan di toko buku setempat. Namun saya baru bisa menulis resensi atau istilahnya review saya untuk novel ini. Nah, sebelum saya mulai menceritakan tentang novel ini, saya akan memulainya dengan sebuah pertanyaan, “apakah anda seorang Sherlockian?.” Pertanyaan itu yang sering terdengar bila kita mengaku sebagai penggemar kisah detektif paling fenomenal, Sherlock Holmes. Sebutan Sherlockian biasanya dialamatkan kepada mereka yang menganggap Sherlock Holmes adalah bagian dari hidup mereka. Para Sherlockian ini terkadang membuat suatu komunitas yang terdiri dari para penggemar tokoh detektif yang memakaiĀ deerstalker tersebut.

Salah satu komunitas Sherlockian terbesar di dunia berbentuk organisasi resmi adalah Baker Street Irregular (BSI). Organisasi ini memiliki anggota yang terdiri dari pecinta Sherlock Holmes kelas atas. Bahkan beberapa tokoh-tokoh dunia juga ada yang menjadi anggota kehormatan Baker Street Irregular. Seperti contohnya Presiden Amerika Serikat ke-32 Franklin D. Roosevelt dan Presiden Amerika Serikat ke-33 Harry Truman. Besarnya organisasi ini mengilhami Graham Moore, salah satu penulis asal Amerika untuk menulis kisah petualangan yang mendebarkan berjudul “The Sherlockian”.

Di novel The Sherlockian, sang penulis mencoba membawa pembaca ke dua jaman yg berbeda, yaitu tahun 1901 dan tahun 2010. Tokoh utama The Sherlockian sendiri ada dua orang. Yang pertama adalah Harold White, seorang anggota Baker Street Irregular yang baru dilantik di kota New York pada era 2010, dan yang kedua adalah Arthur Conan Doyle, sang penulis kisah detektif fenomenal di era 1901. Novel The Sherlockian bercerita tentang dua misteri pararel dari dua masa dan tempat yang berbeda yang dikemas dalam sebuah petualangan seru.

Dalam novel ini, kedua cerita berbeda tempat ini ditulis selang-seling per babnya. Bab-bab ganjil diisi dengan kisah Arthur Conan Doyle di era 1901, sedangkan untuk bab genap bercerita tentang Harold White di tahun 2010. Sebenarnya dengan adanya dua cerita tersebut, pembaca dapat menikmati dua kisah sekaligus dalam satu novel. Namun pembaca akan hilang fokus untuk merunut kembali setiap cerita. Berbeda dengan kisah novel Sherlock Holmes “A Study In Scarlet” dan “Valley of Fear” yang juga memiliki dua cerita, namun ditulis dalam dua bagian.

Meskipun seperti itu, Graham Moore sang penulis memiliki alasan tersendiri agar kisahnya ini dapat dinikmati dan pembaca mendapat dua pilihan. Bagi saya yang telah membaca dua cerita dalam “The Sherlockian” ini, saya terpaksa untuk berat sebelah dan memilih kisah Arthur Conan Doyle daripada kisah Harold White. Kisah di era 1910 lebih suram, lebih terlihat nuansa detektif klasiknya, seperti menyusuri sisi kumuh kota London, masuk ke tempat-tempat para pelaut, tiga korban pembunuhan, dan tokoh antagonis yang berbahaya. Berbeda dengan nuansa gemerlap yang ditunjukkan di kisah Harold White.

Apapun nantinya penilaian anda setelah membaca novel ini, point terpenting dari novel ini adalah sebuah wawasan lebih mengenai Sherlock Holmes dan sang penulisnya sendiri. Banyak informasi tentang tokoh detektif tersebut, yang tadinya saya tidak tahu akhirnya menjadi tahu. Bahkan, kisah pembunuhan Alex Cale sendiri itu terinspirasi dari kisah pembunuhan nyata di tahun 2004 lalu yang kasusnya dipecahkan oleh para Baker Street Irregular sendiri. Saya nggak bisa banyak komentar lagi untuk novel ini. Yang pasti bila kamu merasa seorang Sherlockian, novel ini layak untuk dibaca.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s