Asal Usul Genre Fiksi Detektif

detective-fiction (1)

Kalau dengar kata “detektif” biasanya yang terlintas di pikiran kita adalah tokoh-tokoh detektif yang terkenal seperti Sherlock Holmes, Hercule Poirot, Miss Marple, Conan Edogawa, Hajime Kindaichi, dan beberapa nama detektif lainnya yang sempat masuk Indonesia, baik melalui novel, komik, serial televisi atau bahkan layar lebar. Selain nama-nama tersebut, ternyata masih banyak tokoh lainnya sebelum tokoh-tokoh tersebut diciptakan.

Timbul pertanyaan, dari manakah semua kisah detektif ini bermula? Apakah ada orang yang menjadi pelopor untuk genre ini? Siapakah tokoh detektif pertama?. Nah, setelah membaca beberapa sumber dan mengotak-atik mana yang kira-kira bisa menjadi acuan, kami mencoba membeberkannya disini. Mungkin penjelasan ini kurang lengkap, dan mungkin ada beberapa sumber yang belum kami ketahui. Tentunya kami akan sangat berterima kasih bila ada yang mau membantu dan menambah guna melengkapi data yang kami punya.

 

Definisi Genre Detektif

 

Berdasarkan sumber yang pernah kami baca, genre “detective story” atau “detective fiction” merupakan sub genre dari “crime fiction” dan “mystery fiction”, yang menceritakan tentang kisah seorang tokoh protagonis atau “main hero” yang melibatkan diri dalam sebuah penyelidikan kasus kejahatan, terutama kasus pembunuhan. Mereka tokoh para detektif ini bisa saja seorang detektif swasta, detektif polisi, detektif amatir, atau ahli forensik.

1a copy

Sumber Inspirasi Kisah Detektif

Susanna and The Elders

Susanna and The Elders

Ada beberapa cendikiawan yang meyakini bahwa elemen-elemen dari cerita detektif sebenarnya sudah muncul di beberapa kitab suci. Di dalam kitab Perjanjian Lama, cerita tentang Susanna (Susanna and The Elders) yang diperas oleh dua orang tua dianggap juga memiliki unsur kisah detektif . Dalam kisah tersebut menceritakan seorang pemuda bernama Daniel yang mengkroscek kesaksian palsu kedua orang tua yang telah memeras dan menuduh seorang gadis bernama Susanna karena telah melakukan kemaksiatan. Sedangkan di dalam Al Quran dalam asbabun nuzul (asal-usul turunnya suatu ayat) dari Surat Al Baqoroh ayat 67 – 73, diceritakan tentang suatu pembunuhan misterius yang tidak jelas siapa pembunuhnya di kalangan kau Bani Israil. Isu pembunuhan ini akhirnya berkembang dan menjadi prasangka di antara kaum tersebut. Untuk mencegah prasangka yang bisa menimbulkan huru-hara tersebut, Nabi Musa memerintahkan kaumnya untuk mencari dan menyembelih seekor sapi (Al Baqoroh berarti sapi). Dagingnya dipukulkan ke mayat sehingga dengan izin Alloh, mayat tersebut hidup kembali dan menjelaskan siapa pembunuh sebenarnya.

Dalam mitologi Yunani, kisah Oedipus Rex yang ditulis oleh Sophocles juga menyiratkan tentang beberapa elemen yang biasanya ada di novel detektif, seperti misteri yang menyelimuti sebuah pembunuhan, lingkaran tersangka dari orang-orang terdekat, serta pengungkapan masa lalu yang tersembunyi.

printDalam kisah seribu satu malam atau “Arabian Night”, salah satu kisahnya yang berjudul “The Three Apples” juga dianggap memiliki unsur kisah detektif. Ceritanya berkisah mengenai seorang nelayan yang menemukan sebuah peti di sungai Tigris. Peti itu dijual kepada raja Harun Al Rashid yang ternyata di dalamnya terdapat mayat seorang wanita muda dimutilasi menjadi beberapa bagian. Sang raja pun menugaskan seorang wasir (penasehat raja), Ja’far ibn Yahya untuk menyelidiki kasus ini dan menemukan pembunuhnya dalam waktu tiga hari. Bila gagal memecahkan kasus, sang wasir diancam akan dieksekusi. Ketegangan pun dimulai dengan serangkaian plot twist di kisah tersebut. Yang membedakan Ja’far dengan detektif setelahnya seperti Sherlock Holmes dan Hercule Poirot adalah bahwa Ja’far tidak memiliki hasrat atau ogah-ogahan untuk memecahkan kasus tersebut. Bahkan dalam kisah ini, ia gagal menemukan pelakunya. Namun untuk membebaskan dirinya dari eksekusi, ia menjelaskan tentang temuan-temuan menarik berkaitan dengan kasus tersebut.

dee_and_hoengDalam riwayat Tiongkok kuno, “Gong’an Fiction” (kasus fiksi kriminal) dikenal sebagai salah satu kisah kriminal Tiongkok yang banyak dimainkan di pertunjukkan opera Peking. Beberapa yang cukup terkenal adalah “Circle of Chalk”, “Bao Gong An Story Collection”, serta “Di Gong An Story Collection” yang muncul di abad 18. Kisah yang banyak dipertontonkan dalam acara opera ini mencoba mengangkat kisah para penegak hukum seperti Hakim Bao (Bao Qing Tian) dan Hakim Dee (Di Renie). Kedua nama ini sering diangkat kembali ke serial TV atau ke layar lebar. Bahkan untuk kisah Hakim Dee, seorang ahli sastra Cina asal Belanda, Robert Van Gulik mengangkat kembali kisah Dee menjadi sebuah serial yang dikenal sebagai Detective Dee. Menurut Van Gulik, ia memilih kisah Dee untuk diterjemahkan karena kisahnya lebih mudah diterima oleh masyarakat dunia barat dalam rangka meraih pembaca global. Yang sangat disayangkan beberapa naskah opera “Gong’an Fiction” hilang dan hancur. Hanya beberapa yang bisa diselamatkan.

Di dunia barat, beberapa elemen cerita detektif juga ditemukan di beberapa kisah kuno. Contohnya pada novel filosofi berjudul “Zadig, ou la Destinée (“Zadig, or The Book of Fate”) yang ditulis oleh Voiltare (1747). Novel ini bercerita tentang seorang pemuda tampan dan baik hati asal Babylonia yang akhirnya mengabadikan dirinya pada ilmu pengetahuan setelah gagal beberapa kali dalam urusan wanita. Zadig memperkenalkan apa yang namanya sebuah analisis. Selain kisah tersebut, elemen cerita detektif bisa ditemui pada “Things as They Are; The Adventures of Caleb Williams” karangan William Godwin (1794). Kisah ini menunjukkan bagaimana pengungkapan kasus pembunuhan yang ternyata berakibat sang tokoh dikejar-kejar orang-orang berkuasa. Beberapa kritikus sastra memasukkan kisah ini ke berbagai genre. Ada yang memasukkan novel memiliki unsur gothic, ada lagi yang berkata bahwa novel ini adalah novel psikologikal pertama, serta ada yang menganggap novel ini mengandung potongan elemen dari kisah detektif.

Tiga novel klasik lainnya, seperti kisah asal Denmark “The Rector of Veilbye” oleh Steen Steensen Blicher (1829) dan novel kriminal asal Norwegia “Mordet på Maskinbygger Rolfsen” (“The Murder of Engine Maker Rolfsen”) oleh Maurits Hansen (1839) yang dianggap sebagai novel fiksi kriminal pertama. Selain itu, kumpulan kisah pendek “Das Fräulein von Scuderi” oleh E. T. A. Hoffmann (1819), yang mengisahkan tentang Mademoiselle de Scuderi (dianggap sebagai Miss Marple abad 18) yang berhasil mengungkapkan kasus serta membebaskan orang tak bersalah karena dituduh membunuh.

Pengembangan Dari Genre Detektif

320px-Poe_rue_morgue_byam_shawKisah-kisah diatas yang akhirnya kemudian memberikan pengaruh langsung kepada penulis asal Amerika, Edgar Allan Poe, termasuk kisah pendek “The Secret Cell” oleh Williams Evans Burton (1837), Kisah “The Secret Cell” menceritakan seorang polisi London mengungkap kasus penculikan seorang gadis. Di era tersebut Poe sendiri merupakan editor dan pegawai dari William Evans Burton di Gentleman Magazine. Ciri khas first person narator yang dilakukan oleh Burton dalam tokohnya L, juga diterapkan oleh Poe melalui kisah “The Murder in The Rue Morgue” pada tahun 1941. Kisah inilah yang akhirnya dianggap sebagai pengembangan dari genre detective fiction pertama yang ditulis dalam bahasa Inggris dan disebarkan secara global. Kisah “The Murder in The Rue Morgue” memperkenalkan ”’tokoh detektif” pertama dalam dunia literasi, sang jenius dan esentrik berkebangsaan Perancis, C. Auguste Dupin. Tidak hanya itu, kisah ini juga dianggap sebagai kisah pembunuhan ruang tertutup pertama (locked room mystery) yang pernah ada. Dalam kisah ini, Dupin digambarkan sebagai seorang amateur detective analisis cemerlang yang Poe beri nama “rasioniasi”. Kemampuan tersebut juga kembali terlihat di kisah Dupin berikutnya, yaitu “The Mystery of Marie Rogêt” (1843) dan “The Purloined Letter” (1845).

Kemunculan kisah ini mengilhami beberapa cerita detektif selanjutnya, termasuk dengan gaya “narasi seorang asisten atau sahabat sang detektif”. Karya Poe ini menggambarkan alur dari sebuah cerita detektif, dimana kita para pembaca mengikuti alur penyelidikan sang tokoh protagonis mulai dari awal sampai akhir terpecahnya kasus, membuat penguraian kasus secara praktis dibanding hanya bertutur hal emosional semata.

Salah satu contoh awal kisah detektif awal lainnya adalah sebuah subplot dari novel “Bleak House” (1853) yang ditulis oleh Charles Dickens. Kisah ini menceritakan penyelidikan Inspectur Bucket yang menyelidiki kematian pengacara Tulkinghorn yang dibunuh pada malam hari di kantornya.

Di tahun 1868, Émile Gaboriau menjadi salah satu pioneer penulis genre detektif di Perancis dengan menciptakan tokohnya Monsieur Lecoq, seorang detektif polisi yang mahir melakukan penyamaran. Dalam kisahnya, tokoh ini juga menjadi salah satu contoh awal untuk seorang detektif yang memeriksa secara teliti tempat kejadian perkara dalam mencari petunjuk.

9780062227287_p0_v4_s260x420Wilkie Collins, salah satu anak didik Charles Dicken sering dianggap sebagai “grandfather of English detective fiction” melalui novelnya yang berjudul “The Moonstone” (1868) dengan dua tokoh di dalamnya; Sersan Richard Cuff, detektif polisi dari Scotland Yard serta Franklin Blake, seorang detektif amatir yang dianggap salah satu contoh gentleman detective era awal. Predikat tersebut diungkapkan oleh T.S. Eliot, penulis novel misteri pertama yang dikenal dengan novelnya “The Woman In White”. Menurut Eliot, novel “The Moonstone” karangan Wilkie Collins merupakan novel detektif pertama, terpanjang, dan terbaik di era tersebut. Karena menurutnya, Collins adalah pelopor novel bergenre detektif pertama, bukan Poe. Edgar Allan Poe hanya pencipta tokoh detektif pertama di literasi yang muncul dari cerita pendek. Sedangkan Wilkie Collins dianggap sebagai pencetus genre detektif pertama berbentuk novel. “The Moonstone” terdiri dari beberapa elemen yang menjadi acuan penulis cerita detektif di abad ke-20.

51NKveMu8WL._SY344_BO1,204,203,200_Meskipun “The Moonstone” dianggap sebagai novel detektif pertama, namun ada beberapa novel lain yang layak untuk diberi penghormatan sebagai novel detektif era awal. Seperti “Notting Hill Mystery” (1862–63), yang ditulis oleh Charles Felix, nama pena dari pengacara sekaligus penulis Charles Warren Adams. Novel ini menceritakan tentang penyelidikan seorang penyelidik asuransi Ralph Henderson yang tengah mengumpulkan dokumen untuk menangkap Baron “R___”, yang diduga telah membunuh istrinya. Dua kritikus literatur Chris Willis dan Kate Watson menyebutkan bahwa novel “The Trail of the Serpent” (1861) Mary Elizabeth Braddon juga bisa dianggap novel british detective pertama, yang menceritakan Mr. Peter, seorang detektif bisu. Nama Braddon lebih dikenal lagi melalui karyanya berjudul “Aurora Floyd” (1863), yang menampilkan detektif Scotland Yard bernama Joseph Grimstone.

portraitSedangkan di Amerika, seorang penulis puisi dan novelis wanita bernama Anna Katharine Green telah memulai beberapa kisah detektif melalui beberapa novelnya. Salah satunya adalah “The Leavenworth Case (1878)”, sebuah novel dengan settingan kota New York yang memperkenalkan detektif Ebenezer Gryce yang memecahkan pembunuhan Horatio Leavenworth, seorang saudagar kaya yang ditemukan tewas di mansion pribadinya. Menjelang akhir abad 19, Green mulai menulis novel serial petualangan seorang detektif amatir wanita bernama Amelia Butterworth dalam novelnya berjudul “That Affair Next Door” (1897). Cerita ini diteruskan dengan dua cerita lainnya “Lost Man’s Lane” (1898), serta “The Circular Study” (1900). Melalui plot-plot yang ia suguhkan di novelnya, Green dianggap sebagai “the mother of the detective novel,” jauh sebelum Agatha Christie memulai karyanya.

Sherlock Holmes, Detektif Paling Fenomenal

riley-stark-sherlock-holmesDi tahun 1887, Arthur Conan Doyle menciptakan tokoh karakter Sherlock Holmes di “Study In Scarlet”, salah satu detektif paling tersohor sepanjang masa. Tokoh ini terinspirasi dari dua detektif, C Auguste Dupin dan Monsieur Lecoq, serta dengan karakter kuat Dr. Joseph Bell, salah satu mentor Doyle di Edinburgh Royal Infirmary. Sherlock Holmes juga mendapat predikat sebagai tokoh detektif pertama yang meperkenalkan profesi detektif konsultan dan detektif swasta, yang menerima klien dan dibayar untuk profesinya. Sherlock juga dikenal dengan metode deduksinya serta kemampuan forensiknya untuk memecahkan beberapa kasus yang sulit. Arthur Conan Doyle telah menulis empat novel dan lima puluh enam cerita pendek yang hampir semua kisahnya dituturkan oleh sahabat Sherlock Holmes, Dr. John H. Watson.

Detektif Awal Abad 20

le-mystere-de-la-chambre-jaune_couvDi awal abad 20, novel detektif berkembang dalam bentuknya sendiri pasca hadirnya tokoh Sherlock Holmes. Karakter detektif yang diciptakan semakin beragam. Salah satunya yang dilakukan oleh seorang novelis asal Perancis bernama Gaston Leroux yang mengisahkan misteri ruang tertutup di “Le mystère de la chambre jaune” atau “The Mystery of the Yellow Room” (1907). Novel ini memperkenalkan seorang wartawan dan detektif amatir muda berusia 18 tahun bernama Joseph Josephine atau yang lebih dikenal dengan Joseph Rouletabille. Mungkin tokoh ini bisa dianggap sebagai tokoh detektif termuda pertama yang diciptakan. Novel ini nampaknya menjadi sumber inspirasi dari John Dickison Carr, salah satu penulis misteri, khususnya yang berkaitan dengan kasus pembunuhan ruang tertutup atau yang biasa disebut “the locked room mystery”.

father-brown-e1324322536388-300x233Salah satu novelist asal Inggris, G. K. Chesterton menciptakan tokoh detektif dengan latar belakang dan memiliki karakter yang unik bernama Father Brown. Kisah dari detektif yang memiliki profesi utama seorang pastor Katolik Romawi ini tersaji di kumpulan kisah pendeknya “The Innocence of Father Brown” (1911). Karakter ini juga dianggap sebagai tokoh yang mengilhami Agatha Christie. Karakternya yang bijak, rendah hati, dan religius menjadikan tokoh ini sangat menarik, yang tentunya berbeda dengan tokoh Sherlock Holmes.

Di tahun 1913, salah seorang penulis bernama E.C. Bentley menciptakan sosok gentlemen detective bernama Philip Trent melalui novelnya berjudul “Trent’s Last Case.” Mungkin novel ini telihat lebih emosional dan memiliki kisah cinta karena sang detektif telah jatuh cinta dengan salah satu tersangka utama.

Novel Detective Era Golden Age

Periode tahun 1920 sampai 1930 diangap sebagai eranya “Golden Age of Detective Fiction”. Selama periode tersebut, mulai bermunculan beberapa penulis cerita detektif terkenal. Kebanyakan memang berasal dari Inggris tapi ada beberapa penulis juga berasal dari Amerika, bahkan New Zealand.

agathaDi era tersebut beberapa penulis wanita lebih banyak berkontribusi dalam genre fiksi detektif. Salah satunya adalah Agatha Christie yang melahirkan private detective berkebangsaan Belgia bernama Hercule Poirot, serta seorang amateur detective wanita Miss Jane Marple. Kisah Hercule Poirot muncul pertama kali di novel “The Mysterious Affair At Style” (1920), sedangkan Miss Marple baru diterbitkan sepuluh tahun kemudian di “The Murder at The Vicarage” (1930).

Selain nama Agatha Christie, beberapa penulis wanita lain juga hadir dengan tokoh detektif ciptaannya masing-masing. Seperti Dorothy L. Sayers yang menghadirkan tokoh Lord Peter Wimsey melalui novel perdananya “Whose Body?” (1923). Sedangkan Margery Allingham memperkenalkan detektif berkaca mata bernama Albert Campion melalui novel perdananya “The Crime at Black Dudley” (1929). Selain itu, seorang penulis wanita asal New Zealand, Ngaio Marsh menulis novel tentang kisah seorang police detective Roderick Alleyn berjudul “A Man Lay Dead” (1934). Keempat penulis wanita tersebut (termasuk Agatha Christie) disebut-sebut sebagai “Queens of Crime” yang tersohor di era Golden Age.

philo_vanceSelain para penulis wanita tersebut, beberapa penulis pria kisah detektif juga menunjukkan karyanya. Di tahun 1926, salah satu penulis asal Amerika bernama Willard Huntington Wright menggunakan nama penanya S.S. Van Dine untuk menulis kisah detektifnya bernama Philo Vance. “The Benson Murder Case” adalah novel pertama dari detektif asal New York yang ramah, cerdas, selalu tampil trendi dan stylish, bahkan pesolek. Seperti halnya Sherlock Holmes, novelnya dinarasikan oleh sahabatnya bernama Van Dine.

John Dickson Carr, yang dikenal sebagai penulis kisah misteri ruang tertutup, juga menulis beberapa kisah detektif, seperti detektif Henri Bencolin melalui novelnya “It Walks By Night” (1930) dan detektif amatir Dr. Gideon Fell melalui novelnya “Hag’s Nook” (1933).

Nero Wolfe - 1Rex Stout, salah satu penulis asal Amerika memperkenalkan detektif uniknya bernama Nero Woulfe melalui novelnya berjudul “Fer-de-Lance” yang muncul di The American Magazine pada bulan November 1934 dengan judul “Point of Death.” Nero Wolfe adalah salah satu detektif yang disebut sebagai “Armchair Detective”. Tubuhnya tambun dan keahliannya akan makanan dan masakan berimbang dengan kemampuannya menganalisa kasus. Novelnya diadaptasi ke film pada tahun 1936 “Meet Nero Wolfe”. Seorang pakar crime fiction Howard Haycraft memasukkan novel “Fer-de-Lance” sebagai salah satu list dari novel misteri yang berpengaruh.

Salah satu penulis asal Belgia bernama Georges Simenon membuat kisah polisi detektif Perancis yang sangat fenomenal bernama Inspector Jules Maigret melalui novelnya “Pietr-le-Letton (The Strange Case of Peter the Lett)” (1931). Tokoh ini sangat terkenal di Perancis, bahkan ia dibuatkan patung layaknya tokoh Sherlock Holmes.

Di era tersebut, genre detective fiction mulai memiliki patokannya tersendiri. Hal itu sempat diungkapkan oleh Ronald Knox yang mengatakan bahwa cerita detektif harus memiliki daya tarik dalam pengungkapan elemen misteri yang mengajak pembaca mengikuti semua prosesnya dari awal sampai akhir.

Di cerita detektif era Golden Age, tokoh detektif (kadang seorang detektif partikelir, petugas polisi, atau kadang-kadang seorang amatir yang berbakat) menyelidiki pembunuhan yang teradi di sekitar wilayahnya yang memiliki seumlah tersangka. Para pembaca diajak untuk menebak siapa pembunuhnya sepanjang cerita berlangsung. Tipikal cerita seperti ini yang akhirnya berkembang menjadi satu sub genre dari detective fiction yang diberi nama “whodunit”, genre yang paling popular dan diminati sampai sekarang.

Novel Private Eye

Di tahun 1894, penulis Inggris bernama Arthur Morrison menciptakan tokoh seorang detektif swasta dengan gaya modern bernama Martin Hewitt. Tokoh inilah yang akhirnya dianggap sebagai contoh awal dari kisah detektif bergaya baru yang modern.

Di akhir tahun 1920, Al Capone dan kelompok mafia menjadi sorotan dunia. Dunia gelap para mafia, khususnya di Amerika menyebarkan rasa takut di kalangan masyarakat, dan juga menjadi inspirasi dalam dunia fiksi kriminal. Kisah-kisahnya memiliki banyak unsur kekerasan seperti penganiyaan dan ketidak adilan yang ditemui tokoh utamanya seperti yang tertuang di beberapa majalah eceran, salah satunya majalah bernama Black Mask.

Dalam kisah-kisah kriminal bernuansa mafia dan kekerasan tersebut bermunculan beberapa tokoh detektif swasta, yang juga disebut penyelidik swasta, atau private investigator. Private Investigator kadang disingkat menjadi “PI” dan “Private Eye” (“eye” menerangkan huruf “I” yang di dalam penyebutannya terdengar seperti “eye”). Kebanyakan, kisah-kisahnya tidak memiliki unsur misteri. Meski ada tokoh detektifnya, tapi ceritanya lebih berfokus kepada bagaimana keadilan ditegakkan kepada mereka yang mendapat perlakuan kasar, yang digambarkan dengan detail yang jelas.

Di tahun 1930, novel private eye banyak diadaptasi oleh penulis Amerika. Detektif yang muncul terlihat tangguh dan stylish seperti Sam Spade atau Nick Charles (Continental OP), kreasinya Dashiell Hammett. Kisah detektifnya lebih mengeksplore kepada kerasnya kehidupan jalanan dan sistem yang korup dari pemerintahan Amerika Serikat.

Bbcmarlowe1Genre ini semakin dikenal dan mendapat nuansa baru setelah Raymond Chandler menciptakan detektifnya bernama Philip Marlowe pada akhir 1930. Chandler membawa Philip Marlowe, tokoh detektifnya memiliki nuansa yang lebih intim dibandingkan dengan gaya “laporan” seperti yang ditulis oleh Hammet di cerita Continental OP. Cara Philip Marlowe berdialog di novelnya terdengar berirama dengan narasi prosa yang indah dan terkesan musikal.

Style novel ini akhirnya menjadi sub genre baru dari crime fiction yang disebut dengan “hardboiled”. Genre ini tidak terfokus kepada para detektifnya, tapi lebih fokus ke korban kejahatan, gangster, tukang pukul, dan para pelaku kriminal lainnya. Novel ini memakai gaya bahasa yang dingin, kadang elegan yang keluar melalui sudut pandang sang detektif tanpa perasaan. Genre akhirnya menjadi sangat fenomenal di Amerika. Kisahnya memunculkan gang yang gelap, anggota gangster, wanita-wanita kaya dan bos gangster. Gaya ini diikuti oleh penulis lain atau penulis serial TV. Detektif tipikal ala Philip Marlowe pun mulai banyak bermunculan, seperti Lew Archer (Ross MacDonald), Mike Hammer (Mickey Spillane) dan lainnya. Untuk sub genre yang satu ini akan dibahas di artikel lainnya.

Detektif Asia Era Awal

Kogoro Akechi, salah satu detektif asal Jepang muncul pertama kali di “The Case of the Murder on D. Hill” (D坂の殺人事件 D-zaka no satsujin jiken) 1925 dan ditulis oleh Edogawa Rampo (nama pena dari Tarō Hirai). Tokoh ini dianggap sebagai detektif pertama Jepang.

Huo Sang, salah satu detetif asal Shanghai (dianggap sebagai Sherlock Holmes-nya Shanghai) diciptakan oleh penulis Cheng Xiaoqing yang muncul dalam novelnya berjudul “Sherlock in Shanghai, Stories of Crime and Detection” di tahun 1910.

Byomkesh Bakshy, detektif partikelir muda asal Bengali, India diciptakan oleh Sharadindu Bandyopadhyay dan muncul pertama kali di “Satyanweshi” (1932). Terinspirasi dari tokoh Sherlock Holmes rekaan Arthur Conan Doyle, Bandyopadhyay menulis 32 cerita yang ditulis antara tahun 1932 sampai 1970.

Bagaimana dengan Indonesia?

Belum banyak yang begitu tahu apakah Indonesia mempunyai kisah tokoh detektif seperti halnya detektif asal Eropa dan Amerika. Namun ada beberapa artikel yang kami temui tentang beberapa nama yang dianggap disebut sebagai detektif awal era Indonesia.

Teguh Esha, salah sastrawan sekaligus seorang jurnalis Indonesia menulis kisah tentang tokoh Ali Topan di cerbung “Ali Topan Anak Jalanan” pada 1972 (novelnya tahun 1977). Namun pada tahun 1978 ia meluncurkan novel berjudul ‘Ali Topan Detektif Partikelir’. Kisahnya pun sedikit berubah dengan yang pertama yang lebih terkesan romansa.

S Mara Gd, seorang penulis wanita asal Surabaya yang menulis kisah misteri pembunuhan yang diselidiki oleh Gozali dan sahabat baiknya, Kapten Kosasih melalui novel perdananya “Misteri Dian Yang Padam” (1985). S Mara Gd sendiri sempat disebut sebagai “Agatha Christie”-nya Indonesia. Selain itu, Arswendo Atmowiloto, seorang penulis dan wartawan Indonesia menulis kisah detektif cilik, seorang keponakan dari anggota kepolisian bernama Imung di tahun 1987. Ada beberapa novel Indonesia lainnya yang juga mengandung unsur kisah detektif di dalamnya.

Semua kisah detektif di atas hanya sebagai contoh tokoh detektif era awal. Seiring berkembangnya jaman, banyak penulis genre yang kemudian juga merintis kisahnya sendiri yang mungkin tidak bisa diceritakan satu persatu melalui artikel ini. Bahkan banyak juga tokoh detektif yang akhirnya lahir bukan dari novel, tapi murni berasal dari serial televisi atau bahkan dari komik dan manga. Sebut saja Columbo, Robert Ironside, Jessica Fletcher yang mewakili detektif televisi, dan Batman, The Question, Tintin, Hajime Kindaichi, Conan Edogawa, dan tokoh lainnya yang mewakili detektif komik dan manga.

Mudah-mudahan dengan artikel dapat menambah wawasan pengetahuan tentang kisah asal usul genre detektif. Beberapa penjelasan lainnya akan ditulis di artikel lain.

(M. Fadli) 
*dari beberapa sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s