Arthur Conan Doyle, Penulis Dibalik Tokoh Sherlock Holmes

2217482857Sherlock Holmes memang dikenal sebagai tokoh detektif terpopuler sepanjang masa, baik di kalangan tua maupun muda. Namun semua ketenarannya tersebut terlahir dari tulisan tangan serta pemikiran sang penulis, Arthur Conan Doyle, yang telah menghembuskan nafas kehidupan buat sang detektif sehingga dikenal sebagai tokoh detektif yang paling fenomenal sepanjang masa.

Arthur Conan Doyle dilahirkan pada 22 Mei  1859. Ia merupakan anak pertama dari pasangan Charles Altamont Doyle dan Mary Doyle. Meskipun ia lebih dikenal dengan nama Conan Doyle, tapi setelah dibaptis di St Mary’s Cathedral, Edinburgh, ia diberi nama “Arthur Ignatius Conan” sebagai nama baptisnya.

Meski berasal dari keluarga yang kurang mampu, tetapi orang tua Conan Doyle masih mampu mengirimkan ke sebuah sekolah yang bagus tempat dia menuntut ilmu dari usia sembilan tahun sampai dengan enam belas tahun. Lulus dari sekolah, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Edinburgh untuk mempelajari ilmu kedokteran dari 1876 sampai 1881. Selama masa akademinya tersebut, Arthur sudah mulai menulis beberapa kisah pendek, seperti “The Haunted Grange of Goresthorpe”, “The Mystery of Sasassa Valley”, serta “Gelsemium as a Poison”.

Doyle sempat bekerja sebagai dokter di Greenland Hope of Peterhead pada tahun 1880 dan sebagai ahli bedah untuk kapal SS Mayumba setelah ia lulus dan mendapat gelar M.B, C.M. Doyle menghabiskan waktu selama hampir satu tahun bekerja sebagai dokter di kapal tersebut dan berkeliling ke seluruh dunia.

Saat kembali ke Inggris, pada 1882 Conan membuka praktek kedokteran di Southsea yang terletak di daerah pantai di bagian selatan Inggris. Awalnya kehidupan Conan Doyle sangat susah karena dia hanya memiliki sangat sedikit pasien dan dia harus bekerja keras untuk memperoleh uang guna membiayai hidupnya. Apalagi di tahun 1885, Doyle menikahi Mary Louise Hawkins. Tentunya banyak kebutuhan yang harus ia penuhi untuk menghidupi keluarganya.

Saat kekurangan uang inilah, ia pun berinisiatif untuk menulis sebuah cerita yang lebih baik daripada cerita-cerita yang pernah ia buat sebelumnya. Doyle akhirnya terinspirasi untuk mencoba membuat cerita tentang karakter seorang detektif setelah ia membaca beberapa cerita detektif C. Auguste Dupin karangan Edgar Allan Poe dan M. Lecoq karangan Émile Gaboriau. Namun berbeda dengan cerita kedua detektif di atas, Doyle ingin mencoba menciptakan karakter yang mengerti tentang ilmu forensik dan kedokteran serta memiliki kemampuan deduksi layaknya dosennya sekaligus mentornya semasa ia kuliah, Dr. Joseph Bell.

Ia memadukan kemampuan Dr. Joseph Bell dengan dua tokoh karakter tersebut. Kisah Dupin yang memiliki gaya tulisan naratif dari kacamata seorang tokoh asisten tersebut diadopsi oleh Conan Doyle dalam mengisahkan tokohnya. Selain itu, kemampuan observasi yang mendalam seperti di cerita Dupin dipadukan dengan kemampuan menyamar ala Lecoq. Doyle kemudian memberi nama sang detektifnya Sherlock Holmes, setelah beberapa kali mengganti nama. Mulai dari Sheriddan Hope, Sherringford Holmes, sampai akhirnya menjadi Sherlock Holmes. Termasuk nama Ormond Sacker yang akhirnya diganti dengan nama Dr. John Watson, sahabat dan kolega dari sang detektif tersebut.

Sherlock_Holmes_Portrait_PagetSherlock Holmes akhirnya dimunculkan dalam novelnya berjudul “A Study In Scarlet”, yang sebelumnya sempat diberi nama “A Tangled Skein”. Awalnya Doyle menulis kisah ini pada tahun 1886. Cerita ini diberikan kepada Ward Lock & Co pada tanggal 20 November 1886, dan dibayar seharga £25. Cerita ini baru diterbitkan dan dimuat dalam Beeton’s Christmas Annual pada akhir tahun 1887.

Cerita mendapat respon yang bagus seperti yang tertuang dalam review The Scotsman and the Glasgow Herald. Kisah Sherlock Holmes kemudian diteruskan dalam novelnya yang kedua berjudul “The Sign of the Four” yang diterbitkan dalam Lippincott Magazine pada bulan Februari 1890 di bawah persetujuan perusahaan Ward Lock & Co. Merasa kisahnya dan namanya terlalu diekploitasi oleh perusahaan tersebut, Doyle akhirnya memutuskan kerjasama dengan mereka.

Doyle kemudian menerbitkan beberapa cerita pendek tentang Sherlock Holmes di Strand Magazine. Setelah meninggalkan profesi kedokterannya pada tahun 1891, Doyle memutuskan untuk menjadi penulis profesional dan mengembangkan kisah Sherlock Holmes yang lain beserta beberapa kisah pendek tokoh lainnya di luar kisah Sherlock Holmes, seperti kisah “The Doings of Raffles Haw” yang terbit di tahun yang sama dengan kisah “A Scandal in Bohemia”.

Doyle kemudian menjadi semakin terkenal karena buku-buku dan cerita-ceritanya tentang Sherlock Holmes. Bahkan ketenarannya tokoh ini mengalahkan hal lainnya, sehingga membuat Doyle merasa muak dengan tokoh sang detektif tersebut. Sehingga ia berpikir untuk “mematikan” tokoh Sherlock Holmes dan mengakhiri semua kisahnya. Ia sempat mengutarakan keinginannya melalui sebuah surat yang ditulis untuk ibunya. Meski ibunya tidak menyetujui rencananya tersebut, Conan Doyle tetap melaksanakan niatnya mengakhiri karakter Sherlock Holmes.

Untuk membuat kisah kematiannya terlihat lebih dramatis, ia menciptakan tokoh penjahat yang memiliki kejeniusan setara dengan Sherlock Holmes, yaitu Profesor Moriarty. Singkat kata, Sherlock Holmes mati bersama Profesor Moriarty di air terjun Reichenbach dalam kisah “The Final Problem” yang diterbitkan pada tahun 1893. Kisah ini dipadukan dengan beberapa kisah lainnya dalam “The Memoirs of Sherlock Holmes” yang dirilis di tahun 1894.

Kematian sang detektif membuat para fans-nya bersedih dan marah. Doyle dipaksa untuk menghidupkan kembali kisahnya, termasuk para penerbit. Untuk mengelabui para penerbitnya, Doyle beralasan kisah Sherlock Holmes sangat mahal biayanya. Ia sengaja berbohong menaikkan harga untuk setiap kisah Sherlock Holmes yang ia tulis dengan harapan para penerbit tersebut akan mundur. Namun ternyata para penerbit menyanggupi permintaannya untuk membayar tinggi. Alhasil, Doyle dianggap sebagai penulis dengan bayaran tertinggi pada era itu.

Rupanya bayaran tinggi tersebut belum bisa menggerakkan dirinya untuk menulis kisah Sherlock Holmes kembali. Doyle lebih memilih untuk menulis kisah-kisah sejarah seperti “The Great Shadow and Other Napoleonic Tales” (1892), “The Refugees” (1893), serta “Uncle Bernac” (1896).

Tidak hanya menulis saja, Doyle juga tergabung sebagai pemain Cricket pada tahun 1899 untuk Marylebone Cricket Club (MCC) dan pada tim amatir Allahakbarries bersama penulis lainnya, J. M. Barrie dan A. A. Milne. Dalam periode tersebut, perang Boer pun meletus. Conan Doyle menyumbang waktunya bekerja sebagai seorang dokter tentara di Afrika Selatan.

Ternyata permintaan para fans untuk menghidupkan Sherlock Holmes masih belum redup. Desakan itu semakin menjadi, sehingga akhirnya di tahun 1901, Doyle menulis kembali kisah Sherlock Holmes dalam “The Hound of the Baskervilles”. Penjelasan mengenai bagaimana Sherlock Holmes bisa hidup kemudian diceritakan dalam “The Adventure of the Empty House” pada tahun 1903. Kisah pendek tersebut akhirnya dirangkum dengan kisah lainnya dalam ”The Return of Sherlock Holmes” pada tahun 1904. Di tahun yang sama novel “The Valley of Fear” juga diterbitkan dan menjadi novel Sherlock Holmes terakhir yang ditulis.

Dua tahun kemudian menadi tahun yang penuh drama dan tragedi bagi Doyle. Setelah kematian istrinya akibat TBC di bulan Juli 1906, membuat ia terpukul. Di tengah dukanya tersebut, Doyle juga terlibat dalam pemecahan kasus kriminal. Bak tokoh detektif rekaannya, Doyle turut meniliti kasus pengacara Inggris India, George Edalji yang dianggap telah melakukan pengancaman dan memutilasi hewan ternak di Great Wyrley. Doyle menganggap kasus ini tidak mungkin dilakukan oleh George. Apalagi saat polisi menahan George Edalji, kejadian mutilasi hewan tersebut tetap terjadi.

Doyle juga terlibat di dunia politik sebagai suporter kampanye serta tertarik dengan dunia spiritual. Ia juga bersahabat dengan pesulap terkenal, Harry Houdini dan menjadi sahabat baik. Sayangnya, karena perbedaan pendapat, persahabatan mereka kandas dan berakhir dengan perang dingin di antara keduanya.

Selain Sherlock Holmes, Doyle juga menulis novel seri lainnya dengan tokoh yang berbeda. Ia menciptakan tokoh ilmuwan ambisius dan petualang bernama Professor Challenger
dalam novelnya yang berjudul “The Lost World” (1912). Namun tokoh ini tetap tidak bisa menyaingi ketenaran Sherlock Holmes. Sehingga beberapa kisah pendek tentang Sherlock Holmes tetap ditulis sampai akhirnya kisah “His Last Bow” dan “The Case Book of Sherlock Holmes ” yang diterbitkan mendekati masa tuanya. Pada tanggal 7 Juli 1930, Doyle meninggal dunia pada usia 71 tahun akibat serangan jantung.

Atas dedikasinya terhadap dunia penulisan, sebuah patung penghormatan untuk Doyle dibangun di Crowborough. Selain itu, patung tokoh detektif rekaannya Sherlock Holmes berdiri tegak di Picardy Place, Edinburgh, tidak jauh dari lokasi rumah tempat ia dilahirkan.

*M.Fadli

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s