Sherlock Holmes, Detektif Yang Tidak Pernah Hidup dan Tidak Akan Pernah Mati

Sherlock_Holmes_Portrait_PagetBegitulah titel yang disematkan para fans untuk detektif paling fenomenal sepanjang masa. Karakternya yang unik, penampilannya yang menawan, serta metode dan cara berpikir yang berbeda dari orang kebanyakan membuat ia sangat dikagumi para penggemar tokoh tersebut.

Sherlock Holmes merupakan tokoh detektif fiksi rekaan Sir Arthur Conan Doyle, seorang penulis dan dokter berkebangsaan Skotlandia. Doyle terinspirasi untuk menulis cerita tentang karakter seorang detektif setelah ia membaca beberapa cerita detektif C. Auguste Dupin karangan Edgar Allan Poe dan M. Lecoq karangan Émile Gaboriau. Namun berbeda dengan cerita kedua detektif di atas, Doyle ingin mencoba menciptakan karakter yang mengerti tentang ilmu forensik dan kedokteran serta memiliki kemampuan deduksi layaknya dosennya sekaligus mentornya semasa ia kuliah, Dr. Joseph Bell.

Ia memadukan kemampuan Dr. Joseph Bell dengan dua tokoh karakter tersebut. Kisah Dupin yang memiliki gaya tulisan naratif dari kacamata seorang tokoh asisten tersebut diadopsi oleh Conan Doyle dalam mengisahkan tokohnya. Selain itu, kemampuan observasi yang mendalam seperti di cerita Dupin dipadukan dengan kemampuan menyamar ala Lecoq. Doyle kemudian memberi nama sang detektifnya Sherlock Holmes, setelah beberapa kali mengganti nama. Sherlock Holmes akhirnya dimunculkan dalam novelnya berjudul “A Study In Scarlet”.

Awalnya Doyle menulis kisah ini pada tahun 1886. Cerita ini baru diterbitkan dan dimuat dalam Beeton’s Christmas Annual pada akhir tahun 1887. Dalam novelnya tersebut, Sherlock Holmes yang menyebut dirinya sebagai “detektif konsultan”. Bisa dipastikan Sherlock Holmes adalah tokoh yang mendapat predikat sebagai tokoh detektif pertama yang memperkenalkan profesi detektif swasta, dalam arti menerima klien dan dibayar untuk profesinya.

Sherlock juga dikenal dengan metode deduksinya dan kemampuan forensiknya untuk memecahkan beberapa kasus yang sulit. Sherlock Holmes digambarkan sebagai tokoh dengan fisik kurus tinggi. Waahnya digambarkan seperti tengkorak yang hanya ditempeli kulit tanpa daging dengan hidung lancip seperti paruh burung. Pakaian yang dikenakan seperti pakaian-pakaian pria terhomat lainnya bergaya Victoria. Ia suka mengisap pipa rokok dan menggunakan kaca pembesar. Setelah digambarkan oleh Sidney Paget dalam ilutrasi novelnya, sang ilustrator menambahkan topi berburu yang sering disebut dengan topi deerstalker. Inilah ikon yang sering disematkan kepada tokoh detektif tersebut.

Holmes mengatakan bahwa ia pertama kali mengembangkan metode deduksinya untuk memecahkan kasus saat masih mahasiswa. Kasus pertamanya sebagai detektif amatir datang dari temannya sesama mahasiswa. Menurut Holmes, yang mempengaruhinya untuk memilih profesi sebagai detektif adalah ayah seorang teman kuliahnya. Profesi itu ditekuninya selama enam tahun setelah lulus kuliah sampai akhirnya Holmes kesulitan keuangan sehingga harus patungan sewa kamar dengan Watson. Saat itulah kisah petualangan Holmes dimulai. Sejak 1881, Holmes menyewa kamar di Baker Street 221B, London, sebagai tempat tinggal sekaligus tempat praktiknya. Hingga kedatangan Watson, Holmes bekerja sendiri, sesekali mempekerjakan agen yang berasal dari masyarakat kalangan bawah, meliputi sejumlah informan dan sekelompok anak jalanan yang disebutnya “Baker Street Irregulars” (laskar anak-anak jalanan Baker Street).

Hanya ada sedikit keterangan mengenai keluarga Holmes. Orang tuanya tidak pernah disebut-sebut dalam cerita, ia hanya pernah menyatakan bahwa dirinya merupakan keturunan tuan tanah pedesaan. Dalam kisah “The Greek Interpreter”, Holmes mengatakan bahwa paman buyutnya adalah Horace Vernet, seorang seniman Perancis. Kakaknya yang lebih tua tujuh tahun, Mycroft, adalah pejabat pemerintah yang muncul dalam tiga cerita, yaitu “The Greek Interpreter “, “The Final Problem”, dan “The Adventure of the Bruce-Partington Plans”, serta disebutkan dalam satu cerita, “The Adventure of the Empty House” Pekerjaan Mycroft cukup unik karena ia hanya bertindak sebagai juru pengingat atau kamus berjalan bagi segala aspek kebijakan pemerintah. Mycroft dideskripsikan jauh lebih berbakat daripada Holmes dalam hal observasi dan deduksi, tetapi tidak memiliki kemauan dan stamina sekuat Holmes. Kakak Holmes itu dikisahkan lebih suka menghabiskan waktunya bersantai-santai di Diogenes Club.

Hampir semua cerita petualangan Holmes dinarasikan oleh sahabat karibnya, Dr. John H. Watson, kecuali dua yang diceritakannya sendiri, “The Blanched Soldier” dan “The Lion’s Mane” serta dua yang ditulis dengan sudut pandang orang ketiga “The Mazarine Stone” dan “His Last Bow”. Novel pertama dan keempatnya, “A Study in Scarlet” dan “The Valley of Fear”, masing-masing memiliki bagian penceritaan ulang dalam sudut pandang orang ketiga serba tahu yang tidak diketahui oleh Holmes maupun Watson. Dalam sebagian besar hidupnya sebagai detektif konsultan, Holmes berbagi kamar dan pengalaman dengan sahabat sekaligus penulis kisah petualangannya, Dr. Watson. Sang dokter berkumis tebal tersebut tinggal bersama Holmes selama beberapa tahun di Baker Street 221B sebelum berpisah karena menikah dengan Mary Morstan pada tahun 1887, tetapi tinggal bersama lagi pasca-kematian istrinya itu. Induk semang mereka adalah Mrs. Hudson.

Watson berperan ganda dalam kehidupan Holmes, yang pertama sebagai asisten dan kedua sebagai perekam jejak Holmes. Sebagian besar kisah petualangan Holmes ditulis dengan sudut pandang Watson sebagai ikhtisar kasus-kasus paling menarik yang pernah dipecahkan oleh sang detektif. Akan tetapi, Holmes seringkali mengkritik tulisan Watson yang dianggapnya terlalu sensasional dan umum, alih-alih berupa laporan yang akurat dan objektif. Meski demikian, persahabatan dengan Watson merupakan hubungan pertemanan Holmes yang paling intensif. Dalam beberapa cerita, kepedulian Holmes yang tinggi kepada Watson muncul, tetapi seringkali tidak tampak dari luar karena tertutup oleh ronanya yang dingin. Sebagai contoh, dalam kisah “The Adventure of the Three Garridebs”, Watson terluka tembak. Meski luka tembak itu terbilang cukup ringan, Watson merasa terharu melihat reaksi Holmes.

Beberapa kemampuan Holmes juga digambarkan oleh Watson di “A Study in Scarlet”, termasuk beberapa ilmu yang Holmes kuasai maupun yang tidak ia kuasai. Seperti pengetahuan akan kimia, anatomi tubuh, hukum, tumbuhan obat dan racun, pandai bermain biola, serta handal dalam bela diri, seperti tinu dan pedang. Namun ada beberapa yang ia juga tidak kuasai seperti sastra, filsafat, dan astronomi. Bahkan digambarkan bahwa Holmes tidak terlalu peduli apakah bumi yang mengelilingi matahari atau sebaliknya. Ia juga menganggap, bahwa nggak semua pengetahuan bisa dimasukkan ke dalam otak. Ia lebih memilih pengetahuan yang berguna buat profesinya saja.

Holmes juga terlibat dengan pemakaian obat-obat terlarang yang dianggap pelariannya bila tidak ada suatu hal yang menarik untuk merangsang otaknya berpikir, seperti yang digambarkan dalam bab pertama “The Sign of the Four”. Konon kabarnya, Doyle ingin menunjukkan bahwa tokoh Sherlock Holmes juga memiliki ketidaksempurnaan layaknya manusia lainnya. Sesekali Holmes menampakkan sikap arogan dalam batas-batas tertentu yang masih dapat dimaklumi. Bahkan ada ungkapan bahwa Sherlock Holmes digambarkan tokoh jenius yang tidak punya hati. Ia juga senang saat melihat para inspektur polisi kebingungan dengan metode deduksi tingkat tingginya. Akan tetapi, ia tidak ingin mencari muka dan tidak ambil pusing saat polisi mengakui hasil kerjanya sebagai hasil kerja mereka.

Sepak terjang Sherlock Holmes dalam dunia literatur ternyata tidak berjalan mulus. Meskipun tokoh ini telah membuat sang penulis terkenal, namun Arthur Conan Doyle merasa muak dengan tokoh tersebut. Sehingga ia berpikir untuk “mematikan” tokoh Sherlock Holmes dan mengakhiri semua kisahnya. Ia sempat mengutarakan keinginanya melalui sebuah surat yang ditulis untuk ibunya. Meski ibunya tidak menyetujui rencananya tersebut, Conan Doyle tetap melaksanakan niatnya mengakhiri karakter Sherlock Holmes. Untuk membuat kisah kematiannya terlihat lebih dramatis, ia menciptakan tokoh penjahat yang memiliki kejeniusan setara dengan Sherlock Holmes, yaitu Profesor Moriarty. Singkat kata, Sherlock Holmes mati bersama Profesor Moriarty di air terjun Reichenbach dalam kisah “The Final Problem” yang diterbitkan pada tahun 1893. Kisah ini dipadukan dengan kisah lainnya dalam “The Memoirs of Sherlock Holmes” yang dirilis di tahun 1894. Namun karena derasnya permintaan fans, tokoh ini dihidupkan kembali delapan tahun kemudian dan muncul dalam novel ketiga “The Hound of the Baskervilles” pada 1901. Secara rinci penjelasan bagaimana Holmes bisa tetap hidup dijelaskan oleh Watson di “The Adventure of Empty House”.

Dalam kisah “His Last Bow”, Holmes dikisahkan telah pensiun dan pindah ke peternakan kecil di Sussex. Kepindahannya itu tidak disebutkan secara pasti, tetapi diperkirakan terjadi sebelum tahun 1904 karena disebutkan secara retrospektif dalam kisah “The Second Stain” yang terbit pada tahun itu. Di peternakan kecilnya itu, Holmes mendalami hobinya beternak lebah sebagai pekerjaan utamanya dan menulis buku bertajuk “Practical Handbook of Bee Culture, with some Observations upon the Segregation of the Queen”. Dalam “His Last Bow”, dikisahkan Holmes dan Watson aktif lagi dari masa pensiun untuk membantu upaya Britania Raya dalam Perang Dunia I. Hanya ada satu cerita lain yang berlatar waktu saat sang detektif telah pensiun, yaitu “The Lion’s Mane” yang diceritakan sendiri oleh Holmes. Adapun waktu kematiannya tidak pernah diketahui.

Ketenaran Sherlock Holmes di genre detektif mengilhami beberapa pihak, baik di dunia literatur maupun di dunia forensik kriminal. Penggemarnya pun tersebar di seluruh dunia. Bisa dikatakan ada puluhan komunitas pecinta detektif yang satu ini. Bahkan organisasi penggemar Sherlock Holmes dibentuk bernama “Barker Street Irregulars” yang terdiri dari beberapa tokoh ternama di dunia. Selain itu, tokoh Sherlock Holmes dibuatkan patung dan museumnya di kota London.

Sherlock Holmes juga dianggap tokoh yang paling banyak dibuat novel “pastiche” dan ditulis beberapa penulis terkenal saat ini. Sehingga wajar bila sampai saat ini, tokoh ini masih sangat dekat di hati para penggemarnya sepanjang masa.

Beberapa fakta tentang Sherlock Holmes

1. Sherlock tercatat masuk di Guinness book sebagai tokoh yang paling banyak diperankan. Lebih dari 80 aktor dari 200 film lebih

2. Awalnya Sherlock Holmes bernama Sheridan Hope dan Sherrinford Holmes. Sedangkan Dr. Watson sempat diberi nama Ormond Sacker sebelum akhirnya diubah oleh sang penulis.

3. Cerita “A Study In Scarlet” sendiri awalnya berjudul “A Tangled Skein” yang akhirnya juga diubah oleh penulisnya.

4. Kata “Sherlock” berarti “rambut yang terang atau cerah”. Pada kenyataannya Doyle mengambarkan Sherlock berambut gelap.

5. Dalam novelnya, Doyle tidak pernah membahas topi Deerstalker yang menjadi ciri khas Sherlock.

6. Topi deerstalker pertama kali muncul melalui gambar ilustrasi Sidney Paget untuk The Strand Magazine.

7. Tanggal lahir Sherlock Holmes adalah 6 Januari 1854.

8. Dalam novel “A Study in Scarlet” Sherlock Holmes berusia 27 tahun saat bertemu pertama kali dengan Dr. Watson yang saat itu berusia dua tahun lebih tua dari Sherlock Holmes.

9. Meskipun sering berhasil jenius dalam mengungkapkan kasus, namun Sherlock uga pernah salah memberikan analisis dan gagal memecahkan kasusnya. Seperti di “The Yellow Face” dan “The Five Orange Pips”.

10. Ternyata ada dua tokoh penting dunia yang mengagumi tokoh Sherlock Holmes dan bergabung dan menadi anggota kehormatan Baker Streets Irregular. Mereka adalah presiden Amerika Serikat, Franklin D. Roosevelt dan Harry Truman.

Beberapa quotes dari Sherlock Holmes

0. Walaupun hal yang tersisa setelah kau menyingkirkan hal yang mustahil adalah hal yang mustahil pula, itulah kebenarannya! (The Sign of The Four)

1. Ternyata tetap saja ada misteri besar dalam hidup ini yang tak bisa dijelaskan nalar manusia (The Adventure of Cardboard Box)

2. Pendidikan adalah rangkaian pelajaran yang semakin lama malah semakin tinggi nilainya. (The Adventure of Red Circle)

3. Kalau mau berhasil memainkan suatu peran, kita harus sungguh-sungguh menjalankannya (The Adventure of Dying Detective)

4. Orang yang berkelahi demi kebenaran akan mendapat kekuatan tiga kali lipat dari senjata yang dimilikinya. (The Disappearance of Lady Frances Carfax)

5. Saya yakin akan hal itu sebagaimana saya yakin nama saya sendiri Sherlock Holmes (The Disappearance of Lady Frances Carfax)

6. Hati dan pikiran wanita sungguh bagaikan teka-teki bagi pria. (The Adventure of Illustrious Client)

7. Cepat atau lambat upah dosa pasti akan tiba, Tuhan tahu dosanya sudah bertumpuk (The Adventure of Illustrious Client)

8. Jangan main api kalau tak mau terbakar (The Adventure of the Three Gables)

9. kau tak pernah sadar bahwa hal-hal yang paling rumit biasanya sangat bergantung pada hal-hal yang paling sepele (The Adventure of Creeping Men)

10. Jika orang berusaha melawan kodrat alam, dia akan menghancurkan dirinya sendiri (The Adventure of Creeping Men)

11. Jika tak ada ganjaran setelah manusia mati, betapa kejamnya dunia ini (The Adventure of Creeping Men)

12. Anda pernah jatuh sekali. Kami ingin melihat setinggi apa Anda bisa meloncat di kemudian hari (The Adventure of Three Students)

13. Nama saya Sherlock Holmes. Pekerjaan saya ialah mencari tahu apa yang tak diketahui orang lain (The adventure of the Blue Carbuncle)

14. Betapa sempurnanya pun rencaana manusia pasti ada kekurangannya (The Five Orange Pips)

15. Manusia itu tak berarti apa-apa, pekerjaannya itulah yang mebuat hidupnya berarti ( A Case of Identity)

16. Bahaya adalah bagian dari pekerjaan saya (The Final Problem)

17. Yah, Yah, kita memang takkan selalu berhasil dalam sgala hal yang kita upayakan (The Naval Treaty)

18. Urusan menegakkan keadilan adalah urusan semua orang (The Adventure of Crooked man)

19. Kalaupun bumi berrgerak mengitari bulan itu tidak akan mempengaruhi pekerjaanku (“A Study in Scarlet”)

20. Rasanya paling baik kalu dua orang saling mengetahui kejelekannya masing-masing sebelum mereka mulai hidup bersama (“A Study in Scarlet”)

21. Kalau masa depanku gelap,jelas lebih baik aku menghadapinya selayaknya seorang laki-laki, daripada berusaha mencerahkannya dengan imajinasi-imajinasi yang sia-sia (The Sign of the Four)

 

Dari beberapa sumber*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s