Review Film Detective Byomkesh Bakshy!


dete
Sebelum saya menceritakan tentang film ini, ada dua hal yang harus diluruskan dari imej yang selama ini beredar di kalangan masyarakat kita. Pertama, selama ini banyak orang beranggapan bahwa tokoh detektif hanya hanya ada di Eropa, Amerika, atau Jepang saja. Nyatanya, negara seperti India juga memiliki tokoh detektifnya uga. Salah satunya adalah Byomkesh Bakshy, yang sering disebut sebagai Sherlock Holmes-nya India, yang diciptakan oleh penulis India Sharadindu Bandyopadhyay dan muncul pertama kali pada 1932. Kedua, banyak orang beranggapan bahwa film India itu tidak lepas dari film musikal yang memiliki unsur orang yang menyanyi, joget atau menari. Nyatanya, film kisah Detective Byomkesh Bakshy! yang sempat diputar di Blitz Megaplex Teras Kota, BSD awal April lalu ini tidak memiliki unsur seperti itu. Bahkan, film dengan durasi 2 jam lebih ini terkesan suram dan gelap ditambah dengan settingan kuno tahun 1942, saat terjadi Perang Dunia II.

Film Detective Byomkesh Bakshy! disutradarai oleh Dibakar Banerjee dan dibintangi oleh Sushant Singh Rajput sebagai sang detektif, Anand Tiwari sebagai sahabatnya Ajit Banerjee. Keduanya terlibat dalam kasus pembunuhan yang dibalut dengan perdagangan opium, intrik politik dalam nuansa peperangan.

Kisahnya bermula dari pertemuan Byomkesh Bakshy dengan teman kuliahnya bernama Ajit Banerjee yang ayahnya, Bhuvan Banerjee, seorang ahli kimia, telah hilang tanpa kabar selama dua bulan lebih. Ait memohon bantuan Byomkesh untuk mencari ayahnya yang hilang tersebut. Awalnya, Byomkesh menolak untuk membantu Ajit lantaran ia beranggapan bahwa mungkin ayahnya menghilang karena terlibat bisnis kotor yang tentunya membuat Ajit marah besar atas tuduhan seperti itu terhadap ayahnya. Namun setelah Byomkesh patah hati karena pacarnya Leela akan menikahi seorang ahli kimia yang lebih mapan daripada dirinya, ia pun menyetujui untuk membantu mencari ayahnya yang hilang tersebut.

Byomkesh pun menyelidiki barang-barang milik ayahnya Ait yang mencurigakan. Untuk menelitinya lebih jauh, ia mengunjungi hostel tempat sang ayah menginap dan menemui para pemiliknya Dr. Anuhal Guha, seorang fisikawan sekaligus pemilik hostel dan penghuni lainnya seperti Ashwini Babu dan Kanai Dao, seorang pedagang opium legal yang berlisensi pemerintahasal Cina. Mengingat seluruh uang dan beserta barang-barang sang ayah masih ada di dalam kamar tempatnya menginap tersebut, Byomkesh menduga bahwa sang ayah tidak berencana untuk bepergian atau kabur kemana-kemana. Kemungkinan terburuknya mungkin sang ayah sudah meninggal.

Penyelidikannya berlanjut menuju ke pabrik tempat sang ayah bekerja yang ternyata sudah ditutup. Disana ia bertemu dengan seorang aktris terkenal bernama Angoori Devi (Swastika Mukherjee). Dalam percakapannya, Byomkesh sempat berkomentar tentang maksud penyelidikannya ke pabrik tersebut. Pernyataan tersebut ternyata membuat sang aktris ketakutan dan mencoba menyembunyikan sesuatu di tas kecil miliknya. Byomkesh yang merasa curiga akhirnya mengetahui bahwa Angoori menyembunyikan sebuah surat pemerasan dalam tasnya yang ditujukan kepada Gajanan Sikdar, seorang tokoh politik lokal. Sikdar ternyata adalah pemilik pabrik tempat ayah Ajit bekerja sekaligus teman akrab dari sang aktris.

Dengan bantuan Dr. Guha, Byomkesh menyimpulkan bahwa ayah Ajit mungkin mencoba memeras dan mengancam Sikdar yang akhirnya dibunuh oleh sang politisi tersebut. Ia pun kembali mendatangi kembali pabrik tersebut bersama Dr. Guha yang akhirnya menemukan mayat ayah Ajit yang dimasukkan ke dalam sebuah mesin. Temuan tersebut membuat sang politisi Sikdar dipanggil ke kantor polisi dan diinterogasi oleh komisaris Wilkie. Dalam waktu bersamaan, Byomkesh menemukan petunjuk lain yang menyatakan bahwa sang politis Sikdar ternyata telah dijebak. Ia segera menuju kantor polisi untuk menjelaskan tentang bukti tersebut sehingga Sikdar dibebaskan dari tuduhan.

Setelah Sikdar meninggalkan kantor polisi, Byomkesh mencoba mengunjungi rumahnya. Disana ia bertemu dengan Satyawati, keponakan Sikdar dan Angoori yang ternyata juga berada disana. Namun di luar dugaan ternyata Sikdar telah diracuni dan mati secara perlahan di tangan Byomkesh. Polisi pun berdatangan ke rumah Sikdar dan menduga Sukumar, keponakan Sikdar dan kakak Satyawati yang telah membunuh Sikdar. Apalagi ia terlihat meninggalkan rumah tersebut tergesa-gesa setelah Sikdar masuk ke ruangannya. Sukumar adalah rival pamannya sendiri dengan partai politiknya yang militan dalam kampanye kebebasan India dari jajahan Inggris.

Nampaknya kasus yang ditangani oleh Byomkesh semakin menjadi rumit apalagi ditambah dengan Dr. Guha yang mencoba menghilangkan jejak setelah ia meninggalkan surat kepada Byomkesh yang menyatakan bahwa dirinyalah yang mengirim surat ancaman ke Sikdar, bukan ayahnya Ajit.

Singkat cerita, Byomkesh mendapat pengakuan dari Satyawati yang mengatakan bahwa sang kakak Sukumar tergesa-gesa masuk ke dalam taksi yang sama dengan taksi yang membawanya ke rumah Sikdar beberapa waktu lalu. Byomkesh pun menyelidiki perusahaan taksi yang diduga digunakan membawa Sukumar tersebut. Ternyata taksi tersebut telah menurunkan Sukumar di sebuah klinik milik seorang dokter gigi asal Jepang, Dr. Watanabe. Byomkesh dan Ajit pun mencari Dr. Watanabe di sebuah kuil. Mereka berdua mengaku sebagai teman politik dari Sukumar, tapi penyamaran mereka tersebut membuat Watanabe curiga. Salah satu muridnya yang juga anggota partai yang sama dengan Sukumar mencoba mengikuti Byomkesh dan Ajit. Namun keduanya sempat berganti baju dan menyamar sehingga murid tersebut tidak mengenali mereka.

Merasa kehilangan jejak Byomkesh dan Ait, murid dari Dr. Watanabe tersebut pergi menuju ke klinik tempat Dr. Watanabe. Byomkesh dan Ajit mengikuti sang murid dan menunggu di luar klinik. Secara tidak terduga sesosok pria berbaju hitam lari dari dalam klinik dan melesat masuk ke dalam mobil dengan tergesa-gesa. Byomkesh berusaha mengejar mobil tersebut namun gagal. Ia dan Ajit memutuskan masuk ke dalam klinik dan menemukan sekertaris dan murid Dr. Watanabe yang telah dibunuh secara kejam. Dalam kantong sang murid, Byomkesh menemukan sebuah peta rute sungai Calcutta.

Merasa depresi akibat kasusnya, Byomkesh kembali ke hostel tempat ayah Ajit menginap dan mencoba beberapa sirih di dalam kotak persediaan milik ayah Ajit yang ternyata membuat Byomkesh teler dan mabuk berat. Ternyata dalam sirih tersebut terdapat bahan heroin yang tidak dikenal dan tidak terlacak. Setelah sadar, Byomkesh menyadari keberadaan heroin dalam sirih milik ayah Ajit inilah yang telah mungkin membuat sang ayah terbunuh. Keyakinannya bertambah setelah Dao yang menginap di tempat yang sama mengaku bahwa dia adalah polisi yang menyamar dan melacak kasus tentang perang antara gang Cina yang melibatkan bisnis opium.

Melalui analisisnya yang mendalam, Byomkesh menemukan dua plot yang mengakibatkan tragedi beruntun ini. Yang pertama adalah perang gang Cina tentang opium yang diracik secara kimia oleh ayahnya Ajit dan menjadi heroin jenis baru yang tak terlacak. Yang kedua adalah partai politik milik Sukumar yang berhubungan dengan Dr. Watanabe yang ternyata pemasok opium asal Jepang. Ia telah memperalat partai politik Sukumar dan meyakini bahwa pihak tentara Jepang akan membantu India bebas dari jajahan Inggris. Sukumar yang tidak mengerti akan hal itu menyerahkan rute peta sungai Calcutta sebagai sarana tranportasi tentara Jepang masuk ke kota dengan harapan mereka akan membantu kotanya terbebas dari jajahan Inggris.

Mendekati akhir film, sungguh banyak kejutan yang terduga. Kedua plot dalam analisis Byomkesh ternyata berkaitan satu sama lain. Semua tragedi menuju ke satu pemimpin gang Cina yang kejam bernama Yang Guang yang sempat dianggap telah tewas dalam perang antara gang Cina di awal cerita. Mendekati akhir cerita, Yang Guang ternyata masih hidup dan bersembunyi dalam penyamaran di Calcutta.

Mengikuti kisah dari film ini merupakan suatu kesenangan tersendiri. Misteri pembunuhan berbalut intrik politik dan perang. Saya jadi ingat sama kisah Sherlock Holmes dan Hercule Poirot (The Big Four) yang berkaitan dengan pembunuhan yang dibalur intrik politik dan pemerintah atau organisasi kriminal. Jalan ceritanya benar-benar bagus dan penokohannya juga sangat baik. Byomkesh dan Ajit terlihat seperti Sherlock dan Watson asal India. Keduanya disuguhkan dengan dandanan dan pakaian yang kental dengan budaya India pada era tersebut. Ditambah dengan beberapa bahasa yang digunakan dalam cerita ini seperti bahasa India (paling banyak digunakan), Inggris, Cina dan Jepang yang muncul.

Wajarlah bila film ini mendapat rating 8,2/10 dan mendapat empat bintang dari lima di situs IMDB. Soundtracknya yang dipilih pun sangat mewakili. Kabar baiknya lagi, kesuksesan film ini membuat sang sutradara ingin membuat sekuelnya. Sayangnya, film ini tidak banyak diketahui orang Indonesia karena hanyak sekejap muncul di Blitz Megaplex.

M. Fadli

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s