Whodunit

WD (1)Mungkin beberapa orang belum begitu familiar dengan istilah “Whodunit”. Tapi bagi mereka yang mengikuti perkembangan literasi genre mystery fiction atau detective fiction pasti cukup familiar dengan istilah tersebut. Istilah “whodunit” ini bisa dianggap sebagai plot cerita atau bisa dibilang dari sub genre dari kisah dalam detective story.

Berdasarkan wikipedia, whodunit atau whodunnit berasal dari kata “who [has] done it?” atau “who did it?”. Whodunit merupakan salah satu jenis plot cerita sub genre dari kisah detektif, kriminal, atau misteri yang mengajak para pemirsanya untuk bersama menerka kira-kira siapa pelaku dari kejahatan yang tengah dilakukan dalam kisah tersebut. Hal ini memiliki pengertian bahwa para pemirsa memiliki kesempatan yang sama dengan sang tokoh protagonist (detektif), mengikuti penyelidikannya seperti mengumpulkan bukti sampai di akhir cerita untuk menebak siapa pelakunya.

Menurut seorang wartawan bernama Wolfe Kaufman, dialah yang menemukan kata “whodunit” sekitar tahun 1935 saat dirinya masih bekerja untuk majalah Variety. Namun editor dari majalah tersebut, Abel Green, bahwa kata “whodunit” telah dilontarkan oleh pendahulunya, Sime Silverman. Kata ini sudah muncul di majalah Variety pada edisi bulan Agustus 1934 melalui sebuah headline dari sebuah film misteri.
Tipe “whodunit” lebih banyak digunakan di era keemasan (golden age) detective fiction, yaitu antara 1920 sampai 1950. Pada era tersebut tipe cerita detektif tersebutlah yang paling sering digunakan dan yang paling disukai pembaca cerita misteri. Beberapa penulis fiksi misteri dan kriminal yang menggunakan plot cerita tipikal “whodunit” di periode tersebut rata-rata berasal dari Inggris, beberapa yang terkenal antara lain adalah Agatha Christie, Nicholas Blake, G. K. Chesterton, Christianna Brand, Edmund Crispin, Michael Innes, Dorothy L. Sayers, Gladys Mitchell, dan Josephine Tey. Sedangkan penulis lainnya, S. S. Van Dine, John Dickson Carr, and Ellery Queen berasal dari Amerika, namun gaya penulisannya mengapdopsi gaya penulisan novelis Inggris. Penulis lainnya seperti Rex Stout, Clayton Rawson, dan Earl Derr Biggers, menulis tipe “whodunit” dengan ciri khas Amerika.

Selama beberapa waktu, plot bertipe “whodunit” ini sangat dikagumi pembaca yang tentunya menghadirkan kejutan di akhir cerita, terutama identitas pembunuhnya. Beberapa penulis merasa senang karena telah berhasil mengecoh pembaca mereka. Para penulis ini membuat satu tokoh tersangka dengan karakter yang menyebalkan sehingga pembaca menganggap tokoh tersebut adalah pelakunya. Seiring berjalannya waktu, para penulis berusaha menunjukkan bahwa pelakunya bisa saja orang yang terlihat innocent” dan tidak pernah dianggap bahwa tokoh tersebut adalah pelakunya. Sang penulis menyiapkan beberapa daftar para tersangka yang kemudian biasanya sang tokoh detektif mengumpulkan mereka di akhir cerita dan mengungkap motif, trik pembunuhan, bukti, serta siapa pelakunya. Bisa dilihat di kisah-kisah Hercule Poirot dan Miss Marple.

Di tengah digandrunginya jenis plot tersebut, beberapa penulis juga membuat beberapa gebrakan yang berbeda dengan gaya konvesional yang biasa ditunukkan plot “whodunit”. Salah satu sub genre yang menjadi pendombrak gaya umum “whodunit” dan misteri pembunuhan ala Inggris adalah gaya “hard-boiled” crime fiction yang populer di Amerika. Para penulis kisah hard-boiled yang paling terkenal seperti Raymond Chandler, Dashiell Hammett, Mickey Spillane, dan beberapa nama lainnya. Berbeda dengan gaya Inggris yang lebih ringan dan elegan dan settingan yang biasa pembunuhannya terjadi di lingkungan yang lebih “nyaman”, seperti vila, rumah besar di pedesaan, perpustakaan, dan sejenisnya, gaya cerita “hard-boiled” memiliki settingan lebih gelap, suram, keras dan kasar, bahkan diwarnai dengan kekerasan, seperti sang detektif yang terkadang babak belur dihajar pembunuhnya saat menyelidiki kasus. Namun pada dasarnya, intinya mereka juga sama dengan gaya “whodunit” yaitu mengungkapkan siapa pelaku pembunuhnya.

Berbeda dengan kisah detektif klasik seperti Auguste Dupin dan Sherlock Holmes yang pelakunya adalah kriminal profesional atau buronan, dan lebih banyak menunjukkan aksi deduksi, analisa kasus, penelusuran, membuntuti tersangka, memecahkan kode rahasia, atau memasang jebakan buat pelaku, (ciri khas pekeraan seorang detektif), maka tipe cerita detektif’ “whodunit” ini memperkenalkan pelaku kejahatan yang “menyembunyikan” kejahatannya di balik wajahnya yang tidak bersalah dan ada di sekitar lingkaran dan berhubungan dekat sang korban. Pelakunya mungkin orang biasa yang pintar memalsukan alibi, mempersiapkan trik pembunuhannya, dan kemudian membunuh pelakunya. Dan di akhir cerita sang detektif kemudian membuka kedok wajah yang tidak bersalah tersebut di hadapan beberapa orang yang menghadiri pertunjukkan analisis yang dilakukan sang detektif.

Whodunnit_ABCDi era sekarang “whodunit” kemudian banyak dikembangkan menjadi sebuah live experience, dalam artian dijadikan dalam sebuah bentuk game, dimana para pesertanya atau tamunya berpartisipasi untuk bermain menebak siapa pelakunya. Bahkan di tahun 2013 lalu, pernah dibuat game reality show berjudul “Whodunnit?” di Amerika dan sempat ditayangkan di channel ABC. Dalam game tersebut, beberapa orang dari berbaai kalangan dikumpulkan dalam satu vila yang kemudian terjadi pembunuhan (rekayasa) dari salah satu orang peserta lainnya. Para peserta lain harus menebak siapa pelakunya, bila dia benar atau memberikan alasan yang rasional, maka dia akan lolos ke putaran berikutnya. Tapi bila dia salah dan memberikan penjelasan yang paling tidak masuk akal, maka dia aan menjadi korban di episode selanjutnya

Contoh cerita “whodunit” Klasik

Wilkie Collins – The Moonstone (1868)
Gaston Leroux – The Mystery of the Yellow Room (1907)
Anna Katharine Green – Initials Only (1911)
E. C. Bentley – Trent’s Last Case (1913)
Agatha Christie – The Mysterious Affair at Styles (1920)
A. A. Milne – The Red House Mystery (1922)’
Agatha Christie – The Murder of Roger Ackroyd (1926)
Dorothy L. Sayers – Unnatural Death (1927)
S. S. Van Dine – The Greene Murder Case (1928)
Ronald Knox -The Footsteps at the Lock (1928)
Anthony Berkeley – The Poisoned Chocolates Case (1929)
Ellery Queen – The Greek Coffin Mystery (1932)
C. P. Snow – Death Under Sail (1932)
Rex Stout – The League of Frightened Men (1935)
John Dickson Carr – The Hollow Man (1935)
Nicholas Blake – Thou Shell of Death (1935)
Josephine Tey – A Shilling for Candles (193)
Alfred Hitchcock – Young and Innocent (1937 film)
Ethel Lina White – The Wheel Spins (1936)
Alfred Hitchcock as The Lady Vanishes (1938 film)
Clayton Rawson – Death from a Top Hat
Cyril Hare – Tragedy at Law (1942)
Helen McCloy – Cue for Murder (1942)
Christianna Brand – Green for Danger (1944)
Edmund Crispin – The Moving Toyshop (1946)
Carlo Emilio Gadda – That Awful Mess on Via Merulana (1946)

Dan beberapa kisah lainnya.

M. Fadli

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s