Hercule Poirot, Detektif Dengan Sel-Sel Kelabu

Poirot_Investigates_First_Edition_Cover_1924Bertubuh kecil, bentuk kepala seperti telur, kumis yang unik, dan cara berjalan yang anggun membuat detektif Hercule Poirot (dibaca: ercyul poaro) menjadi salah satu tokoh fiksi literatur yang mendunia. Ia tampil dalam 33 novel dan 50 cerita pendek yang dipublis dalam rentang waktu antara 1920 dan 1975.

Hercule Poirot sendiri diciptakan oleh Agatha Christie, penulis kisah kriminal dan misteri tersohor di era keemasan genre fiksi detektif. Sang penulis menciptakan tokoh ini di sela-sela pecahnya Perang Dunia I. Banyaknya pengungsi dari Belgia yang masuk ke Inggris telah memberikan inspirasi kepada Agatha Christie untuk menulis cerita tentang seorang pengungsi dan mantan anggota kepolisian asal Belgia yang kemudian membuka bisnis detektif swasta di Inggris.

Dalam salah satu autobiografinya, Agatha Christie mengaku bahwa ia terinspirasi dari dua tokoh detektif fiksi era awal, seperti Sherlock Holmes karya Arthur Conan Doyle dan C. Auguste Dupin karya Edgar Allan Poe. Ia mengakui bahwa gaya ceritanya mengambil gaya penokohan dan cerita seperti dua pendahulunya tersebut: detektif esentrik, asisten sebagai narator, teman polisi, serta metode khusus dalam memecahkan kasus. Sedangkan untuk inspirasi nama, ada sumber yang mengatakan bahwa nama Hercule Poirot sendiri diambil dari dua tokoh detektif fiksi lainnya Hercule Popeau karangan Marie Belloc Lowndes dan Monsieur Poiret karangan Frank Howel Evans.

Hercule Poirot muncul pertama kali dalam novel perdananya berjudul “The Mysterious Affair at Styles” yang terbit pada tahun 1920, yang kemudian dilanjutkan oleh sang penulis dengan kisah ‘Murder On The Link’ di tahun 1923. Kedua novel ini dinarasikan oleh sahabat sang detektif, Kapten Arthur Hastings. Namun ia mulai populer dikenal dunia melalui novel “Murder of The Roger Ackyord” (1926), sebuah kisah dengan ending yang tak terduga. Salah satu cerita fenomenal lainnya adalah “Murder On The Orient Express” (1934) yang dianggap sebagai kasus yang paling emosional yang pernah ditangani Hercule Poirot. Sang detektif pun meninggal dalam novelnya berjudul “Curtain” yang sebenarnya ditulis tahun 1940, namun baru diterbitkan pada tahun 1975 setelah kematian Agatha Christie. Kisah kematian Hercule Poirot tersebut memberikan efek yang sangat luar biasa, khususnya bagi para penggemarnya. Bahkan salah satu surat kabar terkenal di New York, Amerika memuat berita kematian dengan gambar sang detektif,layaknya berita kematian seorang tokoh terhormat di dunia nyata.

Banyak yang belum mengetahui pastinya asal usul kelahiran Poirot. Menurut yang dituturkan dalam “The Big Four”, Poirot dijelaskan lahir di kota Spa, Belgia. Namun ada beberapa penduduk Belgia yang menganggap bahwa Poirot terlahir di Ellezelles, salah satu kota kecil di propinsi Hainaut, beberapa mil dari Brussels, ibu kota Belgia. Para penduduk kota tersebut meyakini bahwa Hercule Poirot telah lahir di kota tersebut. Hal itu dibuktikan oleh seorang sejarawan dan sekaligus penggemar Poirot. Ia menyimpan akte kelahiran buatan di rumahnya yang menandakan bahwa Poirot terlahir di kota tersebut pada tanggal 1 April dengan ayah bernama Jules-Louis Poirot dan ibu bernama Godelieve Poirot.

Sebelum mengungsi ke Inggris, Poirot telah mengabdi sebagai anggota kepolisian Brussel semenjak tahun 1893. Serbuan Jerman dan tentara Nazi saat Perang Dunia I, membuat dirinya harus mengungsi bersama pengungsi Belgia lainnya. Setelah pindah ke Inggris, Poirot bertemu kembali dengan teman lamanya Kapten Hastings. Sebelumnya keduanya sempat bertemu di Belgia saat keduanya terlibat dalam sebuah kasus.

Poirot menetap di flat kediamannya yang juga menjadi tempat kerjanya dengan alamat Flat 203 di 56B Whitehaven Mansions. Tempat ini akhirnya dikunjungi berbagai macam klien yang menyewanya untuk menangani berbagai jenis kasus. Poirot acap kali dimintai bantuan oleh Inspektur Japp dari Scotland Yard dalam memecahan sebuah kasus yang cukup rumit. Terkadang Poirot juga terlibat kasus secara tidak sengaja, seperti dalam “The Third Flat”, “Problem At Sea”, “Murder of the Orient Express” dan kasus sejenis lainnya.

Selain Kapten Arthur Hastings dan Inspektur Japp, Hercule Poirot dikelilingi beberapa tokoh pembantu lainnya saat memecahkan kasus. Salah satunya adalah Ariadne Oliver, seorang penulis kisah misteri sahabat Poirot yang digambarkan seperti penggambaran Agatha Christie. Tokoh ini juga muncul dalam cerita Miss Marple, detektif amatir rekaan Agatha Chritie lainnya. Tokoh lain yang juga banyak membantu adalah sang sekertaris, Miss Felicity Lemon. Selain menjadi sekertaris Poirot, Miss Lemon juga muncul dalam kisah Parker Pyne, detektif rekaan Agatha Christie lainnya yang khusus menangani masalah percintaan.

Dalam gambarannya, Hercule Poirot adalah detektif dengan segala keunikannya, mulai dari perawakannya, sifat, keesentrikannya, serta metodenya dalam memecahkan kasus. Seperti yang digambarkan Hastings, Poirot adalah sosok dengan tinggi 5 kaki 4 inci, memiliki kepala berbentuk telur, dan memiliki kumis tegas nan kelimis. Di beberapa novel awal, Poirot digambarkan memiliki rambut yang rapi dan kelimis. Namun seiring dengan bertambah usia di beberapa novel-novel berikutnya, Poirot digambarkan mulai terlihat mengalami kebotakan karena rambut yang rontok di bagian depannya. Poirot juga dikenal dengan gaya bicaranya dalam aksen Belgia yang kerap tercampur dengan kata dan frase dengan bahasa tempat asalnya tersebut.

Poirot menyukai keteraturan dan sangat tergila-gila kepada kebersihan. Dia tidak akan tahan bila pakaiannya terlihat ada debu, noda, atau lipatan yang menganggu di pakaiannya. Bahkan ia pernah mengeluarkan sapu tangannya untuk menjadi alas duduk bila ia duduk di sebuah kursi taman. Poirot juga tidak tahan melihat sebuah dasi atau lukisan yang terlihat miring dan tidak simetris. Dia akan mengambil sikap untuk membetulkan atau meluruskan sesuatu yang dianggapnya tidak teratur.

Sedangkan untuk metodenya sendiri dalam memecahkan kasus, Poirot lebih terlihat mengandalkan sisi psikologis. Ia bukan seorang ahli forensik yang mengerti tentang otopsi mayat atau segala sesuatu yang berhubungan dengan medis. Bila ada kasus yang berkaitan dengan medis, ia lebih sering bertukar pikiran dengan dokter atau ahli kimia tertentu, seperti yang terlihat saat ia berkunjung ke ahli kimia untuk meneliti racun yang digunakan dalam pembunuhan di ‘Mysterious Affair At Styles”.

Metodenya lebih mengandalkan analisa psikologi dan kejiwaan manusia. Ia juga bukan detektif yang mengumpulkan debu atau menganalisa sesuatu di tempat kejadian perkara. Poirot hanya mengandalkan analisa terhadap sebab musabab dari kejanggalan ia temui di tempat kejadian perkara. Seperti yang terlihat dalam “Evil Under The Sun”, ketika pembunuh menggunakan trik psikologi untuk mengelabui mata manusia. Namun Poirot berhasil membongkar trik tersebut, termasuk mengetahui bahwa salah satu tersangka berbohong yang mengaku bahwa ia phobia terhadap ketinggian. Nyatanya, dalam kedaan panik, tersangka bisa dengan lincah menuruni tangga di tebing bebatuan. Sehingga Poirot mengeluarkan kata-kata “bila seseorang berbohong mengenai hal kecil, maka dia juga akan mudah berbohong untuk sesuatu yang besar”.

Metode inilah yang ia sebut dengan “sel-sel kelabu”, yang kemungkinan terinspirasi metode rasioniasi milik Dupin, sebuah metode yang juga diterapkan oleh Holmes, khususnya kemampuan deduksi.

Meski Poirot telah membuat nama Agatha Christie melambung, namun sang penulis ternyata mulai membenci tokoh yang ia ciptakan tersebut. Seperti yang dituturkan dalam beberapa dokumenter, dalam diary pribadi Agatha Christie yang kemungkinan ditulis pada tahun 1930, sang penulis mengungkapkan bahwa ia membenci tokoh detektif yang diciptakannya. Ia menganggap Poirot sebagai orang yang menjijikkan, egois dan sejenisnya. Ia juga menganggap bahwa tidak ada sosok dengan kepala berbentuk telur seperti Poirot. Nyatanya, karakter yang telah ia bangun dari Poirot justru disukai pembacanya, sehingga ia pun tetap terus menulis kisah detektif tersebut.

Novelnya sendiri sudah tersebar di hampir seratus negara dan terjual beberapa cetakan yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Termasuk dalam bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Poirot juga diangkat dalam pertunjukan teater, film layar lebar, serial televisi, termasuk serial animasi. Aktor-aktor seperti Austin Trevor, Albert Finney, dan Peter Ustinov merupakan aktor klasik yang telah menghidupkan tokoh Poirot. Namun aktor paling fenomenal memerankan Poirot adalah David Suchet dalam serial TV “Agatha Christie’s Poirot” yang disiarkan semenjak tahun 1989 sampai tahun 2013. Ini membuktikan bahwa David Suchet telah memerankan tokoh ini selama 25 tahun. Semua kisah-kisah dibalik serial ini diceritakan dalam film dokumenter berjudul “Being Poirot” (2013) yang langsung dinarasikan oleh sang aktor.

Beberapa quote dari Hercule Poirot

“These little grey cells. It is up to them”

“It is the brain, the little grey cells on which one must rely. One must seek the truth within-not without.”

“Understand this, I mean to arrive at the truth. The truth, however ugly in itself, is always curious and beautiful to seekers after it.”

“If you must have a moustache, let it be a real moustache – a thing of beauty such as mine.”

“One does not, you know, employ merely the muscles. I do not need to bend and measure the footprints and pick up the cigarette ends and examine the bent blades of grass. It is enough for me to sit back in my chair and think.”

“I cannot, truly I cannot, sit in a chair all day reflecting how truly admirable I am.”

“I, who have undoubtedly the finest brain in Europe at present, can afford to be magnanimous!”

“It is my weakness, it has always been my weakness, to desire to show off.” 

“Always a man who had taken his stomach seriously, he was reaping his reward in old age. Eating was not only a physical pleasure, it was also an intellectual research.”

“If one partakes of the five o’clock, one does not approach the dinner with the proper quality of expectant gastric juices. And the dinner, let us remember, is the supreme meal of the day!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s