Lord Peter Wimsey, Detektif Berdarah Biru.

alBagaimana bila seorang dengan tingkat sosial tertinggi di masyarakat dan memiliki uang banyak kemudian terlibat dalam penanganan kasus pembunuhan? Dengan kedudukan seperti itu seharusnya sang individu bisa saja mencari kenyamanan atau hidup santai di tengah kemakmuran. Namun sosok yang satu ini justru memilih terlibat untuk mengungkap beberapa kasus kriminal. Sosok ini dikenal dengan panggilan Lord Peter Wimsey, salah satu detektif yang terlahir di era keemasan (golden age) fiksi detektif karya Dorothi L. Sayers. Ketertarikannya kepada dunia kriminologi mungkin yang menjadi alasan ia memahami kasus kriminal, khususnya dalam kasus pembunuhan.

Lord Peter Wimsey pertama kali muncul dalam novel perdananya “Whose Body” pada 1923, hanya berjarak tiga tahun setelah Agatha Christie menulis kisah Hercule Poirot. Namun berbeda seperti Poirot yang bekerja sebagai detektif swasta, Lord Peter Wimsey bukanlah seorang detektif swasta atau pun bekerja sebagai detektif polisi. Latar belakang sosialnya adalah seorang keturunan ningrat yang kerap memasukkan aktifitas penyelidikan kasus kriminal dalam daftar hobinya.

Awalnya, Dorothy L. Sayers sedang dalam kesulitan finansial. Ia dalam keadaan tidak punya uang. Ia memiliki keinginan untuk melanutkan pendidikannya dengan mempelajari theologi. Sehingga akhirnya ia mencoba menulis buku dalam rangka mendapat pemasukan dan mengejar impiannya untuk mempelajari bidang yang ia inginkan. Tapi saat itu ia bingung harus menulis tentang apa. Sampai akhirnya ia membaca koran dan memperhatikan apa yang paling banyak menjadi bacaan publik saat itu. Ia mengamati ada dua hal yang paling banyak dibaca, yaitu cerita detektif dan bangsawan. Sehingga akhirnya ia memutuskan untuk menulis tentang dua hal itu, seorang detektif dengan latar belakang seorang keturunan bangsawan.

Ada beberapa teori yang menganggap bahwa tokoh Lord Peter Wimsey sendiri terinspirasi dari “kasih tak sampainya” sang penulis bernama Eric Whelpton, teman dekatnya semasa di Oxford. Hal itu sempat diungkapkan Ian Carmichael, aktor yang memerankan Lord Peter Wimsey untuk serial pertamanya di BBC. Saat ia mempelajari karakter tersebut, Ian menemukan bahwa karakter Lord Peter Wimsey ini bagaikan sosok pria ideal yang diinginkan penulis untuk menjadi pendampingnya.

Banyak pengamat kisah misteri yang berpendapat bahwa Lord Peter Wimsey adalah salah satu tokoh dengan karakter yang selalu berkembang di setiap novelnya. Ia menjadi lebih humanis dan terasa seperti tokoh yang nyata. Selain itu, tokoh ini juga memiliki latar belakang keluarga dan asal usul yang sangat jelas.

Lord Peter Wimsey, D.S.O terlahir di tahun 1890 dan merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Mortimer Wimsey, Duke of Denver yang ke-15 dan Honoria Lucasta Delagardie, yang juga dikenal sebagai Dowager Duchess of Denver. Sedangkan kakaknya, Gerald Wimsey, – atau juga dikenal sebagai Duke of Dencer yang ke-16 – memiliki istri Helen yang dikenal sombong dan sangat membenci Peter Wimsey sebagai saudara ipar. Dari kakaknya tersebut, ia memiliki keponakan bernama Viscount St. George yang justru malah menyukai dan menghormati pamannya. Sedangkan adiknya, Lady Mary merupakan salah satu dari anggota keluarganya yang sedikit membelot dari aturan keluarga ningrat dengan menikahi seorang polisi yang bukan dari golongan bangsawan.

Lord Peter Wimsey merupakan salah satu lulusan terbaik dari Eton College dan Balliol College, Oxford, dan mengambil gelar sarjana untuk jurusan Pengetahuan Sejarah Modern. Saat pecahnya perang dunia, ia kemudian dikirim untuk mengabdi sebagai Pasuka Bersenjata dengan pangkat Mayor dalam kesatuan Tentara Inggris. Di kesatuan inilah ia banyak belajar dan mendapatkan pengetahuan tentang intelijen.

Ia kemudian bertemu dengan Sersan Mervyn Bunter yang kelak akan menjadi sahabat, asisten, sekaligus pelayannya. Di tahun 1918, ia terluka dalam sebuah serangan pasukan bersenata. Lukanya inilah yang menyebabkan ia menderita Post-Traumatic Stress Disorder. Setelah perang, ia kembali ke ke rumah keluarganya untuk pemulihannya. Setelah Bunter datang dan menawarkan diri untuk merawat Peter, keduanya (Peter dan Bunter) akhirnya pindah ke London dan menetap di sebuah flat yang beralamatkan di 110A Piccadilly. Terkadang Peter masih sering menjerit saat tertidur akibat trauma yang ia memiliki. Terkadang Bunter harus memberinya segelas brandy untuk meredakan sarafnya. Bunter-lah yang dikenal sebagai orang yang memanggilnya dengan panggilan “Lord.”

Lord Peter Wimsey dikenal sebagai seorang pria terhormat dan sangat fashionable dalam berpakaian. Ia sering menggunakan tuxedo hitam, scarf panjang bewarna putih, memakai monocle eye, dan top hat berukuran 8 inci. Ia juga dikenal memiliki banyak hobi dan kegemaran. Ia mahir bermain kriket dan piano klasik, serta mengoleksi buku-buku klasik. Ia juga banyak mempelajari tentang kriminologi dan menguasai bahasa Jerman. Selain itu, Peter juga tergabung sebagai anggota klub kehormatan yang biasanya terdiri dari para orang-orang kaya dan bangsawan. Ia juga menulis beberapa buku seperti “Notes on the Collecting of Incunabula”, “The Murderer’s Vade-Mecum”, serta beberapa buku lainnya.

Ia mulai terlibat dengan kasus-kasus kriminal semenjak ia terlibat dalam kasus permata zamrud yang telah dicuri. Disinilah ia akhirnya berkenalan dengan detektif dari Scotland Yard bernama Inspektur Charles Parker yang saat itu masih berpangkat Sersan. Detektif inilah yang nantinya menikah dengan Lady Mary, adik dari Lord Peter Wimsey. Dalam penyelidikannya, Peter juga banyak dibantu oleh Bunter yang ternyata memiliki banyak keahlian. Selain Inspektur Parker dan Bunter, Lord Peter Wimsey juga terkadang meminta bantuan pada Miss Climpson dalam rangka mencari informasi dan gosip-gosip dari kalangan wanita-wanita terhormat. Seperti yang ditunjukkan pada kasus “Unnatural Death” (1927).

Salah satu kasus yang cukup menyita perhatian Lord Peter Wimsey adalah kasus dalam kisah “Clouds of Witness” (192). Kasus ini melibatkan kakaknya, Gerald Wimsey yang dituduh membunuh tunangan dari adiknya sendiri, Lady Mary (sebelum menikah dengan Inspektur Parker). Sang adik pun juga masuk dalam daftar tersangka atas kematian tunangannya tersebuti. Lord Peter Wimsey harus mengerahkan kemampuannya untuk membuktikan kakak dan adiknya dan menemukan siapa pembunuh sebenarnya.

Lord Peter Wimsey juga dikenal sebagai sosok yang disukai oleh wanita. Ia banyak berhubungan dengan beberapa wanita dan dikenal sebagai sosok “playboy.” Namun semua petualangan bersama para wanita itu pun berakhir ketika ia bertemu dengan Harriet Vane, seorang penulis novel misteri yang terkenal. Konon, kabarnya Harriet Vane ini adalah gambaran dari sang penulis Dorothy L Sayers yang bermimpi memadu kasih dengan tokoh ciptaannya sendiri. Mereka pertama kali bertemu di “Strong Poison.”

Semenjak pertemua itu, mereka kerap terlibat bersama dalam penyelidikan beberapa kasus meskipun Harriet sebenarnya belum pernah terlibat kasus di dunia nyata. Peter berungkali menyatakan cintanya kepada Harriet dan mengajaknya untuk menikah, tapi Harriet tidak menjawab ajakan tersebut. Namun di bab terakhir “Gaudy Night”, Harriet akhirnya menjawab dan menikah dengan Lord Peter Wimsey. Mereka akhirnya menikah pada 8 Oktober 1935, di Gereja St. Cross, Holywell Street, Oxford. Dari pernikahannya tersebut, lahirlah tiga orang putra yang masing-masing diberi nama Bredon Delagardie Peter Wimsey, Roger Wimsey dan Paul Wimsey. Kisah Lord Peter Wimsey berakhir melalui kisah “Talboys” yang bersetting tahun 1942.

Beberapa kisah Lord Peter Wimsey terkesan memberikan sindiran terhadap tatanan sosial di Inggris, khususnya di kalangan ningrat. Sang penulis mencoba mematahkan hal itu dengan menunjukkan kedekatan hubungan antara Lord Peter Wimsey dan Bunter, pernikahan antara Inspektur Charles Parker dan Lady Mary, dan beberapa contohnya.

Kisah ini juga acap kali diadaptasi ke dalam bentuk serial atau mini seri televisi, seperti yang telah dilakukan BBC. Di tahun 1970-an, BBC memproduseri serial yang diangkat dari novelnya dengan aktor utama Ian Carmichael. Adapun kisah-kisah yang diangkat adalah “The Unpleasantness at the Bellona Club” (1972), “Clouds of Witness” (1973), “Murder Must Advertise” (1973), “The Nine Tailors” (1974), dan “The Five Red Herrings” (1975). Di tahun 1987, BBC kembali merebooth ulang serial ini dan mencoba mengangkat hubungan antara Lord Peter Wimsey dan Harriet Vane, dengan aktor Edward Petherbridge sebagai Lord Peter dan Harriet Walter sebagai Harriet Vane. Mini seri ini terdiri dari “Strong Poison”, “Have His Carcase”, dan “Gaudy Night.”

Beberapa quotes dari Lord Peter Wimsey

“Books…are like lobster shells, we surround ourselves with ’em, then we grow out of ’em and leave ’em behind, as evidence of our earlier stages of development.”

“Wherever trouble turns up, there am I at the bottom of it.”

“Trouble shared is trouble halved”

“I always have a quotation for everything – it saves original thinking.”

“Everybody suspects an eager desire to curry favour, but rudeness, for some reason, is always accepted as a guarantee of good faith. The only man who ever managed to see through rudeness was Saint Augustine.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s