Agatha Christie, Sang Ratu Kriminal dan Misteri.

305a35a4-5c9e-11e5-_976957b

Konon kabarnya ada dua sastrawan yang karyanya paling banyak dibaca di seluruh dunia. Yang pertama adalah William Shakespeare, seorang pujangga yang dikenal melalui karya-karya fenomenalnya seperti Romeo and Juliet, Hamlet dan beberapa karya lainnya. Sedangkan yang kedua adalah seorang wanita kelahiran Inggris yang kini dikenal dunia dengan julukan “Queen of Crime.” Yak, benar sekali, dia adalah Agatha Christie.

Agatha Mary Clarissa Christie terlahir di Torquay, Devon, Inggris pada 15 September 1890 silam dengan nama kecil Agatha Miller. Sebagai anak bungsu dari pasangan Frederick Alvah Miller dan Clara Boehmer, Agatha memiliki masa kecil yang menyenangkan. Ia memiliki pengasuh yang sabar dan bijaksana dan memiliki seekor anjing yang ia beri nama George Washington. Kedua orang tuanya merupakan pasangan yang bahagia dan orang tua yang sukses. Bakatnya pun terasah melalui kehidupan masa kanak-kanaknya yang menyenangkan. Di usianya yang ke-10, ia menulis sebuah puisi berjudul “The Cowslip” yang ditulis pada April 1910. Puisi tersebut berbunyi:

“There was once a little cowslip, and a pretty flower too,
but yet she cried and fretted all for a robe of blue.
Now, a merry little fairy, who loved a trick to play,
has changed into a nightshade that flower without delay.
The silly little nightshade thought her life a dream of bliss,
yet she wondered why the butterfly came not to give his kiss.”

Dengan kehidupan masa kecil yang menyenangkan seperti itu, publik pun dibuat penasaran bagaimana seorang gadis yang ceria dan penuh bunga tersebut kemudian menjadi seorang penulis kisah dengan latar belakang tindakan kriminal seperti pembunuhan? Seperti yang diungkapkan melalui dokumenter “Perpective: The Mystery of Agatha Christie”, sang cucu Matthew Prichard memberikan petunjuk sederhana mengapa neneknya memiliki sisi gelap dan hasrat untuk menulis cerita kriminal. Berdasarkan arsip yang dimiliki oleh keluarga, ada sebuah catatan yang menceritakan salah satu mimpi buruk Agatha Christie sewaktu ia masih kecil. Seperti yang dibacakan oleh David Suchet, selaku narator dari film dokumenter tersebut:

“All children have nightmares. My own particular nightmare centred around someone I called the Gunman. The dream would be quite ordinary. A tea party or a walk with various people. Usually a mild festivity of some kind. Then suddenly, a feeling of uneasiness would come. And then I would see him, sitting at the tea table, walking along the beach, joining in the game. His pale blue eyes would meet mine, and I would wake up, shrieking.”

Kebahagian masa kecilnya terpaksa berakhir saat ayahnya meninggal di usianya 11 tahun. Kematian sang ayah pun membawa masalah finasial yang cukup berat dalam keluarganya. Hal itu yang juga menjadi simbol bahwa finansial bisa mempengaruhi jalan pikiran seseorang, bahkan menjadi motif utama dalam sebuah pembunuhan, seperti yang ia tulis dalam novelnya.

Meskipun keadaannya seperti itu, kehidupan harus tetap dijalani. Agatha menyelesaikan sekolahnya di Paris dan kemudian pergi meninggalkan Inggris menuju Kairo, Mesir. Ia jatuh cinta dengan suasana timur tengah yang eksotis. Disinilah ia kemudian menulis novel romance pertamanya berjudul “Snow Upon The Desert.” Sampai akhirnya ia bertemu dengan Archibald Christie yang kemudian mengajaknya untuk menikah. Saat itu, sang ibu tidak setuju atas pilihan putrinya, sehingga akhirnya mereka berdua melakukan pernikahan diam-diam di tengah pecahnya Perang Dunia I.

Kondisi peperangan seperti inilah yang membuat dirinya harus rela ditinggal suaminya untuk berperang. Selama ditinggal berperang, Agatha Christie kemudian beralih menjadi perawat di Torquay. Disinilah ia akhirnya banyak bertemu dengan para pengungsi perang, khususnya para pengungsi asal Belgia. Perkenalan dengan para pengungsi itulah yang kemudian mengusik imajinasinya untuk menciptakan tokoh detektif, seorang pengungsi Belgia yang ia beri nama Hercule Poirot.

Seperti yang diungkapkan oleh Laura Thompson, penulis buku biografi Agatha Christie, ia menyelesaikan buku pertamanya di Dartmoor, tempat yang disarankan ibunya untuk mendapatkan imajinasi. Bahkan di tempat ini, Agatha berjalan di hamparan padang rumput sambil membaca dialog yang nantinya terdapat di dalam novelnya tersebut. Setelah mengalami beberapa penolakan akhirnya buku perdana Hercule Poirot berjudul “The Myterious Affair at Styles” resmi diterbitkan pada 1920. Ada beberapa sentuhan yang diberikan Agatha sehingga banyak pihak yang menyukai novelnya. Lokasi kejadian berseting pedesaan, kumpulan tersangka dari orang terdekat, dan pembunuhan dengan menggunakan racun. Metode ini yang hampir dipastikan selalu ditemui dari hampir separuh novel yang ditulisnya. Pengetahuannya akan racun tumbuhnya saat ia bekerja di rumah sakit semasa perang sebagai asisten farmasi. Sehingga wajarlah bila ia sangat ahli terhadap seluk beluk dunia racun.

Kesuksesannya semakin menanjak setelah perang berakhir. Kembalinya suaminya tercinta dari medan perang, memiliki anak perempuan yang cantik, dan karir menulis yang cemerlang membuat dirinya menjadi wanita yang sangat bahagia pada waktu itu. Ia pun berkesempatan mengunjungi sang Ratu Inggris. Salah satu novel yang membuat karirnya meroket adalah novel Poirot berjudul “The Murder Of Roger Ackroyd”, dimana ia membuat gebrakan baru dan mematahkan semua rule yang ada di genre fiksi kriminal dengan membuat ending yang tidak terduga. Sontak namanya pun diperhitungkan sebagai penulis novel fiksi kriminal di era keemasan (golden age).

Sayangnya, meski terlihat dikelilingi kesuksesan yang ia raih, perlahan terlihat keretakan dalam kehidupannya, khususnya dalam biduk rumah tangga yang telah ia bina. Sang suami terlibat asmara dengan wanita muda dan ingin bercerai dengan Agatha. Hal ini yang kemudian membuat hati Agatha hancur. Dan yang terjadi setelahnya cukup mengejutkan, seperti sebuah plot yang selalu ia tulis dalam novelnya. Pada Jumat malam 3 Desember 1926, setelah ia mengucapkan salam perpisahan kepada anaknya Rosalind, ia pergi menyetir mobilnya menembus kegelapan malam. Keesokan paginya, mobilnya ditemukan di salah satu tempat terpencil bernama Newlands Corner di dekat Guildford tanpa ada tanda-tanda keberadaan pemiliknya. Mantel dan SIM-nya ditemukan di kursi belakang, tapi sang empunya tidak terlihat dimana pun. Sedangkan lokasi kejadian adalah sebuah padang luas yang jauh dari pemukiman penduduk. Sontak para polisi mengerahkan seluruh tenaganya utuk mencari sang novelis tersebut. Banyak dugaan bermunculan. Beberapa surat kabar pun memberitakan seorang novelis wanita yang menghilang secara misterius tersebut.

Setelah ribuan orang dikerahkan, dan puluhan anjing pelacak diturunkan, namun tetap tidak ada-ada tanda keberadaan Agatha Christie. Sampai suatu saat, ada beberapa anggota band yang tampil di salah satu hotel di Harrogate yang melaporkan kepada polisi bahwa ada seseorang wanita dengan deskripsinya mirip dengan sang penulis. Berita pun berhembus di kalangan media massa sehingga akhirnya media pun mendapatkan foto saat Agatha keluar dari hotel tersebut. Berdasarkan informasi dari catatan hotel, Agatha ternyata mendatangi hotel tersebut pada 4 Desember, sehari setelah ia meninggalkan rumah. Ia mendaftarkan diri dengan nama depan dari wanita selingkuhan suaminya.

Banyak spekulasi yang beredar bahwa ia melakukan hal ini karena ingin balas dendam kepada suaminya, tapi ada juga yang beranggapan itu hanyalah sensasi dalam rangka menerbitkan novel terbarunya. Bahkan ia cukup marah dengan pemberitaan media massa. Agatha Christie pun bungkam saat ditanya perihal menghilangnya dirinya tersebut. Namun menurut Laura Thompson, ada kemungkinan semua perasaannya saat kejadian itu ia curahkan melalui novel-novelnya Mary Westmacott yang ia tulis menggunakan nama pena.

Setelah ia bercerai dengan suaminya di tahun 1928, ia pun meninggalkan Inggris dan melakukan perjalanan petualangan menuju Istanbul, Turki. Nuansa baru ini yang kemudian banyak terlihat di beberapa novel Poirot lainnya seperti ‘Death on the Nile” atau salah satu karya termashyurnya “The Murder on the Orient Express.” Saat perjalanan inilah, Agatha bertemu dengan seorang arkeolog muda bernama Max Mallowan, yang kemudian menjadi suami keduanya di tahun 1930. Di tahun itu pula, ia menulis cerita baru dengan tokoh seorang perawan tua bernama Miss Marple melalui novelnya berjudul ‘The Murder at The Vicarage.” Tokoh Miss Marple ini terinspirasi dari beberapa orang terdekatnya seperti neneknya dan bibinya.

Di akhir tahun 1930, novel-novel Agatha Christie cenderung bersifat lebih emosional dan berdasarkan pengalaman pribadi. Salah satunya adalah novel Poirot yang berjudul “Sad Cypress” yang bertema cinta dan seks. Pada dekade tersebut pula, Agatha dan suaminya Max membeli beberapa properti baru, salah satunya adalah rumah musim panas di Greenway, Torquay, Devon. Tempat ini sekarang dikelola oleh pemerintahan Inggris sebagai cagar budaya. Festival Agatha Christie pun selalu diadakan di rumah tersebut.

Meski sudah meraup keuntungan dari beberapa cetakan dari bukunya yang terjual, Agatha Christie terus menulis beberapa novel lainnya. Salah satunya adalah “Ten Little Niggers” yang kemudian diubah menjadi “And Then There Were None.” Novel ini merupakan salah satu novel Agatha Christie yang paling fenomenal dengan plot yang benar-benar tidak terpikirkan para penulis misteri lainnya di era tersebut. Sepuluh orang berada di satu pulau dimana satu persatu kemudian ditemukan tewas sesuai dengan puisi “Ten Little Niggers” atau “Ten Little Soldiers” yang ditemukan di tempat kejadian.

Ten little nigger boys went out to dine;

One choked his little self and then there were Nine.

Nine little nigger boys sat up very late;

One overslept himself and then there were Eight.

Eight little nigger boys travelling in Devon;

One said he’d stay there and then there were Seven.

Seven little nigger boys chopping up sticks;

One chopped himself in halves and then there were Six.

Six little nigger boys playing with a hive;

A bumble bee stung one and then there were Five.

Five little nigger boys going in for law;

One got into Chancery and then there were Four.

Four little nigger boys going out to sea;

A red herring swallowed one and then there were Three.

Three little nigger boys walking in the Zoo;

A big bear hugged one and then there were Two.

Two little nigger boys sitting in the sun;

One got frizzled up and then there was One.

One little nigger boy left all alone;

He went out and hanged himself and then there were None.

Agatha Christie kemudian meninggal dunia pada tanggal 12 Januari 1976 di usianya yang ke-85. Berkat jasa-jasanya dalam bidang literasi dan seni, ia mendapat gelar “Dame” oleh pemerintah Inggris. Karya sampai saat ini masih menjadi salah satu karya yang diminati sepanjang masa. Salah satu video dokumenter terbaru dari Agatha Christie, “Perpective: The Mystery of Agatha Christie” sempat ditayangkan di ITV dan dinarasikan oleh aktor David Suchet. Ia juga terlibat dalam pembuatan dokumenter “Being Poirot” yang bercerita tentang perannya sebagai tokoh detektif rekaan Agatha Christie, Hercule Poirot yang tayang di ITV mulai 1989 sampai 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s