Inverted Detective Story / Howcatchem.

hqdefault

Banyak pembaca kisah detektif yang familiar dengan jenis struktur cerita “whodunnit”, sebuah cerita misteri yang dimana pembacanya berkesempatan untuk menebak siapa pembunuh atau pelaku kriminal di akhir cerita. Seiring dengan perkembangan ide para penulis cerita detektif, maka berkembanglah ide untuk membuat format cerita dengan cara yang bertolak belakang dari gaya “whodunnit.” Format ini disebut juga dengan istilah “inverted detective story” atau yang juga biasa disebut dengan “howcatchem”, dimana para pembaca atau penontonnya sudah mengetahui siapa pelakunya dari awal cerita, termasuk motif dan trik pembunuhan. Sehingga pembaca akan mengikuti bagaimana cara sang tokoh detektif mengumpulkan bukti, mewawancarai saksi – termasuk mewawancarai sang pelaku- dan kemudian menangkapnya.

Ada beberapa penulis cerita detektif yang dianggap memulai menulai gaya ini. Namun yang paling dikenal adalah R. Austin Freeman, penulis asal Inggris yang mengklaim bahwa dialah yang telah menciptakan konsep ‘inverted detective story” tersebut. Format tersebut bisa ditemui melalui kumpulan cerita pendek “The Singing Bone” pada 1912 yang menampilkan detektifnya Dr John Evelyn Thorndyke atau yang biasa dipanggil Dr. Thorndyke. Berbeda dengan para penulis cerita detektif lainnya dimana mereka mencari referensi dengan cara membaca cerita detektif sebelumnya, Freeman justru sengaja tidak membaca cerita detektif terdahulu dengan tujuan dapat menciptakan gaya penulisan dan cerita yang baru. Termasuk menciptakan tokoh “yang tidak esentrik” dan gaya penulisan ‘inverted detective story.’

Format ‘inverted detective story’ ala R. Austin Freeman biasanya dibagi menjadi dua part. Part pertama akan mendeskripsikan tentang awal mula kejahatan dimulai, seperti siapa pelaku dan korbannya, apa motifnya, bagaimana pelaku menyiapkan trik untuk membunuh, yang berakhir dengan pelaksanaan tindakan kriminal tersebut. Pembaca sudah mengetahui detail semua info tentang kejahatan tersebut dan tidak meinggalkan detail tertentu di awal cerita. Part kedua ialah bagaimana sang protagonis – dalam hal ini seorang ahli forensik bernama Dr. Thorndyke – bekerja melakukan penyidikan terhadap tindakan kriminal tersebut yang kadang-kadang harus bersinggungan dengan sang pelaku. Uniknya, meski pembaca sudah mengetahui bahwa sang pelaku sudah mempersiapkan sebuah trik pembunuhan yang sempurna, namun sang detektif terkadang bisa menemukan celah yang tidak disangka-sangka oleh pembacanya untuk memecahkan trik tersebut.

Salah satu contoh penulis lain yang mengikuti subgenre ini novel ‘Malice Aforethought’ yang ditulis oleh Anthony Berkeley Cox dengan nama pena Francis Iles pada 1931. Selain itu, novel berjudul ‘The 12:30 from Croydon’ yang ditulis oleh Freeman Wills Crofts pada 1934 juga dianggap salah satu contoh dari novel bertema ‘inverted detective story.’

Beberapa novel dari tokoh Lord Peter Wimsey rekaan Dorothy L Sayers, seperti “Unnatural Death” dan “Strong Poison” juga mengarah ke kategori penulisan gaya ini. Termasuk dalam cerita pendek “The Abominable History of the Man with Copper Fingers”, dimana pelakunya sudah terkuak di awal kisah, namun tanpa ada keterangan apa motifnya dan bagaimana pelaku melakukannya. Dalam beberapa kisah tersebut, sang detektif Lord Peter Wimsey mencari semua detail tentang pelaku dan apa motif yang membuat ia melakukan kejahatan ini dan bagaimana triknya. Format ini sebenarnya lebih mendekati dengan cerita penyidikan polisi pada umumnya.

Tidak hanya novel dan cerita pendek saja yang memiliki format “inverted detective story.” Dalam serial televisi “Dial M for Murder” yang disiarkan oleh BBC pada 1952 juga dianggap sebagai salah contoh cerita dengan subgenre tersebut. Serial ini kemudian diadapatasi kembali oleh Alfred Hitchcock di tahun 1954, yang menceritakan sebuah rencana pembunuhan yang dilakukan seorang suami pada istrinya.

Kuatnya pengaruh format “whodunnit” yang lebih sering digunakan para penulis cerita detektif, membuat subgenre “inverted detective story” ini tenggelam. Namun setelah kemunculan cerita detektif televisi Amerika “Columbo” yang ditayangkan pada awal 70-an, subgenre menadi disukai dan ustru diminati oleh para penontonnya. Serial yang diperankan oleh Peter Falk ini ingin menunukkan tidak lagi mempertanyakan tentang “who” (siapa), tapi lebih mempertanyakan tentang “how” (bagaimana). Pertanyaan “how” ini bisa berarti “bagaimana sang pelaku melakukan kejahatan” atau “bagaimana cara sang detektif menangkap pelakunya.” Sehingga munculah istilah “howcatchem” yang diambil dari “how to catch them” dengan serial Columbo sebagai pencetusnya.

Dalam sebuah dokumenter pendek, Peter Falk, pemeran Letnan Columbo berkomentar tentang subgenre yang diterapkan dalam genre tersebut. Seperti yang ia katakan:

“Meskipun serial ini terkenal karena format tersebut, namun hal ini juga merupakan hal tersulit. Ketika ada misteri pembunuhan, dan kita sudah mengetahui siapa pembunuhnya di awal cerita, terus dimana misterinya?”.

Memang diakui subgenre ini tidak memberikan misteri membuat penontonnya. Tapi cara sang detektif mengungkapkan kasus ini dengan cara yang tidak disangka-sangka oleh penontonnya yang ustru sangat menarik. Salah satu contohnya dalam Columbo episode “Lady In Waiting”, seorang gadis merencanakan pembunuhan terhadap kakak laki-lakinya yang dianggap terlalu banyak mengaturnya. Gadis itu mempersiapkan rencana pembunuhan dengan cara menembak kakaknya, yang diharapkan akan terlihat seperti kecelakaan salah tembak. Sang gadis akan beralasan kalau ia bermaksud menembak seorang pencuri yang masuk ke kamar sang gadis yang ternyata adalah kakaknya. Saat mulai menyidik kasus tersebut, Columbo menemukan beberapa bukti bahwa kejadian ini sebenarnya bukan kecelakaan. Salah satunya dengan kesaksian pacar sang gadis yang kebetulan berada dekat dengan lokasi kejadian. Menurut saksi, ia mendengar ada tiga suara tembakan yang kemudian disusul dengan suara alarm pencuri. Columbo pun beranggapan bahwa kejadian ini pasti bukan kecelakaan salah tembak, melainkan pembunuhan. Ia berpikir, bila sang gadis bermaksud menembak seorang pencuri, maka yang seharusnya berbunyi lebih dulu adalah alarm tersebut yang menandakan ada seorang pencuri yang masuk sehingga membunyikan alarm. Tapi justru yang didengar saksi adalah suara tembakan terlebih dahulu.

Di era modern, beberapa serial televisi juga banyak yang memakai sub genre tersebut. Seperti di awal 90-an, beberapa episode dari “Diagnosis: Murder ” juga memakai format howcatchem. Di era kekinian, beberapa serial “Monk”, “Criminal Minds”, dan “Law & Order: Criminal Intent” juga banyak menampilkan format tersebut (terkadang juga memakai format whodunnit). Para audiens akhirnya digiring untuk menjadi detektif dari sebuah kasus kriminal yang tidak mungkin dan dilakukan oleh seorang pelaku yang memiliki alibi yang sempurna. Salah satu serial Inggris “Luther” juga merupakan salah satu contoh dari subgenre tersebut. Bahkan dalam beberapa ceria Detective Conan, sang kreator Aoyama Gosho juga menyelipkan beberapa format ini. Ia mengakui bahwa banyak mengambil referensi dari kisah Dr. Thorndyke dan Columbo.

M. Fadli

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s