Resensi Novel “Misteri Kematian Poe”

misteri-kematian-poeJudul: Misteri Kematian Poe
Judul Asli: The Poe Shadow
Penulis: Matthew Pearl
Penerbit: Q Press
Terbit: 2011

Edgar Allan Poe, seorang sastrawan besar Amerika yang dikenal dengan tulisannya yang beraliran racionation, gore, gothic, dan pencentus tokoh detektif pertama di dunia literasi. Karyanya yang terkenal seperti ‘Tell-Tale Heart”, “The Black Cat”, ‘Pit and Pendulum”, “The Raven”, “The Murder in the Rue Morgue” dan beberapa karya lainnya memang penuh dengan cerita mencekam dan banyak mengaduk perasaan dan penalaran pembacanya. Ia menadi inspirasi bagi para penulis saat ini, termasuk Sir Arthur Conan Doyle, kreator dari tokoh Sherlock Holmes.

Malangnya, peralanan hidupnya sesuram dan segelap karyanya. Termasuk misteri kematiannya yang masih menjadi misteri sampai saat ini. Ia meninggal di Baltimore pada tahun 1849, jauh dari tempat tinggalnya saat itu. Menurut sejarahnya, Poe ditemukan dalam keadaan tak sadar dengan pakaian yang “aneh” bertepatan dengan hari pemungutan suara. Ia kemudian dibawa ke sebuah Rumah Sakit di kota tersebut, namun empat hari kemudian ia menghembuskan nafas terakhirnya. Banyak saksi yang mengatakan bahwa sebelum ia meninggal, Poe sempat meracau yang tidak diketahui apa maksud dari ucapannya tersebut. Sang penulis buku ini mencoba “bermain-main” melalui imajinasinya dengan memanfaatkan riset sejarah yang mendalam akan peristiwa mengenai kematian Poe yang misterius.

Sipnosis

Pasca kematiannya, Edgar Allan Poe dimakamkan dan dihadiri hanya delapan orang. Saat itu, semua orang menganggap Edgar Allan Poe hanyalah sastrawan payah dan pemabuk. Koran-koran menyebutkan bahwa ia mati dalam keadaan hina. Hanya satu orang yang beranggapan lain. Quentin Clark, seorang pengacara muda sekaligus pengagum berat karya-karya Edgar Allan Poe. Ia satu-satunya orang yang ingin memulihkan nama baik sekaligus tertarik untuk memecahkan kematian sastrawan tersebut. Ia mempertaruhkan karirnya sebagai pengacara termasuk mempertaruhkan cintanya, Hattie Blum demi menyelamatkan nama baik orang yang justru belum pernah ditemuinya.

Saat memahami karya-karya Poe, ia menyadari akan kemungkinan bahwa salah satu tokoh detektif cerdas dalam ceritanya yang bernama C Auguste Dupin terinspirasi dari seorang tokoh nyata di Perancis yang sama cerdasnya. Dalam ceritanya, C. Auguste Dupin adalah seorang jenius dengan kemampuan rasiosinasi, yaitu metode penalaran dengan menggunakan logika dan imajinasi tinggi. Quentin meyakini, bila ia berhasil menemui tokoh tersebut maka ada kemungkinan orang itu bisa membantu dirinya dalam memecahkan misteri kematian Poe.

Quentin Clark pun pergi ke Perancis dan menyeleksi kandidat siapa tokoh nyata yang menginspirasi sosok C. Auguste Dupin. Terpilihlah dua kandidat yang dianggap mendekati sosok detektif rekaan Poe tersebut. Yang pertama adalah Auguste Duponte, seorang introvert dan tak banyak bicara namun memiliki kemampuan rasioniasi dan telah sering membantu kepolisian Prancis dalam memecahkan kasus kriminal. Yang kedua adalah Claude Dupin atau dikenal dengan sebutan Baron Dupin. Ia yang flamboyan, kharismatik dan senang dihormati. Cara ia memecahkan kasus di persidangan mengundang decak kagum. Namun Baron memiliki beberapa sifat yang kurang terpuji. Ia secara terang-terangan bicara pada pers bahwa ia akan berhasil memecahkan kasus kematian Poe demi mendapatkan popularitas dan uang.

Awalnya, Quentin Clark mempercayai bahwa inspirator Dupin asli adalah Auguste Duponte. Namun karena sifat Duponte yang tertutup dan terkesan tidak bergairah dalam memecahkan kasus kematian Poe, ia pun menjadi bimbang. Sehingga ia berpikir ada kemungkina Baron Dupin adalah sosok inspirator yang asli. Konflik dan kompetisi pun terjadi antara para tokoh. Hasilnya, “sang inspirator Dupin asli” yang akhirnya menjelaskan kematian Poe secara mendetail dengan metode penalaran yang sempurna.

Review

Dalam novel ini, sang penulis mencoba mengambil latar sejarah abad ke-19. Seperti yang diketahui sebelumnya, Matthew Pearl memang tertarik dengan sastra dan sejarah literatur klasik. Sebelumnya ia juga membuat kisah yang mengangkat sastrawan Dante Alighieri dengan cerita berjudul “The Dante Club.” Bahkan setelah novel “The Poe Shadow” ini, ia membuat historical mystery lainnya yang berlatar belakang sastrawan Charles Dickens berjudul “The Last Dickens.” Kegemaran inilah yang membuat karya-karyanya disukai dikarenakan risetnya yang sangat mendalam. Termasuk dalam novelnya kali ini.

Uniknya, di novel ini semua data perihal kematian Poe benar-benar nyata. Sang penulis sampai melakukan riset ke delapan negara Amerika. Beberapa artikel koran pun dimunculkan. Ini mengingatkan saya dengan cerita dalam film “The Raven” yang dibintangi oleh John Qussack sebagai Edgar Allan Poe. Bedanya, bila film “The Raven” mengisahkan peristiwa sebelum Poe meninggal, sedang cerita di novel ini mengisahkan peristiwa pasca kematian Poe dan penyelidikan terhadap kematiannya.

Salah satu hal yang menarik adalah metode rasioniasi yang dipaparkan oleh beberapa tokoh di novel ini. Bila ada yang pernah membaca kisah C. Auguste Dupin seperti “Murder in the Rue Morgue”, “Mystery of Marie Roget”, dan “The Purloinned Letter” tentu familiar dengan metode tokoh Dupin dalam rasioniasi. Namun dalam novel ini contoh rasioniasi ditunjukkan dengan baik sehingga pembaca mengerti apa itu rasioniasi (konon kemampuan deduksi Sherlock Holmes berasal dari rasioniasi Dupin).

Salah satu contohnya ketika Auguste Duponte dan Quentin Clark berada dalam sebuah kafe bernama kafe Begel, sebuah kafe tempat para pemain bilyard berkumpul. Saat itu Quentin terlibat percecokkan dengan seorang agoan bilyard berbadan besar, Si Berandal Merah. Saat Berandal Merah itu akan menghajar Quentin, Auguste maju dan menawarkan kepada Berandal itu sebuah taruhan permainan bilyard dalam jumlah uang yang besar. Apabila ia yang menang, maka sang Berandal itu harus meninggalkan klub bilyard tersebut. Tapi bila ia kalah, maka sang Berandal tersebut akan mendapatkan uang dan bebas menghajar Quentin. Sang Berandal Merah itu sepakat dan mereka mulai bertanding bilyard. Di luar dugaan ternyata Duponte tidak bisa bermain bilyard, sehingga sangat mudah dikalahkan. Quentin merasa gusar karena ia dan Duponte akan menjadi bulan-bulan pria bertubuh besar tersebut bila Duponte kalah. Tapi nampaknya Duponte tetap terlihat tenang saja meskipun ia kalah. Rupanya tujuan Duponte mengajak taruhan bilyard adalah untuk mengulur waktu. Ia telah memperhatikan seorang wanita yang datang bersama Berandal Merah yang berulang kali memalingkan wajahnya ke arah jalanan dari jendela kafe tersebut. Dari gerak tubuh sang gadis, Duponte menduga bahwa wanita ini dalam keadaan ketakutan. Duponte pun turut mengikuti arah pandangan sang gadis. Ia memperhatikan sekelompok pria yang sedang mencari seseorang. Duponte menduga di antara kelompok pria itu adalah pacar sang wanita yang memiliki badan lebih besar dari Berandal Merah. Rupanya pria itu mengetahui perselingkuhan pacarnya dengan Berandal Merah dan sedang mencarinya. Mengetahui fakta tersebut, Duponte pun membuat taruhan pertandingan bilyard. Benar saja, Berandal Merah lari ke jalanan begitu pria itu masuk ke cafe.

Hal yang menarik lainnya adalah karakter wanita cantik asal Perancis bernama Bonjour yang menjadi tangan kanan Baron Dupin. Wanita cerdas itu ternyata cukup lihai dan ‘berbahaya’. Ia terlibat dengan aksi kejar-kejaran dan adegan yang memacu adrenalin. Ia selalu berada di sisi sang Baron dan cukup mendatangkan konflik antara Quentin dan Duponte.

Selain beberapa aksi didalamnya, wawasan searah tentang latar belakang Poe, keluarganya, serta karya-karyanya dijabarkan disini. Beberapa puisi dan cerita pendek milik Poe diulas sedikit dalam novel ini.

Sayangnya, novel ini bertempo sangat lambat. Kadang saat membacanya, saya sangat gregetan ingin segera menyaksikan adegan lain kemampuan Duponte atau adegan penyelidikan Quentin Clark. Mungkin karena sifat beberapa tokoh yang terlihat dingin dan mengalami tarik ulur membuat pembacanya agak bosan dan ingin cepat melewati bab-bab yang dibaca.

Namun saya akui sangat puas membaca novel ini. Saya menjadi mengenal siapa sosok Edgar Allan Poe sebenarnya. Bila kalian pengagum Poe, maka novel ini adalah bacaan wajib. Saya akan memberikan 4.5 dari 5 bintang untuk novel “The Poe Shadow” atau “Misteri Kematian Poe” ini.

“Dengan alur cerita mengasyikkan, banyak sekali lekukan, dan detail periode meyakinkan … Para penggemar novel debutan terlaris Pearl, The Dante Club, akan melahap habis dengan rakus novel keduanya ini- sebuah cerita-tegang (thriller) tentang misteri kematian Edgar Allan Poe. … Pearl memadukan fakta dan fiksi dengan amat piawai.” – Publisher Weekly

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s