Sam Spade, Role Model-nya Para Private Eye

tumblr_l34cbnXYld1qbja4wo1_1280Saat rekan kerjanya terbunuh, ia pun memasang mata dan telinganya ke setiap sudut. Seberapa pun tidak akrabnya ia dengan rekan kerjanya, yang harus ia lakukan adalah mencari tahu siapa pembunuh rekannya sebelum tuduhan itu mengarah ke dirinya sekaligus menjaga dirinya sendiri agar tidak terbunuh.

Itulah nuansa yang tercipta dalam novel ‘The Maltese Falcon” karya Dashiel Hammet atau yang bisa disebut sebagai novel kelahiran tokoh bernama Sam Spade. Si “setan berambut pirang” ini tampil sebagai inspirator bagi para penulis genre hardboiled dan novel private eye setelahnya. Ia juga telah mengilhami para tokoh-tokoh setipe lainnya seperti Mike Hammer (Mickey Spilanney), Lew Archer (Ross Macdonald), Mark Preston (Peter Chambers), serta tokoh private eye paling fenomenal, Philip Marlowe (Raymond Chandler). Bila C. Auguste Dupin bisa dikatakan sebagai detektif awal di genre fiksi detektif, maka Sam Spade bisa dikatakan sebagai “private eye” awal di genre hardboiled.

Samuel Spade (dipanggil akrab Sam Spade) muncul pertama kali di Pulp Magazine bertajuk “Black Mask” pada tahun 1930 dalam cerita “The Maltese Falcon”. Ia hanya tampil di satu novel tersebut, sedangkan sisanya ia hadir dalam kumpulan cerita pendek, seperti “A Man Called Spade”, “Too Many Had Live”, “They Only Hang You Once”, dan beberapa cerita pendek lainnya.

Dashiel Hammet menciptakan tokoh ini tanpa dilengkapi dengan asal-usulnya. Yang bisa diketahui hanyalah fakta bahwa Sam Spade adalah seorang penyelidik swasta yang membuka agensi bersam rekannya dengan nama “Archer and Spade” dan berlokasi di San Fransisco, Amerika. Kisah pertamanya, “The Maltese Falcon” dimulai dengan seorang klien wanita bernama Wonderly yang datang kepada Sam Spade dan Miles Archer untuk mengintai Floyd Thursby, yang diduga telah melarikan adik perempuannya bernama Corinne. Kedua detektif ini bersedia mengambil pekerjaan tersebut mengingat bayarannya cukup besar.

Naasnya, Spade justru mendapat berita terbunuhnya rekannya saat tengah menyelidiki kasus tersebut. Tak lama, polisi juga mengabari bahwa pria yang ia buntuti juga ditemukan tewas terbunuh. Polisi pun turut memeriksa alibi Sam Spade. Polisi berasumsi mungkin saja ia yang membunuh rekannya sendiri dan orang yang ia intai. Namun karena ia memiliki alibi yang kuat dan tidak ada bukti yang mengarah kepada dirinya, maka pihak polisi pun membebaskannya. Spade mengakui bahwa ia memang tidak begitu akur dengan partnernya dan kadang suka menggoda istrinya yang bernama Iva. Namun ketika Archer terbunuh, ia harus beraksi untuk mendapatkan keadilan bagi partnernya tersebut. Setelah memerintahkan sekertarisnya Effie Perine untuk menghapus nama “Archer and Spade” di depan kantornya dan mengantinya dengan “Samuel Spade”, ia pun memulai penyelidikannya. Aksinya inilah yang akhirnya melibatkan ia dengan sebuah patung burung elang yang sangat berharga.

Kisah “The Maltese Falcon” ini cukup menghentak dan memberikan gebrakan di dunia fiksi detektif dan fiksi kriminal pada saat itu. Selain menjadi “best seller”, novel ini menjadi salah satu novel detektif klasik dengan gaya tulisan yang segar dan tentunya berbeda dengan novel asal Inggris yang terkesan “cozy.” Menurut William DeAndrea, penulis “Encyclopedia Mysteriosa”, novel ini dianggap sebagai pecentus kisah “private eye” (P.I) yang menampilkan tokoh dengan nuansa lingkungan yang kelam, tidak lazim, tapi memiliki kode etik yang tak terbantahkan.

Sosok Sam Spade sangat berbeda dengan tokoh detektif ciptaan Dashiell Hammet lainnya, seperti tokoh dalam Continental OP. Spade adalah tokoh yang tidak dikenal dan jauh dari kehidupan glamor. Sifat dan kemampuannya merupakan kombinasi dari tokoh detektif sebelumnya; penyendiri, memiliki ingatan dan mata yang tajam, dan memiliki taktik tersendiri untuk menegakkan keadilan. Bila detektif Inggris dikenal sebagai sosok yang “gentlemen”, maka Sam Spade adalah sosok “tough guy”, penuh dengan aksi, memiliki karakter yang keras, dan terkadang licik demi tujuan kebaikan. Ia digambarkan sebagai sosok yang tinggi dan atletis, berambut pirang, dan berpenampilan layaknya masyarakat Amerika pada saat itu; menggunakan setelan jas dan memakai topi fedora klasik.

Gaya wawancara investigasi Sam Spade sangatlah menarik, mungkin bisa dicontoh bila ingin mengorek informasi dari seseorang. Ia tipikal orang yang gigih mengejar informasi. Sam Spade juga dikenal sebagai karakter yang “blak-blakan.” Bila ada seseorang yang diduga bersalah, ia tak segan-segan “menyerangnya” secara terang-terangan. Ada yang tersinggung, namun juga ada yang nyalinya menjadi ciut sehingga akhirnya buka mulut.

Seperti yang ia tunjukkan dalam cerita pendek “Too Many Had Live”, Sam Spade secara terang-terangan berkata kepada seorang pria bernama Ferris kalau ada dugaan ia telah diperas oleh korban pembunuhan. Spade mengetahui hal itu setelah ia membaca sebuah surat yang berisi puisi berjudul “To good old Buck”. Ada kata-kata tersirat dalam puisi tersebut yang mengandung arti kalau sang korban tahu rahasia kotor Ferris dan akhirnya memerasnya.

Meski terkesan urakan, ia juga sangat cerdas menyimpulkan dan merangkai kronologi sebuah kasus. Seperti yang ia tunjukkan dalam “A Man Called Spade.” Sejatinya, Spade juga memiliki metode deduktif ala Sherlock Holmes, hanya Spade langsung kepada inti deduksinya.

Dashiel Hammet sendiri mengungkapkan bahwa Sam Spade adalah pria impian yang karakternya dibuat lebih masuk akal, seorang detektif yang memiliki pekerjaan berbahaya dan berhubungan dengan orang-orang jahat. Di saat kebanyak teman-temannya lebih menyukasi kisah detektif yang ilmiah dan pemecah teka-teki seperti Sherlock Holmes, ia memilih untuk menciptakan tokoh detektif yang sedikit berbeda, pria dengan perangai yang keras, licik, mampu menjaga dirinya sendiri dari berbagai situasi berbahaya, dan mampu mendapatkan sesuatu yang berguna bagi dirinya, khususnya dari orang yang ditemuinya, baik itu para kriminal, kliennya atau pun orang biasa.

Tidak hanya novel dan kisahnya yang menjadi pioneer dalam kisah “private eye” dan subgenre “hardboiled”, film adaptasinya pun dianggap sebagai pioneer dari “noir film”. Noir film adalah genre dari film bertema kriminal yang bernuansa kelam dan dipenuhi dengan nuansa skeptis, sinisme, fatalisme, dan moral yang sangat ambigu. Dan salah satu aktor yang mempopulerkan karakter Sam Spade adalah Humprey Bogart. Meski berbeda dengan gambaran asli Sam Spade menurut novel; rambut pirang, atletis, dan “bad boy”, Humprey Bogart ternyata diterima sangat baik oleh penikmat film bergenre kriminal saat itu.

Sam Spade juga sangat populer dalam drama radio di era 1940. Aktor-aktor seperti Edward G. Robinson, Howard Duff, dan Steve Dunne dikenang sebagai pemeran Sam Spade dalam serial radio tersebut. Bahkan kisah dari drama radio tersebut banyak juga yang akhirnya ditulis dalam kumpulan cerita pendek “The Adventures of Sam Spade.”

Di tahun 2009 lalu, seorang penulis detektif veteran Joe Gores menulis kisah “Spade & Archer” setelah mendapat ijin dan Dashiel Hammet Estate. Novel ini bersetting di masa Archer masih hidup, atau bisa dikatakan sebagai prequel dari “The Maltese Falcon.”

Beberapa quote dari Sam Spade:

“When a man’s partner is killed, he’s supposed to do something about it. It doesn’t make any difference what you thought of him. He was your partner and you’re supposed to do something about it. And it happens we’re in the detective business. Well, when one of your organization gets killed, it’s-it’s bad business to let the killer get away with it, bad all around, bad for every detective everywhere.”

“I don’t mind a reasonable amount of trouble.”

“Haven’t you tried to buy my loyalty with money and nothing else? ”

“When you’re slapped, you’ll take it and like it.”

“People lose teeth talking like that. If you want to hang around, you’ll be polite.”

“Talking is something you can’t do judiciously unless you keep in practice.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s