Jules Maigret, Detektif Dengan Kesabaran dan Empati Yang Besar

1MaigretDi era keemasan genre fiksi detektif, berbagai tokoh bermuculan. Kebanyakan tokoh ini berasal dari Inggris dan Amerika Serikat. Sehingga ada beberapa detektif negara lain tidak terlalu terekspos. Namun ada satu detektif, bukan kelahiran Inggris atau Amerika Serikat tapi ia justru memberikan warna dan nafas baru ke dalam dunia literatur fiksi detektif. Ia adalah Jules Maigret (atau yang akrab dipanggil Maigret), seorang detektif asal Perancis rekaan George Simenon.

Jules Amedée François Maigret merupakan salah satu komandan dari Kepolisian Perancis, atau biasa disebut sebagai komandan dari Paris “Brigade Criminelle” (Direction Régionale de Police Judiciaire de Paris). Kabarnya, karakter ini terisnpirasi dari tokoh nyata Francois Vidocq dan Marcel Guillaume, yang keduanya merupakan dua detektif polisi dari dunia nyata berbeda generasi. Bahkan Marcel Guillaume sendiri merupakan teman akrab dari sang penulis. Maigret tampil dalam beberapa novel pendek (tidak ada novel panjang yang ditulis Simenon) dan cerita pendek di rentang waktu antara 1931 sampai 1975. Mulai dari novel perdananya “Pietr-le-Letton” (Pietr the Latvian) dan ditutup dengan kisah “Maigret et Monsieur Charles” (Maigret and Monsieur Charles).

Uniknya, George Simenon mampu menulis satu novel Maigret hanya dalam waktu tiga atau empat hari. Meskipun ia juga membutuhkan waktu eksklusif selama dua minggu untuk menulis satu cerita pendek Maigret. Terkadang sifat dan kehidupan sang penulis sedikit mirip dengan Maigret. Sang penulis pun turut tampil dalam cerita Maigret. Dalam cerita itu, ia menjadi Georges Sims yang memperkenalkan dirinya kepada Maigret bahwa ia adalah seorang penulis. Ia bermaksud untuk menulis kisah kriminal yang terinspirasi dari kasus-kasus yang pernah ditangani Maigret.

Asal-usul kehidupan Maigret juga sangatlah menarik untuk ditelusuri. Ia terlahir pada tahun 1877 di Perancis tengah, tidak jauh dari Moulins. Maigret adalah anak tunggal dari pasangan petani yang sukses. Ayahnya memiliki peninggalan sebesar 7500 hektar, termasuk kurang lebih 20 lahan pertanian kecil. Saat usianya memasuki usia delapan tahun, ibunya mengandung calon adiknya. Sayangny,a sang ibu meninggal dengan bayi yang sedang dikandungnya. Setelah ibunya meninggal, sang ayah menjadi terlihat lebih murung. Untuk mengasuh rumah dan anaknya, ia mnyewa seorang gadis muda untuk menjadi pengasuh di rumahnya.

Tak lama, sang ayah pun meninggal pada usia 44 tahun karena mengidap penyakit yang juga diderita oleh bibinya. Saat itu Maigret masih berusia 20 tahun. Kematian ayahnya membuat ia berangkat ke Paris dan belajar di sekolah medis. Sebagai mahasiswa kedokteran, ia menemukan tantangan dalam upaya memprediksi penyebab utama kematian pasien yang ditemuinya. Namun saat itu ia belum bisa memprediksi akan bekerja seperti apa ke depannya.

Disaat belum bisa memutuskan seperti apa masa depannya, ia mengambil beberapa pekerjaan kasar. Disinilah akhirnya ia mengenal Jacquemain, seorang inspektur detektif dari Quai des Orfèvres, yang berhasil membuat Maigret tertarik untuk bekerja sebagai seorang polisi.

Singkat kata, Maigret bergabung dengan kepolisian dan dikenal sebagai perwira yang sangat terpelajar. Meskipun gajinya saat itu kecil dan selalu terlihat kelaparan, ia tetap mengabdi dan menjadi polisi yang terhormat di departemennya. Ia pernah merasakan sebagai petugas polisi berseragam dan “highway squad” (polantas bagian jalan tol). Karirnya pun menanjak dengan cepat. Di usianya yang ketiga puluh, ia pun dipindahkan ke divisi spesial, atau yang dikenal dengan divisi pembunuhan. Mulai dari pangkatnya sebagai detektif, sersan detektif, inspektur, inspektur kepala, dan akhirnya sebagai komisaris. Namun dlam cerita novelnya, ia lebih dikenal dengan pangkat sebagai inspektur atau komisaris.

Sampai akhirnya ia diperkenalkan dengan seorang wanita bernama Lousie. Wanita inilah yang akhirnya menjadi kekasihnya. Tak lama kemudian, mereka bedua menikah dan menetap di sebuah flat di Boulevard Richard-Lenoir, tempat yang terus mereka tinggali sampai akhirnya pensiun dan pindah.

Sang penulis menggambarkan kedua pasangan suami istri adalah pasangan suami yang adem ayem dan selalu harmonis. Sang istri digambarkan sebagai ibu rumah tangga yang baik hati dan penuh kehangatan. Ia tidak memprotes kebiasaan suaminya yang tiba-tiba harus meninggalkan rumah karena harus menangani sebuah kasus kriminal. Terkadang sang istri sempat membantu suami dalam sebuah kasus yang berhubungan dengan seorang ibu muda. Pasangan Maigret ini tidak memiliki anak, tapi mereka memiliki keponakan dari istri Maigret bernama Philippe Lauer yang kebetulan juga seorang polisi.

Semua pembaca tahu kalo Maigret sangat suka makan, namun ia selalu memesan sandwich dan bir untuk makan siang di kantornya. Karena tempat tinggalnya berdekatan dengan kantornya, ia selalu berjalan kaki ke kantor dan kadang pulang untuk makan siang bersama istrinya. Sayangnya, ketika kasus terjadi, ia harus membatalkan makan siang bersama istrinya tersebut. Adakalanya ia harus makan siang dengan para teman kantornya di salah satu restoran favoritnya, Brasserie Dauphine, yang terletak berseberangan dengan kantornya.

Maigret digambarkan sebagai seseorang dengan sosok tinggi, selalu memakai mantel besar dan terlihat merokok pipa. Tingginya sebesar lima kaki sebelas inci atau sekitar 178 sentimeter dengan berat 200 pounds atau sekitar 90 kilogram sehingga ia terlihat gempal. Tangannya selalu dirawat dan bersih, terkadang ia sering memasukkan ke dalam sakunya supaya tidak terlalu banyak memegang benda kotor. Saat masih muda, ia memilihara kumis yang lebat namun kemudian dipotong tipis. Semakin bertambah usia, ia memutuskan untuk mencukur bersih kumisnya tersebut.

Meski berbadan besar dan mampu menangkap kriminal liar dan memborgolnya, Maigret memiliki sifat yang seharusnya banyak dicontoh oleh seorang polisi. Kekuatan dari seorang Maigret adalah kesabarannya dan rasa empatinya. Ia bukanlah seorang polisi yang semena-mena terhadap siapapun, meski pada seorang kriminal. Ia adalah polisi yang tidak kenal lelah dan selalu telaten dengan sabar untuk mencari solusi dari sebuah kasus. Meskipun baik hati dan penuh kasih terhadap kaum yang lemah, namun dia bisa berubah tangguh saat mengejar penjahat yang kejam.

Tidak seperti detektif literasi lainnya, Maigret tidak memiliki kemampuan deduktif layaknya Sherlock Holmes. Kekuatan Maigret terletak pada intuisi, seperti halnya Father Brown. Untuk menyelidiki kasus kriminal, ia lebih suka untuk menyelami cara berpikir sang pembunuh. Terkadang saat memahami motif dari pelaku, ia turut berempati dengan sang pelaku tersebut, khususnya saat kasus tersebut dianggap menyedihkan. Terkadang kesedihan tersebut terlihat di akhir cerita saat ia telah mendapatkan kesimpulan dari kasus yang ditanganinya.

Kesabaran Maigret adalah kelebihannya dan bukti dari dedikasinya terhadap pekerjaannya. Saat wawancara ia terkadang mengulang-ulang beberapa kali pertanyaannya dan terkadang terdengar tidak relevan. Namun dari pertanyaan tidak relevan itulah yang dapat memperlihatkan kelemahan dari tersangka.

Saat Maigret menginterogasi seseorang, ia menunjukkan kesabarannya dan menunggu pelakunya untuk buka mulut. Kesabarannya juga ditunjukkan saat ia mengintai sebuah rumah selama tiga hari dua malam menunggu seorang muncul dari rumah itu. Ia tidak makan, minum dan kadang terkena hujan. Selama ia memiliki persedian korek api yang banyak untuk merokok dari pipanya, rasa lapar haus dan hujan tidak terlalu menjadi kendala baginya. Ia bahkan punya koleksi pipa sebanyak 15 buah yang ia letakkan di kantornya.

Maigret kadang tidak terlihat seperti seorang polisi atau terlihat seperti orang berpendidikan. Ia selalu terlihat seperti orang yang mengantuk. Tapi ia diakui sebagai sosok yang intuitif dan memiliki perspektif yang baik, yang memungkinkan dia untuk memahami orang-orang dari latar belakang beragam.

“Kau perlu tahu tentang suasana yang menyebakan sebuah tindakan kriminal, perlu tahu cara hidup, kebiasaan, moralitas, reaksi orang-orang yang terlibat di kasus ini, baik itu korban, pelaku, dan para saksi.”

Metode Maigret sangatlah efektif. Ketika ia curiga terhadap seseorang yang paling mungkin menjadi tersangka, ia akan membawa dirinya ke dalam kehidupan orang tersebut dan mengawasinya terus-menerus. Ia akan mempelajari semua tingkah lakunya sehingga akhirnya dia memiliki ‘kartu’ untuk membuat sang tersangka tersebut mengaku dan tidak berkutik.

Meski pangkatnya cukup tinggi, ia tetap aktif untuk turun langsung ke lapangan untuk menyelidiki kasus yang rumit. Saat ia mulai fokus melakukan penyelidikan , beberapa pekerjaan lainnya diserahkan kepada anak buahnya, seperti inspektur Lucas, Janvier, Lapointe dan Torrence. Inspektur Lucas mungkin bisa dibilang sebagai tangan kanannya Maigret. Ia melakukan hal yang sama seperti dilakukan Maigret, termasuk suka merokok dari pipa. Tapi ia selalu menggunakan pipa yang terlihat kebesaran dan terlihat tidak cocok dengan tampang dan tinggi badannya yang lebih pendek dari Maigret. Sedangkan Janvier juga merupakan bawahannya yang setia terhadap Maigret. Ia sering dipanggil “mon petit” (si kecil) oleh Maigre, padahal ia sudah cukup berumur. Tokoh lain yang sering muncul di kisah Maigret adalah Dr. Pardon dan Moers, seorang teknisi laboratorium yang selalu membantu Maigret saat menangani kasus.

Dalam perjalanannya, sang penulis Simenon sebenarnya sudah berniat menghentikan cerita Maigret selayaknya Doyle yang ingin mengakhiri kisah Sherlock Holmes. Namun karena permintaan para fans, ia pun melanjutkan kembali kisah Maigret sampai akhirnya ia benar-benar menghentikannya untuk selamanya. Kisah Maigret pun berakhir saat sang penulis mengidap penyakit dan memutuskan untuk pensiun dari kegiatan menulisnya. Saat penulis pensiun, ia juga mengisahkan kisah saat-saat pensiun Maigret yang kemudian pindah ke sebuah rumah di desa Meung-sur-Loire, dekat Orleans.

Maigret sudah berulang kali diangkat ke serial televisi dan teater. Yang paling dikenal adalah serial Maigret yang dipernakan oleh Michael Gabon pada tahun 1990-an silam. Dan kabar yang terbaru adalah serial Maigret akan kembali direbooth dengan Rowan Akitson sebagai Jules Maigret.

Tokoh ini juga dikenal sebagai tokoh yang menginspirasi Aoyama Gosho untuk menciptakan tokoh Inspektur Jozo Megure dalam cerita detektif Conan. Seperti halnya dengan Sherlock Holmes dan Columbo, Maigret juga dibuatkan patung yang diletakkan di salah satu taman yang terletak di kawasan Belanda. Kedua hal diatas dilakukan untuk menghormati tokoh detektif yang satu ini.

Beberapa testimoni tentang Maigret yang dicuplik dari novelnya:

“With all due deference to novelists. A detective is, above all, a professional.”
“He’s not engaged in a guessing game, nor getting worked up over a relatively thrilling chase.

“When he spends a night in the rain, watching a door that doesn’t open or a lighted window, when he patiently scans the pavement cafés on the boulevards for a familiar face, or prepares to spend hours questioning a pale, terrified individual, he is doing his daily job.

“He is earning his living, trying to earn as honestly as possible the money that the government gives him at the end of every month in remuneration for his services.

“Some investigations take months,” he says, “and certain criminals are eventually arrested only after long years, and then sometimes by pure chance.

“In practically every case the process is the same.

“I come and I go and I sniff around. People say I’m waiting for inspiration. What I’m waiting for is the one significant event that never fails to happen. The whole thing is to be there when it does so that I can take advantage of it.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s