Resensi Novel “Misteri Patung Garam”

25082874Judul: Misteri Patung Garam
Penulis: Ruwi Meita
Editor: Sulung S. Hanum & Jia Effendie
Penerbit: GagasMedia
Terbit: I, 2015
Halaman: 278 halaman

Kisah-kisah bertema serial killer atau pembunuh berantai memang sangatlah menarik untuk dibaca. Meskipun terkesan sangat keji untuk mengagumi sosok yang menghabisi manusia secara berkesinambungan dan melakukan ritual pada korbannya, namun hal inilah yang ternyata banyak menarik minat para pembaca. Tipikal kisah seriall killer tidaklah seperti tipikal cerita misteri dimana kita berusaha menebak siapa pelakunya. Misteri sesungguhnya dari cerita serial killer adalah apa yang sebenarnya yang ada di benak seorang pembunuh berantai. Disinilah pembaca diajak untuk melakukan perjalanan memasuki labirin dari pikiran mereka.

Kebetulan sekali novel yang sebenarnya sudah lama saya baca ini bisa dimasukkan ke dalam kategori serial killer, namun juga bisa dikategorikan sebagai novel detektif (mengingat banyak novel detektif yang tokoh antagonisnya adalah pembunuh berantai). Novel ini merupakan novel asal Indonesia yang ditulis oleh Ruwi Meita dengan judul “Misteri Patung Garam” dan diterbitkan oleh Gagas Media beberapa waktu lalu. Sebelum membaca novel ini, saya harus membuang bayangan saya akan kisah-kisah “The Silence of the Lamb”, “Red Dragon”, “Hannibal” karya Tom Harris, penulis yang dianggap sebagai pangerannya kisah-kisah pembunuh berantai. Hal tersebut saya lakukan agar saya tidak mudah membanding-bandingkan novel ini dengan novel-novel fenomenal tersebut. Karena menurut saya, novel ini adalah novel lokal yang otomatis kultur dan gaya penulisannya tidak bisa disamakan dengan novel-novel luar.

Novel ini diawali dengan seorang wanita muda yang ditemukan tewas secara mengenaskan. Korban yang merupakan seorang pianis terbunuh dan ditinggalkan oleh pelaku dalam keadaan tidak wajar. Tubuhnya dipenuhi dengan baluran garam sehingga terlihat bagaikan patung bewarna putih yang sangat artistik. Seperti yang dijelaskan oleh pemeriksaan forensik, organ-organ di dalam tubuh korban dikeluarkan secara rapi, termasuk otaknya dan diganti dengan jumlah garam yang besar. Pihak kepolisian Surabaya pun mulai mengusut kasus tersebut dan menugaskan seorang penyidik muda bernama Kiri Lamiri dengan pangkat Inspektur Dua (Ipda) untuk menyelidiki kasus tersebut.

Kenapa garam? Kenapa pelaku membunuhnya mengubah korban menjadi terlihat seperti patung garam? Kiri mencoba menyelami pikiran pembunuh tersebut. Sebelum bisa menemukan jawaban apa sebenarnya motif pelaku, korban lain seorang pelukis wanita juga ditemukan dengan keadaan yang serupa disusul dengan korban lainnya yang rata-rata berjenis kelamin wanita.

Kiri pun menyadari bahwa pelaku terinspirasi dari tokoh dalam kitab suci bernama Idis, istri Nabi Loth yang melakukan dosa dan akhirnya dihukum menjadi patung garam. Bersama dengan pacarnya, seorang pencopet cilik, serta rekannya di kepolisian, Kiri akhirnya menemukan titik terang tentang latar belakang sang pelaku yang tentunya dipenuhi dengan beberapa adegan yang cukup menegangkan.

Setelah membaca novel ini, ada beberapa hal yang ingin saya simpulkan:

Pertama, saya harus memberikan kredit yang positif kepada Ruwi Meita sang penulis kisah ini. Seingat saya, beliau lebih banyak menulis kisah-kisah horror. Mungkin novel ini satu-satunya novel perpaduan kisah kriminal, misteri, detektif, dan thriller yang pernah ditulisnya. Saya mengatakan perpaduan dari beberapa genre tersebut karena semua unsur yang saya sebutkan ada disitu. Mungkin yang bisa saya komentari adalah novel ini terlalu pendek bila dikategorikan sebagai novel seriall killer atau thriller.

Kedua, sang penulis lebih mengangkat porsi tokoh protagonis dibandingkan tokoh antagonisnya. Novel ini lebih cocok dikategorikan sebagai novel detektif, karena tokoh protagonisnya yang lebih banyak disorot. Pembaca lebih digiring untuk jatuh cinta dengan tokoh Kiri Lamiri. Biasanya novel bertema serial killer, tokoh antagonis juga mendapatkan porsi yang sama dengan tokoh protagonisnya. Seandainya penulis tidak hanya menuliskan motif dan masa lalu sang pelaku di lembar-lembar terakhir mungkin novel ini akan lebih komplit lagi. Tidak bermaksud membandingkan, saya hanya mencoba memberikan gambaran kepada pembaca lain bahwa novel ini setipe dengan novel “The Bone Collector” karya Jeffery Deaver yang lebih menyorot Lincoln Rhyme dibanding pembunuh berantainya atau juga setipe dengan “Darkly Dreamer Dexter” karya Jeff Lindsay. Tentunya mungkin lebih simple dari novel-novel luar tersebut.

Ketiga, saya mengapresiasi para tokoh yang terlibat dalam novel ini, khususnya Kiri Lamiri yang bisa dianggap sebagai “detektif” di novel tersebut. Ia bisa digolongkan sebagai detektif polisi jempolan. Seorang polisi muda yang berasal dari Bojonegoro yang kemudian pindah tugas ke Surabaya. Dalam novel ini sempat diceritakan bahwa ia adalah sebagai polisi yang berhasil memecahkan kasus Misteri Segitiga Biru sebelum ia pindah ke Surabaya. Saya sempat memikirkan apa alasan penulis menciptakan karakter dengan nama yang unik tersebut. Hubungannya dengan Kenes, pacarnya mengingatkan saya dengan kisah Letnan Daud Hakim dan Trista karya S. Mara Gd. Mereka berdua sama-sama bahu membahu dalam memecahkan kasus tersebut. Yang mungkin menjadi sorotan saya adalah tokoh Ireng, sang pencopet cilik yang bisa secepat itu masuk dalam kehidupan Kiri Lamiri dan makian “kampret rebus” dari Inspektur Saut yang seolah-olah dibuat agar melekat di kepala pembaca (saya jadi ingat makiannya Kapten Haddock di cerita Tintin).

Yang keempat, sang penulis melakukan riset yang lengkap dalam menuliskan istilah-istilah forensik dalam novel ini. Forensik patologi, metalurgi, dan lain-lain banyak diperlihatkan di novel ini. Di awal novelnya memang sudah dijelaskan bahwa sang penulis banyak dibantu oleh pihak kepolisian khususnya mengenai istilah forensik danberkaitan penyidikan polisi. Salah satu hal yang jarang dilakukan oleh penulis cerita detektif di Indonesia.

Yang kelima, twist cerita yang disajikan cukup baik, walaupun saya sudah bisa mengira apa yang akan terjadi. Ada beberapa hal yang saya bisa perkirakan dan ternyata benar. Salah satu contohnya adalah twist identitas pelaku dan siapa yang akan diculik oleh pelaku di bagian akhir cerita. Mungkin reaksi saya dan pembaca lain akan berbeda saat disuguhkan twist ini. Saya sempat membaca penulis review lain tentang novel ini yang menceritakan bahwa mereka tidak menduga akan twist di akhir cerita. Tapi reaksi saya agak sedikit berbeda karena saya sempat memperkirakan apa yang akan terjadi. Ini bukanlah twist yang buruk, malah menurut saya twist yang sangat bagus. Hanya mungkin saya yang lebih cepat memperkirakannya. Yang membuat saya bertepuk tangan adalah apa yang diceritakan di bagian epilog. Cerita dalam epilog itu yang menjadi pertanda bahwa petualangan Kiri Lamiri akan terus dibuat dengan kisah-kisah lainnya. Pastinya saya akan setia menunggunya.

Mungkin yang kurang kena bagi saya adalah karakter antagonis dan motifnya yang menurut saya “kurang psikopat”. Melihat metode pembunuhan yang ia lakukan dengan menjadikan korbannya seperti patung garam sebenarnya sudah sangat artistik dan cukup gila. Tapi di bagian kesimpulan ketika pelaku berhadapan dengan Kiri Lamiri dan menceritakan kenapa ia melakukan rangkaian pembunuhan tersebut terasa kurang greget bagi saya. Bila ada seseorang yang membunuh dan menjelma sebagai seorang penghukum karena para korban adalah orang yang bersalah, maka latar belakang seharusnya dibuat sangat kuat. Dan seharusnya lebih banyak korban yang berjatuhan. Tapi hal ini tertolong sedikit dengan apa yang diceritakan di bagian epilog.

Dari lima bintang, saya akan memberikan tiga setengah untuk novel ini. Dan saya berani merekomendasikan bahwa novel ini layak dibaca. Saya tentunya sangat berharap bahwa akan ada lanjutan kisah-kisah Kiri Lamiri lainnya. Bahkan kalau perlu saya menyarankan sang penulis untuk mengangkat cerita “Misteri Segitiga Biru” yang disinggung dalam novel tersebut secara lengkap. Dengan begitu novel bertema kriminal, misteri atau detektif semakin bermunculan di Tanah Air. So, read it, you never regret it!

M. Fadli

Advertisements

One thought on “Resensi Novel “Misteri Patung Garam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s