Police Procedural

0

Salah satu subgenre fiksi misteri, kriminal dan detektif yang melibatkan anggota kepolisian sebagai tokoh utama dalam cerita biasa disebut dengan “police procedural” (atau police crime drama). Subgenre ini mengisahkan usaha para anggota kepolisian dalam penyidikan kasus kriminal. Hal ini berarti tokoh utama dalam cerita ini adalah seorang detektif polisi yang melakukan berbagai aktifitas untuk membongkar kasus kriminal, seperti penyidikan tempat kejadian perkara, otopsi mayat, mengumpulkan barang bukti, mewawancarai para saksi, sehingga akhirnya bisa menangkap sang pelaku.

Bila tradisi novel detektif biasanya terkonsentrasi dengan satu kasus kriminal saja, maka “police procedural” lebih menceritakan penyelidikan berbagai kasus berbeda dalam satu cerita. Bila kisah misteri biasanya tidak menyingkap identitas pelaku sampai akhir cerita (yang biasa disebut whodunnit), maka police procedural memiliki gaya cerita yang lebih varitif. Terkadang pelaku sudah diketahui di awal cerita (inverted detective story), atau pelaku adalah seorang buronan sehingga para polisi mencari informasi dimana lokasi burona tersebut bersembunyi. Banyak penggemar kisah misteri yang juga mengungkapkan bahwa aksi kejar-kejaran antara polisi dan pelaku di penghujung cerita mewarnai subgenre ini.

Police procedural mulai dikembang di era 1880-an, disaat Wilkie Collins menuliskan novel “The Moonstone” pada 1868 yang melibatkan Sersan Richard Cuff, seorang polisi Scotland Yard yang menyelidiki kasus pencurian berlian berharga. Namun menurut Anthony Boucher, seorang kritikus novel misteri dari New York Times, menganggap kisah police procedural sesungguhnya dimulai semenjak novel “V as in Victim” karangan Lawrence Treat terbit pada tahun 1945.

Police procedural mulai lebih dikenal luas pasca perang dunia kedua dimana lebih banyak novelis yang mengembangkan genre ini. Namun tidak hanya mengangkat kisah polisi fiksi saja, para novelis ini juga banyak mengangkat cerita penyidikan polisi yang diangkat dari kisah kriminal dalam dunia nyata. Amerika mungkin paling banyak yang membuat kisah penyelidikan polisi yang menggabungkan kisah kriminal nyata dengan fiksi sehingga terlihat seperti tayangan semi-dokumenter kasus kriminal dengan polisi sebagai tokoh protagonisnya. Biasanya para novelis dan produser televisi ini bekerja sama dengan lembaga kepolisian setempat.

Contoh untuk genre ini mungkin cukup banyak sekali. Mulai dari novel sampai serial telivisi, bahkan cerita komik. “Cop Hater” (1956) karangan Ed McBain (nama pena dari Evan Hunter) menjadi salah satu contoh dari police procedural yang populer dalam dunia literasi. Di era sekarang, novel-novel Letnan Eve Dallas karangan J.D Robb (nama pena dari Nora Roberts) juga menjadi salah satu dari sekian banyak contoh.

Police procedural juga dianggap sebagai subgenre yang paling banyak dibuat, khususnya melalui serial televisi. “Dragnet” merupakan salah satu pioneer dari police procedural yang memulai debutnya di radio pada 1949 yang kemudian dilanjutkan dalam serial televisi pada 1951. Dragnet mengembangkan nuansa drama kepolisian selama beberapa dekade. Serial “The Untouchables” (1959–1963), juga bisa dianggap sebagai salah satu contoh dari police procedural. Serial ini merupakan kisah fiksi yang mengangkat sepak terjang tokoh nyata Agen Federal, Elliot Ness melawan dunia gangster dan mafia di Chicago dan beberapa tempat lainnya. Stephen J. Cannell mungkin dianggap sebagai salah satu sosok yang banyak mengangkat subgenre ini di era 80-an dan 90-an, seperti “Silk Stalkings”, “21 Jump Street” dan “The Commish.” Di era sekarang, kisah franchise tim C.S.I karangan Anthony E. Zuiker, juga dianggap sebagai kisah police procedural yang fenomenal di abad ke-21 ini.

Meskipun semua tokoh dalam subgenre police procedural adalah anggota kepolisian, namun ada beberapa novel atau serial dengan tokoh polisi yang justru tidak digolongkan sebagai police procedural. Seperti novel klasik dari Perancis karangan Georges Simenon yang menampilkan tokoh Inspektur Jules Maigret. Menurut beberapa pengamat kisah misteri, novel Simenon ini digolongkan sebagai novel detektif dan tidak tergolong police procedural. Hal ini disebabkan karena novel ini terfokus pada tokoh utamanya dan karakternya, dengan kasus misteri atau kasus kriminal sebagai latar belakang. Begitu pula dengan cerita Roderick Alleyn, tokoh rekaan penulis asal Selandia Baru, Ngaio Marsh. Banyak yang berpendapat bahwa novel ini dikategorikan sebagai “cozy mysteries”, dikarenakan settingan lokasi kejadian terjadi di kota atau desa kecil.

Tidak hanya dari buku dan serial televisi saja, police procedural juga bisa ditemui melalui komik. Salah satu yang cukup dikenal adalah Dick Tracy yang muncul melalui koleksi komik stripnya “The Celebrated Cases of Dick Tracy.” Pencipta Dick Tracy, Chester Gould mencoba menciptakan cerita yang berbasis dari kasus kriminal di dunia nyata. Dick Tracy terinspirasi dari tokoh nyata Elliot Ness dan tokoh fiksi Sherlock Holmes. Bahkan musuh-musuh Dick Tracy juga terinspirasi dari penjahat di dunia nyata seperti Al Capone dan sejenisnya. Di era modern, Brian Michael Bendis uga banyak menciptakan komik untuk perusahaan komik terbesar seperti Marvel dan DC Comics. Salah satunya adalah di District X dan Gotham Central. Salah satu karyanya adalah “Powers” yang menceritakan penyelidikan kasus keahatan yang teradi dalam ruang lingkup superhero, seperti penyidikan kasus kematian seorang superhero bernama Retro Girl.

Di era modern mungkin yang bisa terlihat dari kisah Police Procedural antara lain adalah C.S.I, The Mentalist, Bosch, Homicide Hunter, dan beberapa kisah lainnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s