Resensi Novel “Tewasnya Gagak Hitam”

tewasnya-gagak-hitamJudul Buku: Tewasnya Gagak Hitam
Penulis: Sidik Nugroho
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2016
Tebal Halaman: 248 halaman
Ukuran Buku: 18 cm
ISBN: 978-602-03-2429-6

Saya sangat mengandrungi cerita berbau fiksi kriminal, misteri, thriller dan detektif. Tapi saya mengakui bahwa belum terlalu ahli atau bisa dibilang pakar. Saya hanya sekedar berbagi info yang pernah saya baca atau dengar dari sumbernya langsung. Cerita-cerita seperti yang disebut di atas itulah yang ingin saya lihat terus dari para penulis asal Indonesia ke depannya. Saya juga berharap akan ada yang menjadi penerus S. Mara Gd, penulis fiksi kriminal misteri untuk era saat ini. Dan kebetulan, saya menemukan novel karya penulis muda bernama Sidik Nugroho yang juga berprofesi sebagai seorang guru berdomisili di Pontianak, Kalimantan Barat. Dengan membeli novelnya, saya ingin mendukung hasil karyanya supaya novel keduanya akan segera diterbitkan sehingga menambah khasanah genre-genre tersebut.

Sekedar intermezzo, novel ‘Tewasnya Gagak Hitam” ini sebenarnya sempat membuat saya terkejut dan tersenyum geli dalam hati. Hal itu dikarenakan nama sang tokoh hampir sama dengan tokoh yang pernah saya ciptakan untuk cerita di blog pribadi (sekarang sudah dihapus dan akan segera diganti ;p).

Sipnosis

“Pengarang Ditemukan Tewas Gantung Diri”, itulah judul berita di koran yang membuat Elang Bayu Angkasa, sang pelukis, penasaran. Apalagi pengarang dengan nama samaran Gagak Hitam itu tidak meninggalkan jejak sama sekali, kematiannya misterius. Terpancing rasa ingin tahu, Elang pergi ke Singkawang, menyelidiki kematian itu.

Saat Elang baru saja menyelidiki misteri kematian Gagak Hitam bersama Agung, polisi di Singkawang, kematian lain menyusul. Seorang dokter bernama Nina Sekarwati ditemukan tewas gantung diri di Jakarta. Elang tercengang ketika mendengar di kamar dokter nahas itu ada tulisan dari lipstik ditorehkan di dinding: “Merpati putih menyusulmu”.

Pengarang dan dokter—dua kota, dua kematian, dua misteri. Teka-teki apa yang tersembunyi?

Review

Sebelum saya mereview novel ini, saya ingin mencoba berbagi pengetahuan yang pernah saya baca. Sekedar informasi, genre fiksi detektif adalah sub atau turunan dari genre fiksi kriminal dan misteri. Fiksi kriminal bercerita tentang kisah hadirnya tindak kejahatan (pidana/perdata) yang intinya bagaimana keadilan bisa ditegakkan. Sedangkan fiksi misteri adalah cerita tentang pengungkapan suatu kejadian ganjil oleh tokoh utama. Biasanya cerita detektif memiliki unsur yang sama kuat antara kriminal dan misteri. Namun ada juga kisah detektif yang lebih dominan ke kriminal, ataupun juga sebaliknya. Contoh yang lebih dominan ke kriminal seperti novel detektif klasik seperti Sam Spade “The Maltese Falcon” dari Dashiel Hammet atau kisah Philip Marlowe “The Big Sleep” karya Raymond Chandler. Sedangkan beberapa cerita detektif yang lebih dominan di misteri antara lain seperti kisah Hercule Poirot berjudul “Sad Cypres”, “The Hollow” atau “After The Funeral”, dimana Poirot tidak muncul di bab-bab awal.

Nah, setelah saya membaca cerita “Tewasnya Gagak Hitam”, maka saya menyimpulkan kemungkinan cerita ini lebih dominan ke arah fiksi kriminal. Karena misteri yang disajikan kurang terasa “mengigit.” Tapi itu semua kembali lagi ke tujuan sang penulis. Apakah ia memang berniat membuat cerita detektif, atau memang berniat membuat di genre lainnya (mungkin fiksi kriminal atau drama kepolisian). Bila ia memang bernita membuat cerita detektif, maka seperti yang saya sudah sebut di atas bahwa novel detektif ala Sidik Nugroho ini lebih cenderung ke fiksi kriminal. Bahkan saya merasakan nuansa police procedural di novel tersebut. Tapi saya tidak akan menggolongkannya sebagai kisah thriller karena menurut saya terlalu ringan untuk thriller.

Tentu tokoh utama juga akan menjadi sorotan. Elang Bayu Angkasa atau sering dipanggil Elang. Seorang pelukis muda kharismatik yang terun ke dalam penyidikan polisi. Bila sang penulis bertujuan menciptakan karakter detektif dalam cerita ini, maka saya akan menggolongkan Elang Bayu Angkasa sebagai detektif amatir/amateur detective (Note: ada 4 tipe detektif dalam genre fiksi detektif: detektif swasta, detektif polisi, detektif amatir, dan ahli forensik). Detektif amatir ditujukan kepada para detektif yang berasal dari golongan sipil biasa, bukan anggota penegak hukum resmi atau membuka agensi detektif secara profesional, tapi memiliki kemampuan layaknya para profesional. Contohnya Miss Marple, Rouletabille, Father Brown,dan lainnya

Saya tertarik dengan karakter tokoh Elang Bayu Angkasa yang ekpresif dan bebas. Meskipun hidupnya tidak teratur tapi ia mampu memikat hati wanita sehingga jatuh dalam pelukannya, bahkan bersedia tidur dengannya. Ya, beberapa kali sang tokoh mengajak tidur beberapa wanita dalam cerita ini, termasuk salah satu wanita yang akhirnya hampir mencelakainya. Benar-benar cerita untuk orang dewasa.

Biasanya, beberapa detektif klasik karakternya dibuat flat. Tapi semakin kesini beberapa detektif karakternya dibuat rounded dan kompleks. Tidak hanya dikenal sisi heroik-nya saja, tapi juga sisi kehidupan lainnya dari sang tokoh. Termasuk Elang Bayu Angkasa.

Setting tempat mengambil lokasi di dua kota, Pontianak (dekat dengan Singkawan) dan Jakarta. Mungkin karena penulisnya tinggal di daerah Pontianak mungkin semua area atau lokasi digambarkan sesuai dengan apa yang dilihatnya. Dan, uniknya pemilihan lokasi Twin Tower Hotel di kawasan Jakarta Barat membuat saya tersenyum (mengingat saya pernah terlibat dengan adegan ‘kriminal’ di hotel tersebut 2009 lalu.. hehe).

Salah satu yang menyita perhatian saya adalah beberapa anggota kepolisian di dalam cerita ini. Karena beberapa adegan akhir dan kejar-kejaran di bab-bab akhir melibat para anggota kepolisian. Hal inilah yang membuat saya mengatakan bahwa ada nuansa drama polisi dan police procedural di dalamnya. Mengingat sang penulis mendapat beberapa informasi mengenai kepolisian dari polisi bernama Sandika Purba tentunya membuat adegan para polisi di cerita ini terasa lebih “real.”

Tapi ada beberapa hal yang menurut saya memiliki ‘cacat logika’ dalam novel ini. Sebenarnya banyak yang ingin saya ingin uraikan, tapi saya pilih beberapa saja.

1. Saya mengakui bahwa ini novel fiksi, sebuah cerita berdasarkan imajinasi seorang penulis. Tapi ada beberapa hal yang menurut saya menganggu dan mengganjal di hati karena agak sedikit aneh di logika. Pertama, saya sedikit kurang ‘sreg’ melihat sebuah kenyataan bahwa pihak kepolisian begitu mudahnya mengijinkan seorang pelukis terlibat dalam sebuah kasus kriminal. Biasanya, dalam cerita detektif dengan tokoh detektif amatir (khususnya dalam novel perdana), polisi akan selalu bersinggungan, bahkan menolak sang tokoh untuk masuk ke TKP. Para polisi baru mengakui kehebatan sang tokoh detektif amatir tersebut di akhir cerita. Bisa dilihat awal kisah Miss Marple, Rouletabille, atau cerita awal Kindaichi. Memang ada juga tokoh amatir yang bisa langsung bekerja sama dengan polisi di novel perdana, tapi itu dikarenakan mereka pernah terlibat bersama sebelumnya. Seperti di kisah awal Conan Edogawa. Saya mencoba kembali di bab awal-awal bagaimana Elang bisa terlibat dengan kepolisian. Saya menemukan di bab kedua, perkenalan Elang dengan Effendi Raditya, seorang polisi yang berteman dengannya di Facebook. Menurut cerita, Elang kenal dengan Effendi lantaran Singgih, seorang kepala seksi di Badan Pertanahan Nasional Pontianak sekaligus pengagum lukisan karya Elang. Singkat cerita, Efendi inilah yang memperkenalkan pada Agung yang akhirnya membuat dirinya terlibat. Disinilah yang menganggu saya. Terlalu mudah untuk tokoh dengan latar belakang seperti Elang ini bisa diijinkan oleh polisi untuk terlibat, bisa masuk TKP, bahkan diijinkan ke Jakarta untuk mengusut kasus dan bekerjasama dengan Polres Jakarta Barat. Karena dalam kenyataan tidak semudah itu seorang yang bukan penegak hukum bisa dengan mudah dilibatkan dengan sebuah kasus kriminal. Meski fiksi tapi para penulis era sekarang kadang membuat tulisannya seolah real dengan memperhatikan fakta-fakta seperti itu. Seandainya sang tokoh informan atau salah satu anggota keluarga yang menjadi korban mungkin akan lebih masuk akal. Atau mungkin diberi konflik sedikit antara Elang dan kepolisian sehingga keterlibatannya lebih ada gregetnya. Apa mungkin penulis sempat mengetahui ada tokoh di dunia nyata yang pernah bekerjasama dengan polisi meskipun ia hanya orang biasa yang iseng ingin terlibat penyelidikan sebuah kasus? Ya, itu mungkin saja walaupun saya meragukannya. Atau mungkin sang penulis belum sempat menceritakan bahwa Elang sebelumnya pernah memecahkan kasus yang membuat polisi jadi segan terhadapnya dan dengan mudah mengijinkannya. Apa mungkin akan diceritakan di cerita berikutnya? Kalau begitu kita tunggu saja.

2. [Spoiler Alert] Saya agak sedikit bingung dengan alasan anak buah sang pelaku yang menulis kata “Merpati Putih Menyusulmu” yang ditulis setelah Nina Sekarwati terbunuh. Tokoh pelaku wanita meracuni korban kedua dengan potasium sianida dan kemudian anak buah pelaku utama mengantungnya di kamar dan menuliskan kalimat tersebut. Kalimat “menyusulmu” itu mengandung kata “mu” di dalamnya. Nah, kata “-mu” yang dimaksud itu tentunya ditujukan pada korban pertama, penulis dengan julukan Gagak Hitam. Pertanyaan saya, mengapa sang pelaku perlu menulis kata “Merpati Putih Menyusulmu” yang ditujukan untuk korban pertama? Toh, korban pertama yang sudah meninggal tentunya tidak akan membaca atau menerima pesan dari tulisan tersebut. Apa mungkin penulis mencoba mengikuti gaya pesan pembunuh seperti tulisan ‘Rache’ (Pembalasan) dalam kisah “A Study in Scarlet”? Tapi dalam cerita tersebut, pembunuh menulis pesan tidak hanya ditujukan kepada sang korban yang telah mati, tapi kepada polisi atau menjadi peringatan untuk calon korban berikutnya. Tapi di cerita “Tewasnya Gagak Hitam” tulisan itu ditemukan di sisi pembunuhan kedua. Untuk apa? Dalam buku mengenai para pembunuh yang pernah saya baca, biasanya pembunuh menulis sebuah pesan sebagai peringatan untuk korban selanjutnya atau sebagai ejekan untuk para polisi. Tapi dalam cerita ini, tulisan itu ditemukan pada korban kedua atau korban terakhir. Apa harus ditulis di saat korban pertama? Tidak mungkin juga. Karena korban pertama diisukan sebagai korban bunuh diri yang tentunya akan tidak sesuai dengan isu yang beredar di koran-koran. Seandainya tidak ada tulisan itu atau hanya tulisan “Merpati Putih” saja yang ditemukan mungkin akan lebih masuk akal.

3. Di awal saya sempat menulis bahwa cerita detektif ini lebih dominan ke genre fiksi kriminal dibanding fiksi misteri. Hal itu karena misteri yang disuguhkan kurang mengigit. Semua misteri terungkap dengan sendirinya tanpa perlu mengaduk-ngaduk pikiran pembacanya. Dalam artikel dari R. Austin Freeman, cerita detektif biasanya dilengkap dengan ‘problem’ yang kuat dan ‘solution’ yang kuat. Nah, dalam cerita ini hanya ‘problem’ yang kuat. Sedangkan bagian ‘solution’-nya lemah. Sebenarnya tidak masalah dengan solusi atau ending cerita seperti dalam novel ini. Karena dalam cerita detektif Amerika, khususnya yang berhubungan dengan polisi banyak yang mengandung solusi seperti ini. Atau mungkin seperti petualangan Tintin yang tidak terlalu fokus misteri. Tapi pembaca Indonesia sudah berpatokan pada kisah deketif yang pernah dibacanya, dalam artian sama kuat antara unsur kriminal dan misterinya atau sama kuat antara ‘problem’ dan ‘solution’. Sehingga banyak review yang saya temukan terlihat ‘belum siap’ dengan cerita yang ‘kurang lengkap’ seperti ini dari sudut pandang mereka. Maka dari itu, seperti yang saya tulis di atas, kembali lagi ke tujuan sang penulis ingin memasukkan cerita ini ke genre yang mana. Seandainya genre yang disuguhkan dalam cerita ini memang fiksi kriminal bercampur laga, maka akan lebih sesuai, mengingat ada keterlibatan para polisi di bab-bab akhir, adegan penyanderaan, kejar-kejaran, pengepungan, atau otak pembunuhan yang seorang pengedar narkoba. Karena dalam fiksi kriminal tidak penting tentang pengungkapan misteri dari sebuah kasus kriminal, tapi lebih ke arah bagaimana keadilan dapat ditegakkan. Dan kebetulan sekali penulis tentang fiksi riminal di Indonesia juga masih sedikit.

Sebenarnya masih banyak hal yang lain-lain ingin saya bahas yang menurut saya banyak mengganggu. Saya pernah mendengar dari salah satu aku tweet @forensikamatir yang berkata bahwa kebanyakan cerita detektif, kriminal, atau misteri buatan lokal kurang banyak riset. Saya sangat setuju. Hanya beberapa yang benar-benar fokus dengan riset. Mereka hanya fokus pada hal tertentu tanpa memikirkan hal yang lain. Selain itu, banyak yang tidak memperhatikan benang merah dan menyesuaikan dengan logika. Mungkin salah satu yang berhasil “Misteri Kolam Dangkal”, “Misteri Pembunuhan Di Kakek Bodo” atau “Rubrik Kontak Hati” karya S. Mara Gd yang berhasil menjaga benang merah dan membuat logika pembaca berjalan.

Terlepas dari itu, saya tetap akan menunggu cerita kedua dari Elang Bayu Angkasa. Mudah-mudah sang penulis, Sidik Nugroho (yang kebetulan sudah berteman juga di Facebook dan twitter), bisa memberikan saian cerita kedua yang menggugah selera pembaca. Untuk cerita ini, saya akan beri 3 dari 5 bintang. Sukses terus buat Sidik Nugroho, sang penulis.

Saran saya untuk buku yang kedua

Mungkin mas Sidik Nugroho bila berniat menulis cerita detektif dengan gaya seperti ini saya sarankan silahkan cari artikel yang ditulis R. Austin Freeman (pencipta tokoh Dr. Thorndyke) berjudul “The Art of the Detective Story” dan “Twenty rules for writing detective stories” yang ditulis S.S Van Dyne (kreator detektif Philo Vance). Saya mungkin bukan penulis profesional, tapi saya senang membaca. Dan saya berharap akan sangat puas dengan cerita kedua Elang Bayu Angkasa.

M. Fadli

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s