Resensi “Rahasia Batik Berdarah”

rahasia_batik_berdarahJudul: Rahasia Batik Berdarah
Penulis: Leikha Ha
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 192 Halaman
Terbit: 25 Februari 2016

Saat mendengar judulnya, ada dua hal yang terlintas di kepala. Yang pertama, novel ini ada kemungkinan merupakan sebuah novel bertema horor atau gore. Yang kedua, novel ini bertema crime dan mystery, serta agak menyerempet ke genre fiksi detektif. Saat membaca sipnosisnya, pilihan saya semakin condong ke arah asumsi saya yang kedua. Tapi saya baru menyadari setelah melihat label “Young Adult” yang disematkan oleh Gramedia untuk novel ini, terlihat dari balon kata yang terdapat di sisi kiri atas cover novel tersebut. Dalam keterangannya, Young Adult adalah tema novel yang memiliki karakter tokoh utama berusia antara 18 – 25 tahun (lulus SMA atau belum bekerja). Selain itu, tokoh utamanya juga memiliki konflik batin, khususnya dalam pencarian jati diri atau arah hidup dalam cinta, keluarga, cita-cita, dunia kampus, dan memiliki konflik yang lebih rumit dibandingkan genre Teenlit.

Membaca sipnosisnya membuat saya penasaran dan segera membeli novel ini. Selain ingin membuktikan sendiri bagaimana ceritanya, saya juga ingin mendukung penulis-penulis yang mencoba bergelut di jalur ini.

Sinopsis

Fiska (tidak dielaskan siapa nama belakang atau nama depanya), seorang wartawan muda yang biasanya meliput artis atau selebriti dengan terpaksa harus  berangkat ke Yogyakarta dengan frustrasi.  Keberangkatannya ke kota pelajar tersebut atas perintah meliput dadakan dari atasanya Pak Edi sebagai hukuman karena ia mangkir kerja selama seminggu demi menyembuhkan patah hatinya.

Liputan kali ini bukan sekadar mengejar konfirmasi gosip selebritis, melainkan untuk meliput kasus pembunuhan Nita, karyawati sebuah perusahaan batik cap tradisional terkenal di kota tersebut. Ternyata tugasnya bukan hanya meliput saa, tapi ia uga ditugaskan untuk mengungkap kasusnya. Fiska pun terus mengumpat dalam hatinya dan merasa bahwa dia ini wartawan, bukan detektif yang bertugas mengungkap kasus.

Berbagai keanehan ditemui Fiska selama mencari bahan berita. Pemilik pondok yang luar biasa santun tapi mampu membaca pikiran. Kejanggalan pengakuan Pak Wiryo, pemilik perusahaan batik cap. Dan noda darah pada sehelai kain batik cap di samping gudang kosong tempat Fiska dibawa oleh Diki, pacar Nita.

Apa sebetulnya yang terjadi? Berhasilkah Fiska mengungkap kasus pembunuhan itu? Atau ia justru menjadi korban berikutnya?

Review

Setelah membaca kisahnya dalam beberapa hari, saya akhirnya bisa menyimpulkan bahwa novel ini memang bertema pergolakan dalam jiwa seorang cewek (sesuai dengan label Young Adult) dengan mengambil latar belakang kasus pembunuhan. Hanya sedikit ke arah cerita detektif. Hal itu disebabkan lantaran fokus utama dari kisah ini adalah sang tokoh utama, seorang wartawan muda lulusan SMA yang sebenarnya memiliki rasa “enggan” saat diminta untuk berangkat ke Yogyakarta. Sebenarnya pergolakan inilah yang menjadi daya tarik dari kisah ini, sebuah curahan hati dari sang tokoh.

Salah satu umpatan dalam hati Fiska adalah ia berulang kali menyebutkan “gue ini wartawan, bukan detektif!.” Ada rasa gregetan dalam diri saya saat beberapa kali membaca kalimat itu. Ingin sekali rasanya menjawab pernyataan Fiska dan menjelaskan bahwa wartawan itu memiliki 3/4 kemampuan detektif, atau menjelaskan kepadanya kalau tokoh detektif amatir termuda pertama di dunia berusia 18 tahun Joseph Rouletabille (The Mystery of Yellow Room 1907) adalah seorang wartawan. Ingin juga rasanya menjelaskan bahwa di dunia nyata, dua orang wartawan muda Bob Woodward dan Carl Bernstein adalah pengungkap skandal kasus Watergate dan berhasil menggulingkan Presiden Amerika, Richard Nixon pada 1974. Ingin sekali “menguliahi” Fiska dengan fakta itu. Tapi sekali lagi, novel ini tidak terfokus pada tokoh detektif, tapi lebih terfokus kepada cerita anak muda berlabel Young Adult (1)

Kasusnya mengambil tema batik. Walaupun belum banyak yang diungkap mengenai batik itu sendiri oleh sang penulis. Hanya sekedar menjelaskan sedikit sejarah batik dan pernak-perniknya. Batik disini berkaitan dengan pembunuhan yang terjadi. Kasus pembunuhan seorang karyawati perusahaan batik terkenal di Yogyakarta. Sang penulis masih menggunakan konsep sederhana yang biasa digunakan para penulis kisah detektif kebanyakan, yaitu sang pelaku adalah orang yang tidak diduga dan mungkin juga tidak dianggap para pembacanya bahwa ia adalah sang pembunuh. Padahal tidak selamanya seperti itu. Tapi sekali lagi, novel ini tidak terfokus pada kasus pembunuhannya atau pendalaman karakter sang pelaku, melainkan lebih terfokus kepada cerita anak muda berlabel Young Adult (2)

Salah satu yang membuat saya menarik nafas lalu garuk-garuk kepala adalah keterlibatan klenik dan makhluk gaib dalam kisah ini. Makhluk yang hadir dari hasil pesugihan dan telah menyebabkan beberapa pria tewas tertabrak mobil lantaran keterlibatan makhluk tersebut. Awalnya, saya terhibur dengan beberapa adegan horor yang ditunjukkan dalam novel ini yang ternyata adalah mimpi Fiska semata.  Namun mendekati bab terakhir, kehadiran makhluk yang hitam, besar, serta bau bacin darah membuat saya berkata dalam hati “ah, ternyata tidak melibatkan logika.” Walaupun bisa saja saya mengkategorikan bahwa ini adalah kisah seorang ‘occult detective’ (cerita seorang detektif yang nenangani kasus berkaitan dunia gaib atau supranatural), namun pertanyaan dalam diri saya adalah “kenapa tidak dibuat dari awal bab saja?”. Tapi sekali lagi, novel ini tidak terfokus pada horror atau occult detective-nya, melainkan lebih terfokus kepada cerita anak muda berlabel Young Adult (3)

Tapi entah mengapa, saya merasakan aura salah satu novel Nancy Drew berjudul “Rahasia Renda Tua” (The Secret in the Old Lace) di novel ini. Novel Nancy Drew bisa dikatakan salah satu cerita detektif bacaan ABG 90-an selain Trio Detektif atau Lima Sekawan. Seorang gadis detektif berusia 18 tahun yang menyelidiki misteri dan kejanggalan dari beberapa kejadian.

Kekuatan utama dari novel ini adalah gaya bahasa yang digunakan. Saya mengagumi gaya bahasa yang dipakai serta pemilihan diksi yang benar-benar berjiwa muda. Lugas namun penuh dengan candaan. Karakter Fiska benar-benar terlihat seperti beberapa cewe-cewek labil yang biasa suka nongkrong di depan gang rumah saya. Kita bisa melihat bagaimana Fiska merajuk atau mengeluh tentang hal-hal kecil, seperti helm berbau pomade atau jeritan hati tentang mantannya. Benar-benar terlihat seperti anak muda kebanyakan. Hal inilah yang cukup menarik buat saya.

Intinya, ini adalah novel renyah dan gurih untuk dibaca. Novel ini tidak diperuntukkan bagi kalian yang memang berhasrat untuk mencari bacaan kisah detektif, kriminal, misteri, atau thriller. Karena hal-hal tersebut hanya berupa percikan dalam novel ini. Saya memberikan rating 3,5 dari 5 bintang untuk novel “Rahasia Batik Berdarah” dari Leikha Ha yang satu ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s