Resensi “Career of Evil”, Soundtrack dan Obsesi Sang Pembunuh

careerofJudul: Career of Evil – Titian Kejahatan
Seri: Cormoran Strike #3
Penulis: Robert Galbraith
Penerjemah: Siska Yuanita
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit / Halaman: Cetakan I, 2016 / 552 Halaman

Akhirnya novel ketiga dari serial Cormoran Strike resmi diluncurkan pada awal April lalu. Setelah dirilis di Inggris pada 20 Oktober tahun lalu tentunya para pembaca kisah ini di Indonesia menanti hadirnya novel terjemahan tersebut. Dan akhirnya, “Career of Evil” atau “Titian Kejahatan” pun menjadi salah satu daftar buku yang wajib saya miliki. Dan beruntungnya, pihak Gramedia berbaik hati mengirim novel ini beberapa hari sebelum acara peluncurannya. Kesempatan tersebut tidak saya sia-siakan untuk membacanya dan kemudian menulis review-nya berdasarkan perspektif saya pribadi terhadap novel ini.

Sipnosis

Sebuah paket misterius dikirim kepada Robin Ellacott, dan betapa terkejutnya ia ketika menemukan potongan tungkai wanita di dalamnya. Kedatangan tungkai tersebut dibarengi dengan potongan lirik lagu “(Don’t Fear) The Reaper” dari band rock lawas Blue Oyster Cult. Potongan liriknya berbunyi “a harvest of limbs, of arms and of legs, of neck hat turn like swans as if inclined to gasp or pray.

Atasan Robin, Cormoran Strike, mencurigai empat orang dari masa lalunya yang mungkin bertanggung jawab atas kiriman mengerikan itu—empat orang yang sanggup melakukan tindakan brutal. Mereka terdiri dari:

1. Terence ‘Digger’ Malley, seorang anggota gang mafia yang tergabung dalam Sindikat Kejahatan Harringay yang diduga pernah mengirim potongan “pe**s” milik Hatford Ali ke Ian Bevin.

2. Donald Laing, seorang anggota militer dari Resimen Perbatasan Kerajaan. Seorang sosiopat parah yang pernah dijebloskan Strike ke dalam penjara di tahun 1997 dan bebas tahun 2007.

3. Noel Brockbank, seorang militer Brigade Lapis Baja Ketujuh. Julukannya adalah tikus gurun. Ia memiliki hubungan yang buruk dengan Stike.

4. Jeff Whittaker, ayah tiri Cormoran Strike yang usianya lebih muda dari ibunya. Pernah didakwa sebagai pembunuh ibu dari sang detektif. Ia menjadi anggota band bernama Death Cult.

Pasca kedatangan paket, pihak pers pun mulai memberitakan peristiwa kiriman tungkai tersebut ke publik. Hal itu membuat bisnis biro detektif partikelir Cormoran Strike terancam. Satu per satu klien pun mundur dan menyisakan hanya beberapa klien.

Tatkala polisi mengejar satu tersangka pelaku yang menurut Strike justru paling kecil kemungkinannya, dia dan Robin melakukan penyelidikan sendiri dan terjun ke dunia kelam tempat ketiga tersangka yang lain berada. Cormoran dan Robin pun berbagi tugas untuk menyelidiki ketiga tersangka lainnya di sela-sela melayani klien mereka yang tersisa. Selain itu, mereka diburu oleh waktu, sementara si pembunuh kejam kembali melakukan aksi-aksi yang mengerikan.

Review

Setelah menghabiskan waktu selama lima hari, akhirnya novel berjumlah 552 halaman ini selesai juga dibaca. Hal ini merupakan rekor bagi saya, karena ketika “The Silkworm” saya membutuhkan waktu dua minggu untuk membacanya. Tapi untuk “Career of Evil” saya bisa menyelesaikan dalam waktu kurang dari seminggu. Ini menandakan bahwa saya sangat menikmati sekali membaca “Career of Evil”. Tentunya ini menjadi satu poin dari novel ini.

Kasusnya kali ini berbeda dari “The Cuckoo’s Calling” dan “The Silkworm.” Namun menurut saya kadar misterinya sedikit berkurang dibandingkan dua buku sebelumnya. Seperti yang kita ketahui, genre fiksi detektif adalah subgenre dari fiksi kriminal dan fiksi misteri. Idealnya dalam genre detektifnya, kadar kriminal dan misterinya seimbang. Ibaratnya 50 : 50 untuk keduanya. Menurut pendapat saya untuk “Career of Evil”, jalan ceritanya lebih dominan dalam sisi kriminal-nya sehingga memiliki kadar misteri yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan cerita “The Silkworm.” Mengapa saya bilang seperti itu? Pertama, jumlah tersangka yang lebih sedikit dibandingkan tersangka dalam”The Silkworm.” Di buku kedua, jumlah tersangka sekitar tujuh orang, sedangkan di novel ketiga hanya berjumlah empat orang. Bila di buku kedua pembaca harus memiliki banyak pilihan siapa kira-kira pembunuh di antara ketujuh orang tersebut, maka dalam kisah kali ini pembaca lebih mudah memilah karena jumlah tersangka lebih sedikit. Otomatis kadar misterinya berkurang karena jumlah tersangka lebih sedikit. Kedua, di novel ini kita sudah tahu apa motif sang pelaku, bahkan sudah terlihat di bab awal. Sedangkan dalam kisah ‘The Silkworm” pembaca masih harus meraba apa kira-kira motif dari sang pelaku. Ketiga, pembaca akan disuguhkan dengan labirin dari pikiran sang pembunuh yang tentunya sangat erat berkaitan dengan psikologi kriminal atau kriminologi. Biasanya kisah serial killer atau psikopat killer fokusnya bukan pada “siapa pelakunya”. Fokusnya adalah apa yang ada di benak seorang pembunuh berantai dan bagaimana proses penangkapannya. Disinilah pembaca diajak untuk melakukan perjalanan memasuki labirin dari pikiran mereka. Yang keempat, adanya keterlibatan penegak hukum yang juga turut melacak keempat orang tersangka dalam cerita ini. Meskipun lebih kadar misterinya lebih sedikit, namun saya lebih menyukai kisah “Career of Evil” dibandingkan dua kisah sebelumnya. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa saya sangat menikmati membaca novel ini hanya dalam waktu 5 hari.

Saat mengikuti perkembangan kasusnya, pembaca diajak menikmati lirik-lirik kelam dari “Blue Oyster Cult”, sebuah band bergenre hard rock dan heavy metal asal New York, Amerika Serikat yang terkenal di era 1970 (sampai saat ini band dan beberapa personilnya masih aktif). Apakah ini menandakan akan selera musik dari J.K Rowling atau tidak hal itu belum diketahui pasti. Yang jelas beberapa lagu dan lirik dari lagu band tersebut menghiasi setiap bab dari novel tersebut, seperti “(Don’t Fear) The Reaper”, “Madness to the Method”, “Astronomy”, “The Marshall Plan”, dan beberapa lagu lainnya. Termasuk lirik “Career of Evil” yang liriknya ditulis oleh seorang musisi wanita penggerak musik punk di Amerika bernama Patti Smith dan menjadi  simbolisme dari novel ini serta sebagai soundtrack sang pembunuh berantai.

I choose to steal what you chose to show
And you know I will not apologize
Your mine for the taking

I’m making a career of evil

Kombinasi antara serial killer dengan obsesi pembunuh yang mengambil tema lirik lagu, mengingatkan saya pada dua sosok karakter pembunuh legendaris di dunia nyata yang kebetulan juga disebutkan dalam novel ini; Jack the Ripper (hal 431), pembunuh berantai di Inggris pada abad 19 yang selalu mengincar korban para wanita, serta Charles Manson (hal 72), pemimpin sekte Manson Family serta otak pembunuhan yang membunuh lantaran terilhami oleh lirik lagu “Helter Skelter” dari The Beatles pada tahun 1960-an di Amerika. Sebenarnya saya juga belum mengetahui apakah Rowling memang terinspirasi dari dua tokoh nyata ini atau hanya sekedar imajinasinya saja. Namun karena nama kedua tokoh ini dicantumkan di novel ini (bahkan sang pembunuh dijuluki dengan sebutan Shacklewell Ripper), maka kemungkinan itu ada. Yang membedakan adalah motif dan metode sang pembunuh dalam novel ini berbeda dengan kedua tokoh itu.

murder

Korban-korbannya sang pembunuh berantai dalam cerita ini antara lain:

Sadie Roach, 25, asisten administrasi, mati ditikam, anting-anting dicuri.

Kelsey Platt, 16, murid, mati ditikam dan dimutilasi tungkainya

Lila Monkton, 18, PSK, ditikam, jari-jari dipotong, selamat..

Heather Smart, 2, karyawan jasa finasial, mati ditikam, hidung dan telinga dipotong.

Motifnya sendiri sebenarnya masih merupakan salah satu dari tiga motif utama yang sering kita jumpai dalam genre detektif. Seperti yang dikatan Bruce Rubenstein, salah satu penulis kriminal yang menjelaskan bahwa tiga motif pembunuhan yang paling banyak ditemui dalam kisah detektif adalah keserahakan, amarah, serta cinta yang salah arah. Dalam cerita ini, motif dendam yang merupakan bagian dari amarah benar-benar terasa. Para pembaca diajak oleh sang penulis untuk benar-benar menyelami pikiran sang pembunuh yang terlihat dari beberapa bab. Kita kadang bergidik dengan obsesi sang pembunuh terhadap Cormoran Strike dan hasratnya untuk melukai Robin Ellacott. Mengetahui hal itu membuat saya kadang-kadang berulang kali merasa deg-degan ketika Robin melakukan penyelidikan atau ketika ia beralan di tempat sepi. Rasanya ingin berteriak ‘Robin, hati-hati!’ atau hal seperti itulah. Gagalnya mengincar Robin yang selalu waspada membuat ia memilih korban wanita lain yang mudah untuk dibunuh. Cerita dari sudut pandang orang ketiga (POV 3) memang memiliki keuntungan yang lebih sehingga pembaca bisa berada di adegan yang berbeda dan bisa menyelami pemikiran setiap karakter yang ada. Termasuk sang pembunuh.

Salah satu kekuatan lainnya dari novel ini adalah pengembangan karakter dari tokoh-tokoh dalam kisah ini, terutama dua tokoh utamanya, Cormoran Strike dan Robin Ellacott.

Yang pertama adalah Cormoran Strike. Mungkin tidak banyak yang bisa saya jabarkan mengenai sepak terjang Cormoran Strike di novel ini, karena ia adalah tokoh utama untuk ketiga novel Robert Galbraith. Namun semenjak membaca novel ini dan “The Silkworm”, pandangan saya tentang karakter tokoh sang detektif menjadi berkembang. Saya jadi menyadari bahwa tokoh Cormoran Strike sebagai detektif ternyata lebih condong ke arah Private Investigator ala American hardboiled private eye dibanding Consulting Detective ala Sherlock Holmes atau Hercule Poirot (meskipun ia sempat dipanggil Sersan Sherlock Holmes dalam novel ini). Hal ini diperkuat dengan sebuah review dari seorang jurnalis Daily Mail yang menulis “Cormoran Strike adalah Philip Marlowe-nya Inggris untuk abad 21.” Kebetulan Philip Marlowe karya Raymond Chandler dikenal sebagai sosok Private Investigator paling fenomenal.  Selain itu, yang membuat saya terkesan dengan Rowling akan Strike dari novel pertama sampai ketiga adalah idenya untuk membuat seorang detektif dengan keterbatasan fisik dalam artian kaki yang diamputasi. Cormoran Strike tentu masuk dalam golongan “difabel/invalid detective”, sebuah istilah dalam genre detektif untuk tokoh detektif yang memiliki keterbatasan fisik. Selain Cormoran Strike ada tokoh Robert Ironside, detektif dari serial televisi tahun 60-an yang juga lumpuh karena kakinya tak berfungsi hingga harus memakai kursi roda. Tidak mudah membuat karakter tokoh detektif dengan kondisi seperti ini. Namun Rowling sangat piawai dan berhasil membawa karakter Cormoran Strike ke level yang lebih baik. Bagaimana sang tokoh menghadapi keterbatasannya membuat sosoknya layak menjadi karakternya yang disukai.

Namun yang paling bersinar dari novel ini adalah sosok Robin Ellacot, sang sekretaris. Banyak hal yang diungkap mengenai sosok sekretaris berusia 26 tahun di novel ini, seperti masa lalunya, lika-liku hubungannya dengan Cormoran Strike dan tunangannya, serta kemampuan detektif-nya yang meningkat drastis dibanding dua novel sebelumnya. Ya, Robin bukan sekedar asisten, ia sudah bisa dianggap partner. Bukan seperti Sherlock Holmes dan Dr. Watson lagi, tapi seperti Michael Blomkvist dan Lisbeth Salander, dua tokoh yang memiliki level sama kuat dalam novel Stieg Larsson, tentunya  dalam segi sudut pandang yang berbeda. Robin bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan Cormoran Strike dalam lingkup penyelidikan. Bahkan Strike sendiri beberapa kali terkejut atas apa yang telah dilakukan Robin. Kekaguman saya terhadapat Robin semakin lengkap ketika mengetahui fakta bahwa ia bisa bela diri. Tapi ada hal yang mengejutkan mengenai hubungan Robin dan Cormoran dalam novel ini. Puncak konflik antara Robin dan Cormoran dalam hal pekerjaan membuat saya susah bernafas karena benar-benar terkejut.

Seperti biasa, Rowling benar-benar detail menjelaskan setiap adegan, setting, serta setiap tokoh yang terlibat dalam “Career of Evil”. Sang penulis juga melakukan riset mendalam, khususnya saat menulis Cabang Investigasi Khusus. Seperti yang ditulis di bagian ucapan terima kasih kepada Polisi Militer, Rowling menjelaskan ia berkesempatan mengunjungi Cabang Investigasi Khusus Seksi 5 (UK) Polisi Militer Kerajaan di Endiburgh Castle. Selain itu plot, konflik, dan latar belakang benar-benar menarik. Para pelaku pendukung juga benar-benar hidup. Kemunculan Elin, Shanker, Eric Wardle dan Roy Carver membuat kisah ini semakin menarik. Karena tokoh-tokoh ini yang membuat ceritanya semakin renyah.

Memang suasana yang dibangun di dalamnya terasa kelam dan mengerikan bila dibandingkan novel sebelumnya. Namun menurut pendapat saya, nuansa kelam dan kengeriannya masih dalam taraf bisa dinikmati. Tidak seseram novel seri Charlie Parker-nya John Connolly yang nuansa gore-nya lebih terasa. Namun hal itu kembali lagi kepada selera dan persepsi para pembacanya masing-masing

Tidak hanya mengenai kisah, saya juga ingin mengomentari terjemahannya. Dalam novel ini banyak kata-kata yang biasa digunakan sehari-sehari (istilah bahasa gaul atau prokem), yang biasanya jarang saya jumpai di novel terjemahan (apa mungkin sayanya saja yang kurang sumber bacaan seperti ini.. Hehe). Contohnya seperti “nyap-nyap”, “banget”, “Si itu,” dan sejenisnya. Memang idiom bisa diterjemahkan dengan idiom, colloquialism bisa diterjemahkan ke dalam colloquialism, serta slang bisa diteremahkan ke dalam bentuk slang, bila memang ada padanan katanya. Mungkin pertanyaan saya untuk novel terjemahan ini, apa tantangan sang penerjemah saat menulis terjemahan buku ini? Apakah terdapat beberapa kata slang dalam Bahasa Inggris yang cukup rumit mencari padanan artinya? Keputusan seperti apa yang dibuat untuk memilih kata seperti beberapa kata di atas sebagai bahasa terjemahan? Mudah-mudahan ada kesempatan untuk menanyakan langsung kepada mbak Siska. Tapi secara keseluruhan saya menikmati membaca novel terjemahan ini.

Ada satu hal yang menjadi catatan bagi saya. Yaitu pola pengulangan yang dilakukan Rowling dalam bagian solusi saat pengungkapan pelaku. Memang dalam novel ini saya lebih mudah bisa menebak siapa pelakunya. Tapi hanya berdasarkan insting, bukan berdasarkan fakta petunjuk yang diselipkan sang penulis di sana sini. Saya bisa menebak lantaran insting karena saya mencoba mengikuti pola Rowling seperti yang pernah ia lakukan di “The Silkworm”, yaitu menuliskan fakta yang banyak mengenai tersangka lain sehingga membuat tersangka utama (sang pembunuh) tenggelam yang membuat pembaca tidak akan menduganya. Awalnya, saya menebak bahwa tersangka X adalah pelakunya. Namun karena tersangka X ini terlalu di-blow up, saya akhirnya berpikir jangan-jangan bukan tersangka X pelaku sesungguhnya. Melainkan tersangka W. Sangat sayang kalau bisa menebak pelaku hanya berdasarkan insting, bukan berdasarkan fakta. Karena fakta petunjuk mengenai sang pelaku hanya disimpan dan diketahui oleh sang penulis yang akhirnya terungkap saat Cormoran Strike berhadapan langsung dengan sang pelaku. Saya mengambil contoh saat di “The Silkworm”, Cormoran Strike mengungkap bahwa salah satu bukti yang dapat memberatkan pelaku adalah mesin tik yang ditemukan dari dasar sungai. Saya mencoba membalikkan lembar-lembar awal untuk mencari penjelasan fakta mesin tik itu, namun tidak ditemui penjelasannya. Hanya Rowling yang menyimpan fakta itu.  Hal itu juga terlihat di “Career of Evil”, banyak fakta yang baru dikeluarkan sang penulis saat pengungkapan sang pelaku, meski tidak serahasia (penyimpanan fakta) saat di “The Silkworm.” Mungkin tujuannya untuk membuat plot twist kepada pembaca sehingga ceritanya tidak mudah ditebak. Tapi dalam genre fiksi detektif, khususnya di era Golden Age Detective dengan tipikal cerita circle suspect dan whodunnit (1920 – 1930), penulis genre detektif bermain fair dengan menjelaskan atau menyelipkan setiap fakta yang ada, khususnya berkaitan dengan bukti vital terhadap sang pembunuh, sehingga pembaca juga berkesempatan bisa menebak siapa pelaku berdasarkan fakta dan bukan berdasarkan insting semata. Tapi karena “Career of Evil” lebih condong nuansa kriminal dibanding misterinya, maka pola ini masih bisa dimaklumi. Karena fokusnya bukan misteri siapa sang pelaku tapi lebih ke bagaimana keadilan bisa ditegakkan dan pelaku bisa menerima ganjaran atas perbuatannya.

Untuk rating, saya akan memberikan 4,5 dari 5 bintang, sedikit di atas “The Silkworm”. Semua hal mengagumkan disini, khususnya di bagian ending. Saya semakin penasaran ingin mengetahui apa yang akan terjadi dengan Cormoran Strike dan Robin Ellacott kedepannya. Pastinya buku keempat dari Cormoran Strike akan selalu ditunggu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s