Ellery Queen, “Wajah” Dari Detektif Amerika

Ellery Queen1“Novel kisah Ellery Queen akan selalu menjadi salah satu buku yang terus dicari bertahun-tahun mendatang” – Agatha Christie

Eropa mungkin dikenal dengan karakter detektif-nya yang gentlemen seperti Sherlock Holmes, Hercule Poirot, atau Jules Maigret. Lalu bagaimana dengan detektif asal Amerika? Tentunya para penulis detektif asal Amerika juga memiliki karakternya masing-masing. Salah satunya adalah Ellery Queen. Tokoh ini dianggap sebagai “Sherlock Holmes-nya Amerika” karena mengedepankan logika dalam memaparkan kesimpulan. Tokoh ini juga beberapa kali disebut dalam manga detektif Jepang, seperti Detective Conan.Tokoh Heiji Hattori disebutkan sebagai penggemar tokoh Ellery Queen. Sayangnya, tidak ada terjemahan novel tersebut di Indonesia. Padahal hampir seluruh wilayah Asia merilis terjemahan untuk novel-novel Ellery Queen.

Nama Ellery Queen sendiri terbagi menjadi dua, yaitu nama tokoh detektif-nya sekaligus nama penulisnya. Ibaratnya seperti Ellery Queen ditulis oleh Ellery Queen. Nama ini bukan nama asli sang penulis. Ellery Queen adalah nama pena dari dua bersaudara, Frederic Dannay (1905-1982) dan Manfred B. Lee (1905-1971), yang menciptakan tokoh detektif yang namanya sama dengan nama pena keduanya. Mereka menulis kisah Ellery Queen semenjak 1929 sampai 1959 sebanyak 26 novel, 1 short novel, dan 9 kumpulan cerpen. Mereka dianggap sebagai penulis Golden Age Detective yang paling mengedepankan ‘fair play.’

Novel pertama Ellery Queen berjudul “The Roman Hat Mystery” yang terbit pada 1929. Awalnya, kedua saudara sepupu ini menulis cerita ini dalam rangka perlombaan menulis cerita detektif yang diselenggarakan oleh sebuah majalah terkemuka pada saat itu. Salah satu hadiahnya adalah novel sang pemenang  akan diterbitkan. Namun disaat mereka berdua telah ditetapkan dan keluar sebagai pemenang kompetisi, perusahaan majalah penyelenggara kompetisi tersebut mengalami kebangkrutan dan tutup. Beruntungnya ada penerbit lain yang siap menerbitkan novel keduanya.

Dalam novelnya, sang tokoh Ellery Queen merupakan seorang detektif amatir yang kemudian berkembang layaknya detektif profesional. Ia bukan detektif swasta atau detektif polisi. Ellery Queen dikenal sebagai penulis cerita misteri detektif terkenal. Ia adalah lulusan universitas Harvard dan sangat terpelajar. Keterlibatannya dengan setiap kasus pembunuhan lantaran ayahnya adalah seorang kepala kepolisian New York, Inspektur Richard Queen. Ellery Queen kerap menemani ayahnya di TKP dan mendapatkan akses untuk turut serta menyelidiki kasus yang sedang terjadi. Jadilah anak dan ayah ini berperan layaknya Sherlock Holmes dan Dr. Watson saat memecahkan kasus.

Dalam gambarannya, Ellery Queen adalah seorang pemuda yang gagah dan kaya raya. Ia tampil dengan menggunakan prince nez (kacamata tanpa bingkai) atau terkadang menggunakan monocles serta menenteng tongkat. Ia keturunan bangsawan dari garis keturunan ibunya yang menikahi seorang polisi dari kalangan biasa. Setelah ibunya meninggal, Ellery mewarisi kekayaan ibunya dan menetap di Brownstone West 87th Street, New York bersama sang ayah.

Karakter Ellery berkembang semenjak novel perdananya. Awalnya, Ellery terlihat seperti seorang terpelajar yang angkuh seperti di novel-novel awalnya, contohnya “The French Powder Mystery.” Banyak yang beranggapan karakter angkuhnya ini terinspirasi dari tokoh detektif Philo Vance karya S.S Van Dyne. Pengalaman kerjanya di Hollywood sebagai screen writer dan bergaul dengan para pesohor membuat sifatnya semakin sombong. Ayahnya sendiri terkadang muak melihat sikap anaknya yang seperti itu, seperti yang ia tuturkan dalam “The Greek Coffin Mystery”. Namun semenjak novel “Calamity Town” karakternya pun mengalami perbaikan. Ia menjadi sosok yang menyenangkan dan lebih “manusiawi.” Selain Ellery dan ayahnya, beberapa karakter lainnya yang sering muncul dalam novelnya seperti Sersan Velie, bawahan Inspektur Queen di NYPD, kemudian Djuna, pemuda gypsi yang menjadi pengurus rumah keluarga Queen, serta Nikki Porter, sekertaris Ellery yang sempat menjadi love interest-nya.

Beberapa novel awal Ellery Queen menggunakan formula geografik untuk judulnya. Seperti The Dutch Shoes Mystery, The Spanish Cape Mystery, The Greek Coffin Mystery, The Egyptian Cross Mystery, dan lain-lain. Untuk misteri dalam novel ini berstruktur whodunit layaknya novel detektif kebanyakan dengan beberapa formula yang cerdas; kasus yang unik dan misterius, banyaknya petunjuk yang kompleks, serta red herrings mendekati akhir cerita.

Novel-novel kisah Ellery Queen dianggap menarik karena kedua penulis menerapkan konsep “fair play.” Konsep fair play adalah konsep cerita detektif yang sang penulis membuat cerita dimana para pembacanya memiliki kesempatan untuk mengungkap pelaku layaknya tokoh detektif, berdasarkan petunjuk dan fakta yang diselipkan dalam plot cerita. Di saat banyak penulis cerita detektif berusaha menyembunyikan fakta tanpa meninggalkan petunjuk, tipikal kisah fair play melakukan sebaliknya. Penulis menyisipkan beberapa kata bergaris miring (italic) di bab-bab saat sang tokoh mulai melakukan penyelidikan tanpa melakukan spoiler. Biasanya konsep fair play ini kerap ditemui di cerita detektif tipikal whodunit dengan circle suspect pada era Golden Age. Petunjuk-petunjuk itu bagaikan potongan puzzles yang perlu disusun sehingga seluruh misteri bisa diungkap oleh para pembaca.

Contoh sederhananya dalam salah satu cerita Ellery Queen. Tertulis di bab “R”, Ellery Queen sedang membahas mengenai permasalahan “A” bersama empat orang di kantor ayahnya yang tertutup rapat. Tapi kemudian di bab “W”, kepolisian menemukan sebuah surat ancaman yang di dalamnya tercantum masalah “A”. Hal ini membuat pembaca berpikir bahwa sang pengirim surat ancaman mengetahui permasalahan “A” yang sempat dibahas oleh Ellery Queen di bab “R”. Sehingga bisa disimpulkan bahwa ada kemungkinan pelaku yang mengirim surat ancaman adalah salah satu dari empat orang yang bersama Ellery Queen pada saat pembahasan masalah “A”.  Dan masih banyak contoh lainnya.

Satu hal yang paling menarik dan membuat novel Ellery Queen berbeda dengan kisah detektif lainnya adalah “Challenge to the Reader” yang diselipkan mendekati bab terakhir sebelum pelaku terungkap. “Challenge to the Reader” berisikan kata-kata tantangan yang dituliskan oleh Ellery Queen kepada para pembacanya untuk menebak siapa pelaku dalam kisahnya. Konsep ini diapresiasi oleh John Dickison Carr, penulis buku The Hollow Man, The Judas Window, The Exploits of Sherlock Holmes (bersama Adrian Conan Doyle) yang mengatakan novel Ellery Queen adalah “the grandest game in the world”. Sayangnya, semenjak kedua penulis Ellery Queen ini masuk ke dunia Hollywood, beberapa novelnya mulai mengalami perubahan. Nuansa romance mulai disisipkan, pemecahan kasus mulai melibatkan element psikologi, dan “Callenge to the Reader” menghilang dari buku. Konsep puzzles dan teka-teki pun mulai berkurang dan diganti dengan tema instrospeksi diri.

Karakter Ellery Queen beberapa kali diadaptasi ke radio, teater, televisi dan film. Namun yang paling membekas adalah serial televisi “Ellery Queen” yang menampilkan Jim Hutton sebagai sang detektif. Serial TV ini diputar di tahun 1970-an yang mengambil setting tahun 1940-an dan diproduseri oleh Richard Levinson dan William Link. Berbeda dengan novelnya, Ellery Queen versi ini memiliki karakter yang lebih komikal dan sedikit oxymoron, seperti sering lupa dimana letak kacamatanya atau kunci rumah.

Kedua penulis itu tidak berhenti hanya pada novel dan cerpen saja. Mereka menciptakan banyak hal. Salah satu yang dikenal adalah Ellery Queen Mystery Magazine, sejenis majalah dengan konten pembahasan kisah criminal, misteri, detektif serta info mengenai kasus criminal di dunia nyata. Majalah itu pun masih eksis hingga hari ini.

 

Advertisements

9 thoughts on “Ellery Queen, “Wajah” Dari Detektif Amerika

  1. Nice post! Jadi, udah berapa tokoh detektif nih yg dikenalin mimin lewat blog ini? hehe..

    Btw, saya itu merasa familiar banget sama Ellery Queen. Sering baca resensi novelnya, sering baca komik/novel yg nyebut2 Ellery Queen. Tapi sayangnya sampai sekarang belum kesampaian baca satu novelnya sampai habis. Hadeeh… -_-”

    Oiya, Kenapa pas bagian nyebut John Dickson Carr kok diiringi sama The Exploits of Sherlock Holmes min? Kan ada karyanya yg lebih tenar seperti The Hollow Man, The Judas Window, dll.. Heuheu 😦

    Like

    • Thanks bro.. Tadinya nulis JDC yg The Exploits itu buat mudahin pemahaman yg baca krn org Indonesia kebanyakan lebih mengenal Sherlock Holmes. Dengan begitu org akan mencoba mencari tahu banyak ttg JDC. Tp bisa ditambahin ntar.

      Btw, boleh tuh ngulas ttg Dr. Gideon Fell atau Sir Henry

      Like

  2. saya udah pernah baca novel ellery yang “the Roman Hat Mystery”…novel yang bagus walaupun karna ini novel perdana ada yang terasa seperti meraba-raba, tapi yang membuat saya tercengang adalah “challange to the reader” yang membuat banyak penulis mengikuti ciri khas tersebut dan kebanyakan dari jepang, Shoji Shimada dalam Tokyo Zodiac Murder, Yukito Ayatsuji dalam the Decagon Murder House (walaupun sedikit terasa And there were non-nya ) juga nikadou reito dan Arisugawa Alice yang bisa disebut Ellery queennya Jepang.
    untuk novelnya terjemahan indonesianya sendiri, ada kok terbitan roket yang udah lama banget(ejaan lama bahkan) . saya punya 2 dirumah.

    Like

  3. saya udah pernah baca novel ellery yang “the Roman Hat Mystery”…novel yang bagus walaupun karna ini novel perdana ada yang terasa seperti meraba-raba, tapi yang membuat saya tercengang adalah “challange to the reader” yang membuat banyak penulis mengikuti ciri khas tersebut dan kebanyakan dari jepang, Shoji Shimada dalam Tokyo Zodiac Murder, Yukito Ayatsuji dalam the Decagon Murder House (walaupun sedikit terasa And there were non-nya ) juga nikadou reito dan Arisugawa Alice yang bisa disebut Ellery queennya Jepang.
    untuk novelnya terjemahan indonesianya sendiri, ada kok terbitan roket yang udah lama banget(ejaan lama bahkan) . saya punya 2 dirumah.
    Glint

    Like

    • Wow, senang mendengar ada yg sudah menemukan terjemahannya. Nica info. Sementara ini mimin masih baca yang versi Inggris-nya. Kebetulan ada The Greek Coffin Mystery, Spanish Cape Mystery, Egyptian Cross Mystery, The American Gun Mystery, dan beberapa short novel-nya. Yang tersisa utuh cuma yang Greek Coffin Mystery. Sisanya robek disana sini dan ada yang pinjem nggak kembalikan. Hehehe

      Like

      • susah juga nyarinya di indonesia … saya sendiri lumayan lengkaplah klo Ellery(tinggal beberapa yang Barnaby Ross), bedah tipis ama koleksi JDC, tapi nyarinya ribet banget. hehehe
        kerenlah min…

        Like

      • Wah, saya untuk yang fisik Ellery Queen cuma punya The Greek Coffin Mystery. Kalo ebook sih lengkap semua. Blom punya yg terjemahannya. Kalo John Dickison Carr yang bentuk fisik cuma punya dua itu juga Yang Carter Dickson yg tokoh Sir Henry Merivalle. Kalo eebok sih cerita Gideon Fell sam Marrivalle juga lengkap. Mau berburu yg fisik deh pesan di Periplus. 🙂

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s