Resensi “Rahasia Naskah Terakhir” (Detective Andy Series #2)

DetectiVe Andy1Genre : Novel Detektif Seri 2
Penulis : Mia Mutiara
Editor/Layout : Boneka Lilin
Desain Sampul : Mochamad Haririe
Penerbit : Harfeey
Tebal : 236 Hlm, A5

Baru kali ini saya berkesempatan membaca novel terbitan penerbit indie. Kebetulan sebelumnya saya lebih banyak membaca novel terbitan major publisher. Namun setelah berkenalan dengan sang penulis, Mia Mutiara, saya akhirnya berkesempatan membaca salah satunya yang juga merupakan buku dengan genre yang saya sukai, yaitu fiksi detektif. Untuk itu ucapan terima kasih saya haturkan kepada sang penulis yang memberikan kepercayaan pada saya untuk mereview novel ini walaupun sebenarnya masih dalam tahap belajar.

Novel “Detective Andy: Rahasia Naskah Terakhir” merupakan novel kedua dari empat seri lainnya. Sebenarnya saya lebih penasaran dengan novel pertama karena saya ingin tahu bagaimana semua kisah ini bermula, khususnya bagaimana Andy Syahrul bisa terlibat menangani kasus pembunuhan meskipun ia bukan seorang polisi. Tapi atas rekomendasi sang penulis, novel serial kedua inilah yang menjadi perkenalan saya dengan sang tokoh Andy Syahrul. Tentunya saya juga memiliki pengharapan untuk membaca novel ketiganya “Prahara Dakota” dan novel keempat “Sang Profesor” yang baru terbit bulan lalu. Sebelum itu, tidak ada salahnya mengulas novel kedua berikut ini.

Plot

Plotnya dimulai ketika sang tokoh, Andy Syahrul dan sahabatnya seorang polisi bernama Indra Sakti menghadiri sebuah pesta yang diadakan oleh seorang milyader petinggi Departemen Pertahanan Negara yang sekaligus seorang penulis bernama Adrian Darmasetya. Di pesta itulah keduanya berkenalan dengan Taruna Harso serta anak gadis dari tuan rumah, Wossy Anandita Darmasetya.

Situasi kemudian berubah ketika salah satu tamu undangan yang ditunggu-tunggu, seorang penulis  bernama Erland Dinar ditemukan tewas di pelataran parkir gedung tempat pesta. Sang penulis yang ternyata memiliki kedekatan khusus dengan Andy Syahrul tersebut mati lantara gigitan seekor ular. Berdasarkan hasil penyelidikan, ada kemungkinan gigitan ular itu bukan karena kecelakaan, melainkan bagian dari pembunuhan terencana.

Saat menyelidiki kasus ini, Andy dan Indra menemukan fakta bahwa sang korban adalah seorang mantan agen rahasia yang menulis novel tentang intelien dan terinspirasi dari kisah nyata. Salah satu karyanya yang berjudul “Kilau Rahasia Sang Mafia” ternyata mengandung pesan khusus yang menunjukkan sebuah organisasi mafia yang dipimpin oleh Big X. Rupanya  sang pembunuh ingin membungkam sang koban sekaligus mendapatkan naskah tersebut karena diduga naskah yang dimaksud mengandung pesan  yang menunjukkan identitas sang pemimpin mafia.

Pencarian pun dimulai. Salah satu lokasi yang diduga tempat naskah itu disembunyikan adalah Villa milik sang penulis. Andy pun berangkat menuju lokasi dan melacak dimana naskah tersebut disembunyikan. Ternyata ada pihak lain yang juga ingin mendapatkan naskah itu dan bahkan berniat melukai Andy. Situasi semakin menegang ketika ternyata sahabatnya Indra Sakti disandera oleh para pelaku. Dapatkah Andy menyelamatkan sahabatnya sekaligus mengungkap kasus ini?

Review

Secara keseluruhan dari plot yang disuguhkan benar-benar menarik. Pembaca akan mudah mengikuti pergerakan cerita novel ini. Dimulai dari eksposisi sampai masuk ke rising action, klimaks, falling action sampai resolution. Semuanya teratur dengan baik dengan memanfaatkan third person point of view (sudut pandang orang ketiga tunggal). Pemilihan bahasa yang ringan dan mudah dipahami membuat membaca novelnya mudah dinikmati.

Mengingat sang penulis berdomisili di daerah Jawa Barat, maka setting lokasi pun terpusat di ibu kota Jawa Barat, yaitu Bandung. Lokasi villa milik korban juga bernuansa Sunda dengan sedikit ungkapan berbahasa bumi parahiyangan tersebut. Sedikit lucu mengetahui bahwa dua lokasi di kisah ini hampir memiliki kesamaan nama, yaitu Gedung Diamond, tempat terjadinya kasus dan Villa Berlian, tempat naskah ditemukan. Diamond dan Berlian, saya rasa pembaca mengerti apa yang dimaksud.

Biasanya setiap kisah detektif, saya paling sering menyoroti tokoh utamanya. Sang penulis menggambar bahwa tokohnya Andy Syahrul adalah seorang detektif amatir (amateur detective) karena ia bukan seorang polisi. Ia adalah seorang freelancer yang juga seorang penulis kisah misteri dan detektif. Profesi ini mengingatkan saya kepada tokoh klasik era golden age Ellery Queen dan tokoh Jessica Fletcher (tokoh serial TV Murder, She Wrote), atau Richard Castle (dari serial TV Castle), yang juga seorang penulis kisah detektif. Karena saya belum membaca novel awal serial detektif Andy maka tidak begitu tahu bagaimana sang tokoh bisa dengan mudah terlibat kasus pembunuhan.

Berdasarkan pendeskripsiannya, Andy Syahrul ini berusia menjelang tiga puluhan dengan wajah yang tampan (digambarkan seperti aktor era 80-an, John Stamos), jenius, mudah disukai wanita, jago karate, ahli menembak (satu tembakan saat adegan kejar-kejaran), cukup kaya (mengingat ia memiliki motor sport), rendah hati, serta rajin beribadah (ada adegan ia sholat isya dan subuh). Ia menguasai juga teknik deduksi sederhana, teknik interogasi, dan membaca mikro ekspresi.

Untuk misterinya sendiri bisa digolongkan sebagai tipikal whodunnit layaknya novel detektif pada umumnya namun dengan sedikit aksi dibilang cukup fair play. Fair play yang dimaksud adalah cerita detektif yang penulisnya meninggalkan beberapa clue melalui kalimat atau kata yang nantinya akan dikaitkan dengan semua kejadian. Dalam artian, sang penulis memberikan kesempatan kepada pembaca untuk mengungkap kasus layaknya sang detektif di kisah tersebut. Selain itu, sang penulis menyiapkan sebuah kode yang membantu para pembaca untuk mengungkap kasus.

Kekuatan lain dari novel ini adalah dialog yang antara tokoh utama dan rekannya Indra Sakti cukup menarik untuk disimak. Bila pembaca mengidolakan tipikal sang tokoh detektif dan sidekick-nya, maka percakapan antara Andy Syahrul dan Indra Sakti benar-benar cukup menghibur. Mungkin tokoh Indra Sakti juga perlu diperhatikan disini. Karena ia adalah seorang polisi yang kebetulan lebih memiliki kewenangan untuk menyelidiki kasus. Saya rasa karakter ini juga perlu dikembangkan dan diberikan detail latar belakangnya. Entah kenapa hampir semua tokoh detektif lokal, tokoh utamanya memiliki partner seorang anggota polisi. Terlihat seperti Gozali dengan Kapten Kosasih.

Tapi ada beberapa catatan yang menurut pendapat saya pribadi cukup menyisakan sedikit lubang dalam diri saya sebagai reviewer. Beberapa di antaranya seperti berikut ini:

1. Entah mengapa saya merasa tokoh Andy Syahrul kurang mengena di hati saya. Alasan saya karena tokohnya terlalu sempurna. Bisa dilihat deretan penggambaran saya di atas yang mengatakan beberapa kelebihan dari sang tokoh. Memang untuk menjadi tokoh yang disukai, tokoh Andy Syahrul masuk dalam kriteria tersebut. Tapi untuk menjadi tokoh yang dekat dengan pembaca, saya rasa belum tentu. Coba perhatikan beberapa tokoh ternama klasik yang mereka selain jenius tapi ternyata esentrik dan punya beberapa “cacat”, tapi justru disukai pembaca dan mudah diterima. Sherlock Holmes, jago deduksi dan berkelahi tapi suka memakai narkoba.  Hercule Poirot, jenius dengan sel-sel kelabu tapi tidak segagah detektif lain karena ia memiliki tubuh pendek dan gemuk. Nero Wolfe, jenius dan ahli strategi, tapi pemalas dan pemarah yang luar biasa. Columbo, detektif jenius, sopan dan friendly, tapi penampilannya seperti gembel. Dan masih banyak contoh lainnya. Saran saya mungkin tokoh Andy ini perlu dikembangin dan digali lagi karakternya, minimal ketemu internal conflict-nya yang membuat pembaca bisa merasakan bahwa Andy Syahrul adalah bagian dari kita meski ia hanya sosok fiksi.

2. Meskipun misteri pembunuhan di kasus ini terbilang “fair play” dengan petunjuk yang ditinggalkan penulis melalui kata, frasa, atau kalimat serta suguhan sandi-sandi rahasia, tapi entah kenapa sang penulis kurang rapi “membungkusnya” sehingga saya dengan mudah bisa menebak siapa pelakunya. [Spoiler section] Bahkan petunjuknya sudah terlihat dari sipnosis yang digabungkan dengan gambar cover depan. Sehingga tak perlu berpikir keras dengan memecahkan sandi. Cukup melihat petunjuk tersebut dan menambahkan dengan beberapa bagian di cerita novel tersebut, maka salah satu karakter villain bisa terungkap. Mungkin salah satu penyebabnya adalah jumlah tersangka yang sedikit sehingga saya tak punya banyak pilihan hingga menebak tokoh “soulmate” itu siapa. Seandainya sang penulis menambahkan karakter lain atau mengembangkan karakter lainnya yang sudah ada seperti pasangan Indra Sakti di pesta, mungkin pembaca punya banyak pilihan.

3. Ada beberapa hal lain yang saya juga soroti disini, meskipun ini cuma masalah teknis tapi cukup mengusik kenyaman pembacanya. Salah satunya adalah jumlah dan panjangnya bab. Jumlah 236 halaman tapi hanya tersedia enam bab. Bab pertama sendiri terlalu panjang. Menurut saya bab pertama bisa dipecah menjadi tiga bab. Mungkin untuk jumlah halaman seperti itu bisa menjadi 13 sampai 16 bab. Ketika di Festival Pembaca Indonesia kemarin, beberapa penulis sempat ngasih masukan, bila membagi cerita bab dalam novel tidak perlu panjang-panjang agar pembaca tak sadar tahu-tahu sudah sampai di bab akhir karena saking keasyikan membacanya. Salah satu contohnya novel “Career of Evil” karya Robert Galbraith (J.K Rowling) yang bab-nya berjumlah 60 bab ke atas, tapi tetap bisa keasyikan membacanya karena setiap bab kurang lebih hanya 6 sampai 7 lembar dan saya bisa menyelesaikannya dalam waktu 5 hari.

Hal teknis lain yang jadi sorotan saya adalah terlalu banyak penggunaan kata “detektif” disini, termasuk pujian-pujiannya (mungkin pujian-pujian ini yang membuat karakter utama menjadi flat). Terus terang hal ini agak terlalu menganggu kenyamanan saat membaca. Memang hal itu membantu dalam rangka untuk menarik pembaca remaja usia sekolah, tapi agak sedikit menganggu buat pembaca novel detektif yang lebih dewasa. Bila memang target pasarnya untuk usia remaja, maka hal ini bisa dimaklumi. Alasanya sebenarnya cukup sederhana, karena di Indonesia terminologi detektif itu tidak lazim digunakan. Di Indonesia, para polisi yang menyelidiki kasus pembunuhan lebih sering disebut sebagai penyidik atau reserse, berbeda di Amerika dan Eropa yang memang para polisi-nya disebut sebagai detektif karena memang halitu bagian dari budaya mereka. Saat membaca beberapa novel misteri pembunuhan buatan Indonesia seperti karya S. Mara Gd, Sidik Nugroho, Ruwie Meita, dan lainnya, istilah detektif itu biasanya hanya diselipkan sedikit dan tidak digunakan berulang-ulang. Bahkan kalau bisa saya ingin menyarankan tidak perlu menggunakan “Detective.” Cukup dengan nama Andy Syahrul saya yakin juga cukup menarik. Mungkin bila saya yang editor akan menambahkan tag “Catatan Kasus Andy Syahrul.” Akan lebih baik lagi bila mbak Mia mencari narasumber seorang polisi dalam rangka riset untuk novel berikutnya. Karena hal itulah yang dilakukan beberapa penulis lainnya.

Rating

Selebihnya, membaca novel ini cukup menyenangkan mengingat saya hanya membutuhkan waktu sehari untuk membaca ceritanya. Mungkin beberapa gangguan teknis bisa saya atasi dengan baik. Saya berharap bisa membaca kisah Andy Syahrul lainnya. Untuk rating, saya memberikan 3.5 dari 5 bintang untuk “Rahasia Naskah Terakhir” dari Mia Mutiara.

Advertisements

2 thoughts on “Resensi “Rahasia Naskah Terakhir” (Detective Andy Series #2)

  1. wah keren cara mengulasnya. boleh dong bagi buku koleksinya… hehe boleh gak minta tolong kunjungi kuasdanpena.blogspot.com

    saya pengen tau pendapat agan. karena saya sedang menulis cerita misteri. ada cerita pendek dan novel. tapi untuk blog saya hanya post cerpen aja. thank

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s