Tarian Balas Dendam

tari-jaipong

Inspektur Satu Arya Komara berhasil meletakkan gagang telepon dengan baik. Satu detik yang lalu ia sudah berniat untuk membantingnya. Secangkir kopi baru saja datang, belum sempat dinikmati seteguk pun.

Ini minggu pertamanya menjabat sebagai Kasat Reskrim. Jabatan yang lumayan bergengsi sekaligus berkonsekuensi. Salah satunya adalah tidak bisa hidup tenang, sekalipun hanya untuk rehat makan siang.

“Kasus lagi, Pak?”

Arya menoleh, menatap seorang polisi muda yang siang itu berpakaian preman. Anak buah pertama yang dikenalnya ketika mulai bertugas di jabatan baru ini.

“Apakah selalu begini, Brigadir Johan?”

Yang ditanya hanya tersenyum sekilas. “Kepolisian resor ini membawahi wilayah yang rawan kejahatan, Pak. Satu minggu saja tanpa ada kejadian kriminal, itu sudah luar biasa.”

“Jadi ini biasa. Ayo.”Arya mengenakan kacamata hitamnya.

“Apa kasusnya?”

“Seorang wanita ditemukan tak bernyawa. Ruang ganti Gedung Mandala. Kemungkinan bunuh diri.”

Iptu Arya berkata pendek-pendek, namun cukup dimengerti oleh Brigadir Johan. Efisiensi adalah segalanya, termasuk dalam berkomunikasi. Keduanya bergegas menuju mobil dinas yang diparkir di halaman kantor.

Sirene yang nyaring terus mengiringi sampai mereka tiba di Gedung Mandala. Dengan kecepatan terlatih Arya dan Johan berlari memasuki gedung. Kerumunan orang menyambut keduanya.

Brigadir Johan segera menggiring kerumunan untuk menjauh dan berkumpul di satu sudut.Sementara Arya melangkah perlahan ke dalam ruang ganti.Ia sempat berhenti sejenak, matanya tak berkedip.

Tepat di depannya, sebuah kursi tergeletak di lantai. Beberapa buah buku tebal berserakan di sekelilingnya. Pandangan Arya terkunci pada sepasang kaki menggantung. Setelah menguatkan diri, ia menengadah.

“Yanti Darma,” Johan sudah berdiri di belakangnya.

“Penari terkenal itu…” Arya tak melanjutkan kata-katanya.

Johan paham akan reaksi atasan barunya itu. Sepanjang karirnya, bukan pertama kali Arya melihat orang tewas tergantung. Namun yang ini berbeda.Wanita itu mengenakan kostum panggung penari jaipong, dan yang melilit lehernya adalah sehelai selendang tari berwarna merah.

Arya memalingkan muka, tak tega berlama-lama menatap.Ia membiarkan Johan melakukan olah TKP bersama petugas lain yang baru tiba. Arya memilih menghampiri kerumunan orang di depan ruang ganti. Sebagian dari mereka mengenakan kostum panggung, sebagian lagi pakaian biasa.

“Siapa yang melapor?”

Seorang pemuda memisahkan diri dari kerumunan. Arya memperhatikannya sejenak. Pemuda itu bertubuh tegap, namun wajahnya nampak syok. Ia mengenakan celana jins dan kaus yang basah di sana sini.

“Aku membuka pintu ruang ganti dan menemukannya sudah begitu.”

“Siapa nama Anda, dan apa keperluan Anda di gedung ini?”

“Aku Herman, pembantu umum di pagelaran.”

“Pagelaran?”

“Nanti sore akan ada pagelaran kesenian. Yanti Darma akan tampil jadi penari utama, didampingi para penari lain.”

“Anda terlalu berantakan, kalau boleh kubilang.”

“Aku tidak hanya mengurus pagelaran, tapi juga bagian dapur dan menyeduh kopi. Posisi yang serbaguna.”

Arya mengedarkan pandangannya. “Anda semua, dengarkan.Yang tidak ambil bagian dalam pagelaran ini, artinya hanya penonton, tolong tunggu di sana.”

Beberapa orang bergerak meninggalkan kerumunan.Yang tersisa ada tiga orang.Dua di antaranya memakai kostum panggung.

“Hanya segini yang akan pentas?” tanya Arya.

“Yang lain belum datang,” jawab Herman.

“Tolong Anda sebutkan nama, posisi di pagelaran, kapan terakhir melihat korban sebelum tewas.” Arya menunjuk yang berpakaian biasa.

“Aku Radit, panitia pagelaran,” jawab orang itu. Pakaiannya necis, rapi sampai ke ujung sepatu. “Terakhir aku bertemu dengannya tadi pagi, sekitar pukul enam.Kami sama-sama baru datang.”

“Namaku Dian,” sahut salah seorang penari, yang ramping dan berkulit sawo matang.

“Terakhir dia meneleponku semalam, memastikan gladi bersih hari ini. Aku penari pendampingnya.”

“Aku juga pendamping,” penari di sebelahnya – sama cantik namun lebih berisi, menyambung.”Dia juga menelepon, tapi subuh tadi. Aku Retno.”

“Ada yang bermasalah dengan korban sebelumnya?” pandangan Arya menyelidik.“Atau ada yang tahu masalah yang sedang dihadapi korban?”

“Pak,” Johan memanggil atasannya. “Bisa kemari sebentar?”

“Tunggu di sini,” Arya memberi isyarat pada keempat orang itu. Ia lalu mengikuti Johan ke ruang ganti. “Ada apa?”

“Sesuatu yang menarik.”

Petugas tengah membaringkan jasad Yanti untuk dimasukkan ke kantong jenazah. Arya dan Johan pun mendekat.

“Posisi selendang tidak menyimpul di bagian belakang leher,” kata Johan. “Dan ketika dilepaskan, ada memar di leher. Darah di mulut, lidah terjulur.”

Arya tertegun.“Memar?”

“Korban sudah kaku.Paling tidak dia sudah tewas enam jam sebelumnya.”

Arya membungkuk untuk mengamati wanita itu.Sesaat kemudian raut wajahnya berubah. “Ini bukan seperti yang diduga.”

“Pembunuhan?”

“Kau bisa menebaknya.”

“Tapi kenapa ada kursi dan buku-buku?” Johan menunjuk ke lantai. “Itu biasa dipakai dalam kasus gantung diri. Korban naik ke kursi. Berhubung masih kurang tinggi, dia menambahnya dengan menumpuk buku.”

“Dan berantakan.”

“Tepat. Reaksi spontan menjelang ajal.Kursi dan buku terjatuh karena rontaan kakinya.”

“Memarnya tidak bisa membohongi.”

“Maksud Anda?”

“Memar itu bekas tekanan jari. Bukan begitu?” tanya Arya yang dijawab petugas identifikasi dengan anggukan.

“Dia dicekik?”

“Otopsi akan memastikannya. Namun sekarang, setidaknya tugas kita akan lebih mudah.”

Arya kembali menghampiri keempat orang tadi. Herman, Radit, Dian , dan Retno. Dari balik lensa, Arya memperhatikan gerak-gerik mereka. Satu taktik yang menjadi andalannya. Dengan memakai kacamata hitam, bahasa tubuh lawan bicara akan mudah terbaca.

“Yanti tidak bunuh diri. Dia dilenyapkan.”

Keempat orang tersebut kaget, lalu saling pandang. Arya melanjutkan ucapannya. “Jadi selagi urusannya belum panjang, katakan siapa yang punya masalah sedemikian rupa dengan korban sampai harus menghilangkan nyawanya.”

“Dia,” Retno menunjuk Radit.

“Apa?” Radit membelalak. “Kau menuduh aku?”

“Yanti memergokimu sedang berduaan dengan wanita lain, akibatnya kau diceraikan istrimu. Sudah rahasia umum, Radit. Kau tidak becus mengurus rumah tangga seperti kau tidak bisa mengelola sanggar ini.”

“Dan merugi puluhan juta,” sambung Dian. “Jelas saja kau frustrasi dan menganggap semua ini gara-gara Yanti.”

“Kalian sudah kehilangan akal?” bentak Radit. “Aku mati-matian menutupi kerugian itu, agar pagelaran tetap bisa berlangsung. Perkara aku bercerai, itu urusanku.Yanti bukan semata-mata penyebab, walau pun aku kesal padanya!”

“Kau yang salah, kau yang kesal,” sela Herman.

“Bisakah kau berkaca?” Radit menuding pria itu dengan telunjuknya. “Kau setengah mati mencintai Yanti tapi tak dibalas. Kalau ditolak ya sportif saja, tidak usah sampai melenyapkannya!”

“Sok suci,” Herman menggeram. “Aku sudah lama curiga. Kau masih sering menemui Yanti, bahkan baru saja mendatanginya di ruang ganti ini.”

“Baru saja?” tanya Arya.

“Jam sepuluh. Dia bohong kalau terakhir bertemu tadi pagi. Aku melihatnya masuk ke ruang ini. Tadinya aku tak mau peduli. Lalu aku mau mengantarkan kopi untuk Yanti. Ketika masuk kulihat dia sudah tewas.”

“Fitnah…!” Radit mendorong dada Herman.

Arya segera mengambil posisi di antara mereka. “Tidak adakah cara lain kecuali saling menyalahkan? Aku yang bertanya di sini, kalian hanya menjawab.”

Serempak keempat orang itu terdiam. Suara Arya yang sepadan dengan postur tinggi besarnya langsung membuat nyali menciut.

“Bagaimana dengan Anda berdua, Dian dan Retno?”

“Kita?” tanya kedua penari itu bersamaan.

“Ya. Dunia ini penuh persaingan. Termasuk dalam sebuah pagelaran. Yanti adalah penari utama, yang otomatis menerima perhatian terbesar. Bukan tidak mungkin salah satu di antara Anda menginginkan posisi itu.”

“Aku tidak serendah itu, pak polisi,” kata Dian dengan tajam. “Persaingan pasti ada. Tapi Yanti adalah sahabatku. Dia memang lebih lihai dalam menari dibandingkan aku. Dia pantas menjadi penari utama.”

“Begitu pun dengan Retno,” Herman merengkuh bahu wanita itu. “Aku kenal baik dengan mereka. Yanti, Dian , dan Retno adalah teman. Mereka bersamaku sepanjang hari. Tak mungkin mereka pelakunya. Satu-satunya tersangka hanyalah Radit.”

Arya menatap dari balik kacamatanya. “Apakah Anda bisa menjamin bahwa mereka tak lepas dari pandangan selama itu?”

“Tentu,” jawab Herman tegas. “Aku harus mengurus kostum mereka juga.”

“Lalu kenapa Yanti bisa terpisah?”

“Dia bilang padaku, selendangnya tertinggal di ruang ganti yang ini. Dia pergi untuk mengambilnya. Tapi lama tak kembali sampai aku menyusulnya.”

“Ada ruang ganti lain?”

“Ada beberapa. Tapi sebagai penari utama, Yanti diberi ruang ganti sendiri.”

“Kalian bersama sepanjang hari?” Radit menyela. “Aku melihatmu di lorong ini, berjalan sendirian, Dian. Apa yang kaulakukan?”

“Eh…” sahut Dian tergagap. “Aku hanya ke toilet di ujung lorong. Aku sama sekali tak masuk ke ruang Yanti walau aku melewatinya.”

“Kau hanya cari pembenaran, Radit,” sindir Herman.

“Karena aku memang benar!” Radit meradang.

“Cukup,” Arya mengeluarkan suara baritonnya. “Aku melihat usaha saling menjatuhkan di sini.”

Inspektur polisi itu melangkah melewati Brigadir Johan. “Kita cari sesuatu yang bisa membungkam pertengkaran anak-anak itu.”

Johan mengangguk tanda mengerti. Petugas ambulans sudah bersiap mengangkat jasad Yanti. Seorang petugas lain menghampiri Arya. Ia menyodorkan selendang yang sudah dibungkus plastik.

“Tak ada sidik jari,” katanya. “Pelaku cukup berhati-hati.”

Arya menerima bungkusan selendang itu. Ia membuka dan mengambil ujung selendang.
“Johan,” panggilnya. “Lihat ini!”

“Kenapa, Pak?”

“Amati baik-baik!”

Johan mengamati beberapa saat. Ia memegang selendang itu, meraba-rabanya. Keningnya berkerut seketika. “Selendang ini robek.”

“Selendang yang cukup tebal, tapi tak terlalu panjang. Pelaku merobek dan menyambungnya, agar bisa menjangkau atap. Kau lihat? Pelaku merobek dengan terburu-buru, tenunannya sampai hancur.”

Johan mengambil beberapa helai benang yang terlepas dari selendang itu. “Ini ada di mana-mana, Pak. Berhamburan,” katanya sambil melihat ke lantai.

“Itulah yang kumaksud. Sekarang kita lihat keadaan di sini.”

Arya berjongkok di dekat kursi dan tumpukan buku. Jemarinya meraba-raba seluruh permukaan. Lalu ia mengambil sesuatu dengan telunjuk dan ibu jarinya. Helai-helai benang yang sama, dan banyak butiran yang terasa kasar.

“Nampaknya terjadi pergulatan sengit sebelum akhirnya korban menyerah.”

“Maksudmu?”

Johan menunjuk ke sebuah meja di sudut ruangan. “Posisinya tidak pada tempat semestinya. Ada bekas geseran di bawah kaki-kaki meja itu.”

Arya mendekat dan mengamatinya. Kembali jemarinya meraba-raba permukaan meja. Tiba-tiba raut wajah polisi itu berubah. Pandangannya tertuju pada nampan berisi secangkir kopi. Nampan itu terletak di atas meja yang bersebelahan dengan meja yang bergeser.

Johan mengikuti gerak-gerik atasannya. “Itu pasti kopi yang diantarkan Herman pagi tadi. Sudah dingin.”

Arya menyentuh cangkir itu. “Memang pasti begitu. Tapi bukan masalah kopi dingin ini yang membuatku tertarik.”

“Lalu apa?”

Arya menarik bahu Johan agar membungkuk. “Ada selendang lain di sini.” Katanya sambil menarik laci di bawah meja. Johan mengerutkan kening. Selendang itu bukan berwarna merah, melainkan biru.

“Ini punya siapa?”

“Kita sudah tahu siapa pelakunya.”

Arya melipat selendang itu menjadi sangat kecil, dan dimasukkan ke saku. Bergegas ia ke luar ruangan dan menghampiri empat orang yang masih menunggu.

“Herman. Kenapa kopi itu belum kauambil? Buang saja, sudah dingin.”

“Ya ampun,” Herman menepuk dahinya. “Gara-gara kejadian ini, aku lupa. Permisi, aku ambil dulu.”

“Silakan.”

Arya bergeser memberi tempat. Ketika Herman melewatinya, Arya melihat ke bagian belakang celana jins pria itu. Lalu dengan sekali sentak, Arya merenggut sesuatu dari saku belakang. Bersamaan dengan itu, Johan memegang tangan Herman dan langsung memborgolnya.

“Hei, apa-apaan ini?!” Herman memberontak.

Arya mengacungkan benda yang diambilnya. “Sarung tangan yang kaupakai untuk mencekik Yanti. Ada helai benang merah tersangkut di sana sini…dan basah.”

“Apa maksudnya ini, pak polisi?” Radit terperanjat. “Jadi, benar Herman pelakunya? Dia membunuh Yanti?”

“Hampir sempurna,” Arya menyerahkan sarung tangan itu pada petugas. “Kalau saja bahasa tubuhmu lebih tenang. Selalu menggerakkan tangan ke bagian belakang, seolah menutupi sesuatu. Matamu juga tidak bisa diam, melirik terus ke ruang ganti.”

“Aku tidak melakukannya!”

“Oh ya, kau melakukan itu. Kau bilang mengantar kopi pukul sepuluh, dan menemukan Yanti setelah sebelumnya dia pamit ke sini untuk mengambil selendang. Tahukah kau? Jasad Yanti sudah kaku, mendekati maksimal. Tadi kami memeriksanya sekitar pukul satu siang. Yanti sudah tewas paling tidak pukul tujuh pagi.”

“Kopinya sudah sangat dingin dan hampir mengendap total,” sambung Johan. “Terlalu dingin untuk rentang waktu kurang lebih tiga jam. Dan ada beberapa helai benang di sekitar cangkir.”

“Benang dari selendang Yanti yang kausobek,” Arya melambaikan selendang merah. “Berhamburan di mana-mana. Di buku, kursi, lantai, dan meja yang kaugeser. Oh, masih perlu bukti? Sekeliling tempat kejadian banyak butiran pasir. Padahal Yanti dan para penari lain tidak mengenakan sepatu. Pasir itu dari sepatumu, Herman. Sepatumu basah, seperti halnya pakaian dan sarung tanganmu.”

“Tapi Radit…”

“Sepatu Radit dari bahan kulit yang licin. Tidak banyak menimbulkan jejak. Lain dengan sepatu ketsmu itu. Apalagi kau bertugas di seluruh area gedung, yang notabene tidak sebersih ruang ganti, di mana sepatu harus dilepas.”

“Tidak mungkin!” Retno berteriak. “Dia bukan pelakunya!”

“Bukan?” Arya mendekati wanita itu. “Memang bukan. Bukan hanya dia!” serunya sambil menarik lengan Retno dengan kuat.

“Aw! Lepas!” Retno berontak.

“Kau mau membela kekasihmu?” Arya tersenyum sinis. “Gaya Herman merangkulmu terlalu kentara. Kau juga yang pertama protes kalau bukan dia pelakunya. Reaksi spontan yang menjatuhkan dirimu sendiri, Nona. Dan kalau kau mau protes juga, katakan kalau selendang ini bukan milikmu.”

“Itu selendang Retno!” Dian berteriak.

“Ya. Selendang selalu sewarna dengan kostum. Yanti merah, Dian hijau, dan kau biru. Pasti ada alasan kenapa selendangmu ada di ruang ganti Yanti.”

“Herman…” Retno meratap.

“Tak ada gunanya lagi,” Herman mendesah lesu.

“Beritahu aku kalau salah. Kau dan Retno sudah datang sebelum Yanti, pagi-pagi sekali. Kalian membuntutinya ke ruang ganti, membawa kopi, lalu Herman mencekiknya. Untuk menutupi jejak, kalian menggantungnya. Perlu meja untuk menaikkan Yanti dan mengikatkan selendang ke lehernya, sedangkan meja itu terlalu berat untuk digeser satu orang. Herman naik ke meja – karena itulah banyak butiran pasir di atasnya. Setelah beres, kalian membalikkan kursi dan menghamparkan buku-buku untuk menambah kesan bunuh diri. Yang tak kalian perhitungkan, kemampuan kami dalam menganalisis ciri bunuh diri dan dibunuh.”

“Tadinya aku mau memakai selendang Retno, tapi pasti ketahuan,” keluh Herman. “Jadi aku pakai selendang Yanti, sedangkan ukurannya lebih kecil.”

“Jadi kau merobeknya. Kesialan bagimu, kau lupa kalau bahan selendang itu rapuh dan mudah berhamburan. Apalagi kau membasahi kausmu karena terkena darah. Seharusnya kau langsung ganti baju dan bakar sarung tangan itu.”

Herman hendak menjawab, namun Arya mengangkat tangannya. “Aku tak berminat mendengar alasan atau motifmu. Katakan itu di kantor polisi saja.”

Johan dan petugas lain menggiring Retno dan Herman. Arya menghampiri Radit dan Dian yang masih terpaku di tempat.

“Aku tak percaya…” kata Dian sambil terisak. Radit meraih lengan wanita itu dan membelainya lembut.

“Herman dan Retno sudah memanfaatkanmu. Sesudah melakukan aksinya, mereka terus di sampingmu agar ada alasan untuk mengelak dari tuduhan. Sayangnya mereka ceroboh dalam banyak hal. Tegarkan dirimu, bersiaplah untuk menjadi penari utama.”

Arya membiarkan Radit menghibur Dian. Ia berjalan ke luar gedung. Johan sudah menunggunya di dekat mobil.

“Aku baru pertama kali menghadapi kasus melibatkan penari,” ujar Johan.

“Aku juga. Tarian yang unik, tarian balas dendam. Apapun motifnya, ujung-ujungnya selalu begitu. Dendam rindu, cinta, dan segalanya. Dan melihat kopi tadi, aku teringat kopiku. Pasti mulai dingin juga.”

**selesai**

Mia Mutiara
FB Mia Mutiara
Twitter @Mia_mutiara1
Kuningan – Jawa Barat

Advertisements

One thought on “Tarian Balas Dendam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s