Persembunyian Iblis Bayangan (C. Auguste Dupin)

Paris

Setelah mempublikasikan kisah ‘Surat Yang Dicuri’ beberapa tahun yang lalu, Monsieur Bertin – kepala editor untuk koran Journal des débats – mendekatiku dan mencoba bernegosiasi tentang semua tulisan yang mengisahkan keterlibatan sahabatku, sang analisis jenius C. Auguste Dupin. Ia berharap akan ada kisah lain yang nantinya bisa dipublikasikan korannya. Ia mengaku bahwa kisah ‘Surat Yang Dicuri’ telah menaikkan oplah penjualannya dalam waktu yang singkat. Aku rasa tidak ada alasan menolak tawarannya selama itu bisa menghasilkan beberapa Franc untuk membantu keadaan finansialku, khususnya untuk kebutuhan domestik mengingat keadaan ekonomi Perancis melanjok turun pasca revolusi yang terjadi di tahun lalu.

Meski banyak masyarakat Paris yang menyukai kisah sebelumnya – termasuk menyukai Dupin yang piawai menunjukkan metode rasioniasi – namun kebanyakan dari mereka menganggap sosoknya adalah fiksi semata. Hal itu bisa dimaklumi mengingat Dupin adalah sosok inferior yang menarik diri dari masyarakat. Dupin dan aku menempati rumah yang hampir tumbang di Rue Dunot, Faubourg St Germain 33, tepatnya di sudut jalan yang sepi. Lokasinya sendiri menjorok ke dalam sehingga luput dari perhatian masyarakat sekitar. Apalagi dengan kebiasaan Dupin yang tidak pernah menampilkan dirinya di waktu siang hari dan berbaur dengan masyarakat sekitarnya. Alih-alih keluar untuk bersosialiasi dengan masyarakat, ia malah memilih untuk menarik semua tingkap jendela, menyalakan lilin, dan kemudian melakukan kegiatan di dalam rumah atau membaca buku di perpustakaan kecil miliknya di bagian belakang rumah. Begitu matahari tenggelam berganti dengan sinar rembulan, Dupin baru bersiap melangkahkan kakinya dan menyusuri kota. Ketertarikannya kepada kegelapan dan suasana malam pastinya akan dianggap ganjil oleh orang lain pada umumnya.

Namun malam ini, Dupin nampaknya tidak berniat untuk meninggalkan ruang perpustakaan sekalipun. Padahal suasana malam kota Paris di awal bulan September memiliki atmosfir yang cukup baik untuk bertamasya keliling kota. Musim panas segera berakhir dan berganti musim gugur, tentunya suasana sangat menyenangkan. Tapi yang terjadi ia malah menenggelamkan diri di kursinya sambil membaca sebuah buku karangan Voltaire – nama pena dari penulis dan filsuf François-Marie Arouet – sambil menghembuskan bergulung-gulung asap yang dikeluarkan dari rokok pipa meerschaum yang sedang dihisapnya. Aku merasa tergelitik untuk mengusik kegiatannya dan mengajaknya keluar malam ini.

”Apa kau tidak berniat untuk menikmati cahaya bulan malam ini?” tanyaku dengan hati-hati. Tidak ada jawaban darinya. Bahkan menolehkan kepalanya pun ia tidak melakukannya. Tampaknya tulisan Voltaire menarik jiwa dan pikirannya ke alam indah yang tidak akan membawa dirinya kembali.

Setelah beberapa saat, aku kembali bertanya kepadanya. Namun kali ini dengan pendekatan yang sedikit berbeda.

”Apakah ada sesuatu yang menarik dari kisah …ehm… Zadig ou la Destinée?”

Sepertinya usahaku yang ini sedikit berhasil. Dupin menarik nafasnya sambil meletakkan pipa rokoknya. Ia menolehkan kepalanya kepadaku dengan tatapan yang datar.

”Untuk dapat mendapatkan manisnya surga, seseorang harus merasakan pahitnya neraka,” kata Dupin kepadaku. “Terdengar klise? Tapi kira-kira inilah yang dituangkan oleh Voltaire melalui kisah Zadig, seorang filsuf muda dan cerdas asal Babylonia. Mengalami delusi dengan kisah cintanya, ia mengabdikan diri kepada ilmu pengetahuan. Namun berungkali harus merasakan kehidupan suram dalam penjara. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Termasuk dihukum menjadi budak karena dia membunuh sesorang pria di Mesir lantaran melindungi seorang wanita dari ancaman pria tersebut. Dan diakhir cerita, kau pasti tahu apa yang terjadi? Zadig pun menjadi seorang yang paling bahagia di dunia.”

“Semua cerita dongeng memang berakhir begitu bukan?” aku menimpali pertanyaannya dengan pertanyaan lain.

“Tapi ini bukan sekedar dongeng semata. Voltaire memberikan argumentasi dan silogisme melalui cara pandang Zadig ketika ia menemukan masalah. Kemampuannya menganalisa suatu permasalahan yang telah membawa dia meraih kebahagian. Dan itu seharusnya yang harus dipetik setiap orang. Zadig adalah tipikal tokoh yang bangkit dari jurang kegagalan, keluar dari sarang singa dengan gagah meski tubuhnya dipenuhi dengan cakar. Dan yang paling penting dia belajar dari kesalahan dan tidak mengulanginya lagi.”

”Jadi karena kegagumanmu akan Zadig yang menjadi penyebab kau melupakan kecondonganmu pada kebiasaanmu yang suka bertamasya malam?”

Kalau aku tidak menceritakan hal ini, Dupin pasti akan terus mendongeng sampai pagi. Sudah cukup tentang penjelasan analisanya tentang misteri kematian Marie Roget yang membuatku sakit kepala. Ditanya seperti itu, Dupin langsung tersenyum simpul, ia berdiri menuju rak buku dan mengembalikan buku yang ia baca.

“Bukan itu. Aku sedang menunggu seseorang. Kalau perkiraanku tepat, dia akan mengetuk pintu kita sebentar lagi.”

”Siapa yang kau maksudkan?”

‘Siapa lagi bukan sobat kita Monsieur –G.”

“Apa kau sudah membuat janji dengannya? Darimana kau tahu bahwa dia akan datang?”

“Mana yang harus kujawab terlebih dahulu? Tapi terpaksa kau harus bersabar sampai nanti. Sepertinya orangnya sudah datang.”

Sebuah suara ketukan di depan pintu lantai satu. Induk semang kami membuka pintu. Tak lama kemudian terdengar suara langkah menaiki tangga kami yang lapuk. Mendengar suara derap langkah tersebut, Dupin langsung bergumam.

“Wah, nampaknya bukan sobat Prefek kita yang datang, kawan. Pria yang akan mengetuk perpustakaan kita kali ini sepertinya anggota Prefek polisi lainnya. Mungkin saja dia anak buah Monsieur –G, atau mungkin juga suruhannya.”

“Bagaimana kau bisa tahu yang datang bukan Prefek –G?”

“Nanti saja penjelasan. Biarkan tamu kita ini menjelaskan perihal kedatangannya malam ini.”

Pintu perpustakaan pun diketuk. Aku pun bergegas membukakan pintu dan menyambut kedatangan tamu misterius kami tersebut. Dugaan Dupin tidak meleset sama sekali. Pria yang berdiri di ambang pintu saat ini memang bukanlah Monsieur –G yang biasa akrab dengan kami. Sesuai dugaan Dupin, pria bertubuh jangkung kurus ini memang seorang perfek polisi, terlihat dari seragam Surete – Kepolisian Paris yang dikenakannya. Aku tidak bisa melihat bentuk wajahnya dengan jelas karena ruangan ini hanya memiliki penerangan minim – Dupin yang bertanggung jawab untuk hal ini karena ia hanya menyalakan lampu baca untuknya. Namun aku cukup yakin dengan bentuk rahang yang tegas dan sebaris kumis tipis di atas bibirnya. Jika seandainya ia tidak berbicara mungkin aku tidak tahu kalau dia bukan berasal dari Paris, atau bahkan bukan dari negara ini.

“Selamat malam, Monsieur,” perwira muda ini menyalami kami berdua. “Manakah di antara kalian berdua yang bernama Chavilier Auguste Dupin?”

Aku jarang mendengar nama Dupin disebut lengkap seperti itu, apalagi sampai menyebut gelar kebangsawannya. Ya, Dupin memiliki masa lalu yang cemerlang saat keluarganya masih memiliki harta yang melimpah. Keluarganya masih keturunan bangsawan Perancis, wajarlah gelar Chavilier melekat dinamanya. Sayangnya, semenjak Revolusi Perancis II, ekonomi keluarganya merosot tajam dan mengalami kebangkrutan. Semua kekayaannya nyaris dijual semua. Dupin kini tak memiliki lagi kekayaannya yang melimpah. Bahkan untuk membayar sewa rumah ini, akulah yang harus menanggung semuanya. Satu-satunya harta yang ia miliki saat ini adalah buku-buku yang dimilikinya serta sebuah cek atas namanya hadiah dari Monsieur –G saat ia berhasil memecahkan kasus surat rahasia yang dicuri dua tahun yang lalu. Ia masih belum berniat menguangkannya sampai saat ini. Benar-benar kikir tingkat tinggi.

“Sayalah orang yang anda cari,” kata Dupin. “Silahkan duduk, Monsieur….”

“Escoffar. Pierre Escoffar.” Ia menarik kursi kecil dan duduk dengan gerakan yang halus. Aku juga mengambil kursi yang tidak jauh darinya.

“Rokok, Monsieur Escoffar?” Dupin berbaik hati menawarkan rokok padanya.

“Oh, tidak. Terima kasih. Saya tidak merokok, Monsieur.”

Dupin pun menarik kursi yang tadinya digunakan untuk membaca dan duduk dengan anggun. Mengetahui tamunya tidak merokok, ia pun menahan diri untuk tidak mengisi pipa rokok dan menghisapnya.

“Jadi, ada urusan mendesak seperti apa sehingga anda mengunjungi Rue Dunot, Monsieur?”

“Sebelumnya, saya minta maaf kalau menganggu aktifitas anda, Monsieur. Saya sebenarnya sudah berniat mengunjungi anda semenjak sore tadi. Namun atasan saya, Monsieur –G menahan saya untuk tidak melakukannya. Ia menyarankan untuk menunggu sampai malam hari. Ia mengutus saya untuk menemui anda karena saat ini Monsieur –G sedang memimpin beberapa perwira lainnya menyisir seluruh wilayah Paris. Bahkan sampai ke wilayah perbatasan kota.”

“Apa yang sedang dilakukannya, Monsieur?” aku terusik untuk bertanya.

“Anda pasti tentunya sudah mendengar perihal tentang Jules Gascoine III. Sang iblis bayangan. Surat kabar ibukota sedang dipenuhi dengan berita tentangnya.”

“Tentunya kami pernah mendengarnya. Pemimpin gerombolan bandit yang telah banyak melakukan sabotase dan membunuh beberapa pejabat penting di Swiss beberapa bulan lalu. Berita tentangnya menjadi tajuk utama di beberapa koran besar di daratan Eropa. Bahkan mengalahkan berita tentang wafatnya Louis Bonaparte,” jawabku. “Tapi kehebohan itu terjadi di luar Perancis dan sudah berlalu tiga bulan yang lalu. Karena Jules Gascoine III sudah ditangkap oleh polisi kerajaan Swiss bulan lalu.”

“Berarti Monsieur tidak mengetahui kalau ia sempat melarikan diri dari tahanan polisi Swiss dan kabur melintasi perbatasan Perancis. Dari rumor yang beredar di kalangan petinggi negara, ia bersembunyi di salah satu tempat di kota Paris. Ditambah dengan kejadian awal Agustus lalu, ia terlihat di kawasan Lementery dengan samarannya.”

“Wah, aku melewatkan peristiwa itu.”

“Yang benar saja. Kau bersahabat dengan editor Journal des débats, tapi kau melewatkan beberapa beritanya,” timpal Dupin. Ia mengambil Journal des débats yang terletak di meja kecil di sebelahnya dan melemparkan surat kabar itu ke pangkuanku, berikut surat kabar lainnya.

“Surat kabar L’Toille juga menuliskan berita tentangnya,” ia menambahkan.

Aku merasa terlihat seperti orang yang dungu karena ketidaktahuanku tentang berita ini. Kubentangkan Journal des débats terbitan sore dengan seksama.

Sang Iblis Bayangan Hilang Tanpa Jejak

Setelah berhasil meloloskan diri dari penjara Swiss beberapa pekan lalu, penjahat buruan banyak negara Jules Gascoine III yang juga dijuluki sang Iblis Bayangan kembali terlibat aksi kejar-kejaran dengan para anggota Surete kepolisian Paris kemarin malam. Naasnya, para petugas tersebut tidak berhasil menemukan sang buronan yang seperti ditelan asap menghilang di pusat kota. Atas peristiwa ini, pihak Surete Paris mengadakan penelusuran ke setiap sudut kota Paris. Mereka menggeledah semua tempat yang dianggap menjadi tempat persembunyian sang Iblis tersebut. Mulai dari kawasan di sepanjang Marche de Innocents sampai sudut Saint-Maclou juga tidak luput dari pencarian polisi. Bahkan saat ini Polisi menjaga setiap jalan masuk perbatasan kota Paris sebagai langkah untuk mencegah kaburnya sang buronan.

Sedangkan yang dituliskan oleh L’Toille juga merupakan pemberitaan yang sama, namun dengan topic yang berbeda.

Tangan Kanan Gascoine III Tewas Saat Pengejaran.

Hugo de Persigny, salah satu penjahat kawakan anggota dari komplotan Jules Gascoine III, atau yang dikenal dengan julukan Iblis Bayangan tersebut tewas saat terjadi pengejaran oleh Polisi. Sang penjahat terpojok saat polisi mengepungnya di atas atap salah satu apartemen Les Halles. Ia terjatuh dari gedung setinggi dua puluh meter tersebut.

Beberapa polisi yang menjadi saksi saat pengepungan tersebut mengatakan bahwa Persigny sempat memaki para prefek sambil berceloteh mengenai beberapa hal. Salah satunya adalah bahwa tidak akan ada seorang pun yang bisa menemukan persembunyian pimpinannya di dalam kota Paris. Ia juga sesumbar mengatakan bahwa tempat persembunyian sang iblis bayangan tersebut adalah tempat persembunyian teraman di kota Paris.

Belum sempat menghabiskan membacanya secara lengkap, aku menutup kedua kedua koran itu dan melemparkannya ke meja di hadapanku.

“Ah, jadi iblis bayangan ini sedang ada di Paris? Dan ia menertawakan semua instasi kepolisian, termasuk mengejek kemampuan Monsieur Vidocq untuk menerima tantangan darinya. Benar-benar tidak bisa dimaafkan,” aku bersungut-sungut.

“Artikel itu sudah bisa menjawab pertanyaanmu tentang kenapa aku tahu bahwa Monsieur –G pasti akan bertemu denganku malam ini. Ya, mungkin sedikit meleset dan dugaan semula,” ujar Dupin. Aku pun tertegun. Ketika aku ingin menanyakan hal itu lebih jauh, ia justru beralih ke tamu kami.

“Apa tanggapan Monsieur –G tentang hal ini?

“Kami para petugas kepolisian merasa dilecehkan oleh penjahat ini. Tentunya yang paling tertimpa kesialan adalah Monsieur –G, mengingat dia adalah kepala Prefek di Kepolisian Paris. Seperti yang sudah anda baca di beberapa surat kabar, para petinggi kota memanggilnya. Kini ia memimpin semua aparat dan menyisir seluruh kota Paris, sampai di pemukiman kaum Gypsi yang terletak di pinggiran kota. Untuk itulah aku disini untuk menyampaikan pesannya untuk meminta bantuan anda. Saya tidak tahu siapa anda sebenarnya, Chavelier Dupin. Tapi melihat keputusasaan Monsieur –G yang berharap akan bantuan anda, tidak ada salahnya saya kemari dan menyampaikan pesannya.”

Aku dan Dupin saling bertatapan mendengar kalimat terakhir tamu kami tersebut. Beberapa detik kemudian pecahlah tawa kami. Tamu kami terlihat kebingungan melihat tingkah kami berdua. Sebentar saja, aku bisa melihat raut wajah Escoffar mulai terlihat tersinggung karena merasa terlecehkan. Seperti halnya buronan polisi yang telah melecehkan kesatuan tempat ia mengabdi dan mencari nafkah.

“Tenang sobat,” kataku. “Yang kami tertawakan adalah kalimat ketidaktahuan anda akan sosok Chavelier Dupin dan apa yang ia kerjakan. Hanya itu, tidak bermaksud yang lain.”

Aku merasa tamu kami ini tidak membaca tiga kisahku sebelumnya mengenai bagaimana cara Dupin telah membantu pihak kepolisian dalam mengungkapkan misteri di beberapa surat kabar. Tapi saya bisa memakluminya. Seperti yang sudah telah kututurkan sebelumnya, masyarakat yang membaca tulisanku hanya menganggap bahwa Dupin hanya tokoh fiksi semata. Tapi bila ia salah satu petugas Surete yang sudah lama bertugas di Paris, seharusnya ia mengenal siapa Dupin. Kecuali kalau Prefek ini baru dipindahkan kemari dari tempat lain.

“Aku mengerti. Siapa pun diri anda, Monsieur, pihak kami membutuhkan bantuan anda,” kata petugas Prefek tersebut.

Dupin mulai menunjukkan sifat berwibawanya. Ia diam sejenak seraya sedang mengolah semua informasi dan kejadian. Beberapa saat kemudian, sobatku itu mulai berdiri dari tempat duduknya.

“Bailah, Monsieur Escoffar. Saya sudah mengerti akan situasinya. Saya bersedia membantu  menemukan sang Iblis Bayangan. Tapi saya mohon anda sampaikan pesan saya kepada Monsieur –G.”

“Pesan apa yang ingin anda sampaikan?”

Dupin pun mencondongkan posisi badannya ke arah sang prefek.

“Katakan padanya untuk belajar dari keselahannya. Bisa dimulai dari kasus surat yang dicuri oleh seorang Menteri beberapa waktu lalu.”

Kini giliran aku dan sang prefek yang saling bertukar pandangan. Baik aku dan prefek sama-sama tidak mengerti tentang apa yang dimaksudkan dengan Dupin. Bedanya, aku mengetahui detail kisah kasus surat yang dimaksud dibanding Monsieur Escoffar.

“Sampaikan pesan saya segera. Kalau ia mengerti maksudku, mungkin ia langsung bisa bertindak.”

“Baiklah, Chavelier,” sang tamu pun berdiri. Ia memberi hormat kepada kami dan langsung pergi melalui pintu tempat pertama kali ia masuk.

“Sebentar,” Dupin tiba-tiba beseru kepada Monsieur Escoffar.

“Ada apa Monsieur,” tanya sang Prefek.

“Apa kantor polisi Paris saat ini sedang dipugar?”

Aku dan Prefek tampak kebingungan dengan pertanyaan Dupin. Entah apa maksudnya.

“Ya, kebetulan memang seperti itu. Bagian sayap kanan kantor polisi saat ini sedang diperluas. Tapi apa maksud Monsieur menanyakan hal ini?”

“Ah, itu ada di surat kabar minggu lalu. Ada pemberitaan bahwa Vidocq telah menemukan pihak berkantong tebal yang akan membatu mendanai pemugaran kantor polisi. Tapi itu bukanlah hal yang cukup penting. Maafkan memotong langkah anda. Sekali lagi terima kasih, Monsieur.”

Prefek itu masih terlihat kebingungan. Namun ia kemudian berlalu dan menuruni tangga rumah sewaan kami. Setelah sang tamu kita meninggalkan rumah, aku langsung menghujani Dupin dengan berbagai pertanyaan.

“Ada beberapa hal yang belum kumengerti, sobat. Kurasa kau bisa menceritakan semuanya satu per satu. Aku sudah mengerti bagimana kau bisa mengetahui kalau Monsieur –G akan menemuimu. Tentunya dengan tekanan yang diberikan media kepada para anggota Surete yang berkaitan dengan Iblis Bayangan tentunya akan membuat dirinya mau tak mau harus menemuimu. Ya, mesti akhirnya yang muncul adalah orang suruhannya. Tapi kau belum menjelaskan bagaimana kau bisa mengetahui, kalau yang datang tadi bukan Monsieur –G, melainkan bawahannya di kepolisian, sementara kau hanya duduk di kursi bacamu.”

“Ah, kukira kau ingin menanyakan tentang maksud pesan untuk teman polisi kita, sobat. Rupanya kau masih berkutat dengan hal itu,” seloroh Dupin.

“Baiklah kalau kau ingin mengetahuinya. Surat kabar yang kubaca tadi mengenai penjahat licin ini telah memberikanku ide bahwa akan ada kemungkinan kalau Monsieur –G akan kembali datang menemuiku. Untuk apa lagi selain untuk minta bantuan atau pendapat dariku. Hal itu juga yang pernah dilakukannya saat terjadinya kasus pembunuhan Marie Roget dan surat yang dicuri beberapa waktu lalu. Kau tentunya sudah paham dengan penjelasan akan hal ini, bukan?”

“Namun dugaanku yang ini agak sedikit meleset. Yang datang justru ada orang lain. Aku bisa mengetahui semenjak pertama kali ia mengetuk pintu dan berbicara dengan induk semang kita untuk beberapa saat. Kita mendengarnya bukan saat ia pertama kali kesini. Untuk yang membuatku yakin bahwa yang datang bukanlah Monsieur –G. Kau pun tahu kalau sobat Prefek kita tersebut sudah berungkali bekunjung ke Rue Dunot. Ia tidak pernah mengetuk pintu dan menunggu jawaban dari induk semang kita. Ia langsung masuk menuju perpustakaan ini. Meskipun harus mengetuk, ia hanya akan mengetuk pintu perpustakaan ini untuk memastikan kita ada berdua ada di dalam atau tidak.”

“Selain mengetahui kebiasaannya, kita berdua tentunya sudah mengenal perawakan Monsieur –G, berapa tinggi dan berat tubuhnya, bentuk kaki dan kemungkinan beberapa lipat lemak di perutnya. Tapi tamu yang kita datang ini memiliki perawakan yang berbeda dari Monsieur –G. Aku mengenalnya melalui langkah kakinya saat menaiki tangga. Berat dan tinggi badan seseorang bisa diperkirakan saat seseorang sedang menaiki tangga kayu, tentunya selama kita mau membuka telinga lebar-lebar. Langkah tamu yang datang pada malam ini terdengar sangat ringan bila dibandingkan dengan langkah kaki Monsieur –G. Sebenarnya langkah –G sudah cukup ringan, namun pria ini lebih ringan lagi, bahkan hampir tidak terdengar. Hal ini membuktikan bahwa berat badannya tentu lebih ringan. Aku bisa mengetahui perbedaan anak tangga yang ganjil dan yang genap di dalam rumah kita karena beberapa kayu mulai lapuk dan beberapa diantarannya ada yang sempat diganti dengan kayu yang baru oleh para pekerja dua minggu lalu. Tamu kita ini menaiki tangga dengan melampaui dua anak tangga sekaligus. Hal ini memberikan kejelasan padaku bahwa orang yang menaiki tangga ini memiliki kaki yang lebih panjang bila dibandingkan dengan Monsieur –G.”

“Lalu bagaimana kau tahu kalau yang datang seorang polisi?”

“Dari cara dia melangkah. Beberapa orang melangkah dengan memakai semua telapak kakinya, biasanya dimulai dengan bagian tumit terlebih dahulu. Sebagian lagi melangkah dengan hanya menggunakan ball of feet – bagian depan kakinya saja. Nah, kedua prefek polisi baik -G dan Escoffar melangkah dengan bertumpu pada ball of feet keduanya. Sebagai petugas polisi, mereka terlatih untuk melangkah dan berlari dengan baik. Sehingga mereka akhirnya terbiasa menggunakan kaki bagian depan mereka. Apalagi para polisi ini sering bertugas mengintai atau membuntuti penjahat dan buronan, sehingga mereka kerap melangkah dengan menggunakan ball of feet mereka untuk mengurangi suara langkah mereka agar tidak terdengar oleh buruan mereka. Sama halnya para ahli bela diri dari negeri pelosok timur yang juga terlatih bertumpu pada kaki bagian depannya saat melangkah.  Dan itulah yang terdengar dari derap langkah baik -G maupun Escoffar. Seandainya mereka datang dengan mengendap-ngendap, mungkin kita tidak akan mendengar kedatangan tamu kita. Sedangkan mengenai perihal bahwa tamu kita adalah bawahan dari prefek –G itu hanyalah tebakan spontan saja.”

Harus kuakui bahwa analisa Dupin untuk hal ini bisa dibilang cukup menjelaskan. Tapi terkadang terdengar seperti dibuat-buat. Namun itulah Dupin. Baginya semua bisa dijelaskan selama ada keinginan di dalam jiwa manusia untuk mendapatkan kejelasan tersebut.

“Sekarang apa yang akan kau perbuat?” tanyaku kepadanya yang nampaknya tengah bersiap-siap untuk pergi. “Mau kemana kita malam ini?”

Sahabatku itu mulai sedang disibukkan dengan mantelnya. Dapat dipastikan bahwa ia sedang berencana bepergian keluar. Aku menunggu ajakan darinya untuk menjadi teman tamasyanya malam ini.

“Kalau kau berkenan, sobat,” kata Dupin, “aku ingin kau tetap di Rue Dunot. Tunggu sampai diriku sampai. Mungkin bisa sampai lima jam ke depan.”

Belum sempat aku protes, ia langsung membuka pintu dan melesat turun meninggalkanku sendirian di dalam perpustakaan gelap ini. Aku hanya bisa mengumpat dalam hati.

***

Hal yang paling menjengkelkan bagiku adalah menunggu. Ditinggalkan sendirian di ruang yang penuh dengan buku dan penerangan yang seadanya ini membuatku tertekan. Sudah lebih dari tiga jam Dupin meninggalkan kamar ini. Berbagai pertanyaan muncul di benakku. Merasa tidak puas hanya menunggu penjelasan darinya seperti yang biasa lakukan, aku memutuskan untuk meraih mantel dan topi browler milikku. Sudah saatnya menghirup udara segar sembari mencari tahu apa yang terjadi.

Setelah berpamitan dengan induk semang kami, aku pun mulai menyusuri jalan keluar dan meninggalkan kediamanku dan Dupin. Namun masalah yang timbul berikutnya yang kuhadapi adalah kemana aku harus mencari Dupin, Prefek Escoffar atau, Prefek –G. Hal itu yang membuat langkahku terhenti sambil melihat jalanan yang membentang.

Namun kebimbangan itu terhenti ketika seorang remaja mendekati dan memberikanku sebuah pesan. Awalnya ia hendak menuju apartemen sewa seraya menyampaikan pesan tertulis itu. Tapi rupanya remaja kurus berambut pirang itu mengenaliku sedang berdiri terdiam di bibir lorong Rue Dunot.

Remaja itu tak banyak bicara, ia hanya menayakan apakah aku adalah orang yang dicarinya dan langsung menyerahkan secarik kertas putih. Setelah memberikan beberapa Franc kepadanya ia pun melesat pergi dan menghilang ditelan jalanan kota Paris. Tanpa menyiakan banyak waktu, aku membaca secarik kertas yang sudah pasti ditulis oleh sobatku Dupin. Dan dalam beberapa menit kemudian aku sudah berada di kereta kuda dalam perjalanan menuju kawasan Saint-Avoye, tempat kantor Surete berada. Aku sedikit heran dengan pesan yang ia tujukan kepadaku. Mengapa ia menyuruhku ke kantor polisi dan memintaku untuk memakai mantel atau setelan berwarna terang? Aku sampai terburu-buru kembali ke apartemen dan menukar mantelku dengan warna terang sebelum memesan kereta kuda.

Setibanya di Saint-Avoye, aku langsung menuju kantor polisi sesuai dengan arahannya. Masih sedikit terpikir apa yang harus dilakukan disini. Tidak ada penjelasan lebih dari pesan Dupin. Belum sempat menemukan jawaban dari pertanyaan itu, aku dikejutkan dengan tarikan sebuah tangan dari arah belakang. Sebuah wajah tak asing dengan kumis tebal menawan yang menutup bibirnya. Prefek –G terlihat misterius dengan menggunakan isyarat telunjuk yang ditempelkan seara vertical di depan bibirnya sebagai pertanda untuk tidak bersuara.Saat aku menoleh ke tempat persembunyian kami, aku melihat beberapa petugas polisi lain terlihat juga melakukan apa yang kami lakukan sekarang. Bersembunyi dalam gelap. Hanya saja aku tak melihat Prefek Escoffar ataupun sobatku Dupin.

“Apa yang kita lakukan disini?” tanyaku dengan suara perlahan. “Bukannya kau sedang memimpin pasukan berpatroli keliling kota dan perbatasan?”

“Sedikit perubahan rencana. Itu pun karena ulah temanmu itu. Aku juga tak mengerti akan pesan.Belajar kesalahan dari kasus Surat Yang Dicuri? Padahal tidak ada kemiripan antara kasus itu dengan kejahatan sang Iblis,” maki pimpinan polisi itu dengan suara pelan.

“Lalu dimana dia dan Monsieur Escoffar? Dan mengapa kalian para polisi harus mengawasi kantor kalian sendiri?”

“Mereka berdua sedang di dalam. Entah temanmu yang aneh itu sedang berhalusinasi atau tidak, namun ia meyakinkan separuh pasukan Surete untuk kembali ke markas. Ia yakin bahwa beberapa saat lagi buronan yang kita kejar akan muncul di kantor polisi.”

“Aku benar-benar tak mengerti,” tanyaku keheranan sambil memperhatikan mantel Prefek dan beberapa anak buah lainnya. “Rupanya kalian juga memakai mantel dan setelan berwarna terang. Benar-benar aneh. Apa yang sebenarnya dipikirkannya?”

“Harusnya aku yang bertanya hal itu kepadamu. Ia bukan hanya menyuruh kami memakai baju warna terang, tapi juga para anggota Surete yang menjaga markas Surete,” jawab sang Prefek dengan ketus.

Beberapa menit kemudian merupakan waktu terpanjang dalam hidupku. Menunggu dalam udara malam dingin kota Paris bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Sepertinya hal itu bukan saja dirasakan olehku. Para petugas prefek yang berjumlah kurang dari dua lusin tersebut juga merasakan hal yang sama. Mungkin hanya dedikasi akan pekerjaan yang membuat mereka tetap bertahan mengawasi pintu gerbang markas mereka sendiri. Yang kami lihat hanyalah beberapa masyarakat setempat yang hilir mudik.

Kurasa sudah hampir dua jam lebih aku dan para anggota Surete ini berdiri dalam gelap. Penantian kami yang panjang ini akhirnya menemukan ujungnya. Sebuah bayangan gelap muncul dan mengendap dalam keadaan gelap. Dari arah tempatku berdiri aku tidak bisa melihat secara utuh siapa gerangan bayangan itu. Sosok itu terlihat menggunakan pakaian berwarna hitam dengan sebuah topi tinggi yang menempel di kepalanya. Aku mengenali pakaian itu sebagai seragam para Surete Kepolisian Paris. Yang membuatku berpikir anggota polisi itu bukan datang dari arah jalanan, melainkan dari arah dalam kantor markas Surete.

“Berhenti!”

Sebuah suara lantang terdengar dari arah markas yang diikuti dengan suara peluit yang panjang. Aku sempat melihat sosok berpakaian gelap tersebut tersentak akan suara-suara itu. Sebuah pertanda yang buruk baginya. Dalam sekejap Prefek –G dan semua anggota Surete yang sedari tadi bersembunyi bersamaku bereaksi cepat dan menyerbu ke arahnya. Sosok itu mencoba mencari celah dan memikirkan ke arah mana ia harus meloloskan diri. Namun semua penjuru telah terisi oleh para anggota Surete lainnya. Bahkan Prefek Escoffar muncul dari arah markas Surete. Kini aku menyadari bahwa suara lantang dan tiupan peluit panjang itu berasal darinya. Dalam sekejap, sosok berpakaian gelap itu menyerah karena sudah tidak memiliki pilihan jalan kabur lainnya.

“Anda tak bisa menghindar lagi,” ucap Prefek Escoffar kepada sosok berpakaian polisi itu.

“Siapa dia sebenarnya?” tanyaku keheranan.

“Siapa lagi kalau bukan buronan kita. Jules Gascoine III, atau yang dikenal dengan Iblis Bayangan.”

Aku pun tercekat dan lagi-lagi mengumpat dalam hati. Sepertinya Prefek –G juga merasakan hal yang sama denganku.

***

Hal yang paling membencikan dari peristiwa penangkapan ini adalah kesombongan Dupin. Alih-alih menjelaskan pemecahan kasus ini kepadaku, ia justru memilih untuk menyimpan pemecahan dan mengatur strategi penangkapan ini tanpa melibatkanku. Rupanya saat penyergapan terjadi para anggota Surete tersebut, ia memilih kembali ke Rue Dunot. Lagi-lagi tanpa memberitahuku. Seperti yang dituturkan Prefek Escoffar, begitu ia memberikan penjelasan mengenai tempat persembunyian sang buronan –yang ternyata di markas Surete-, ia menyerahkan semua penyergapan sang buronan ini kepada para polisi, sementara ia memilih untuk kembali ke Rue Dunot tanpa perlu terlibat dengan kerusuhan yang terjadi.

Karena hal itulah, hal yang pertama kulakukan kepadanya setelah aku tiba di kamar gelap kami di Rue Dunot adalah menghardiknya. Kekesalanku semakin bertambah ketika yang dilakukannya saat itu adalah tersenyum sambil membaca buku terbaru yang entah apa judulnya. Ia mulai merespon ketika kutanya untuk kedua kalinya.

“Ah, duduklah sebentar, sobat. Cara terbaik untuk meredam rasa amarah di saat kau sedang berdiri adalah dengan duduk dengan relaks. Ambilah cocoa hangat di meja kecil yang sudah kupersiapkan untukmu.”

Aku bersungut-sungut mengikuti perintahnya. Sambil menghela nafas aku merebahkan tubuhku di kursi yang berhadapan dengannya. Dupin menutup bukunya dan melepas kaca mata bacanya dan mulai menunjukkan senyum kemenangannya terhadapku.

“Baiklah, sobat. Kau mau mendengar penjelasan yang mana?”

“Oke,” aku mencoba tetap menahan diri untuk tidak mengamuk, “pertama, bisa jelaskan mengapa Sang Iblis Bayangan bisa berada di markas Surete? Dan mengapa kau tahu kalau ia selama ini bersembunyi di tempat yang menurutku tak masuk akal sebagai tempat persembunyian untuk buronan sepertinya?”

“Nah, kau sudah menjawabnya sendiri seperempat dari penjelasanku.”

“Apa maksudmu?”

Dupin menyalakan rokok kegemarannya sambil menatap tajam ke arahku.

“Kupikir kau lebih pandai berimajinasi daripada dua sobat Prefek kita itu. Apalagi Prefek -G  yang tidak pernah mau belajar dari kesalahan.”

Kini ia berdiri dan mulai berputar di sekeliling lemari buku. Ia menuju sisi kiri lemari tempat aku dan dia menyimpan beberapa tumpukan surat kabar yang kami beli. Ia memilih dua buah surat kabar dan melemparkannya ke arahku. Kedua surat kabar ini merupakan surat kabar yang pernah kubaca beberapa jam lalu, Journal des débats dan L’toille. Aku tak mengerti maksudnya sampai akhirnya ia menjelaskannya secara rinci.

“Kau bilang tadi bagaimana mungkin sang buronan itu bersembunyi di tempat yang menurutmu tak masuk akal sebagai tempat persembunyian untuk seorang buronan. Kuakui itu sangat tepat sekali. Kau berpikir selayaknya orang-orang pada umumnya, termasuk yang dipikirkan oleh para polisi itu, bahwa tak akan mungkin seorang buronan seperti Gascoine III ini bersembunyi di tempat yang justru sarang dari musuhnya sendiri, dalam artian para polisi ini. Hal itulah yang akhirnya dimanfaatkan oleh sang buronan kita itu.”

“Waktu kita kedatangan Monsieur Escoffar pada beberapa jam lalu, kau sempat membaca berita yang ditulis oleh Journal des débats. Polisi sudah mulai melakukan pencarian ke seluruh kota, termasuk wilayah perbatasan kota. Tak ada gang atau rumah, kamar motel, dan apartemen yang luput dari penyisiran para anggota Surete tersebut, termasuk saluran air kota. Semuanya digeledah. Tapi ada satu tempat yang justru mereka tidak geledah, yaitu kantor mereka sendiri. Karena mereka berpikir seperti halnya yang kuungkapkan barusan, mustahil untuk menjadikan kantor polisi sebagai tempat persembunyian. Asumsi seperti itulah yang akhirnya dimanfaatkan oleh sang Iblis.”

“Melalui hal itu aku mulai berimajinasi. Bagaimana seandainya sang buronan benar-benar bersembunyi di tempat itu. Hal itu semakin diperkuat dengan apa yang tertulis di L’toille. Di pemberitaannya, tangan kanan sang Iblis sempat mengatakan sesuatu kepada para polisi yang mengepungnya sebelum akhirnya ia terjatuh, bahwa para polisi tidak akan mungkin bisa menemukan persembunyian Iblis Bayangan. Ia mengatakan bahwa sang Iblis bersembunyi di tempat teraman di kota Paris. Dan kau tentu tahu, mana lagi tempat teraman di kota ini selain sebuah kantor yang terletak di kawasan Saint-Avoye, satu-satunya kantor Polisi di Paris. Ditambah lagi tentang informasi bahwa kantor polisi itu sedang dipugar bagian sayapnya. Tentunya tempat yang cocok untuk menetap di bagunan yang belum jadi cukup nyaman sampai perburuan terhadap dirinya selesai. Mungkin ia berpikir untuk menetap disana sambil menyamar sebagai pekerja pemugaran sembari menunggu suasana pencarian mereda. Ia dengan sabar menunggu sampai para polisi ditarik kembali dari perbatasan.”

Aku sedikit menyela penjelasannya. “Tapi tetap saja beresiko bila ada polisi yang mengenalinya.”

“Untuk itulah aku keluar di awal malam tadi. Ketika semua itu ide terlintas di pikiranku, aku pun mencoba melakukan sebuah ekperimen kecil. Hal ini sengaja tidak kukatakan kepadamu atau Monsieur Escoffar, apalagi kepada –G. Eksperimen yang kulakukan ini adalah mendatangi kantor polisi dan melihat respon yang ditunjukkan oleh para polisi apabila ada orang asing yang masuk ke kantor polisi dan berkeliaran di dalamnya tanpa tujuan yang jelas. Hasilnya, tidak ada satu orang pun polisi yang memperhatikan atau mencurigaiku barang sedikit pun. Mengapa? Karena hal ini serupa dengan asumsi kebanyakan yang sudah kujelaskan sebelumnya. Para polisi ini berpikir, tidak mungkin ada orang yang berniat macam-macam di kantor mereka, sehingga mereka tak perlu mewaspadai siapa pun. Karena bagi mereka, tidak mungkin seekor domba berani masuk ke kandang serigala yang sedang kelaparan. Hanya orang yang punya nyawa berlebih yang berani berniat buruk di kandang para polisi itu.”

“Aku masuk ke ruangan dan naik ke lantai dua, tapi tidak ada yang memperhatikanku. Mungkin sebagian para polisi ini menganggapku seperti layaknya anggota masyarakat lain pada umumnya yang ingin melaporkan sesuatu. Dan mungkin sebagian lagi menganggapku adalah salah satu anggota Surete lainnya yang sedang dalam penyamaran. Melihat hasil eksperimenku, aku berkesimpulan ada kemungkinan sang Iblis Bayangan melakukan apa yang kulakukan tadi sehingga ia tidak terdeteksi oleh para polisi ini.”

“Setelah eksperimen itu, aku mencoba melakukan penelusuran berikutnya. Sayap bangunan yang sedang dipugar adalah tujuan utamaku. Dan beruntungnya aku, menemukan sepasang pekerja yang menetap dalam gedung yang baru setengah jadi tersebut. Salah satu dari keduanya adalah sang buronan kita yang kebetulan sudah memangkas kumis dan janggutnya sehinggar terlihat berbeda dengan apa yang terlihat di pamflet buronan yang ditempelkan polisi di beberapa tempat. Aku pun menyamar sebagai seorang pesuruh dari pihak pengembang pemugaran gedung polisi ini. Dan dari pembicaraan dengan keduanya, aku memperhatikan pakaian yang ia kenakan yang rata-rata bewarna gelap. Selain itu,aku melihat sebuah seragam polisi yang tergantung di salah satu sudut.”

“Ah, jadi itulah mengapa kamu memintaku dan para polisi untuk menggunakan pakaian dan mantel bewarna terang? Untuk membedakan antara kami dan sang buronan itu saat proses penyergapan?”

“Tepat sekali,” jawab Dupin. “Aku memperhatikan salah satu pekerja pemugaran memiliki mantel dan pakaian bewarna terang, sedangkan sang buronan kita sebaliknya. Aku juga menduga bahwa sang buronan pasti akan keluar untuk mencari sesuatu untuk dimakan mengingat tidak adanya persediaan makanan dan minuman miliknya di tempat pemugaran itu. Ia tidak perlu khawatir melewati pos penjagaan mengingat ia akan menyamar sebagai seorang polisi dengan baju seragam yang tergantung itu. Dan semua hal ini kuceritakan kepada Monsieur Escoffar tanpa perlu membeberkan semua penjelasannya kepada Prefek –G atau anak buahnya yang lain. Dan aku juga meminta maaf karena tidak menjelaskan semua ini kepadamu.”

“Aku masih tidak bisa percaya dengan semua hal ini. Semuanya terdengar seperti omong kosong belaka,” kataku tanpa basa-basi.

“Berarti kau menganggap kasus “Surat Yang Dicuri” itu juga tidak masuk akal. Penjelasanku tentang persembunyian Sang Iblis Bayangan ini sangat serupa dengan menemukan lokasi tempat penyimpanan surat yang dicuri oleh Menteri –D itu.”

Mataku terbelalak. Aku tentu ingat dengan kasus itu. Karena akulah yang menulis kisahnya di surat kabar. Tapi aku tak mengira bahwa cara pemecahannya hampir serupa. Surat rahasia itu tidak ditemukan saat menggeledah kamar sang Menteri –D. Tidak ada sudut yang luput, bahkan brankas pun digeledah. Tapi ternyata surat itu tersimpan di sebuah kotak surat yang terletak di tempat yang mudah ditemukan tanpa kita menyadarinya.

“Itulah kenapa kuakatakan padamu sebelumnya bahwa Prefek –G seharusnya belajar banyak dari Zadiq. Sobat polisi kita seharusnya belajar dari kesalahannya.”

Aku hanya bisa mengangguk sambil tersenyum.

“Kau tentu sudah paham apa persamaan antara Iblis Bayangan dengan Menteri –D,” Dupin berkata sambil merebahkan tubuhnya di atas kursi empuk.

“Bahwa keduanya telah mengelabui para polisi dengan memanfaatkan asumsi orang pada umumnya?” tanyaku kepadanya.

“Oh, bukan itu, sobatku yang baik.”

“Lalu apa?”

Ia menarik nafas dan menghembuskannya dengan panjang sambil tersenyum kepadaku.

“Bahwa presepsi mereka berdua telah dipatahkan oleh satu orang,” celotehnya dengan bangga bernada narsisisme, “C. Auguste Dupin.”

*** End ***

M. Fadli. A (Fan fiksi dari C. Auguste Dupin rekaan Edgar Allan Poe)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s