Resensi Novel “Neraka Di Warung Kopi”

Novelnya masi sidikJudul: Neraka di Warung Kopi
Penulis: Sidik Nugroho
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 224
Dimensi : 110 mm x 180 mm
ISBN13 : 9786020331713
Tanggal Terbit : 25 Juli 2016

“Bagi beberapa orang, kematian adalah duka, perpisahan abadi. Tapi bagi orang-orang itu, kematian adalah bisnis.”

Setelah merilis ‘Tewasnya Gagak Hitam” pada awal tahun 2016 lalu, kali ini Gramedia menyuguhkan kembali sequel dari novel tersebut yang kembali mengangkat sepak terjang Elang Bayu Angkasa dalam membantu kepolisian. Kali ini, sang penulis Sidik Nugroho memilih judul “Neraka di Warung Kopi” untuk kasus keduanya. Novel ini memang benar-benar saya nantikan setelah membaca novel pertamanya. Judulnya sendiri cukup menjanjikan dan bisa menjadi daya tarik para penggemar fiksi misteri/kriminal untuk membelinya. Bila familiar dengan cerita Sidik Nugroho pasti mengenal ceritanya yang berjudul “Surga di Warung Kopi.” Novel ini mengambil judul yang sama dengan menukarkan “Surga” dengan “Neraka” agar sesuai dengan tema yang diusung pada novel kali ini.

Plot

Seperti cerita sebelumnya, petualangan Elang Bayu Angkasa dimulai dengan headline sebuah surat kabar yang bertuliskan “Neraka di Warung Kopi” yang dibaca sang tokoh. Seorang pemilik sebuah warung kopi bernama Sucipto dibunuh secara brutal, mayatnya ditemukan dalam keranjang yang biasanya digunakan pedagang di pasar untuk berjualan. Warung kopinya dirusak, porak-poranda, dan kemudian dibakar. Menurut beberapa saksi mata, dua pria berpakaian hitam datang ke warungnya sambil menodongkan senjata kepalanya. Penyelidikan terhadap kasus pembunuhan itu menggiring Elang dan Agung berurusan dengan orang-orang yang berhubungan dengan Badan Pertanahan Nasional. Sang korban sebelumnya pernah bekerja sebagai tenaga honorer di Sanggau. Beberapa nama pegawai yang kenal dengan Sucipto pun menjadi buruan Elang dan Agung.

Buntut dari penyelidikan Elang dan Agung berakibat dengan penyerangan terhadap rumah Agung. Belum habis rasa kaget mereka, sepasang mayat pria dan wanita ditemukan di Pulau Lemukutan. Sambil tetap waspada, mereka menyelidki kematian di pulau tersebut bersama dua polisi lainnya, Caroline dan Sumanto. Mayat pria bisa diidentifikasikan sebagai Anton Pramono, namun mayat sang wanita tidak dikenali. Penyelidikan terhadap identitas wanita pun dilakukan. Berdasarkan bukti nota laundry yang ditemukan di barang korban, mayat wanita pun berhasil diidentifikasikan.

Semakin jauh, penyelidikan Elang bersama para polisi tersebut membawa mereka kepada sekumpulan orang jahat yang berani membunuh untuk mendapatkan apa yang inginkan, dalam hal ini kepemilikan tanah. Kumpulan orang jahat dan kejam ini dikenal sebagai “Tiga Beruang Borneo.” Dan secara tak sadar, Elang hampir saja terluka oleh salah satu dari “Tiga Beruang Borneo” tersebut yang untungnya berhasil diselamatkan oleh Caroline. Setelah berhasil mengungkapkan siapa saja yang terlibat dalam jaringan “Tiga Beruang Borneo” tersebut, Elang dan para polisi pun mengatur siasa untuk menangkapnya. Bahkan untuk mendukung rencana mereka, mereka berkompromi dengan seorang terpidana yang terkenal garang.

Review

Saya perlu mengapresiasi sang penulis yang berhasil membuat plot yang menarik, alur yang mudah diikuti dan membuat membaca novel ini menjadi pengalaman yang begitu menyenangkan. Hanya butuh waktu kurang dari 10 jam membaca tuntas novel yang berjumlah 224 halaman ini. Hal itu menunjukkan bahwa novel ini menarik untuk dibaca.

Bukan hanya plot yang menarik. Metafiksi yang disuguhkan juga menarik dan sangat detail. Persoalan hak kepemilikan tanah, Badan Pertanahan Nasional, hukum-hukum yang dijelaskan secara terperinci. Meski pembaca bukan orang yang mengerti tentang tetek bengek yang berkaitan dengan instansi pemerintah tersebut, namun semua detail yang disuguhkan mudah untuk dicerna dan dipahami.

Selain plot yang lebih mengalir dan mudah diikuti, pengembangan karakter dari para tokoh juga perlu diancungi jempol. Sang tokoh Elang mendapat polesan yang menarik untuk karakternya. Salah satunya adalah kebiasaan “cabul” nya bila melihat wanita yang bening. Hal itu diperlihatkan dengan adegan “hampir” antara Elang dan Caroline yang sepertinya ditahan oleh sang penulis. Selain itu ungkapannya untuk menikah, setia kepada Tesha, membuat saya yakin bahwa penulis berusaha merubah image sang tokoh sedikit demi sedikit. Saya tidak tahu apa itu akibat dari beberapa pembaca yang menganggap tokoh Elang kurang menghormati wanita atau alasan pribadi. Yang menarik, sang penulis juga terlihat ingin menjawab pertanyaan saya ketika saya mereview “Tewasnya Gagak Hitam” beberapa waktu lalu perihal keterlibatan seorang tokoh “amatir” dalam penyelidikan kepolisian yang terlihat terlalu mudah. Hal itu dijawab dengan dialog antara Elang dan Agung di halaman 15 dan 16. Salah satu quote yang dituturkan Agung cukup menarik: “Dokter menyembuhan pasien, guru mencerdaskan murid, dan polisi menangkap penjahat. Tapi orang-orang selain dokter, guru, dan polisi, ada juga yang bisa melakukan tugas-tugas itu, kan? Tentu kau paham maksudku.”

Penambahan karakter juga cukup menarik perhatian. Polisi wanita bernama Caroline benar-benar menggoda. Mungkin para pembaca pria akan mudah menyukai tokoh ini. Memang sedikit kontras antara karakter wanita tegas yang tidak mudah terbujuk dengan rayuan Elang dengan wanita yang diam-diam mencoba menarik perhatiannya. Sekilas gambaran polisi wanita yang ada di media social muncul di kepala saya saat membaca deskripsi karakter ini, atau gambaran detektif polisi polisi seperti Kate Becket (Castle), Teresa Lisbon (The Mentalist), atau Kate Moretti (Perception)

Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya mengenai novel ini. Hal ini bukan sesuatu yang negatif maupun hal yang positif. Saya menggambarkannya seperti review abu-abu. Salah satunya adalah struktur misteri dan penyelidikan dalam cerita ini. Menurut pendapat pribadi saya, cerita ini lebih mengedepankan format police procedural bila dibandingkan format detektif klasik era Golden Age.

Untitled

Indikasinya adalah metode penyelidikan yang disuguhkan penulis dengan melibatkan lebih banyak pasukan polisi yang melakukan teknik ala cerita Police Procedural. Biasanya kisah detektif klasik seperti Sherlock Holmes, Hercule Poirot, atau tokoh detektif yang seorang polisi, seperti Jules Maigret, sang penulis akan mengajak pembaca mengikuti metode sang detektif dalam memecahkan kasus. Seperti deduksi, observasi, induksi, analisa atau bermain dengan psikologi kriminal dalam memecahkan kasusnya. Intinya sang tokoh detektif memiliki metode tersendiri yang tidak dimiliki karakter lain dalam cerita tersebut. Sedangkan metode di Police Procedural lebih bertitik berat pada penyidikan, interogasi, wawancara, berburu informasi dan data dan dilakukan dalam bentuk tim. Termasuk bagian akhir pemecahan kasus yang terungkap melalui data yang dikumpulkan polisi serta interogasi tersangka. Meskipun tokoh utamanya bukan polisi, tapi saya masih merasa nuansa police procedural yang sangat kental, seperti layaknya tokoh Richard Castle dalam serial “Castle.” Jadi, kesimpulannya saya, novel ini masih sedikit jauh bila ingin dikategorikan sebagai bagian fiksi detektif karena lebih terasa unsur Police Procedural-nya. Hal ini bukan berarti negatif. Karena saya menyukai keduanya, baik cerita police procedural maupun cerita fiksi detektif. Tapi saya tidak tahu pendapat pembaca lain, khususnya yang terbiaa dengan fiksi detektif gaya klasik seperti tipikal whodunnit.

Berkaitan dengan hal itu, saya menyarankan untuk menggali potensi Elang Bayu Angkasa sebagai sosok sentral di cerita ini yang sempat berpikir menjadi detektif swasta di cerita ini. Kemampuan detektif Elang yang disebut-sebut perhatian pada detail dan imajinatif juga perlu dieksplor.

Meskipun ceritanya cukup seru dan menegangkan namun unsur kejutannya kurang terasa. Biasanya unsur kejutan itulah yang akan membekas dari sebuah cerita dengan unsur kriminal/misteri seperti ini. Red herring-nya juga kurang terasa disini. Mungkin satu-satunya yang membuat saya merasa surprise dan senewen adalah adegan Elang yang tertangkap oleh para penjahat di hotelnya yang ternyata adalah mimpi buruk, meskipun itu bukan sebuah red herring. Cerita detektif pada umumnya memakai unsur red herring (umpan palsu), contohnya seperti “A.B.C Murder” nya Agatha Christie atau “Misteri Kolam Yang Dangkal” dari S. Mara Gd. Hal ini tentunya akan membuat cerita menjadi lebih menarik dan membekas di benak para pembaca.

Rating

Untuk cerita “Neraka di Warung Kopi” ini saya mencoba memberikan bintang 4 dari 5 bintang. Dan pastinya siap menunggu novel ketiga dari kiah Elang Bayu Angkasa kedepannya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s