Resensi Novel “Dilatasi Waktu”

 

satudilJudul: Dilatasi Waktu
Penulis” Rachmah Wahyu
Penerbit: Rafferty Publishing House
ISBN13: 9786027490802
Halaman: 183 Hal

‘Dilatasi Waktu’ adalah sebuah novel juvenile detective (detektif remaja) yang ditulis oleh Rachmah Wahyu dan diterbitkan secara indie oleh penerbit Rafferty Publishing House. Rachmah Wahyu yang merupakan seorang penulis asal Surabaya sekaligus mahasiswa SKM di Unair ini sedang merintis karirnya sebagai penulis dengan menerbitkan beberapa buku. Bahkan di tahun ini ia menerbitkan tiga buku sekaligus.

Novel ini awalnya ditulisnya melalui akun wattpad ribadinya dan dibaca secara bebas oleh pengunjung. Namun setelah novel ini akan diterbitkan, ia menghapus ceritanya dari akun tersebut dan kemudian menerbitkannya secara indipendent. Penulis juga sangat aktif di blog pribadinya di segudangcintadancerita.blogspot.com.

Untuk menghabiskan membaca novel ini, saya sebagai peresensi hanya membutuhkan waktu sehari semalam yang tentunya diselilingi dengan berbagai kegiatan lain. Bahkan, saya membacanya berbarengan dengan membaca novel ‘Art in the Blood” karya Bonnie Macbird. Berikut adalah presepsi saya atas novel ini.

Plot

Kisah “Dilatasi Waktu” dimulai dengan pertemuan kembali Shinta dengan seorang Polisi yang pernah menyadarkannya untuk kembali ke jalan yang benar setelah empat tahun lamanya. Saat SMP Shinta sempat kabur dari rumah lantaran perceraian orang tuanya. Shinta kemudian mencuri dan menipu sampai tingkahnya dipergoki oleh seorang polisi muda bernama Raka. Empat tahun berlalu, Shinta kembali bertemu dengan sosok polisi tersebut. Alih-alih bertemu dalam keadaan romantis, kedua justru bertemu dalam kejadian yang tragis. Apalagi kalau bukan pembunuhan.

Korbannya adalah Annisa, istri dari guru Fisika Shinta yang akrab dipanggil Pak Beni. Saat penemuan mayat, Shinta dan tiga teman lainnya beserta Pak Beni berkunjung ke rumah korban untuk belajar bersama. Sesampai di rumah, mereka menemukan korban dalam keadaan tak bernyawa dengan pisau menancap di tubuhnya. Mereka pun memutuskan untuk memanggil polisi, sehingga akhirnya pertemuan kembali antara Shinta dan sang polisi idaman pun tak terelakkan.

Melalui penyelidikan, ada empat tersangka dalam kasus ini yang kemungkinan terkait dengan pembunuhan kali ini. Yaitu Bu Khus, tetangga korban, Cindy dan Dony, teman semasa SMA, dan tentunya BEni, suami korban yang ternyata juga teman SMA korban, Cindy, dan juga Dony. Menurut pemeriksaan mayat, perut korban penuh dengan darah, namun tempat tidur dan lantai sangat bersih. Selain itu posisi mayat dalam keadaan tidur meringkuk dengan salah satu sisi tubuhnya, atau dalam arti menyamping. Di senjata pembunuh ditemukan salah satu sidik jari tersangka. Namun tersangka memiliki alibi yang aneh, karena pada waktu perkiraan korban dibunuh, ada dua tersangka yang melihat tersangka di dua tempat yang berbeda dan berjarak cukup jauh kurang lebih 40 km dan 45 menit dari lokasi kejadian. Tidak hanya itu, salah satu tersangka lainnya juga memiliki alibi yang kuat karena banyak saksi yang menguatkan bahwa ia juga berada jauh dari lokasi kejadian saat prakiraan waktu kematian korban. Shinta pun berpikir apakah mungkin kedua tersangka ini bisa melakukan teleportasi atau dalam artian mengalami dilatasi waktu sehingga bisa berpindah tempat dalam jarak yang jauh dengan waktu yang lebih singkat? Misteri alibi palsu pun perlahan diungkap.

Review.

Secara garis besar, novel ini memang diperuntukkan untuk remaja, atau untuk anak sekolahan. Rachmah Wahyu memang berulangkali menerbitkan cerita di area juvennile atau young adult. Setiap detektif tokoh wanita remaja atau masih sekolah, saya selalu teringat dengan Nancy Drew. Ia dikenal sebagai tokoh detektif remaja perempuan pertama di dunia literatur. Namun sang penulis lebih banyak mengambil contoh-contoh detektif manga atau anime Jepang seperti Detective Conan dan sejenisnya.

Salah satu nilai positif dari novel juvenille adalah nilai pelajaran yang diambil. Bisa dilihat latar belakang Shinta yang tadinya pencuri dan penipu kemuidan sadar dan kembali ke jalan yang benar, ia juga mengalami perubahan dalam pelajaran yang tadinya tidak ngerti Fisika kemudian menjadi suka Fisika, serta hal-hal edukatif yang diceritakan disini seperti pemilihan nama Dilatasi Waktu yang erat kaitannya dengan teori Fisika Modern. Sang penulis juga menjelaskan tentang kisah Ashabul Kahfi yang tentu mengingatkan saya dengan apa yang dijelaskan guru Fisika saya semasa SMA dulu dengan cerita yang kurang lebih sama.

Dari segi cerita detektif, plot-nya dibilang sudah memenuhi kaidah fair play. Petunjuk dijelaskan secara gamblang dan terbuka. Kasus yang menjelaskan alibi palsu selalu berkaitan dengan tema impossible appearances. Biasanya konsep ini selalu dikaitkan dengan ilmu gaib atau magic. Kali ini, Rachmah Wahyu menjelaskannya melalui ilmu Fisika.

Namun ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan. Novel ini memang leboh cocok ke area remaja. Untuk orang dewasa yang terbiasa melahap novel Agatha Christie, John Dickison Carr, Ellery Queen, atau yang era modern John Connoly, Jefrey Deaver, atau Dan Brown mungkin novel ini terlalu ringan. Meskipun fair play, namun red herring yang diberikan sangat kurang. Spoiler alert; petunjuk tentang pelaku pembunuhannya hampir dijelaskan semua dan paling banyak dijelaskan. Sedangkan ketiga tersangka lainnya kurang diberikan “umpan palsu” untuk membuat pembaca melihat kemungkinan lain bahwa tersangka lain bisa menjadi pembunuh korban. Mungkin yang membaca bisa menghitung berapa clue yang ditunjukkan oleh penulis untuk pelaku utama. Tentunya paling banyak dibandingka tiga tersangka lain.

Selain itu, ada beberapa kesahalah teknik seperti typo dan sinkronisasi. Salah satunya adalah kesalahan penyebutan nama tokoh atau adegan. Seperti contohnya di halamman 50 di baris kedua. Disitu dituliskan ‘.. pintu kamar Farel terbuka.” Padahal saat itu adalah rumah dari korban atau gurunya, sedangkan Farel bukan anak atau keluarga dari korban yang kebetulan tinggal disitu. Selain itu, ada beberapa hal yang kurang logis, seperti adegan Cindy masuk ke rumah korban dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Ia bertanya apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa banyak tamu di rumah korban. Padahal siapapun yang sudah melihat banyak mobil polisi atau kemungkinan ambulan dan kemungkinan garis polisi tentunya sudah mengetahui ada kejadian di rumah korban. Bila Cindy masuk dalam keadaan panik dan bertanya seraya ingin mengetahui apa yang terjadi mungkin akan lebih masuk akal.

Kurangnya riset juga menjadi satu kendala untuk novel ini dari kata ‘hebat.” Salah satunya Polisis Raka yang melakukan dua tugas polisi beda divisi sekaligus, yaitu menilang dan menyelidiki kasus pembunuhan. Dalam dunia nyata di kepolisian, tugas untuk penilangan atau yang berhubungan dengan lalu lintas biasanya dikerjakan oleh Polantas. Sedangkan penyelidikan kriminal biasanya dilakukan oleh Bareskrim. Dua divisi ini tentu berbeda jauh, karena menurut beberapa situs kepolisian, biasanya bareskrim tingkatannya lebih ‘superior’ dibanding Polantas. Dan wewenang menilang hanya dilakukan oleh Polantas, karena surat tilang biasanya dibawa oleh Polantas, bukan reserse kriminal. Meskipun ada diceritakan ada perintah dari komandannya untuk juga melakukan penilangan, namun hal itu juga tidak mungkin seorang komandan lakukan karena yang pasti ia suruh menilang adalah petugas dari divisi Polantas.

Yang paling kurang saya rasa disini adalah feel antara sesama tokoh. Belum terasa ikatan emosionalnya dengan baik. Mungkin next novel Rachmah Wahyu akan lebih baik dan semakin baik dari novel ini.

Untuk itu, saya memberikan 3 dari 5 bintang untuk novel Dilatasi Waktu. Novel ini tentunya sangat menarik untuk para remaja karena banyak unsur pelajaran di novel ini. Covernya sendiri sangat bernuansa remaja meskipun bukan ilustrasi penerbit sendiri. Buat yang biasa membaca Detective Conan, Detective Q, Q.E.D, atau detektif remaja lainnya, novel ini bisa dijadikan sarana untuk memperkaya khasanah juvenille detective di Indonesia.

Advertisements

One thought on “Resensi Novel “Dilatasi Waktu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s