Penjaga Harta Warisan

249-600x360

Gelap dan dingin. Itulah kalimat yang pantas untuk menggambarkan suasana di luar rumah, malam ini. Ditemani candu, mencoba menghangatkan tubuh diantara angin yang sedang bermain di bawah pohon besar itu dengan sampah-sampah liar. Mereka berhamburan dan berlarian kesana-kemari, sedangkan sinar bulan di angkasa kian meredup tertutup oleh sekawanan awan hitam, seakan mereka tidak memperkenankan aku untuk melihatnya.

Di balik pohon-pohon tinggi yang tersusun rapi itu aku bersembunyi. Duduk diantara tumpukan pondasi yang mengelilingi pohon ini dengan hati-hati. Kutajamkan mataku ke arah depan, memperhatikan gerak-gerik siapapun yang kucurigai dalam pengintaian malam ini.

Rumah di seberang jalan itu adalah rumah seorang pemuda yatim piatu yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya beberapa tahun silam. Saat ini ia menjadi salah satu pemuda terkaya di wilayah tempat tinggalnya, karena warisan dari kedua orang tuanya. Rumah itu tidak terlalu besar dan tidak juga kecil, mempunyai halaman yang cukup luas untuk bermain tenis meja. Di sebelah kanan terdapat garasi mobil dengan pintu rolling door berwarna putih. Memiliki dua lantai dan beberapa kamar di atas. Terlihat dua buah jendela kamar yang menghadap ke jalan raya di samping kanan dan kirinya. Namun tampak jelas bahwa jendela yang sebelah kanan itu sudah tidak memiliki kaca lagi. Mungkin ini yang dikatakan oleh Hendri, jendela itulah yang hampir dibobol oleh pencuri. Sangat mungkin memang, melihat bagian terendah yang dapat di jangkau oleh seseorang adalah jendela sebelah kanan, sebab tempatnya tidak terlalu jauh dari atap garasi mobil miliknya.

Hendri mendatangiku pagi tadi, masih mengenakan pakaian tidurnya, dan terdengar suara nafasnya yang terengah-engah, seperti orang yang habis dikejar anjing liar.

“ Fariz, tolong!. Beri aku sedikit air,“ ujar Hendri.

Dengan sigap aku memberikannya air. “Ini minumlah.”
“Ada apa, Bung? Apa yang sedang terjadi denganmu?“ tanyaku.

“Aku akan menceritakannya.”

“Silahkan,“ kataku lagi

“Kamu tahu kan, kalau aku ini adalah anak satu-satunya dari keluarga Hendro Wibowo. Dan kamu juga tahu kalau kedua orang tuaku adalah seorang pengusaha yang kaya raya?”

“Ya, kamu orangnya. Lalu? “ tanyaku lagi.

“Sebagai anak pertama, aku merupakan satu-satunya pemilik sah di perusahaan orang tuaku. Ayahku adalah orang baik, bahkan sangat dermawan. Hobinya adalah mengoleksi barang-barang antik yang memiliki nilai jual berjuta-juta dan bahkan miliaran. Semua itu tersimpan rapi di dalam gudang rumah kami. Informasi ini aku rasa semua orang sudah mengetahuinya dan bahkan mungkin sudah menjadi pembicaraan umum di masyarakat sekitar. Rasanya wajar kalau aku sangat hati-hati terhadap apa yang menjadi hakku sebagai seorang anak untuk menjaga warisan keluarga dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. “

“Maksudmu?”

“Pukul dua tadi pagi, saat aku sedang berdiam diri sambil membaca buku di kamar, aku mendengar suara kaca pecah seperti di lempar batu dari arah luar. Kemudian aku dan beberapa pelayanku yang sedang tidur terbangun dan langsung menuju ke ruangan atas. Kami menyalakan lampu. Aku melihat pecahan kaca dari jendela berserakan di lantai. Tidak ada bekas apapun yang menandakan alasan kenapa kaca itu bisa pecah. “

“Hal ini terbilang aneh. Ini bukan yang pertama kalinya rumahku mengalami kejadian seperti ini, meskipun kali ini tidak ada satupun barang berharga kami yang hilang. Sekitar satu minggu ke sebelumnya, kejadian serupa terjadi, tepatnya di jendela sebelah kiri. Saat itu, aku sedang tidak ada di rumah. Ada beberapa barang-barang berharga milik ayahku yang hilang.”

“Aku sengaja tidak memberitahukannya kepada kepolisian. Sebab bila sampai seperti itu, mereka akan berhati-hati dan akan sangat sulit dilacak. Sehingga aku datang kemari untuk meminta bantuanmu. Aku akan memberikan imbalan setimpal dengan apa yang kamu usahakan,“ rayunya.

“Ada berapa orang yang tinggal di rumahmu itu?“ tanyaku menginterogasi.

“Bukan hanya harta warisan yang diberikan orang tuaku, tetapi juga beberapa pelayan-pelayan yang setia melayani keluarga kami bertahun-tahun bahkan sebelum ibu melahirkanku. Mereka adalah Pak Aryo berumur 41 tahun dan sebagai yang dituakan di rumah ini, dan kedua anaknya, yaitu Ariani berusia 23 tahun dan kakaknya Indra yang terpaut dua tahun di atasnya. Masing-masing memiliki tugas yang berbeda, meskipun dalam pelaksanaanya kadang mereka saling membantu. Pak Aryo bertugas menjaga keamanan lingkungan rumah. Pengalamanya dalam mengamankan keamanan tidak diragukan lagi dan itu kenapa orang tuaku memilihnya. Setelah kepergian istrinya, ia berjanji akan membawa anaknya kemanapun ia pergi. Ia memohon kepada ayahku untuk menjadikan kedua buah hatinya sebagai bagian dari keluarga Wibowo. Ariani merupakan perempuan yang bertanggung jawab dalam setiap pekerjaannya. Ia sangat pemalu meskipun aku juga tahu bagaimana ia tumbuh besar sampai saat ini. Sedangkan kakaknya adalah pekerja keras yang tidak pernah mengeluh. Berkat usahanya itu, ia sekarang menjadi salah satu mahasiswa berprestasi di salah satu kampus terkenal di kota Paris Van Java ini. Mereka sudah aku anggap sebagai keluarga dan rasanya tidak mungkin aku mencurigai mereka dan aku sungguh tidak berani untuk menyangkut pautkan hal ini dengan mereka. Mereka sangat baik, dan merekalah yang selalu memotivasiku pada saat masa-masa tahun pertama kedua orang tuaku meninggal.”

“Baiklah. Aku terima tawaranmu. Aku rasa untuk beberapa malam ke depan, aku akan membuat jadwal malam untuk mengetahui keadaan sebenarnya di rumahmu itu. Dan tolong Hendri, jangan beritahukan kepada siapapun yang ada di rumah atau orang lain tentang rencanaku ini.”

“Baik, Riz.”

Itulah yang ia katakan pagi tadi. Dan kini …

Sudah sekitar tiga jam aku berada di tempat ini namun sedikitpun aku tidak mendapatkan petunjuk. Kecuali hanya beberapa petugas keamanan aneh. Ya, aku menyebutnya aneh karena satu di antara dua Linmas ini berjalan dengan kaki seperti seekor penguin. Mereka berkeliling sekitar satu jam sekali. Kadang mereka bercengkrama dengan salah penjaga rumah itu dan sesekali aku mendengarkan tawa mereka yang tergiring oleh angin. Entah apa yang mereka perbincangkan aku sama sekali tidak mengetahuinya. Kedua Linmas ini kemudian pergi meninggalkan si penjaga rumah.

Di saat dingin mulai masuk ke sela-sela kain jaketku, aku di kejutkan dengan kelakuan aneh dua Linmas yang kembali menuju ke tempat penjaga rumah itu. Untuk apa mereka kembali lagi, pikirku.

Oh tidak, sang penjaga rumah sudah tidak berdaya lagi. Kemungkinan mereka sudah memasukkan obat tidur ke dalam minumannya. Celaka!

Ini bukan kebiasaan seorang Linmas. Ada yang aneh dengan kelakuan mereka. Aku mulai geram dengan mereka, dan tanpa pikir panjang aku siap mengambil keputusan.

Dari balik pohon aku mulai mengambil posisi untuk mendekati mereka. Rasa keingintahuanku yang besar terus memintaku untuk mengetahui apa motivasi mereka melakukan semua ini. Apa yang mereka kerjakan saat ini sungguh-sungguh menarik perhatianku. Sehingga aku memutuskan untuk maju dan berlindung di balik pohon yang lebih besar di arah kanan untuk mendengarkan mereka. Belum saatnya aku muncul, pikirku. Aku harus mendapatkan informasi yang lebih lengkap untuk menangani semua kejanggalan ini.

Antara posisiku dan mereka terpaut sekitar lima puluh meter jaraknya. Aku memilih pohon ini karena udara yang berhembus dari arah depan langsung menuju ke tempat ini. Kemungkinan apa yang mereka bicarakan akan terdengar jelas. Sedangkan dari posisi mereka tentu tidak akan bisa melihatku, karena aku mempunyai cara menyamarkan diri yang tidak bisa mereka kira. Ditambah lagi lahan ini tidak di sediakan lampu penerangan. Lengkap sudah acara pengintaianku kali ini.
.
Dari obrolan mereka yang terdengar nyaring, aku bisa merasakan rencana-rencana keji mereka terhadap keluarga itu. Ubuk-bubuk pertumpahan darah sedang mereka tabur di sekitaran rumah. Adrenalin dalam tubuhku terus bergejolak. Akankah aku harus akhiri saat ini juga atau aku haru menyusun rencana layaknya mereka sebelum memulai penyergapan?

Empat tahun lamanya aku tinggal di wilayah ini, namun belum pernah sama sekali melihat orang seperti mereka. Siapakah mereka? Ada hubungan apa mereka dengan keluarga ini, dan apa yang mereka incar? Ini merupakan sebuah misteri yang harus diselesaikan. Sepertinya hari ini mereka sedang melakukan simulasi dengan menjadi seorang penjaga keamanan masyarakat dan bercengkrama dengan penjaga rumah dan memberikan obat tidur kepadanya. Untuk beberapa saat mereka akan puas dengan apa yang mereka rencanakan. Obat yang mereka ambil sangatlah tepat dan sesuai dengan kebutuhan.

Aku terus mengawasi mereka di balik pohon ini seperti seorang pemburu yang sedang mengejar hewan buruan. Aku harus sedikit bersabar untuk melawan mereka, dan menunggu mereka melancarkan serangan yang telah mereka rencanakan oleh. Tapi aku menyadari bahwa tugasku hanya untuk mengintai. Sehingga aku mengurungkan niatku untuk sementara waktu.

Fajar pun mulai menyingsing. Aku sangat puas dengan pengintaianku. Sementara itu, sesosok pemuda terlihat keluar dari dalam rumah besar itu dan menarik nafas panjang seraya menghirup udara pagi yang segar. Sang penjaga rumah pun terlihat lebih segar dari biasanya karena tugasnya telah digantikan olehku.

Aku memutuskan kembali ke rumahku, membersihkan badan dan istirahat untuk beberapa jam. Jadwalku hari ini adalah mengumpulkan fakta-fakta tentang siapa yang akan melakukan niat jahat tersebut. Sesuai dengan permintaan Hendri, aku akan mengawasi ke tiga pelayan rumahnya. Berdasarkan keterangan yang kudapatkan, ada kemungkinan rencana pembantaian di rumah itu akan dilaksanakan pada hari Sabtu malam, dimana Hendri biasa selalu pergi mengunjungi pamannya di wilayah Permata Biru. Masih ada empat hari lagi untuk mengumpulkan fakta-fakta. Dan siang ini aku berencana ke rumah Hendri.

Rumah ini memang jauh lebih besar dari. Hiasan-hiasan serta lukisan di dalam rumah ini merupakan mahakarnya klasik yang dipadukan dengan nuansa modern masa kini. Lantai keramik berwarna merah marun dan dilapisi dengan ukiran-ukiran indah menghiasi lantai ruangan tamu. Sangat kontras dengan yang terlihat dari liar. Wajar saja setiap mata baru akan terpana ketika masuk ke rumah ini.

Sang pemilik rumah menyambutku dengan gembira. Ia berdiri diantara ketiga pelayannya yang sangat menghormati tamu. Sebelum berangkat, aku sudah membuat rencana agar aku benar-benar siap untuk menghadapi ketiga pelayan tersebut.

Hendri mengijinkanku untuk menggunakan ruang belajarnya sebagai tempat interogasi. Aku membuatnya menjadi tiga sesi interogasi, yang dimulai dari Pak Aryo, kemudian Indra, dan yang terakhir Ariani.

Aku menunggu di ruang belajar. Berapa menit kemudian masuklah Pak Aryo. Satu hal yang terlintas dibenakku tentang orang ini adalah bahwa ia benar-benar sudah tua sekali dan sangat tidak cocok untuk melakukan tugas seperti yang dikatakan oleh Hendri. Namun ketika ia berbicara, tuturkatanya yang tegas dan tertata menghilangkan kesan renta di dirinya. Aku mulai menggali informasi tentang siapa sebenarnya orang tua Hendri pada masa hidupnya dan mencari kemungkinan-kemungkinan orang yang membencinya.

Fakta baru yang keluar dari ucapannya sungguh mengejutkan. Pak Aryo mengatakan bahwa apa yang selama ini sedang terjadi di rumah ini adalah sebuah skenario yang rapi dan dilakukan oleh orang yang memiliki keberanian tinggi serta kejeniusan luar biasa. Sebuah konspirasi yang hendak menghancurkan hubungan keluarga yang sudah terbangun kokoh diantara pondasi-pondasi kepercayaan antara seorang pelayan dan mendiang majikannya.

Menurut penuturannya, Hendri ternyata bukanlah anak kandung dari Hendro Wibowo dan Bu Senja, melainkan anak asuh yang mereka ambil dari rumah bersalin miliknya saat Hendri baru lahir ke dunia. Menurut informasi, ibu kandung Hendri telah meninggal sesaat setelah ia melahirkan Hendri. Sedangkan ayahnya hilang entah kemana.

“Saya menyaksikan sendiri bagaimana ia diambil sebagai anak asuh,” katanya. “Kemudian mereka merawatnya dengan penuh kasih sayang. Hingga sampai pada titik dimana di perusahaan Tuan dan Nyonya Hendro sangat membutuhkan konsentrasi mereka berdua. Hal itu membuat Hendri kecil kehilangan kasih sayang dari mereka lagi. Kesibukan mereka membuat Hendri kecil seperti kehilangan tempat untuk berlindung. Hal itu terjadi sampai melewati masa remajanya serta sampai sekarang.”

“Hingga pada suatu ketika, saya mendapati Hendri sedang membuka berkas-berkas kelahirannya di lemari Ibu Senja. Pada saat itu pula saya benar-benar terkejut dengan ekspresi wajahnya ketika melihat surat-surat itu. Dari luar kamar yang pintunya sedikit terbuka, saya sempat memperhatikan raut wajah yang mengerikan. Percampuran antara kesedihan yang mendalam atas kehilangan orang tua kandungnya dan kebencian teramat sangat karena merasa dibohongi selama ini.”

“Saat itu, saya membayangkan bahwa akan terjadi hal buruk di rumah ini. Dan benar saja, pada suatu malam di bulan September 2001, sebuah kejadian tragis terjadi dan meninggalkan duka mendalam di rumah ini. Hendro dan Senja ditemukan tergeletak tak bernyawa di kamar tidur mereka. Entah bagaimana caranya maut menjemput mereka. Padahal pagi harinya mereka masih terlihat sehat seperti biasanya. Sampai saat ini pihak kepolisian tidak bisa mengidentifikasi apa sebenarnya penyebab kematian kedua majikanku yang malang ini selain diindikasikan meninggal dalam keadaan wajar. Sedangkan saya, masih menyimpan rahasia yang sebenarnya, bahwa kemungkinan anak asuhnya-lah yang melakukan semua kejahatan ini. Tapi, seperti apa yang polisi ungkapkan, mereka tidak memiliki cukup banyak bukti untuk melanjutkan kasus ini. Begitu pula saya. Saya tidak mempunyai bukti yang nyata. Namun saya memutuskan untuk tetap berada di rumah ini sampai ajal menjemput untuk menjaga apa yang menjadi hak mendiang majikan saya.”

“Beberapa minggu kemudian, saat saya sedang mengantarkan mesin pemotong rumput milik salah seorang teman yang biasa saya pinjam untuk memotong rumput di halaman rumah, saya secara tak sengaja melihat Hendri sedang berbicara dengan orang aneh yang berjalan dengan kedua kakinya dilipat ke dalam. Entah apa yang mereka lakukan, tapi dari mukanya saya menyadari ada kemiripan di antara mereka berdua jika mereka duduk berdampingan.“

“Tunggu, tunggu sebentar, maksud Pak Aryo laki-laki aneh yang berjalan dengan kaki dilipat ke dalam ini, apakah mirip seekor penguin?” tanyaku.

“Iya, Saudara Fariz. Benar sekali.”

Akhirnya. Lengkap sudah semua cerita ini. Saya rasa interogasi kali ini cukup sampai disini.

“Sebentar, Pak. Saya ingatkan bahwa dalam seminggu ke depan Bapak harus menjaga kondisi badan agar sehat selalu, dan saya minta tolong jika ada orang lain yang memberikan minuman pada saat bapak kerja, jangan sampai Bapak terima. Ata setidaknya berpura-puralah meminumnya.”

“Meskipun dari anak saya sendiri?”

“Ya, meskipun anak Bapak sendiri. Hanya untuk satu minggu ke depan.”

“Baiklah. Terima kasih, Saudara Fariz.”

“Ya. Sekarang silahkan keluar dan besikaplah seperti biasanya. Jangan lupa untuk memangil Indra.”

Untuk interogasi kedua, aku hanya mencari beberapa informasi tentang kebiasaan-kebiasaan majikannya itu. Dan seperti yang sudah kuduga, perang dingin antara Hendri dan Pak Aryo, ayahnya sangatlah sengit. Meskipun begitu Indra dan Hendri tidak memiliki rasa permusuhan. Sebelum menutup interogasi terhadap Indra, aku kembali mengingatkan agar pada malam Sabtu ini semua orang diharapkan supaya tetap waspada terhadap apa yang akan terjadi.

Interogasi pun berlanjut ke Ariana. Tidak ada data apapun yang aku dapatkan dari gadis ini, kecuali rasa cinta yang mendalam yang ia simpan begitu lama kepada majikannya itu. Dan ketika aku membebebrkan fakta terbaru tentang Hendri, gadis itu langsung naik pitam. Namun aku segera memberikannya pengertian sekaligus meredakan amarahnya dan berusaha membuatnya kembali tenang seperti biasa.

“ Ariana, ayahmu adalah kunci untuk membuka semua kebusukan Hendri. Jadi tolong jaga ia baik-baik jangan sampai sesuatu terjadi padanya. Malam Sabtu nanti, delegasikan apa yang aku rencanakan ini kepada ayahmu dan kakakmu. Sebuah serangan akan ditujukan kepada kalian sebagai penjaga harta dari Bapak Hendro Wibowo dan Ibu Senja. Kau tidak perlu takut, karena akupun berada di pihak kalian. Kami akan mengumpulkan beberapa polisi untuk menjaga rumah ini di tempat yang aman. Tugas kalian memastikan agar gerakan para penyerang ini terbatas. Jangan sampai mereka bertindak leluasa. Sekarang, kembalilah kepada pekerjaanmu dan bersikaplah seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa. Sisanya biar aku yang urus.”

“Baiklah, Pak Fariz,” tutur Ariani.

Kini giliranku memainkan peranku. Aku menampakan wajah putus asa saat bertemu dengan Hendri. Dan seperti yang kuharapkan, aku bisa melihat senyum kemenangan di balik wajah Hendri yang lucu itu.

“Aku rasa, aku butuh beberapa waktu untuk mendalami kasusmu, Hendri,“ kataku.

“Kamu menyerah?” celetuknya.

“Oh, tidak. Aku rasa, semua informasi ini cukup untuk kita mengetahui siapa sebenarnya pelakunya. Yang jelas dia adalah orang yang sudah cukup berpengalaman untuk memahami semua itu.“
“Benarkah?”

“Iya,” kataku. “Tapi aku masih memerlukan bukti lain sebagai penguatnya. Dan untuk hari ini semua yang kita perlukan di tempat ini sudah selesai. Mudah-mudahan saja kita akan menangkap siapa pelakunya yang berani-beraninya mencoba akan mengambil harta warisanmu ini.”

“Ya, mudah-mudahan. Terimakasih banyak, Fariz Edgar.“

“Iya, sama-sama.”

Aku kembali ke tempat kerjaku dan mencari beberapa dokumen. Yang kucari adalah dokumen tentang kasus kebakaran yang terjadi di salah satu tempat perbelanjaan terbesar di kota Bandung beberapa waktu lalu. “Nah, ini dia!”

Aku mulai membaca berita tersebut dan melihat kliping-kliping kecil yang kuambil dari koran. Aku menemukan beberapa informasi yang sangat berkaitan dalam kasusku kali ini.

“Pada saat kebakaran terjadi, api benar-benar melahap semua yang ada di mall tersebut. Kisah pilu dialami oleh Melinda. Pada saat ia sedang melintasi tempat itu bersama sang suami tiba-tiba ledakan besar terjadi sehingga semua orang panik, termasuk Melinda. Sehingga ia pun tidak mengetahui dimana keberadaannya kala itu. Di tambah kondisi hamil tua yang mungkin waktunya sudah mendekati persalinan membuat ia tidak bisa berjalan dengan normal. Merasa tak kuat dengan kondisi seperti itu, ia pun jatuh pingsan. Ia dilarikan ke rumah sakit bersalin untuk melakukan proses persalinan. Tapi sayang seribu sayang, meskipun anaknya lahir dengan selamat, Melinda telah kehilangan banyak darah hingga ajal pun akhirnya menjemputnya. Kini anak itu diasuh oleh pemilik perusahaan rumah bersalin tersebut, yaitu Bapak Hendro Wibowo dan Ibu Senja.“

Ah, jadi begitu rupanya. Akhirnya semua cerita sudah tersusun rapih. Saatnya membuat sebuah pentas drama.
Tepat satu malam sebelum “hari penyerangan”, aku mendatangi Inspektur Gian untuk menyusun rencana. Semua data dan fakta sudah kuberikan kepadanya dan ia memberiku ijin untuk memanggil seluruh personel terbaiknya. Kami merencanakan strategi sesuai carakudan para polisi ini yang melakukan ekskusinya.

Pada malam yang kami tunggu, tepat pada pukul sepuluh malam, kami sudah bersiap di posisi kami. Tempat pengintaian kami tak lain adalah pekarangan tempat aku melakukan pengintaian pertama kali. Bahkan kondisi cuaca malam ini persis pada malam tersebut. Sekitar sepuluh pasukan terbaik berada di depan dalam posisi memerayap. Sedangkan aku dan Inspektur Gian berada tepat di belakang mereka yang terlindungi oleh sebuah pohon lebat. Semoga peringatanku kepada Pak Aryo untuk tetap waspada masih diingatnya.

Setiap nafas yang terhembus terus berpacu dengan jarum jam di tanganku ini. Kami semua tidak bergerak bagaikan patung di sebuah pameran. Menjaga mata untuk tetap fokus terhadap setiap gerakan apapun di depan kami. Dinginnya malam sudah tidak kami pedulikan.

Tepat pada pukul 02:45, kami mendapati dua orang Linmas aneh yang sedang menuju rumah besar itu. Salah satunya memukul tiang listrik yang berada tepat di tempat mereka berdiri. Meskipun sudah terbiasa melakukan hal semacam ini aku masih tetap saja merasakan ketegangan yang luar biasa saat melakukan penyergapan. Aku terus bernafas secara teratur, mencoba untuk menenangkan diri. Jika aku gegabah nyawa Pak Aryo yang sedang berjaga di pos halaman akan bahaya. Aku pun mendengarkan gelak tawa mereka seperti biasanya dan terus mengawasi setiap gerak langkah keduanya. Kali ini tak berlama-lama kedua Linmas itu sudah berhasil melumpuhkan Pa Aryo.

“Fariz, apakah kamu sudah memperhitungkan dengan benar terhadap penjaga rumah yang malang itu,“ bisik Inspektur di sebelahku.

“Sudah Inspektur. Mereka menjalankan skenarionya dengan baik. Inilah waktu yang tepat untuk kita menangkap ikan-ikan kecil ini.”

Inspektur Gian memberikan aba-aba kepada anggotanya untuk bersiap melakukan penyergapan. Bagai seorang pemburu mereka mengendap-endap berjalan menuju rumah target. Sampai di pos penjaga rumah kami berhasil menyelamatkan Pak Aryo yang saat itu berpura-pura meminum pemberian anggota Linmas tersebut. Inspektur Gian memberi aba-aba kepada seluruh personilnya untuk menyebar dan mulai masuk ke dalam rumah.

Dari dalam rumah itu, terdengar suara parau yang meminta tolong dan kemudian perlahan suara tersebut menghilang. Pak Aryo sangat mencemaskan kedua anaknya yang berada di dalam. Namun aku berhasil menenangkannya karena di dalam sudah ada regu penyelamat dari kepolisian untuk menggagalkan rencana jahat bandit-bandit sialan itu. Kami bertiga menggunakan jalur utama yang dilalui penjahat ini. Dengan hati-hati kami mulai memasuki pintu depan dan sedikit mengawasi pergerakan di dalam. Sepertinya kedua anak Pak Aryo disekap di dalam ruang belajar, karena ruangan itulah yang paling strategis menurutku.

Saat melewati ruangan tamu, kami melihat Hendri sedang berdiri dengan tenang di samping anak tangga. Wajahnya begitu puas dengan hasil yang ia dapatkan. Sesaat kemudian si kaki penguin berseragam Linmas memeluk Hendri dengan bahagia merasa rencananya sudah berhasil. Sedangkan pria Linmas penipu kedua sedang berjaga di depan ruang belajar. Inilah saatnya. Aku melihat ke arah Inspektur Gian yang telah memberikan aba-aba kepada semua personilnya untuk membekuk para pelaku. Suasana pun menjadi gaduh.

“Angkat tangan kalian! Berhenti dan jangan ada yang berani bergerak!“

“Apa-apaan ini?” tanya Hendri dengan ketus.

“Sudahlah, Hendri. Sekarang bukan saatnya untuk bersandiwara. Segera ikuti apa yang para polisi ini perintahkan dan berikan kesaksianmu di kantor polisi. Kami sudah mengantongi semua data-datamu dan asal usulmu sebenarnya. Sekarang terimalah akibatnya.”

“Ba…ba..bagaimana kamu mengetahuinya, Fariz?”

“Semua itu aku dapatkan dari mendiang ibumu yang sesungguhnya. Dan kamu, si kaki penguin, ajarkanlah kebaikan kepada anakmu itu. Ajarkan tentang cara membalas budi.”

Kami berhasil menggagalkan rencana jahat Hendri untuk merebut harta keluarga Wibowo dan membunuh para pelayannya. Hendri, si kaki penguin dan satu komplotannya berhasil dibawa ke kantor polisi. Pak Aryo segera berlari menuju pintu ruang belajar dan membukanya. Ia mendapati kedua anaknya sedang diikat saling membelakangi. Syukurlah tidak terjadi hal yang serius dengan mereka. Setelah ikatan mereka terlepas, kedua anak itu langsung memeluk Pak Aryo dengan kencang. Bahkan aku sempat mendengar isak tangis dari putrinya, Ariana.

“ Terima kasih Saudara Fariz Edgar. Berkat pertolongan serta kecerdikan Anda menilai situasi, Anda bisa mengetahui apa yang akan terjadi di dalam rumah ini,“ kata Pak Aryo.

“Semua itu tidak lepas dari semua bantuan Bapak. Tekad Bapak yang besar untuk menjaga harta benda peninggalan Almarhum Majikan Bapak, telah motivasiku untuk turut melindungi tekad Bapak dan menemukan kebenaran di balik kasus ini. Semoga kita bisa mengambil pelajaran yang berharga dari kasus ini. Terima kasih.“

Ditulis oleh Fariz Edgar*

(*Nama penulis dan tokohnya sama.)

Advertisements

One thought on “Penjaga Harta Warisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s