Resensi “Closed Casket” aka “Lillieoak Mystery”

closed-casketJudul: Closed Casket
Subjudul: The Brand New Hercule Poirot Mystery
Penulis: Sophie Hannah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2016)
Alih Bahasa: Lulu Wijaya
Halaman: 440 halaman

Ini buku kedua Hercule Poirot versi Sophie Hannah yang diterbitkan di Indonesia. Jujur, saya belum baca buku Sophie Hannah yang sebelumnya yaitu The Monogram Murder. Namun, saya kerap membaca buku-buku Hercule Poirot lain yang dibuat oleh penulis aslinya yaitu Agatha Christie. Peresensi juga membaca review sebelumnya dari teman di weblog ini tentang Poirot versi Sophie Hannah. Anda pasti tahu bahwa Poirot di sini berbeda dengan Poirot versi Agatha Christie. Ya, ada kekurangan dan kelebihannya yang akan saya bahas di bawah.

Hal yang menarik peresensi membeli buku ini, jujur bukan judul atau penulisnya. Judulnya Closed Casket, tidak terdengar bagus menurut saya dan tidak menarik pembaca untuk membelinya. Namun covernya, yang simpel dan putih mencolok itulah alasan saya membeli buku ini selain saya juga membaca cepat isi bukunya.

Plot

Saya lebih suka menyebut buku ini “Lillieoak Mystery” daripada “Closed Casket.” Sebab kata “Lillieoak” lebih banyak disebut dibuku ini dan lebih mudah diingat menurut saya, daripada Closed Casket yang terdengar seperti “Keset di Kloset.”

Di buku ini Sophie Hannah membuat sesuatu yang klasik, rasa Golden Age. Kasus terjadi di sebuah pedesaan yang indah di Irlandia yang bernama Lillieoak. Sebuah tempat yang langsung mengingatkan saya dengan Styles, kota kecil yang menjadi begitu masyur di novel perdana Agatha Christie, “Mysterious Affair at Styles.” Premisnya pun nyaris sama yaitu harta warisan. Lady Playford si Nyonya Besar Lillieoak mengundang anak-anak yang tinggal di Inggris, beserta pengacara, dan para saksi untuk datang ke rumahnya, dan mendengarkan wasiat barunya. Bahwa harta warisan yang seharusnya diwariskan pada kedua anaknya, diubah menjadi sepenuhnya jatuh pada sang sekretaris.

Di sini kedua anak dan menantu Lady Playford mengamuk, penuh sumpah serapah. Mereka menunjukkan kebencian pada si sekretaris Joseph Scotcher, haduh nama-nama di sini susah disebut. Dari bab ke bab awal hingga masuk ke dalam kasus, yaitu kematian Joseph Scotcher, begitu panjang. Banyak drama di awal yang sebenarnya bisa dipotong.

Saksi mata di kasus ini adalah Sophie Bourlet, perawat dari Joseph Scotcher yang konon katanya sekarat. Di sini Poirot ditemani oleh seorang Inspektur Polisi bernama Catchpool mulai melakukan penyelidikan. Begitu banyak spekulasi yang beredar dari bab ke bab, hingga akhirnya terungkap masa lalu kelam dari si korban sendiri, Joseph Scotcher.

Review

Penerjemah, Lulu Wijaya ini sangat hebat menyajikan kata-kata. Dia berhasil membuat novel Lillieoak ini menjadi karya yang bagus menurut saya. Sayangnya, tidak dengan si penulis asli, Sophie Hannah. Bab-bab awal novel ini sangat lambat dan terlalu banyak basa-basi.

Seorang editor penerbit pernah berkata, “novel crime thriller itu harus greget dari paragraf pertama, pembaca harus sudah melihat kasus di kalimat pertama, nggak usah pakai basa-basi.” Namun di sini Sophie Hannah, melakukan sebaliknya. Kasus pembunuhan baru dimulai justru di Bab 12. (Spoiler). Membaca ini saya sebenarnya ingin mengamuk, seandainya saja permainan kata-kata dan kalimat tidak bagus, saya pasti sudah merobek buku ini.

Tapi yang saya salut luar biasa, si penulis bisa menyajikan dialog-dialog indah yang kebanyakan mengalihkan pembaca dari permasalahan yang sesungguhnya, siapa pelaku sebenarnya.

Tentang si tokoh Detektif, seperti yang saya bilang sebelumnya. Hercule Poirot di sini berbeda dengan Hercule Poirot versi Agatha Christie. Kalau di DC Extended Universe ada Superman Earth 1, Superman Earth 2, dan seterusnya. Maka, Poirot di sini menurut saya adalah Poirot Earth 2.

Di sini sang detektif berbeda, dia lebih membumi. Dia bukan jenius yang menciptakan keajaiban melainkan, manusia biasa yang berpikir sangat keras. Berbeda dengan versi Agatha Christie yang Golden Age dan sangat entertainer atau Sherlock Holmes yang penuh dengan kejutan. Poirot versi Sophie Hannah lebih lamban dan metodis, dia memecahkan kasus dengan tahapan-tahapan berpikir yang terlalu serius dan kadang membuang-buang waktu. Di akhir cerita memang ada kejutan, namun hanya satu itu saja kejutannya menurut saya. Sedangkan si asisten, Inspektur Catchpool adalah orang yang sangat antusias dan penuh dengan ide spekulatif. Begitu banyak spekulasi yang dia ucapkan dari bab ke bab, hingga sangat kentara dia menyesatkan pembaca, atau memang sudah jadi tugasnya untuk mengalihkan pikiran para pembaca dari fakta yang sebenarnya, hah luar biasa.

Dibalik kekurangannya, kasus Lillieoak ini juga punya banyak kelebihan yang membuat saya belajar banyak.

Pertama, permainan kata-katanya dan dialog-dialog yang dibangunnya, membuat setiap karakter begitu hidup. Pemainan katanya begitu unik, nyaris saya tidak menemukan pengulangan kata, ini menunjukkan betapa determinannya si penulis mengerjakan naskah Lillieoak. Saya membayangkan Sophie Hannah mengendapkan naskah ini terlebih dahulu sebelum kemudian mengeditnya, lalu setelah diedit diendapkan lagi beberapa lama sebelum kemudian diedit lagi dan seterusnya. Hingga dia merasa naskah ini cukup sempurna untuk dikirim ke editor.

Kedua, yang membuat novel ini kompleks adalah kedalaman karakternya. Selalu ada kisah dibalik sikap dari tiap tokohnya, selalu ada cerita masa lalu yang mendalam. Disitu Poirot bersama Catchpool ada di sana untuk mengupas kisah itu satu persatu. Dari kedalaman karakter-karakter disini saya belajar banyak. Bagaimana menciptakan masa lalu yang cerdas untuk si tokoh, bagaimana kita memberi alasan hidup si karakter, bagaimana ia bereaksi terhadap lingkungan dan seterusnya. Dengan memiliki motivasi yang cerdas, si tokoh kita bisa hidup menentukan langkahnya sendiri dari awal hingga akhir cerita. Menakjubkan.

Ketiga, metode fuzzy yang brilliant. Berbeda dengan novel Poirot lain yang sulit saya pahami bagaimana otak si detektif bekerja. Di sini, justru saya mengerti bagaimana cara kerjanya. Saya mulai paham. “Oh begini toh, metode dari Hercule Poirot. Oh begini yang nama Sel-Sel Kelabu. Oh di sini Logika Fuzzy-nya bekerja.” Spoiler, jika di satu kasus pembunuhan terjadi kejadian A yang benar dan B yang juga benar, maka bagaimana menemukan solusinya. Disinilah dibutuh logika Sel-Sel Kelabu atau dalam Matematika Diskrit disebut Logika Fuzzy. Silahkan riset lengkapnya di Wikipedia.

Terakhir yang membuat saya sangat tertarik adalah si Lady Playford, sang Ratu dari Lillieoak. Dia digambarkan sebagai seorang penulis best-seller yang menikah dengan seorang bangsawan, yaitu alm. suaminya Viscount Playford. Lady Playford, sangat cerdas dan ahli dalam membuat strategi. Namun dia punya kelemahan yaitu mudah bersimpatik dengan orang-orang yang ada di dekatnya. Tapi meski begitu dia suka dengan pertaruhan dan tindakan beresiko, karena itu dia berani mengubah surat wasiatnya sendiri dan mempertaruhkan hartanya pada Joseph Scotcher. Saya melihat Lady Playford seperti J.K Rowling versi fiksi. Ia penulis termasyur, sangat kaya, sangat cerdas, dan bisa melakukan apapun yang dia mau. Jujur, saya tidak percaya dengan perkataannya di tengah buku, bahwa dia tidak menduga Joseph Scotcher akan terbunuh jika surat wasiatnya diubah. Saya yakin Lady Playford sudah memperkirakan hal itu, sebab kita bisa melihat sikapnya di bagian akhir. Dia tidak berempati pada almaruhm Scotcher, sebaliknya dia menikmatinya.

Hampir lupa, tentang si penjahat di novel ini. Model penjahat di sini adalah model penjahat favorit saya. Seperti yang saya tulis di weblog Wall of Ftroh di artikel Para Bangsat di SMA. Pembunuh di Lillieoak juga seperti itu, nyaris sempurna. Sebab itu, di sini Hercule Poirot tidak mengejar bukti fisik, karena nyaris mustahil menemukan bukti fisik. Jadi sedari awal penyelidikan, dia mengejar motif si pelaku. Yang juga menjadi kunci dari semua misteri di buku ini.

Dari lima bintang saya beri novel ini empat bintang. Sangat saya rekomendasikan untuk teman-teman penikmati fiksi detektif, baik itu yang sudah pernah baca Hercule Poirot ataupun yang belum. Dan kembali saya ingin beri pujian pada penerjemahnya Lulu Wijaya, lantaran hebat merangkai kata dan berhasil menyajikan karya yang lezat ini. Terima kasih.

 

Fitrah Tanzil
Bisa dikunjungi di weblog
Wall of Ftroh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s