Sidik Nugroho: “Genre Detektif di Indonesia Kurang ‘Bersinar'”

 

sidikIa dikenal sebagai ‘penulis warung kopi.’ Beberapa karyanya lahir di tempat tersebut. Bahkan ada dua novelnya mengadopsi nama warung kopi, seperti Surga di Warung Kopi dan Neraka di Warung Kopi. Ia adalah Sidik Nugroho, seorang guru sekaligus penulis lepas asal Malang yang kini berdomisili di Pontianak, Kalimantan Barat. Penulis yang kini tengah mendalami Hukum di salah satu Perguruan Tinggi, lahir pada bulan Oktober 1979.

Genre yang ia geluti cukup beragam. Salah satunya trilogi kiminal-misteri-detektif yang menampilkan tokoh Elang Bayu Angkasa. Dua novelny, yaitu Tewasnya Gagak Hitam dan Neraka di Warung Kopi, terbit bersamaan di awal dan pertengahan 2016 lalu, Sedangkan novel ketiganya akan rilis di awal 2017 mendatang dengan judul Ninja dan Utusan Setan.

Dalam kesempatan ini, Detectives ID akan mengadakan sedikit bincang-bincang dengan penulis yang sempat terpilih untuk hadir dalam Ubud Writer Readers Festival yang diselenggarakan di Ubud, Bali beberapa minggu yang lalu.

1. Sebelumnya, Sidik Nugroho bukanlah penulis yang menggeluti genre fiksi kriminal, misteri, atau detektif. Apa yang mendorong Anda menulis genre ini?

Saya menganggap diri saya pengarang generalis hingga saat ini. Saya menulis karena digerakkan buku yang saya baca, berita yang saya saksikan, film yang saya tonton, atau peristiwa yang menggugah atau menyentak saya. Saya mengarang kisah dongeng anak-anak tak lama setelah keponakan saya lahir. Saya mengarang cerita horor ketika membaca berita tentang wanita yang dianiaya. Saya mengarang cerita kriminal ketika merenungi begitu banyak ketidakadilan dan kejahatan.

Bacaan, film, berita, atau peristiwa-peristiwa itu pun terakumulasi dalam pikiran, memantik ide-ide yang kemudian terkonversi menjadi cerita. Tewasnya Gagak Hitam pertama kali muncul dalam pikiran saya setelah menonton film Misery. Di film yang diadaptasi dari novel Stephen King itu, saya terpana dengan sosok Paul Sheldon, pengarang yang malang. Bayang-bayang Paul Sheldon sering menghantui saya, dan pada suatu ketika “melahirkan” sosok Gagak Hitam, pengarang yang gantung diri di cerita Tewasnya Gagak Hitam.

2. Dalam novel Tewasnya Gagak Hitam dan Neraka di Warung Kopi, Anda beberapa kali menyebutkan nama Sherlock Holmes dan Hercule Poirot. Apakah keduanya memberikan pengaruh dalam menulis dua novel itu dan seberapa kuat pengaruhnya?

Iya, saya terpengaruh oleh dua tokoh detektif itu. Bagi saya, mereka orang-orang jenius—bahkan kadang saya rasa terlalu jenius. Pengaruh mereka bisa dibilang besar, bisa dibilang kecil. Besar dalam hal turut membentuk tokoh yang saya ciptakan yang bertujuan utama menyingkap kejahatan dan misteri. Tapi kecil dalam hal metode, dalam arti saya memilih metode lain dalam pemecahan kasus misteri atau kejahatan.

3. Secara personal, bagaimana pendapat Anda tentang dua tokoh detektif tersebut?

Saya pernah beberapa kali menganggap, kedua tokoh ini mendekati “superhero”. Kejeniusan, ketelitian, daya ingat, dan daya amat mereka terhadap hal-hal kecil membuat saya terkagum-kagum.

4. Jelaskan latar belakang menciptakan tokoh Elang Bayu Angkasa? Mengapa Anda tertarik mengangkat seorang pelukis menjadi tokoh detektif?

Elang Bayu Angkasa lahir karena saya ingin menciptakan tokoh detektif secara alami. Referensi saya dalam melahirkan Elang justru bukan setelah membaca banyak cerita detektif, tapi lintas genre. Selain itu saya membaca buku psikologi, menonton dan membaca banyak berita, serta sering bepergian ke Singkawang, 140 kilometer dari Pontianak. Selain itu, setelah mengarang novel Melati dalam Kegelapan, saya sering membayangkan bisa mengarang cerita misteri tanpa bumbu horor berupa keberadaan makhluk gaib. Tokoh pelukis menarik bagi saya, karena di mata saya, mereka peka dengan detail.

Elang pun lahir dalam Tewasnya Gagak Hitam yang awalnya tidak direncanakan untuk dibuat berseri. Kecerobohannya, kemudahannya untuk terpikat wanita, juga rasa ingin tahunya mungkin sedikit banyak dipengaruhi beberapa novel Nick Carter, sang detektif playboy, yang dulu waktu remaja sempat saya baca dan James Bond saat aktornya Sean Connery. (Percaya tidak percaya, saya tidak mengingat cerita Nick Carter saat menciptakan tokoh Elang Bayu Angkasa, makanya saya menyebut “mungkin” di kalimat sebelumnya. Setelah terbit, beberapa teman berkomentar, dan barulah saya sadar.) Begitulah, dengan keterbatasannya, Elang si pelukis yang sering menganggur dan hidup seadanya dari hasil yang ia peroleh sebagai pelukis masuk dalam dunia kejahatan. Supaya “imbang” dan “masuk akal” dengan kasus yang ia hadapi (atau lebih tepat campurtangani), Elang muncul di kota kecil, yakni Singkawang.
Inovasi dalam kepengarangan itu perlu, bahkan dalam dunia kreativitas secara umum. Lewat tokoh Elang Bayu Angkasa saya berusaha menciptakan tokoh yang lain daripada yang sudah-sudah. Kelainan itu tentu didukung latar, konflik, atau tokoh-tokoh pendukung lainnya dalam cerita. Dan yang terutama, kelainan itu muncul dari sikap, watak, atau sifat si tokoh itu sendiri. Kelainan-kelainan inilah yang bagi saya penting, untuk menghindarkan seorang pengarang terjebak menjadi epigon, sekadar mengikuti yang sudah ada.

5. Ada pendapat yang mengatakan bahwa kepopuleran tokoh Sherlock Holmes dan Hercule Poirot melebihi kepopuleran penulisnya. Apa kiat Anda untuk mempopulerkan tokoh detektif Elang Bayu Angkasa?

Saya kira hal ini terjadi karena pada zaman mereka, cerita detektif masih berupa “barang baru”. Karenanya, banyak yang mengapresiasi, sekaligus mengkritik. Apresiasi dan kritik dalam jumlah yang banyak itulah yang membuat sebuah karya jadi monumental, dibicarakan berulang-ulang, dan pada taraf tertentu melahirkan penuils-penulis lain. Sampai sekarang (saat menjawab pertanyaan wawancara ini, seri ketiga Elang Bayu Angkasa sedang dipersiapkan terbit, yaitu Ninja dan Utusan Setan) saya tidak yakin tokoh Elang Bayu Angkasa akan sefenomenal Gozali dan Kosasih, Sherlock Holmes, atau Hercule Poirot.

Saya tidak punya kiat khusus untuk membuat Elang Bayu Angkasa makin dikenal. Dan saya yakin, tokoh fiktif—atau bahkan dalam taraf yang lebih luas, yaitu cerita—dikenal luas bukan karena upaya penciptanya, tapi respons pembaca. Namun, bukan berarti saya hanya diam. Tiap novel saya terbit, saya selalu meminta bantuan beberapa peresensi agar mengulas novel itu, dan sedapat mungkin menerbitkan ulasan itu entah di koran, majalah, atau internet. Saya serahkan kepada mereka—mau dipuji, mau dikritik, itu hak mereka. Yang penting, karya itu diperbincangkan.

6. Novel pertama Anda banyak mendapatkan kritik. Bagaimana Anda menyikapi kritik tersebut?

Saya selalu beranggapan, bahwa proses kreatif tiap kreator berbeda-beda. Ada yang membuat satu karya, namanya langsung melambung. Bahkan ada orang yang membuat satu karya, meninggal, dan namanya abadi bersama karyanya. Namun, ada juga yang kebalikannya. Bagi saya, pujian dan kritik sama pentingnya. Karena itulah saya tidak suka mencantumkan pujian di sampul buku (endorsement). Komentar pembaca berupa pujian dan kritik bagi saya akan lebih baik dan “alami” bila tidak dicantumkan di buku, tapi di media sosial, majalah, internet, atau koran; atau yang lebih serius dan “berat” seperti jurnal, penelitian, dan sebagainya.

7. Di novel pertama, tokoh detektif Anda sempat dikritik karena suka mempermainkan perempuan. Lalu Anda mengurangi “keliarannya” di novel kedua. Apakah perubahan itu benar-benar berdasarkan kritik pembaca?

Sebagian iya, sebagian tidak. Saya benar-benar heran dengan selera pembaca—begitu bervariasi. Ada yang mengkritik Elang “liar”, tapi beberapa pembaca malah menganggap dia kurang “liar”. “Keliaran” itu awalnya saya buat untuk memberi gambaran kepada pembaca bahwa tokoh Elang memiliki kekurangan, bahkan bisa dikatakan cacat moral. Namun, di balik itu, dia punya kepedulian. Jadi, di novel kedua “keliarannya” agak dikurangi karena saya anggap sudah disampaikan di seri pertama; dan di novel kedua saya bisa mengembangkan cerita ke arah lain.

8. Apa benar tokoh polisi Agung dalam cerita Anda adalah tokoh nyata?

Tidak benar. Yang benar, saya punya beberapa teman polisi. Dari mereka—juga bacaan, film, dan berita—saya menciptakan tokoh Agung Prasetyo.

9. Seberapa penting riset dalam proses menulis menurut Anda?

Penting, bila itu dihubungkan dengan beberapa elemen cerita seperti latar atau peristiwa tertentu yang sudah umum atau faktual. Saya pernah mendengar ada cerita yang dibuat seorang penulis pada tahun 2008, kalau tidak salah. Di cerita itu ia menulis cerita dengan latar waktu tahun 2002-2003 dan menyebutkan merek sebuah mobil. Setelah dicek, ternyata mobil itu baru dijual pada tahun 2004.

10. Bagaimana pendapat Anda mengenai genre detektif di Indonesia? Adakah visi khusus yang Anda persiapkan untuk mengembangkannya?

Genre ini kelihatannya kurang “bersinar”. Masih sedikit pengarang Indonesia yang mengarang cerita detektif bila dibandingkan kisah percintaan, komedi, atau reliji. S. Mara Gd, V. Lestari, Arswendo Atmowiloto, dan Seno Gumira Ajidarma adalah beberapa di antaranya. Yang terakhir saya sebut membuat komik detektif, Sukab Intel Melayu. Dunia kejahatan terus bergejolak—tengoklah koran-koran kriminal—dan itu mestinya bisa jadi pemicu awal untuk mengembangkan cerita detektif. Barangkali pengarang di Indonesia yang punya kecenderungan sebagai pengarang generalis dapat belajar dari Stephen King atau J.K. Rowling. Yang satu sebelumnya mengarang horor, yang satunya fantasi—tapi keduanya berhasil juga mengarang cerita detektif.

Saya akan melihat perkembangan ke depan, bagaimana tanggapan pembaca terhadap tokoh Elang Bayu Angkasa. Kalau memuaskan, saya akan mengarang seri-seri lainnya. Tapi kalau kurang memuaskan, mungkin saya akan berhenti mengarang cerita tentangnya, menciptakan tokoh lain—Elang cukup dikisahkan dalam trilogi saja. Sekitar dua bulan lalu saya pernah mendapat ide mengarang cerita dengan tokoh Elang (bisa untuk seri keempat), tapi ide itu saya simpan dulu.

Kebetulan, Tewasnya Gagak Hitam tahun ini lolos dalam seleksi program penerjemahan yang diadakan sebuah instansi pemerintah. Instansi itu membiayai penerjemahan novel itu, dan proses penerjemahannya sudah selesai. Kalau tidak ada halangan, novel itu akan ada versi Bahasa Inggris-nya tahun depan atau dua tahun lagi. Nah, dari situ juga nanti bisa dilihat, apakah novel itu cukup berhasil atau tidak merebut hati pembaca yang lebih luas.

11. Menurut Anda mengapa genre detektif/kriminal/misteri di Indonesia masih kalah dengan peminat novel romantika, horor, atau komedi?

Mungkin karena membaca cerita detektif/misteri/kriminal perlu konsentrasi tinggi, dan berdasarkan beberapa hasil survei—benarkah survei-survei itu?—minat baca masyarakat masih rendah. Saya tidak pernah mengadakan survei, tapi hampir tiap hari ke warung kopi. Tidak kurang dari lima belas warung kopi yang sering saya singgahi di Pontianak, kota yang saya tinggali. Beberapa warung kopi yang saya kunjungi adalah warung kopi yang tenang, kondusif untuk membaca dan menulis. Yang saya amati di warung kopi kelihatannya sesuai hasil survei-survei itu: hampir lima tahun saya di sini, hanya dua kali ketemu orang ngopi sambil baca buku.

Rendahnya minat baca sekarang saya kira juga muncul sebagai dampak perkembangan teknologi. Dulu, waktu SD dan SMP saya suka membaca buku, tapi bukan karena saya kutu buku. Saya dulu malas belajar, dan tidak pernah jadi juara kelas. Alternatif hiburan pada saat itu tidak banyak, dan saya mencari hiburan lewat buku. Stasiun televisi hanya sedikit, film lebih sering ditonton di bioskop atau menyewa laser disc, dan kalau mau bermain games harus membeli alatnya dulu. Sekarang, dengan ponsel-ponsel yang sangat canggih, dunia hiburan ada dalam genggaman.

Rendahnya minat baca itulah yang saya duga juga menjadi penyebab mengapa novel romantika, horor, atau komedi lebih diminati. Di tiga jenis bacaan itu, kalau saya duga, pembaca cenderung lebih banyak dihibur daripada diajak berpikir. Jadi, menurut saya, karya yang bisa menghibur, itulah yang kemungkinan lebih diminati pasar; walaupun ada beberapa karya yang juga sukses karena reputasi pengarangnya, mendapatkan banyak pujian, memenangkan penghargaan, dan sebagainya.

Di sisi lain, film tampaknya bisa mengambil peran penting. Kalau kita perhatikan, ada beberapa buku yang “meledak” di pasaran karena diangkat sebagai film. Memang, yang saya amati, buku yang diangkat menjadi film kebanyakan yang sudah sukses dulu di pasaran; dan karena difilmkan, buku itu makin “meledak”. Namun, tak ada salahnya mencoba yang kebalikannya, kan? Mungkin, dengan adanya beberapa film—atau bahkan sinetron—detektif, publik jadi tergerak membaca cerita-cerita detektif.

12. Secara garis besar novel ketiga Elang Bayu Angkasa akan bercerita tentang apa?

Saya salinkan sinopsisnya saja, ya:

Mayat lenyap dari kamar mayat rumah sakit—peristiwa itu membuat Elang Bayu Angkasa terpana. Ia mendengar berita itu dari Tesha, kekasihnya, yang bekerja di rumah sakit. Elang awalnya tak ingin terlibat dalam kasus itu, ingin hidup tenang, menikahi Tesha, dan berkeluarga. Tapi, tak lama setelah mayat itu lenyap, seorang misterius mendatanginya, mengiriminya surat berisi teka-teki yang berhubungan dengan mayat yang lenyap itu.

Surat itu menjadi semacam undangan baginya untuk terlibat. Tanpa sepengetahuan Tesha, Elang menyelidiki misteri itu. Agar Tesha tak mengenalinya, ia menyamar, berpenampilan lain, menganggap dirinya menjadi ninja. Penyelidikannya membuatnya bertemu lagi dengan kekasih lamanya, juga rekan-rekan baru yang membantunya. Dan, seorang utusan setan yang muncul tak terduga.

13. Sebutkan tiga cerita favorit untuk Sherlock Holmes, Hercule Poirot, dan cerita detektif pilihan lainnya!

Anjing Setan (Hounds of Baskerville), Pembunuhan di Orient Express (Murder on the Orient Express), dan Misteri Dian yang Padam (S. Mara Gd)

14. Apa pendapat Anda mengenai peminat cerita detektif di Indonesia yang masih berpikir bahwa cerita yang dibuat penulis luar negeri lebih layak dibaca dibanding penulis Indonesia?

Bagi saya, selera tiap pembaca tak bisa didikte. Saya menduga, pembaca cerita detektif demikian—bahkan mungkin pembaca buku bergenre lain—menganggap pengarang-pengarang luar negeri memiliki totalitas lebih besar dalam berkarya. Saya pernah kenal pembaca yang sangat suka pada karya-karya pengarang luar negeri, dan suatu hari dia tahu ada pengarang Indonesia yang punya reputasi internasional karena karya-karyanya diterjemahkan ke berbagai bahasa asing. Dia mungkin akan kaget kalau tahu bahwa sang pengarang dengan reputasi internasional itu juga sangat doyan membaca novel-novel stensilan zaman dulu yang sering dianggap murahan. Begitulah, ada orang yang mungkin menganggap karya anak negeri murahan hingga enggan membacanya; tapi ada pengarang besar yang perjalanan kepengarangannya turut dibentuk oleh novel-novel yang dianggap murahan karya para pengarang terdahulu.

*

Buku-buku Sidik Nugroho yang telah terbit adalah:

Kumpulan cerpen remaja yang ditulisnya bersama Arie Saptaji berjudul Never be Alone (Penerbit Andi, 2005)
Novel fantasi berjudul Kisah-kisah Si Tuan Malam: Pencarian Kolam Mukjizat (Pustaka Ninja, 2011)
Buku inspirasi berjudul 366 Reflections of Life: Kisah-kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati (Bhuana Ilmu Populer, 2012)
Novel fantasi berjudul Kisah-kisah Si Tuan Malam: Pendekar Gitar dan Penggali Kubur (Pustaka Ninja, 2013)
Novel berjudul Surga di Warung Kopi (Bhuana Ilmu Populer, 2014)
Novel berjudul Melati dalam Kegelapan (Gramedia Pustaka Utama, 2014)
Novel berjudul Tewasnya Gagak Hitam (Gramedia Pustaka Utama, 2016)
Buku nonfiksi berjudul Menulis untuk Kegembiraan (Buana Karya, 2016)
Novel berjudul Neraka di Warung Kopi (Gramedia Pustaka Utama, 2016)

Beberapa tulisannya (cerpen, puisi, esai, artikel, dan resensi buku) pernah dimuat di Jawa Pos, Suara Pembaruan, Berita Pagi, Malang Post, Kompas, GFresh!, Aneka Yess!, Sahabat Pena, Sinar Harapan, Koran Tempo, Pontianak Post, Psikologi Plus, Renungan Harian, Bhinneka, Costantini, dan Bahana. Ia juga menjadi penulis di Renungan Malam dan Renungan Blessing pada tahun 2003 hingga 2010.

Selain itu, ada juga buku-buku lainnya yang ia tulis dan terbitkan bersama penulis-penulis lain. Ia aktif menulis hingga kini; buku-buku lainnya yang akan diterbitkan.

source: sidiknugroho.com

Advertisements

2 thoughts on “Sidik Nugroho: “Genre Detektif di Indonesia Kurang ‘Bersinar'”

  1. Selamat sore, saya sedang mengerjakan sebuah novel hukum. Memang tidak terlalu misteri, karena latar belakang hukumnya yang ingin saya tekankan. Walau begitu, tetap ada unsur misteri yang ingin saya bawa di dalam novel ini. Saya sudah baca beberapa artikel Anda dan saya rasa perlu untuk meminta tanggapan Anda terhadap novel yang sedang saya kerjakan. Apabila berkenan, bisakah saya mendapatkan kontak Anda untuk melakukan korespondensi.

    Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih.

    Salam,
    Norman Yudha Setiawan

    Like

    • Halo mas Norman… saya Fadli, admin dari blog ini. Mungkin yang maksud genre mas lebih ke Legal Thriller atau courtroom drama (bila itu berkaitan dengan pengadilan). Menarik sekali Mas. Mungkin bisa hubungi saya ke 08568291703… itu adalah whatsapp saya. Kebetulan ada grup whatsapp penulis genre kriminal, detektif, misteri dll.. salah satunya MAs Sidik Nugroho, Ronny MAlaindra (penulis buku thriller cyber “Spammer:), Tsugaeda (penulis buku Sudut Mati”, dan ada juga Agung Utomo, polisi bagian pembunuhan dari polres Pontianak. Silahkan kontak saya

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s