Resensi Novel “Art in the Blood”

artJudul: Art in the Blood: The New Adventure of Sherlock Holmes
Penulis: Bonnie Macbird
Penerjemah: Ambhita Dhyaningrum
Editor: Primadona Angela
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020331980
Halaman: 280 Hal

Novel ‘pastische’ kisah Sherlock Holmes memang kerap kali mengundang kontroversi di kalangan para Sherlockian di seluruh dunia. Apalagi setelah tokoh detektif ini telah resmi diumumkan sebagai public domain. Sontak beberapa penulis maupun penerbit berlomba-lomba membuat kisah baru dari Sherlock Holmes dengan versinya masing-masing. Sebagian ada yang memprotes keras karena dianggap telah merusak tokoh idolanya dan tidak menghormati Sir Arthur Conan Doyle,. Namun ada juga yang mendukung karena dianggap telah memberikan nuansa baru di tokoh tersebut dan mengajak para Sherlockian muda untuk mencintai sang tokoh yang nantinya akan mencari sumber aslinya, yaitu novel canon Sherlock Holmes yang ditulis oleh penulis aslinya.

Lalu dimanakah posisi saya sebagai peresensi? Semuanya akan terjawab melalui resensi saya di bawah ini mengenai salah satu novel pastiche Sherlock Holmes, Art in the Blood yang ditulis oleh Bonnie Macbird. Tak banyak novel pastiche yang cukup memuaskan pembaca, khususnya bila pembaca tersebut seorang Sherlockian. Hal itu bisa terlihat dengan novel “The Italian Scretary” karya Caleb Carr (novel terjemahannya juga pernah diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama beberapa waktu lalu) yang dianggap tidak terlalu sukses. Berbeda dengan ‘House of Silk’ karya Anthony Horowitz yang banyak disukai, baik ia seorang Sherlockian atau tidak. Kali ini, giliran ‘Art in the Blood’ yang akan mendapat tanggapan beragam dari beberapa pembaca yang khususnya penyuka tokoh Sherlock Holmes.

Sebagai informasi, Bonnie Macbird yang menulis novel ‘Art in the Blood’ adalah salah satu penulis naskah film Hollywood yang cukup terkenal. Salah satu naskah film yang pernah ia tulis adalah Tron Legacy dan Sudden Death. Wanita berusia 65 tahun ini pernah meraih Emmy Award sebagai produser terbaik di tahun 80 silam. Bonnie Menyukai Sherlock Holmes dan menyukai beberapa aktor yang memerankan tokoh tersebut. ‘Art in the Blood’ adalah novel Sherlock Holmes pertamanya yang dirilis pada 2015. Untuk novel terjemahannya baru dirilis pertengahan 2016 lalu oleh Gramedia Pustaka Utama yang diterjemahkan oleh Ambhita Dhyaningrum.

Sipnosis

Awal kisah dimulai dari kecanduan Sherlock Holmes seusai penyelidikan kasus Jack The Ripper di kota London pada akhir tahun 1888. Watson yang saat itu sudah menikah dengan Mary Morstan kembali ke 221B Barker Street dan mendapati Sherlock yang sangat kacau dan hampir membakar kamar sewanya. Watson tak bisa mengatasi apa yang dialami oleh Holmes. Namun sepucuk surat asal Perancis membuat sang detektif pun kembali menunjukkan kesadarannya.

Sebuah permintaan penyelidikan kasus datang dari seorang bintang kabaret Perancis, Mlle La Victoire memintanya untuk menyelidiki hilangnya putranya yang bernama Emil. Ia juga mengaku bahwa dirinya sempat diserang di jalanan Montmartre. Sherlock Holmes bergegas ke Paris bersama Watson dan menemui sang klien. Namun penculikan anak yang hilang itu hanya awal dari masalah yang lebih besar lagi. Nike Marseille, sebuah patung berharga telah dicuri dan konon kabarnya ayah sang anak terlibat dengan pencurian itu. Belum selesai menyelidiki kasus anak hilang dan penculikan patung, terdengar kabar ada beberapa anak lain yang diculik dan tewas.

Dalam cerita ini, Sherlock berhadapan dengan seorang rival, detektif lain asal Perancis yang dikisahkan adalah keturunan dari Vidocq, pendiri Surete (kepolisian) di Perancis. Perkenalan keduanya pun diwarnai adegan action dan saling berkelahi antara Holmes, Watson, Vidocq dan beberapa orang tak dikenal di jalanan kota Paris. Tidak hanya itu, sang kakak Mycroft Holmes ternyata berperan besar atas semua penyelidikan akan tiga kasus misterius ini yang tentunya sangat berbahaya. Ia juga harus masuk ke dalam markas musuh dengan menyamar sebagai ahli seni yang lumpuh untuk mengawasi mangsanya. Sayangnya, kasus pembunuhan terhadap tuan rumah wanita mengubah segalanya. Sebuah awal yang membuat detektif sejuta umat ini hampir kehilangan nyawanya.

Review

Ada beberapa catatan menarik mengenai novel ini. Yang paling pertama bisa ditemui di bagian kata pengantar, yang kebetulan ditulis oleh Bonnie Macbird. Di halaman tersebut, sang penulis seolah-seolah berusaha meyakinkan pembaca bahwa cerita yang ia tulis tersebut berdasarkan catatan hilang dari dr. John Watson yang ia temukan di Wellcome Library, sebuah perpustakaan yang terletak di University College London. Sang penulis berasumsi, catatan panjang dr. Watson tersebut kemungkinan tidak dipublish pada eranya dikarenakan oleh dua hal, yaitu karena takut membahayakan kehidupan Holmes bila cerita itu diterbitkan, atau Holmes sendiri yang melarang cerita itu terbit. Ide ini tersebut cukup unik karena mengesankan ada kemungkinan cerita Holmes ini adalah cerita dr. Watson yang tidak ditemukan oleh Sir Arthur Conan Doyle pada eranya, namun ditemukan di era sekarang dan ditemukan oleh Bonnie Macbird. Meskipun hal ini fiksi, namun cukup mencuri perhatian karena letaknya di bagian kata pengantar.

Sherlock Holmes versi Bonnie Macbird tentu agak sedikit berbeda dengan versi Sir  Arthur Conan Doyle. Sherlock Holmes disini adalah tokoh yang kompleks yang kerap digambarkan oleh cerita-cerita Hollywood. Bonnie Macbird sepertinya menggabungkan tiga karakter Sherlock Holmes yang diperankan oleh tiga aktor seperti Jeremy Brett, Robert Downey Jr, dan Benedict Cumberbatch. Seolah-olah tiga aktor itu dimasukkan ke dalam blender untuk dicampur. Pembaca akan merasakan karakter Sherlock Holmes versi Jeremy Brett yang elegan dan kocak, enerjik dan ketangguhan Robert Downey Jr, serta kharisma arogan yang rapuh ala Benedict Cumberbatch. Penulis memang mengakui bahwa tiga Sherlock Holmes versi para aktor tersebut disatukan dalam kepribadian sang tokoh dalam novelnya. Jadi jangan berharap bisa menikmati Sherlock Holmes ala Conan Doyle disini. Begitu pula dengan karakter Watson yang terlihat gabungan antara Jude Law dan Martin Freeman. Jadi kalian akan melihat Sherlock Holmes yang jago berkelahi namun tetap anggun, jenius namun ceroboh, serta suka mengutuk dirinya sendiri. Sebuah hal yang jarang ditemui di Sherlock Holmes yang sering saya baca. Hal yang kurang dari Sherlock Holmes di cerita ini adalah kurangnya pertunjukan deduksi jenius ala sang tokoh dan hubungan yang kuat antara Sherlock holmes dan Dr. Watson.

Disini, sang penulis menambahkan latar belakang dari keluarga Sherlock Holmes yang ternyata adalah seorang seniman dan pelukis. Horace Vernet disebut-sebut sebagai saudara laki-laki dari nenek Sherlock Holmes. Penulis membuat kesan bahwa di dalam tubuh Sherlock Holmes (begitupula Mycroft) mengalir darah seorang Perancis dan seniman. Tentu saja ini kasil imajinasi Bonnie Macbird sendiri yang tentu bukan bagian dari kisah-kisah canon ala Doyle. Mungkin ini satu-satunya alasan Bonnie Macbird memilih judul ‘darah seni.’

Settingnya mengambil dua kota, yaitu Paris dan London. Mungkin karena mengambil setting negara Perancis, maka ada sosok detektif setempat yang akan menjadi pesaing Sherlock. Sang penulis mencipakan tokoh Jean Vidocq, seorang detektif asal Perancis yang disebut-sebut sebagai keturunan dari detektif pertama di dunia, Eugene Francois Vidocq. Tokoh Vidocq memang merupakan seorang tokoh nyata asal Perancis yang mendirikan Surete, atau kepolisian Paris. Vidocq sendiri adalah mantan kriminal yang selalu ditangkap dan bisa membebaskan dirinya untuk kabur dari penjara. Ketika insyaf, ia mendirikan profesi detektif dan dikenal sebagai tokoh detektif nyata di dunia. Tokoh ini yang menginspirasi Edgar Allan Poe dan Emile Gaboriau dalam menciptakan tokoh C. Auguste Dupin dan Monsieur Lecoq. Keduanya adalah tokoh detektif yang disebut dalam novel ‘A Study in Scarlet.’

Sayangnya, Bonnie Macbird kurang meneliti akan tokoh ini secara seksama. Di dalam ceritanya, Sherlock menyebut bahwa Eugene Vidocq adalah orang yang mendirikan Surete pada seratus tahun yang lalu. Padahal dalam sejarahnya, Vidocq mendirikan Surete Nationale pada 1811, yang berarti baru 77 tahun bila dihitung dari settingan tahun di novel  tersebut, yaitu 1888. Sedikit meleset dari sejarah mungkin bisa dimaklumi.

Dari segi ceritanya, novel ini seperti memiliki nafas cerita petualangan, action dan thriller ala film Robert Downey Jr.  Adegan perkelahian di klub Le Chat Noir antara Sherlock dan Watson melawan beberapa kelompok orang menjadi pembukanya. Dalam cerita ini, ia berhadapan dengan dua musuh berbahaya yang tidak segan menghabisi nyawa siapa pun, termasuk membunuh anak kecil. Kedua penjahat yang tak tersentuh hukum dan membuat pemerintah Inggris (melalui Mycroft Holmes) harus mengawasi pergerakan kasus tersebut.

Novel ini dibagi menjadi sembilan part dengan 30 bab. Di setiap part, sang penulis mengutip beberapa quotes dari beberapa tokoh fenomenal, seperti Lao Tsu, Leonardo Da Vinci, Cicero, dan lainnya, termasuk G.K Chesterton, penulis dan pencipta tokoh pastor detektif Father Brown. Cerita per bab juga tidak terlalu panjang sehingga pembaca bisa menikmatinya.

Ada beberapa hal yang cukup menganggu saya untuk menikmati novel ini, meskipun tidak terlalu signifikan. Di antaranya adalah beberapa typo dan kesalahan penulisan nama tokoh. Maksud saya di sini adalah, sang penulis maksudnya ingin menuliskan nama tokoh ini, namun salah menyebutkan tokoh lainnya. Hal itu membuat kalimatnya jadi membingungkan. Diksi yang digunakan penerjemah juga cukup mengurangi kenikmatan membaca.

Selain itu desain cover versi terjemahannya juga tidak sesuai dengan kisah yang diceritakan di dalamnya. Gramedia memakai desain siluet Sherlock Holmes modern Benedict Cumberbatch. Padahal ceritanya sendiri bersetting di era 1888. Kalau mlihat cover versi Inggris yang beredar sudah cukup mewakili Sherlock Holmes versi era Victoria. Mungkin alasan marketing serta Benedict Cumberbatch lebih dapat memikat pembeli. Padahal bisa saja, Gramedia memajang cover Benedict Cumberbatch dalam balutan era klasik seperti dalam film seria spesialnya, The  Abominable Bride.

Rating saya untuk novel ini adalah 4 dari 5 bintang. Saya menyukai penyajian tokoh yang fresh dan ide cerita dari Bonnie Macbird meskipun tidak terlalu suka dengan gaya penulisannya. Buat yang suka cerita Sherlock Holmes yang ada action dan thriller-nya, mungkin novel ini bisa menjadi pilihan. Kabarnya sang penulis tengah mempersiapkan novel kedua Sherlock Holmes lainnya berjudul ‘Unquiet Spirits’ yang saat ini masih dalam proses penulisan. Meskipun levelnya masih di bawah ‘House of Silk’ dari Anthony Horowitz, namun saya akan tetap menunggu buku keduanya. Dan mudah-mudahan Gramedia juga akan menerbitkan terjemahannya.

M. Fadli

Advertisements

2 thoughts on “Resensi Novel “Art in the Blood”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s