10 Alasan Mengapa Sherlock Holmes Menjadi Tokoh Detektif Paling Fenomenal

146220-050-568884df

Kalau berbicara detektif, maka nama tokoh ini yang paling sering disebut. Bahkan orang yang tidak pernah membaca ceritanya pun akan tahu bila kata detektif itu sangat erat kaitannya dengan tokoh ini. Karakter ini terlanjur ikonik dan fenomenal. Segala yang ada dalam dirinya menjadi simbol bagi pecinta detektif yang memecahkan kasus kriminal atau misteri yang tidak terpecahkan.

Sherlock Holmes merupakan tokoh detektif fiksi rekaan Sir Arthur Conan Doyle, seorang penulis dan dokter berkebangsaan Skotlandia. Karakternya yang unik, penampilannya yang menawan, serta metode dan cara berpikir yang berbeda dari orang kebanyakan membuat ia sangat dikagumi para penggemar tokoh tersebut. Bahkan saking poupulernya, tokoh ini masuk ke dalam Guinnes Books of Records sebagai tokoh yang paling banyak diperankan, baik dalam teater, film, serial TV, animasi, ataupun drama radio.

Lantas apa saja kira-kira yang membuat tokoh ini sangat terkenal? Nah, kami mengadakan sedikit riset dan menyelidiki faktor-faktor yang menyebabkan tokoh ini sangat populer, bahkan mengalahkan kepopuleran sang penulisnya sendiri. Berikut ini adalah 10 faktor yang menyebabkan Sherlock Holmes menjadi tokoh yang sangat populer.

1. Pemilihan Nama Sherlock Holmes.

Membuat nama tokoh fiksi tidaklah mudah. Hal itulah yang dirasakan oleh Arthur Conan Doyle saat menciptakan tokoh detektifnya. Dalam sejarahnya, sang penulis sempat bergonta ganti nama sampai ia memutuskan untuk memakai nama Sherlock Holmes untuk tokohnya. Mulai dari Sherridan Hope, Sherrinford Hope,  yang kemudian diganti menjadi Sherrinford Holmes. Nama belakang Holmes sendiri diambil dari nama seorang professor asal Amerika bernama Olliver Wendell Holmes. Ketika ingin menerbitkannya, publisher sempat menolak nama Sherrinford. Akhirnya Doyle pun mengganti namanya dengan ‘Sherlock’ agar terdengar lebih menarik di telinga orang Inggris. Menurut Sherlock Holmes Society of London, nama ‘Sherlock’ diambil dari nama belakang seorang pemain biola terkenal Alfred Sherlock. Namun ada juga yang mengatakan bahwa namanya terinspirasi dari penggabungan dua suku kata nama pemain cricket pada era tersebut, yaitu Sherwin dan Shacklock. Dalam bahasa Inggis kuno, Sherlock berarti rambut terang atau rambut pendek. Namun di era sekarang, nama Sherlock sudah menjadi sinonim dari kata ‘detective’ dari berbagai kamus terjemahan. Beberapa pakar Sherlockian mengatakan selain sangat catchy untuk didengar nama, Sherlock Holmes juga memiliki teori huruf vokal yang disebut dengan “E-O O-E Theory”, dimana ada dua huruf vokal ‘E-O’ di kata ‘Sherlock’ dan ada ‘O-E’ di kata ‘Holmes’. Hal itu akhirnya dijadikan teori oleh beberapa penulis detektif selanjutnya. Salah satu yang dikatakan menggunakan teori ‘E-O O-E’ tersebut adalah detektif Nero Wolfe karya Rex Stout. Namun sampai saat ini belum ada konfirmasi dari sang penulis tersebut.

2.Terinspirasi Dari Tokoh Nyata.

Gaya penulisan kisah Sherlock Holmes memang sangat mengikuti gaya Edgar Allan Poe dalam menceritakan tokoh detektif fiksi pertama di dunia, C. Augute Dupin. Namun penokohannya terinspirasi dari sosok mentor sekaligus dosennya di universitas Edinburg, Skotlandia yang bernama dr. Joseph Bell. Sosok ini dikenal sebagai surgeon dan cucu dari Benjamin Bell yang dikenal sebagai ahli bedah forensik. Ia memiliki kemampuan diagnosa yang luar biasa yang akhirnya membuat Doyle terinspirasi menggunakan sosoknya untuk penggambaran Sherlock Holmes. Hanya saja, ia tidak serta merta membuat tokohnya berkeluarga seperti dr. Bell. Meskipun seperti itu, dr. Bell sempat mengatakan ketidaksukaannya akan tokoh Sherlock Holmes yang menurut sang penulis terinspirasi dari dirinya. Ia menyayangkan akan tokoh yang ‘katanya’ seperti dirinya, namun dibuat tanpa empati atau diistilahkan; “jenius namun tak punya hati.”

3.Detektif Konsultan Pertama di Dunia.

Meski C. Auguste Dupin disebut sebagai tokoh detektif fiksi pertama di dunia, namun ia bukanlah detektif swasta pertama di dunia fiksi dikarenakan Dupin tidak mengukuhkan dirinya sebagai detektif swasta dan menerima klien atau bayaran. Sherlock Holmes digambarkan sebagai tokoh detektif swasta fiksi pertama yang menerima klien dan upah setelah penyelidikannya selesai. Ia juga melabelkan dirinya sebagai ‘Consulting Detective” dimana orang-orang datang berkonsultasi akan masalah kriminal atau misteri di sekitarnya. Walaupun banyak yang menyangkal bahwa C. Auguste Dupin juga menerima konsultasi dan menrima bayaran seperti yang diceritakan dalam “The Purloined Letter”, namun semuanya secara accidental dan tidak seniat Sherlock Holmes yang memang memiliki tujuan menciptakan profesi tersebut. Dupin hanya bertindak menurut kata hatinya yang sebenarnya secara ‘tidak sengaja’ melakukan konsultasi dan dibayar.

4.Deduksi

Salah satu yang juga menjadi daya tarik Sherlock Holmes adalah deduksi. Sebenarnya teknik deduksi ala Sherlock Holmes ini sudah pernah ditemukan di cerita C. Auguste Dupin yang dalam kisahnya menyebut metodenya sebagai rasioniasi. Namun perbedaanya adalah deduksi ala Dupin (yang seperti bisa memprediksi apa yang dikira-kira sedang dipikirkan lawan bicaranya) menggunakan pendekatan secara filsafat dan psikologi, sementara deduksi Sherlock Holmes menggunakan pendekatan diagnosa layaknya seroang dokter yang bisa mendiagnosa penyakit pasiennya, hanya bermodalkan pengamatan apa yang ada di sekitar pasiennya. Contohnya, seorang dokter bisa mendeteksi bahwa pasiennya mengidap penyakit lever hanya karena melihat kornea matanya yang berwarna kekuningan sebelum ia memeriksanya lebih jauh. Hal itulah yang digunakan Conan Doyle untuk membuat deduksi Sherlock Holmes terlihat ilmiah.

5.Pendekatan Forensik di TKP

Salah satu yang membuat Sherlock Holmes sangat populer adalah Sherlock Holmes memiliki pengetahuan forensik dan olah TKP yang luar biasa.Mungkin saat itu detektif swasta yang memiliki kemampuan forensik pada era itu hanya ia seorang. Tentu saja apa yang Doyle pelajari saat kuliah kedokteran sangat membantu dalam penulisan bagian ini. Ditambah dengan insiprasi terbesarnya dosen dr. Joseph Bell yang kerap dimintai bantuannya untuk memeriksa mayat korban pembunuhan. Ia pun mempelahari metode olah TKP dari mentornya tersebut yang akhirnya digunakan dalam kisah detektifnya. Metode forensik ini yang juga akhirnya digunakan para polisi di dunia nyata. Salah satunya adalah teknik mengetahui jejak kaki seseorang dalam TKP.

6.Esentrik

Sikap esentrik Sherlock Holmes juga dianggap memiliki keunikan tersendiri yang membuat dirinya mudah diingat oleh pembaca. Dianggap sebagai jenius yang tak punya hati, sangat arogan, mood yang suka berubah, suka memakai narkoba saat tidak ada kasus, pandai main biola, pengetahuan kriminal yang luar biasa mengalahkan kemampuannya di bidang astronomi, dan berbagai sifat esentrik lainnya adalah deretan daftar dari sifat esentrik sang detektif. Konon, beberapa tokoh detektif lain juga terkenal lantaran memiliki karakter yang esentrik.

7.Mengadopsi Unsur Petualangan Dalam Kisah Kriminal dan Misteri.

Pada era tersebut, novel yang sangat laris terjual adalah kisah-kisah petualangan. Sehingga kemunculan awal Sherlock Holmes tidak begitu laris manis karena cerita bergenre kriminal misteri atau detektif tidak bersinar di era itu. Terbukti dari kisah perdananya “A Study in Scarlet’ yang diterbitkan pada 1 Desember 1887 silam di ‘Beenton Annual Christmast’ tidak terlalu laku di pasaran dan Arthur Conan Doyle hanya dibayar sangat rendah untuk ceritanya tersebut. Karena cerita yang lebih populer adalah kisah petualangan macam ‘Treasure Island’, ‘1000 League Under The Sea’, dan lain-lain. Conan Doyle pun merubah strategi. Ketika salah satu majalah bulanan asal Philadephia , Amerika tertarik untuk menerbitkan kisah kedua Sherlock Holmes, sang penulis menambahkan unsur petualangan dalam ceritanya seperti yang tergambar dalam “The Sign of the Four’, yaitu sebuah kisah tentang empat pemburu harta yang berebut harta rampasan. Sampai akhirnya “The Strand Magazine” berniat menerbitkan cerpen secara bulanannya, judul-judulnya pun mendapat embel-embel petualangan. Sehingga kisah Sherlock Holmes terangkat sebagai kisah petualangan dengan tokoh seorang detektif yang saat itu masih sangat langka.

8.Diterbitkan Bulanan Oleh The Strand Magazine

Berkaitan dengan poin di atas, kisah Sherlock Holmes semakin dikenal luas setelah ia masuk secara rutin di The Strand Magazine. Mulai dari kisah ‘A Scandal In Bohemia” yang terbit pada bulan Juli tahun 1891 yang kemudian merilis sebelas cerpen lainnya dan diterbitkan secara rutin per bulannya dalam satu tahun. Pembaca The Strand Magazine lebih luas dan lebih dikenal orang dibanding dua majalah bulanan sebelumnya.

9.Ikonik Dengan Deerstalker, Pipa Bengkok, dan Mantel Unik.

Berkaitan dengan masuknya kisah Sherlock Holmes di dalam The Strand Magazine, tokoh ini semakin terangkat levelnya. Salah satunya adalah penggambaran ilustrasinya yang dilukiskan oleh Sidney Paget. Ia menggambarkan sosok fisik Sherlock Holmes sesuai deskripsi yang digambarkan oleh Sir Arthur Conan Doyle. Tidak sampai di situ saja, Sidney Paget menambahkan pakaian dikenakan oleh Sherlock Holmes, yaitu sebuah mantel unik yang panjang yang disandingkan dengan topi deerstalker yang unik dengan mengganti pipa rokok panjang dengan pipa bengkok. Ketiganya menjadi ciri khas Sherlock Holmes dan menjadi ikonik. Padahal dalam novel ataupun cerpennya, Conan Doyle tidak pernah menyebutkan bahwa Sherlock menggunakan topi, pipa, atau mantel lebar seperti itu. Ia hanya menggambarkan Sherlock Holmes berpakaian sebagaimana layaknya pria Inggris pada jaman itu. Namun tambahan dari sang ilustrator ini (khususnya dalam kisah Silver Blaze) membuat tokoh ini jadi ikonik. Saat ini, ciri khas detektif pun digambarkan melalui topi dan mantel besar tersebut.

10.Kontroversi ‘Pembunuhan’ Sherlock Holmes Oleh Penulisnya Sendiri.

Puncak kejayaan Sherlock Holmes diwarnai dengan kontroversi yang muncul dari penulisnya sendiri. Nampaknya Arthur Conan Doyle mulai jengah dengan tokoh yang ia ciptakan. Alasannya adalah ulah fans Sherlock Holmes yang lebih mengenal tokohnya daripada diri sang penulis sendiri. Hal itu membuat Arthur Conan Doyle akhirnya memutuskan untuk menghabisi tokohnya. Ia menciptakan panggung kematian Sherlock Holmes dalam kisah “The Final Problem” dan memunculkan karakter jahat yang menjadi lawan tangguh untuk Sherlock Holmes bernama Profesor James Moriarty. Ketika cerita itu diterbitkan, sontak para fans dan publik berdemonstrasi dan mendatangi sang penulis dan The Strand Magazine. Namun Doyle tetap tak bergeming akan tuntutan fans dan mulai memilih menulis kisah-kisah lain di luar tokoh detektif yang telah mengangkat namanya. Namun atas desakan dari fans yang tak kenal lelah, akhirnya delapan tahun kemudian, Sherlock Holmes muncul kembali. Mungkin kalau Sir Arthur Conan Doyle tidak berniat membunuhnya, tokohnya tidak akan menjadi kontroversi dan mungkin tidak akan lahir tokoh jahat Moriaty seperti yang kita kenal saat ini.

*sumber: Berbagai sumber 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s