Manfaat Membaca Cerita Detektif

mystery-900x675

“Cerita detektif adalah rekreasi normal untuk pikiran yang mulia” – Philip Guedalla. 

“Teoriku mengatakan bahwa orang yang tidak menyukai kisah misteri (detektif) adalah orang-orang anarkis.” –  Rex Stout

Tiap genre atau jenis cerita, kalau ditelusuri, mendatangkan manfaat khusus bagi pembacanya. Belakangan saya suka membaca cerita-cerita detektif, dan merasa perlu mengklasifikasi beberapa manfaat yang saya peroleh. Karena manfaatnya ada beberapa, saya akan membuat beberapa posting.

  1. Tidak mudah reaktif

Manfaat pertama yang saya rasakan adalah tidak mudah bersikap reaktif, atau ikut-ikutan membicarakan yang umumnya ramai dibicarakan. Saya mempelajarinya dari Sherlock Holmes. Di kisah Sherlock Holmes yang pertama, saat ia baru bertemu dengan Dokter Watson, Dokter Watson terkejut ketika mengetahui bahwa Sherlock ternyata tidak tahu-menahu soal tata surya.

“Aku menganggap otak manusia seperti loteng rumah yang kosong, kita harus mengisinya dengan perabotan yang kita pilih. Orang bodoh mengambil semua yang dia temukan, sehingga pengetahuan yang bisa berguna bagi dirinya tertimbun…. Nah, pekerja yang sangat ahli akan sangat berhati-hati memilih apa yang dia taruh di lotengnya,” katanya.

Suatu saat Dokter Watson mendaftar pengetahuan-pengetahuannya. Sastra: nol, filsafat: nol, astronomi: nol, politik: lemah.

Keterkejutan itu tentu didasarkan pada asumsi sang dokter, bahwa orang cerdas akan cukup baik pemahamannya terhadap beberapa ilmu itu. Tapi Sherlock tampak puas dengan apa yang dikuasainya, mengatakan bahwa ia memilah dan memilih apa yang perlu dimasukkan dalam pikirannya dan penting bagi tugas-tugas yang perlu ditanganinya.

Begitulah, Sherlock tampak tak merasa kurang pandai meskipun pengetahuannya dalam beberapa ilmu dianggap sangat kurang oleh sahabatnya, Dokter Watson. Saat ini, kita disuguhi banyak sekali informasi, baik yang benar maupun keliru. Hoax bertebaran, fitnah merajalela, dan kebenaran sering kali terselubung. Sudahkah kita menyaring informasi yang berseliweran itu, atau malah turut tenggelam dalam hiruk-pikuk, dan lupa mengutamakan hal yang penting dan signifikan menunjang kehidupan atau pekerjaan kita?

  1. Bersikap lebih cermat

Membaca cerita detektif membuat kita berpikir lebih cermat dan teliti. Pada umumnya, cerita detektif berisi banyak petunjuk yang tersurat maupun tersirat. Pembaca yang melewatkan petunjuk-petunjuk itu akan kehilangan hal penting. Namun, coba perhatikan Internet atau media sosial, tidak sedikit orang yang suka menanyakan sesuatu yang sudah tertera bahkan dijelaskan. Malu bertanya memang bisa membuat sesat di jalan. Tapi kebanyakan bertanya bisa jadi tanda seseorang tidak benar-benar memperhatikan.

Van Dine dalam artikelnya berjudul “Twenty Rules for Writing Detective Stories” yang dimuat American Magazine (September, 1928), menulis suatu hal penting yang berhubungan dengan cerita detektif: “Pembaca harus memiliki kesempatan yang sama dengan detektif untuk memecahkan misteri. Semua petunjuk mesti dinyatakan dan digambarkan dengan jelas.”

Dalam cerita detektif yang baik, tidak ada tokoh yang tiba-tiba muncul sebagai “tokoh baru”, tapi justru tokoh itu yang mengkhiri cerita. Cerita detektif yang demikian bisa jadi memang mengejutkan, juga masuk akal, tapi tak memberi kesempatan kepada pembaca untuk ikut terlibat berpikir dalam rangkaian peristiwa yang sudah dibangun dari awal. Terbiasa mengikuti cerita penuh teka-teki akan menolong seseorang menjadi lebih cermat.

Suatu ketika saya menjual gitar bekas di sebuah grup Facebook. Di foto-foto yang saya kirimkan di grup itu sudah saya tulisi berbagai keterangan: merek dan kondisi gitar, nomor ponsel, dan akun Facebook saya. Saya tambahi juga keterangan di situ bahwa bila ada yang berminat membeli gitar tersebut atau menanyakan harganya, silakan mengontak saya lewat kotak pesan Facebook atau pesan seluler.

Iklan tujuh kalimat itu mendapat komentar beragam. Ada yang langsung menulis harga, menawar, bahkan ada yang berkomentar dengan nada negatif bahwa sebaiknya saya tidak usah jualan kalau tidak mencantumkan harga. Komentar-komentar itu jadi terasa aneh mengingat puluhan—bahkan mungkin ratusan—anggota grup itu mengirim iklan di grup tanpa mencantumkan harga, dan di grup itu memang tidak ada peraturan khusus para penjual harus mencantumkan harga.

Bukannya menunjukkan respons yang baik, orang-orang demikian malah “menyampah”. Karena itulah, tak jarang saya membaca iklan-iklan di media sosial didahului dengan kata-kata: “simak baik-baik sebelum berkomentar”, “budayakan membaca”, dan seterusnya. Kecermatan kelihatannya tidak penting di mata banyak pengguna media sosial.

Sebuah posting (unggahan) berupa foto, misalnya, di media sosial bisa menimbulkan banyak penafsiran. Dari keterangan foto, si pengunggah, objek dalam foto, ekspresi orang dalam foto, dan sebagainya—sangat banyak elemen yang memungkinkan seseorang menyebar informasi keliru atau membuat kesimpulan yang salah. Sudah berkali-kali terjadi, orang yang ahli pun bisa ikut-ikutan menyebar hoax. Terbiasa membaca cerita detektif akan membuat seseorang menjadi peragu yang baik: suka mempertanyakan, menguji, dan tidak selalu mengikuti pendapat kebanyakan orang.

  1. Tidak selalu “berpikir positif”

Manfaat lain dari membaca cerita detektif adalah menghindari kebiasaan “berpikir positif”. Dua kata itu (sengaja diberi tanda kutip, supaya pembaca bisa menarik pengertian lain) tampaknya sering dikaitkan dengan anggapan bahwa persoalan yang sedang dialami tak perlu terlalu dikhawatirkan. Semua (akan) baik-baik saja. Dua kata itu pun kadang diucapkan agar orang yang mengalami sesuatu yang kurang baik bisa lebih tenang. Alih-alih berpikir konstruktif dan bertindak mencari solusi, “berpikir positif” bisa membuat seseorang pasrah dan pasif, walau di sisi lain tetap mengharapkan sesuatu atau kabar yang baik.

Bagi seorang detektif seperti Hercule Poirot, tidak bisa demikian. Dalam sebuah kisahnya yang diceritakan Sophie Hannah, di novel berjudul “Pembunuhan Monogram”, Poirot berkata kepada Mr. Catchpool, temannya, seorang polisi, yang sebelumnya mencoba menghiburnya bahwa ia tidak gagal karena pembunuh yang mereka incar berhasil melakukan satu pembunuhan lagi. Catchpool, dengan kata lain, hendak mengajak Poirot “berpikir positif”.

Dengan kesal Poirot berkata: “Kalau itu pendapatmu, kau pastilah polisi kesukaan pembunuh. Tentu saja aku sudah gagal!” Poirot mengakui kegagalannya, memutuskan terus mencari kebenaran dengan gigih.

Ketika seseorang dihadapkan pada persoalan krusial, perlu upaya untuk melihat persoalan itu dengan serius dan mencari jalan keluar. Jika persoalan itu mengandung misteri dan pertanyaan, semestinya persoalan itu diselidiki dan dicari jawabannya. Hanya berpikir bahwa semua akan baik-baik saja tidak membantu dan membuat segalanya justru menjadi makin runyam. “Berpikir positif”, kalau demikian hanya akan membuat keadaan makin membahayakan karena solusi dari suatu persoalan tidak ditemukan, tapi selalu berada dalam angan-angan.

  1. Mengurangi baper

Membaca cerita detektif sedikit banyak membantu kita menata pikiran dan perasaan, dan mengutamakan hal-hal yang benar-benar penting. Saya mendapati hal ini ketika membaca “Titian Kejahatan” karya Robert Galbraith alias J.K. Rowling.

Napas utama dari novel seri ketiga itu adalah upaya penjatuhan nama besar Cormoran Strike, detektif dalam cerita itu yang makin dikenal publik lewat dua prestasi yang terekam dalam dua seri sebelumnya. Seperti yang tampak berikut: “Biro penyelidikan ini tak akan bertahan lama bila bau amis kegagalan dan keganjilan terus menguar dari kantornya… Tidak ada yang ingin mempekerjakan orang yang begitu terkenal karena pemberitaan negatif; tidak ada yang menyukai gagasan detektif yang begitu terkait erat dengan pembunuhan yang tak terpecahkan” (halaman 382).

Cormoran Strike menghadapi konflik yang menguras dirinya—baik uangnya, pikirannya, maupun segenap kemampuannya. Ia detektif bertungkai satu, dan seseorang sedang mempermainkan perasaannya dengan mengirimkan tungkai manusia! Kasus yang ia tangani di cerita itu berhubungan dengan masa lalunya yang kelam. Ada orang yang ia kenal dari masa lalu yang mencoba membunuh kariernya, sekaligus mendatangkan teror baginya. Peyelidikan terhadap beberapa terduga mendatangkan suatu “konsekuensi emosional” baginya.

Bila mengalami apa yang Strike alami, beberapa orang mungkin akan “terbawa perasaan”, alias baper (istilah yang sedang ngetren belakangan ini). Namun, Strike memutuskan untuk menangani emosinya dengan baik. Robert menulis: “Strike tidak akan bisa meniti karier di Cabang Investigasi Khusus Polisi Militer Kerajaan kalau tidak belajar cara menangani kensekuensi emosional dari suatu penyelidikan” (halaman 491). Menghadapi pembunuh sadis yang memiliki dendam kesumat bukan perkara mudah. Orang-orang yang suka baper akan kesulitan menghadapi hal seperti itu. (*)

Sidik Nugroho, Februari-Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s