Review Film “Museum”

Museum_(Japanese_Movie)-p2Judul: Museum
Pemeran: Shun Oguri, Machiko Ono, Shuhei Nomura, Yutaka Matsushige.
Sutradara: Keishi Ohtomooooo
Penulis Naskah: Keishi Ohtomo, Izumi Takahashi, Kiyomi Fujii, (berdasarkan manga Ryosuke Tomoe)
Perusahaan: Warner Bros Japan, Museum Film Partner
Durasi: 132 Menit

Jepang selalu memiliki selera tinggi dalam menggarap film bergenre crime fiction dan thriller. Termasuk film “Museum” seperti ini. Beruntunglah saya sempat mengetahui informasi film ini tayang di Indonesia melalui akun twitter salah satu bioskop di Indonesia. Saat itu, caption yang tertulis membuat saya cukup tergugah. Selain itu, saya rasa jarang sekali film detektif Jepang yang tayang di bioskop besar di Indonesia dan bersaing dengan film besutan Amerika dan buatan lokal. Ditambah dengan deretan aktor pemeran utama di film tersebut, Shun Oguri yang dikenal sebagai aktor jempolan. Ia juga sempat bermain sebagai yokoh Shinichi Kudo dalam seria live action Detective Conan beberapa tahun yang lalu.

Film “Museum” sendiri kabarnya diangkat dari manga yang berjudul “Museum: The Serial Killer Laughed In The Rain.” Namun jujur, saya belum pernah membaca versi manganya karena memang belum pernah diterbitin di Indonesia. Yang jelas, ketika membaca informasinya di twitter serta mendengar nama Shun Oguri yang menjadi tokoh detektif polisi dan akan berhadapan dengan serial killer berpakaian nyeleneh, saya jadi tertarik untuk menontonnya.

Sipnosis

Kisah diawali dengan penemuan mayat seorang wanita dalam bentuk yang tidak wajar pada saat turun hujan. Di samping mayat tersebut ditemukan pesan dari si pembunuh yang bertuliskan “Dog Food Penalty.” Temuan itu membuat Detektif Hisashi Sawamura berpikir keras untuk menangkap pelakunya Ditemani oleh seorang polisi pemula bernama Nishino, keduanya pun melacak pelaku pembunuhan tersebut. Pelaku yang mengenakan topeng aneh berbentuk kodok ini mulai memangsa korban keduanya, seorang maniak video game. Di tubuh korban kedua ditemukan tulisan bertuliskan “Pain of Mom Penalty.”

Melalui korban kedua ini, sang detektif pun menyadari bahwa kedua korban tersebut memiliki keterkaitan satu sama lain. Kedua korban pernah menjadi juri dalam kasus pembunuhan terhadap seorang gadis menggunakan resin. Total juri yang bertugas dalam kasus tersebut sembilan orang.

Ketegangan semakin meningkat ketika sang detektif mengetahui bahwa dalam daftar juri yang bertugas terdapat nama istri sendiri yang bernama Haruka. Hal itu menandakan bahwa istrinya akan menjadi incaran sang pelaku.

Meski disarankan para atasannya untuk mundur, Sawamura pun berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan keluarganya dari “frogman.” Aksi kejar-kejaran dengan mobil serta kenekatan sang pembunuh untuk membahayakan siapa pun yang menghalanginya menjadi bumbu ketegangan. Sampai akhirnya sang detektif berhadapan dengan sang pelaku psikopat yang di rumahnya memiliki “museum” pribadi dengan koleksi potongan tubuh manusia dan kumpulan kodok dan reptil.

Review

Film ini tentu berbeda dengan drama detektif Jepang seperti pada umumnya. Kebanyakan cerita detektif drama lebih mengutamakan bagaimana trik dan misteri kejahatan terjadi. Hanya beberapa cerita yang mengangkat pertarungan hidup dan mati antara sang detektif dan serial killer. Dari segi thriller, terus terang saya masih menyukai film thriller “Confession” (2009). Meski Jepang sempat dikenal dengan cerita “Tokyo Zodiac Murder”, namun cerita ini berbeda dengan kisah tersebut. Di cerita “Tokyo Zodiac Murder” yang dibunuh semua anggota keluarganya berdasarkan zodiak. Lalu sang pembunuh kemudian dibunuh juga. Investigasi panjangnya adalah mencari siapa yang membunuh si zodiac murder ini. Berbeda dengan cerita “Museum” yang memang head to head dengan serial killernya. Mengingatkan saya dengan film “Seven” yang diperankan Morgan Freeman dan Brad Pitt yang tentu memiliki ending yang berbeda.

Plot dan misteri yang disajikan jempolan. Menurut saya, plot dan sisi misterinya menyatu dengan alur yang pas. Ceritanya bisa diikuti dengan baik dan membuat penonton terfokus pada cerita. Tentunya membuat jantung berdebar, seperti sedang bertemu calon mertua.

Atmosfer yang diciptakan juga perlu diancungi jempol. Nuansa gelap dan bersetting hujan menambah kesan yang suram di sepanjang film. Hampir semua peristiwa diwarnai hujan.

Menurut saya, Shun Oguri merupakan aktor keren. Ia bisa melahap segala peran. Saya menyukai perannya sebagai anak SMA begundal di film “Crows Zero.” Aktingnya bisa dibilang “the best.” Saya belum nonton aktingnya di “Lupin The Third.”

Dalam kisah ini, karakter detektif Hisashi Sawamura yang diperankan oleh Shun Oguri digambarkan sebagai sosok pekerja keras, dan selalu semangat untuk mengungkap sebuah kasus mriminal. Namun sifat pekerja kerasnya itulah yang membuat detektif Sawamura tidak jarang mengabaikan waktu bersama keluarganya. Meskipun ia sempat dibebastugaskan oleh polisi, ia menyelidiki kasus tersebut seorang diri. Ia mengetahui penyebab pelaku memakai topeng dan mengidap alergi tertentu. Dengan menggunakan internet, ia mencari rumah sakit yang pernah menangani alergi tersebut untuk mengerucutkan pelaku.

Di sisi yang berlawanan, “Frogman” sang pelaku merupakan sosiopat yang telah mengalami peristiwa mengenaskan saat dirinya masih kecil. Hal itulah yang membuat dirinya bertingkah seperti orang gila. Ia memiliki maksud tertenti kenapa memilih menggunakan topeng, beraksi saat hujan, dan mengkoleksi potongan tubuh dan reptil.

Yang plus dari film ini menurut saya jarang film Jepang yang mengangkat cerita detektif mengungkap pembunuhan berantai tanpa ada trik bagaimana pelaku melakukan pembunuhan tersebut dengan tema seperti ini. Akting dari Shun Oguri juga merupakan satu nilai tersendiri. Sedangkan untuk minusnya adalah durasi yang terlalu panjang. Adegan kejar-kejarannya juga kurang nendang. Mungkin karena diproduksi dengan low bujet.

Sebenernya sih kejutannya ada di bagian menjelang ending filmnya. Tapi saya takut spoiler buat yang belom nonton.

Rating

Kalau disuruh memberi bintang rating, saya akan memberi 4 bintang dari 5.

Bagi saya, film “Museum” ini sangat cocok bagi para penggemar cerita thriller, misteri, dan kriminal. Meskipun film ini bukan film yang bisa dikonsumi banyak orang, tapi saya sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton. Jangan bawa anak kecil. Terlalu banyak hal-hal yang disturbing.

Setiawan Rangga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s