Sadly

 

unnamed (3)

Tahun ini, Kakek Sadli tak ikut upacara peringatan kemerdekaan negeri yang beliau perjuangkan ketika masih remaja meski upacara itu dihadiri langsung oleh presiden Joko Widodo. Beliau memilih untuk tidak datang bukan karena tidak mau menghormati kedatangan Presiden, Bukan pula karena jauhnya jarak antara Tugu Pahlawan dan Wonokromo jika ditempuh dengan becak reotnya. Pagi ini juga beliau hanya berkaos oblong, tak berseragam Veteran seperti seharusnya. Beliau memarkir becak reotnya di halaman depan Polsek Wonokromo lalu menunggu dengan sabar para polisi yang sedang melakukan upacara bendera dalam rangka memperingati hari pahlawan.

“Ada yang bisa dibantu kek?” tanya polisi piket yang menghampirinya.

“Saya mau melapor, cucu saya sudah dua hari hilang.”

“Berapa umur cucu kakek?”

“Baru tujuh tahun”

“Baiklah kalu begitu silahkan masuk. Sebentar lagi upacara selesai.” Dengan diantar polisi yang bernama Maher kakek sadli memasuki kantor polisi. Setelah upacara selesai beliau segera dilayani pengaduannya. Beliau menunjukkan foto cucunya yang bernama Reno pada polisi untuk segera dimasukkan dalam daftar orang hilang.

Suara mesin ketik memenuhi ruang pengaduan itu. Semua keterangan kakek sadli sudah tertuang dalam berkas laporan orang hilang.

“Jadi cucu anda terakhir berpamitan ke rumah temannya setelah isya? Sudah anda tanyakan pada teman-temannya?”

“Iya pak, keesokan harinya saya bertanya pada teman-teman sekolahnya namun mereka menjawab tidak tahu, malam sebelumnya hingga jam dua belas malam, saya keliling sampai kampung sebelah tapi tetap tidak ada yang melihat cucu saya.”

“Kemana cucu anda bermain atau keluar sehari-hari? Coba jelaskan kebiasan cucu anda, kemana saja dia sehari-harinya?” tanya Iptu Mulyono.

“Siang sepulang sekolah dia biasanya membantu saya mencari enceng gondok di pinggiran sungai jagir, lalu setelah ashar dia ke Sanggar Ilalang.”

“Sanggar Ilalang?”

“iya, sanggar bentukan LSM Kawan Kita. Yang membina anak-anak jalanan itu lho pak.”

“Jadi cucu anda anak jalanan?”

“Dulunya cucu saya sepulang sekolah ngamen di terminal Joyoboyo, namun sejak dibina Sanggar Ilalang dia tidak ngamen lagi, malah dia membantu saya mencari enceng gondok untuk dijual di UKM, itu pun karena binaan Sanggar Ilalang.”

Lalu setelah dari sanggar Ilalang, biasanya kemana cucu anda?”

“Dia biasanya ngaji di TPA Ustadz Mu’in mulai magrib sampai selesai isya, setelah itu dia pulang dan bermain di sekitar sini, tapi biasanya tidak sampai jam sembilan sudah pulang, lalu dia belajar sebelum tidur jam sepuluh.’

“pada tanggal tujuh kemana saja cucu anda sepulang sekolah?”

“Dia membantu saya sampai menjelang magrib pak, katanya kegiatan disanggar diliburkan karena pendopo sanggar direnovasi, sorenya dia pamit pergi ngaji tapi dia segera kembali karena katanya Ustadz Mu’in pergi ziarah ke Wali Songo sehingga ngajinya diliburkan. Setelah isya dia pamitan pergi ke Joyoboyo, katanya mau ke rumah Dina.’

“Siapa Dina?’

“Teman sekolahnya, dia adik Hadi Cakil’

“Apa cucu anda pernah bertengkar dengan seseorang?’

“Pernah, tapi pertengkaran biasa dengan teman sebayanya, dulu pernah juga dia pulang dengan memar di wajahnya, katanya dipukul Hadi Cakil.’

“Hadi Cakil kakaknya Dina tadi?”

“Iya pak, dia preman wonokromo, awalnya saya anggap dia yang mengatur dan melindungi cucu saya saat ngamen, tapi nyatanya dia malah sering memeras dan memukuli cucu saya.”

“Anda kan tahu seperti itu, lalu apa tindakan anda?”

“Saya ini hanya seorang tua renta, yang bisa saya lakukan hanya melarang cucu saya ikut Hadi Cakil. Beruntung ada sanggar Ilalang, sehingga cucu saya bisa mendapat pembinaan dan perlindungan. “

“Baiklah, kakek sabar saja, kami akan beri kabar setelah ada perkembangan. Sekarang kakek pulang saja.” Iptu Mulyono terenyuh melihat kakek renta itu keluar dari kantor polisi dengan langkah ringkih. Dia berharap dapat segera membantu kakek Sadli.

Rupanya niat baik Iptu Mulyono mendapat kemudahan, tepat setengah dua belas setelah dia sholat dhuhur jajarannya mendapat laporan penemuan kardus besar berisi potongan tubuh yang membusuk. Diapun segera meluncur ke TKP.

***

Bersamanya, Tim Forensic segera melakukan olah TKP dan identifikasi korban. Beruntung Iptu Mulyono mengenal wajah mayat itu meski sudah sedikit membusuk, wajah mayat itu persis seperti foto cucu kakek Sadli yang dilaporkan hilang tadi pagi.

“Pak Mul, pukul berapa sekarang? Jam saya rusak nih” tanya dokter Sisca sambil mengambil beberapa sampel belatung yang mengerubungi potongan mayat tersebut.

“Pukul dua belas pas, Jawab Iptu Mulyono singkat.” Setelah pemeriksaan awal yang dilakukannya selesai dokter Sisca menginstruksikan agar mayat tersebut dibawa ke RS Bhayangkara untuk segera di rekonstruksi dengan tujuan identifikasi lebih lanjut.

“Sis, anak itu mirip dengan anak hilang yang dilaporkan tadi pagi”

“Itu urusan anda pak, urusan saya hanya sebatas mayat ini” Jawab dokter Sisca sambil tersenyum. Iptu Mulyono segera menghubungi kakek Sadeli untuk mengenali jenazah tersebut.

***

Setibanya di kamar mayat RS Bhayangkara kesedihan kakek Sadli tertumpah ruah. Cucu kesanyanganya itu tergolek berantakan di ranjang jenazah.

“Sis, kenapa belum kau rapikan tubuhnya?”

“Saya tadi makan siang dulu, temuan penting dari mayat itu sudah saya kantongi kok, selebihnya kan tugas anda mengungkap kasus.”

“Apa yang kau temukan ?”

“Chrysomya villeneuvi panjangnya rata-rata 10 milimeter, dan semacam serat tanaman aquatik yang tertinggal pada luka irisan leher”

“Apa maksudmu?”

“Sudah, biar saya yang urus tentang mayat, nanti saya kabari detail hasilnya. sekarang tolong carikan saya data suhu sekitar TKP dua hari belakangan.” Iptu Mulyono masih bingung dengan pernyataan dokter Sisca, menindaklanjuti permintaan dokter Sisca, Iptu Mulyono menghubungi koleganyanya di BMKG. Sambil menunggu kabar dari koleganya Iptu Mulyono mengantar kakek Sadli pulang, sedangkan jenazah cucunya belum bisa dibawa pulang karena masih harus diperiksa lebih lanjut.

***

Iptu Mulyono makin terenyuh sesampainya di rumah kakek Sadli, dia tinggal seorang diri di bantaran kali jagir karena tetangganya sudah banyak yang pindah lantaran beberapa hari lagi kawasan ini akan diratakan pemkot. Iptu Mulyono melihat sekeliling rumah sempit tak berkamar itu. Terlihat beberapa sertifikat penghargaan veteran dari pemerintah beserta foto bayi yang digendong seorang wanita dan lelaki berkumis tipis di sampingnya.

“Itu ibu dan ayah Reno, mereka meninggal karena kecelakaan bis Samber Kencono saat Reno masih berumur setahun,” kata kakek Sadli dengan mata berkaca-kaca.

“Lalu setelah beberapa saat menenangkan kakek Sadli, Iptu Mulyono menanyakan beberapa alamat pada kakek Sadli.

***

Berbekal alamat yang diberikan kakek Sadli Iptu Mulyono menyelidiki beberapa tempat. Yang pertama dia mendatangi TPA Ustadz Mu’in di jagir sidomukti gang langgar, ketika sampai di TPA tersebut, dia mendapati seorang pria tiga puluh tahunan berpeci putih sedang menyapu latar TPA.

“Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikum salam..” Sahut pria itu dengan ramah.

“Permisi pak, saya mau bertanya, apa benar ini kediaman Ustadz Mu’in?”

“Benar pak, saya sendiri, ada yang dapat saya bantu?”

“Saya dari Polsek Wonokromo, saya hendak meminta beberapa keterangan dari pak Ustadz terkait salah satu santri TPA ini.”

“Silahkan masuk pak, kita bicara di dalam.”

Di dalam TPA Ustadz Mu’in membenarkan bahwa pada saat itu memang TPA sedang libur karena beliau ziarah ke wali songo. Kata beliau informasi itu sudah disampaikan pada para santrinya sehari sebelumnya, tapi mungkin karena sehari sebelumnya Reno tidak masuk, maka dia tidak tahu. Ustadz Mu’in juga bercerita bahwa Reno pernah terlihat beberapa kali lebam pipinya, tapi dia diam saja ketika ditanya siapa yang melakukan kekerasan padanya.

Setelah puas atas keterangan Ustadz Mu’in, Iptu Mulyono berpamitan untuk melanjutkan investigasinya ke tempat lain.

***

Selanjutnya, Iptu Mulyono melanjutkan investigasinya ke Sanggar Ilalang, disana ada beberapa ibu-ibu yang sibuk menganyam enceng gondok menjadi bermacam kerajinan bernilai jual, terlihat juga pendopo yang sepertinya baru dipugar. Dia bertanya pada salah satu dari mereka dimana kantor pengurus, lalu salah seorang dari mereka menunjuk ke sebuah ruangan. Iptu Mulyono menuju ruangan itu. Sebelum mengetuk pintu, Iptu Mulyono mendengar suara orang bercakap-cakap.

“LSM lain gak boleh masuk ke sini, pokoknya ini ladang kita, kamu harus lakukan cara apapun untuk buat mereka angkat kaki dari sini.”

“Siap Bos!!” Karena tak ambil pusing dengan konflik LSM yang diluar tujuannya , Iptu Mulyono mulai mengetuk pintu.

“Silahkan masuk. “ Kata orang di dalam ruangan, tak lama setelah itu pintu terbuka lalu tampak seorang pria hitam kekar bergigi asimetris berlapis behel perak keluar dan berpapasan dengan Iptu Mulyono. Pria itu dengan angkuh memandang Iptu Mulyono karena belum tahu profesi yang disandang pria tinggi kurus itu.

Setelah itu Iptu Mulyono masuk dan berbincang dengan ketua “LSM Kawan Kita” yang bernama Kardono, orang itu memasang wajah datar bagai pemain poker professional saat mendengar berita kematian Reno.

“Kasihan Reno, sebenarnya dia anak yang baik meski kadang agak nakal, semoga Arwahnya diterima yang Maha kuasa, ada hal yang bisa saya bantu?”

“Saya ingin menanyakan kapan terakhir kali Reno terlihat beraktiitas di sini?”

“Di Sanggar Ilalang?”

“Ya, bisa anda jelaskan?”

“Saya tidak tahu mendetail tentang aktivitas per-individu di sanggar, karena LSM kami gak hanya ngurusin sanggar saja, anda bisa tanya pada Hadi.”

“Hadi ? Siapa Hadi?”

“Pria yang berpapasan dengan anda tadi”

“Boleh saya minta alamatnya?”

“Pak, perumahan disini gak jelas, KTP saja dia dari luar kota, rumah pastinya dimana saya tidak tahu, bisa saja dia tidur di emperan Royal Plaza, dia orang yang tidak jelas.”

“Lalu mengapa anda memercayakan anak-anak pada orang yang tak jelas?”

“Karena dia yang pegang anak daerah sini sejak dulu, sejak LSM ini belum ada, Saya habis ini ada wawancara dengan JetTv, jadi saya mohon maaf harus mengakhiri pertemuan kita.”

“Baiklah, terima kasih banyak atas keterangannya” Setelah berbasa basi sejenak, Iptu Mulyono berpamitan. Iptu Mulyono tidak melanjutkan mencari keterangan dari pria itu karena sepertinya dia hanya akan mendapat jalan buntu darinya.

***

Sekitar dua ratus meter dari Sanggar Ilalang, Iptu Mulyono melihat ada LSM lain bernama Bunda Pertiwi, LSM itu bersih dan teduh, di dalamnya ada banyak buku dan permainan edukasi anak-anak.

“Assalamualaikum, ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita cantik yang menyapanya dari belakang, dari seragamnya dia mengenali wanita itu sebagai salah satu pengurus LSM ini. Mira adalah nama yang tertera pada seragam birunya.

“Maaf, saya mencari informasi tentang anak ini ?” tanya Iptu Mulyono sambil menunjukkan foto Reno yang di dapatnya dari kakek Sadli.

“Ah.. anak ini memang sering kesini.. namanya Reno kalau tidak salah, dia suka membaca buku Mother For Coco. Silahkan masuk dulu” Iptu Mulyono dipersilahkan duduk di dalam sebuah ruangan Ber-AC dengan hamparan ribuan buku yang mengisi setiap penjuru dinding. Lalu dia tertarik pada foto-foto kegiatan LSM itu yang juga terpajang menghiasi celah antar rak buku. Dia memokuskan pengamatan pada sebuah foto menarik, Foto Grup Musik Klontang yang menjadi juara ajang pencarian bakat di salah satu Stasiun TV Swasta.

“Mereka anak jalanan binaan kami, foto itu diambil saat mereka pulang ke surabaya membawa kemenangan, mereka memilih mampir dahulu kesini sebelum pulang ke rumah masing-masing.”

“Saya kira mereka binaan Sanggar Ilalang.”

“Memang yang terkenal Sanggar Ilalang, karena mereka lebih dahulu eksis disini.”

“Apakah LSM ini pernah mendapat intimidasi dari LSM sebelah?” Wanita itu tak menjawab.

“Jangan takut, katakan saja.” Desak Iptu Mulyono.

“Saya tidak takut dengan Intimidasi apapun, tapi saya tidak mau menjawab karena kami sama-sama berniat mengupayakan kebaikan bagi masyarakat. Jika anda ingin jawaban tentang apa yang terjadi, anda bisa menonton video di internet yang berjudul ‘Klontang Pulang Kampung’ yang di posting Almarhum Sutris, Leader Klontang.” Iptu Mulyono menghormati jawaban wanita itu, lalu dia dipersilahkan untuk meminum segelas es jeruk yang telah disajikan padanya.

“Kapan terakhir kali anda melihat Reno beraktivitas disini?” Tanya Iptu Mulyono setelah sedotan pertama.

“Sekitar seminggu yang lalu.”

“Apa anda tahu sesuatu yang lain tentang anak ini ? Misal apa pernah dia pernah mengeluh di ganggu orang atau mengalami tindakan kekerasan?”

“Tidak pernah, Reno selalu ceria, memangnya ada apa pak? Bapak ini siapanya Reno?”

“Ah, saya lupa memperkenalkan diri, saya Iptu Mulyono dari Polsek Wonokromo, Reno ditemukan meninggal dunia tadi siang, saat ini saya melakukan Investigasi terkait kematiannya.”

“Innalilahi Wa Innailahi Roji’un, Siapa yang bunuh dia pak?” Iptu Mulyono terkejut mendengar perkataan wanita cantik itu.

“Bagaimana anda bisa tahu Reno dibunuh?”

“Ah, pak polisi kan seharusnya bisa tahu bagaimana saya bisa tahu, saya gemar membaca pak, logika saya pasti jalan lah…”

“Hm.. menarik, wanita ini cerdas sekali..” Pikir Iptu Mulyono dalam hati.

“Baiklah.., sepertinya saya tahu kenapa anda bisa tahu, terima kasih atas es teh manisnya, bisa saya minta pin bb anda? Saya suka berteman dengan wanita cerdas.” Wanita itu dengan senang hati membagi pin bb pada Iptu Mulyono. Setelah itu Iptu Mulyono berpamitan pergi dari tempat tersebut untuk pergi ke destinasi ivestigasinya yang terakhir.

***

Dia agak kebingungan karena nomor rumah yang semrawut di daerah itu, dia sampai terpaksa bertanya pada warga sekitar namun tak ada yang tahu, atau lebih tepatnya pura-pura tidak tahu alamat rumah Hadi Cakil. Iptu Mulyono agak lelah dan memutuskan beristirahat di pinggiran kali Wonokromo. Lelahnya ternyata menuntun pada temuan besar, Disana dia melihat pria yang ditemuinya tadi di LSM Kawan Kita, pria itu terlihat sedang menghardik anak-anak kecil yang berbaris. Pria bernama Hadi Cakil itu dari jauh terlihat sedang mengeplaki kepala anak-anak kecil yang hampir menangis. Melihat kekerasan tersebut Iptu Mulyono segera mendekat dan menjambak rambut mowhawk Hadi Cakil. Hadi yang kaget spontan berusaha melawan, tapi bogem Iptu Mulyono lebih cepat melayang ke bibirnya hingga darah merembes keluar disela-sela behel peraknya.

“Ampun…ampun pak, katanya merengek hampir menangis” Iptu Mulyono dengan tangkas mengambil borgol dan membelenggu tangan Hadi Cakil. Lalu dia menghubungi Polsek Wonokromo untuk minta bantuan menciduk Hadi Cakil ke Polsek.

Tak lama setelah itu ada pesan singkat masuk pada ponselnya dari koleganya di BMKG

“7:24,5/8:24,5/9:25/10:26.”

Sms itu langsung dia teruskan ke dokter Sisca.

Selanjutnya sambil menunggu adzan magrib Iptu Mulyono menyeruput segelas kopi hitam di warung kopi ditepi sungai Wonokromo. Dengan fasilitas Wifi di warung tersebut dia menyempatkan diri menonton video klonthang yang direkomendasikan wanita pengurus LSM yang ditemuinya tadi. Video itu singkat, tidak sampai semenit, isinya hanya statement Almarhum Leader Klonthang.

“Kami ini Binaan Bunda Pertiwi !! Bukan Ilalang” kalimat singkat itu dikatakan dengan wajah penuh amarah, melihat video tersebut, Iptu Mulyono seolah memikirkan sesuatu.

***

Setelah melaksanakan sholat magrib berjamaah di Musholla Nurul Iman, Iptu Mulyono bergegas menemui dokter Sisca di RS.Bhayangkara untuk menanyakan hasil autopsy jenazah Reno, baginya yang bisa dikerjakan hari ini harus dituntaskan hari ini juga karena hari esok adalah ghaib. Dokter Sisca menyambutnya dengan senyum hangat, sehangat secangkir teh yang telah diseduhkannya untuk Iptu Mulyono.

“Bagaimana hasilnya? Apa ada temuan signifikan?”

“Mau aku jelaskan pakai bahasa apa?”

“Yang aku mengerti saja lah.. detailnya kamu tuang di kertas saja.”

“Baiklah, anak itu disembelih hidup-hidup hingga kepalanya putus, lalu tubuhnya di mutilasi, tiada jejak yang di tinggalkan pelaku selain sedikit serat enceng gondok pada luka potong leher korban, dan tentu saja yang paling penting sudah kudapat perkiraan waktu kematian korban.”

“Tunggu…Reno sering bergaul di lingkungan dimana banyak terdapat pengerajin serat enceng gondok, apa mungkin…? Ah.. aku tidak mau melompat ke konklusi sebelum mengetahui waktu kematiannya, coba kamu jelaskan dulu perihal waktu kematiannya.”

“Baiklah aku jelaskan. Kunci penentuan waktu kematian ada pada belatung yang mengerubungi mayat Reno, dari sampel belatung tersebut dapat diketahui Post Mortem Interval kematian Reno dengan metode entomologi forensic, dari panjang belatung dan suhu rata-rata TKP yang kamu kirim tadi, maka bisa diperkirakan waktu kematian Kematian Reno, penghitungan PMI sendiri bisa dilakukan dengan dua metode yaitu dengan perhitungan ADH atau juga bisa berpedoman pada grafik hasil penelitian ilmiah tentang laju pertumbuhan spesies belatung tersebut dalam berbagai suhu. Coba lihat grafik ini”. Dokter Sisca menunjukkan sebuah Grafik yang telah ditandainya pada Iptu Edi yang menunjukkan waktu kematian Reno.

“Coba jelaskan lebih detail”

“Chrysomya villeneuvi sepanjang 10mm, yang kuambil tadi diambil tepat pukul 12 siang. Chrysomya villeneuvi sendiri adalah spesies yang sudah diteliti waktu laju pertumbuhannya dalam kondisi berbagai suhu kembang, jadi kita bisa langsung mencocokkan dengan table laju pertumbuhan pada berbagai suhu dengan tabel laju kembang untuk spesies tersebut. lalu aku tinggal mencocokkannya dengan suhu rata-rata TKP yang kau smskan tadi sore. Menurut data yang kuterima suhu rata-rata TKP selama tiga hari tersebut adalah 25 derajat celcius, disini kita sudah mendapat data lengkap sehingga kita bisa langsung cocokkan dengan table. Dimana kita bisa lihat bahwa jika suhu rata-rata lingkungan 25 derajat celcius dan panjang larva 10mm maka waktu yang dibutuhkan mulai larva menetas hingga berukuran 10 mm adalah 60 jam, dan jika kita tarik mundur dari penemuan mayat yaitu hari ini pukul 12.00 siang, maka kita dapati waktu penetasan telur lalat yaitu tanggal 7 pukul 24.00 tapi perlu kamu tahu, menurut fakta yang di dapatnya dari Cornell University Department of Entomology menerangkan bahwa lalat tidak aktif saat malam hari atau ketika suhu dibawah 7,2 derajat Celsius, lalat baru aktif saat matahari mulai terbit dan suhu minimal mencapai 26,6 derajat Celcius, itu artinya baik proses penetasan maupun peletakan telur pada mayat tersebut tidak mungkin terjadi saat malam hari itu, dengan kata lain proses peletakan telur lalat oleh induknya terjadi sebelum hari mulai malam.”

“Jadi pada tanggal 7, sebelum sore Reno sudah tak bernyawa?”

“Tepat” Jawab dokter Sisca singkat.

“Berarti kakek Sadli hanya berakting belaka. Buktinya adalah keterangan janggalnya yang tidak logis jika dikonfrontasi dengan temuanmu tadi, Beliau menyampaikan kesaksian tentang semua kegiatan Reno pada tanggal 7 mulai siang hingga setelah isya. Padahal harusnya Reno sudah mati sebelum sore hari. Sebelum matahari tenggelam, pastinya jenazah Reno sudah dikerubungi lalat bahkan telur-telur lalat mungkin sudah siap menetas menjadi larva. dan dengan ini terbukti bahwa keterangan kakek Sadli palsu. Kakek sadli saat itu bisa saja membunuh Reno selepas sekolah, lalu memutilasinya terus membuangnya siang itu juga, tindakannya tersebut tidak diketahui orang lain karena suasana sekitar tempat tinggalnya memang sepi lantaran warga lain sudah pindah sebelum digusur, lalu mulailah dia membangun keterangan palsu tentang aktifitas Reno mulai siang sampai malam, hingga menggiring opini bahwa Reno terakhir ke rumah temannya yang merupakan adik dari Hadi Cakil yang dulu pernah menganiaya Reno, dia berharap penyelidikan polisi jadi teralih focus pada Hadi yang memang juga dikenal sebagai preman yang suka menganiaya anak-anak.”

“Biadab, semoga kakek kejam itu diganjar setimpal” Ujar dokter Sisca dengan geram.

Setelah berterima kasih kepada Dokter Sisca karena telah banyak membantunya dalam kasus memilukan tersebut, Iptu Mulyono bergegas ke rumah kakek Sadli untuk menangkapnya, dia bersiaga dengan segala kemungkinan veteran perang itu melakukan perlawanan. Namun begitu masuk ke rumah kakek Sadli segala kewaspadaannya hilang karena dia melihat pria renta itu tergantung di tengah ruangan dengan lidah menjulur.

Tiada wasiat, tiada pula terungkap motif yang melandasi kekejamannya itu, dan sesungguhnya masih ada ampunan bagi pembunuh manusia lain, kecuali yang dia bunuh adalah dirinya sendiri.

Penulis: Yudo Nugroho

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s