Plot Device dalam Fiksi Kriminal

literary-plot-device

oleh: Ayu Welirang

Dalam fiksi, ada elemen-elemen yang membangun fiksi agar menjadi satu cerita utuh. Elemen tersebut dibagi ke dalam dua unsur, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik merupakan sekumpulan unsur yang berhubungan dengan teknik kepenulisan, sementara ekstrinsik berada di luar teknik kepenulisan.

Unsur tersebut dikenal pula dengan sebutan literary techniques, atau teknik kepenulisan. Teknik kepenulisan mencakup tema, plot atau alur, latar, penokohan, sudut pandang atau perspektif (POV), gaya bahasa, dan amanat. Tak terkecuali pada genre fiksi kriminal. Namun, tidak semua teknik tersebut akan dibahas pada artikel ini, karena teknik kepenulisan yang akan dibahas hanyalah tentang plot device.

Plot device atau mekanisme plot adalah suatu teknik kepenulisan yang digunakan untuk menggerakkan cerita. Mekanisme plot kadang mengganggu atau membingungkan pembaca, sehingga menimbulkan suspension of disbelief yang hilang perlahan. Namun, ada juga plot yang disajikan dengan sangat baik, sehingga pembaca tidak sadar akan pergerakan alur yang begitu alami atau kesengajaan penulis mempermainkan plot.

Ada cukup banyak plot device yang digunakan dalam fiksi. Namun, pada artikel kali ini, akan dibahas beberapa plot device yang umum dan sering digunakan dalam fiksi kriminal saja. Selebihnya, mungkin plot device lain yang Anda ketahui, ada di genre lain. Untuk itu, mari kita simak beberapa plot device di bawah ini berikut penjelasannya.

  1. MacGuffin

MacGuffin adalah istilah yang dipopulerkan oleh Alfred Hitchcock, sang sutradara. Istilah ini mengacu kepada karakter dalam fiksi yang memburu suatu benda, padahal benda tersebut tidaklah penting atau tidak relevan bagi cerita. Pembaca dibuat seolah-olah meyakini bahwa benda tersebut sangat penting, hanya karena karakter cerita memperlakukannya berbeda daripada benda lain. Padahal, sesungguhnya benda lain pun akan berfungsi sama saja jika karakter memperlakukannya penting seperti ‘benda yang diburu’.

Sebagai contoh, Alfred Hitchcock berkata, “Dalam cerita thriller, MacGuffin selalu berupa ‘kalung’, sementara dalam cerita mata-mata, MacGuffin selalu ‘kertas’.” Hal tersebut kontras dengan cerita fantasi Lord of the Ring, di mana “cincin” menjadi premis utama petualangan Frodo Baggins. Ada pula contoh MacGuffin lainnya, yaitu The Maltese Falcon yang ditulis oleh Dashiell Hammett. Tentang seorang PI bernama Sam Spade, yang memburu patung hitam nan berharga, Maltese Falcon. Padahal, inti cerita tidak akan berubah walau tak ada patung itu.

  1. The Big Reveal

Dikenal juga dengan istilah the reveal, yaitu struktur narasi yang bertujuan untuk membongkar elemen kunci yang ‘tersembunyi’ dalam suatu plot kepada pembaca. The Big Reveal dapat pula menyebabkan kondisi plot twist, dan bisa menjadi kunci perubahan plot atau menjadi alur yang tidak terprediksi sebelumnya. Perlu diingat bahwa the reveal ini sangat berbeda dengan paham anagnorisis oleh Aristotle, di mana sesuatu terbongkar atau diketahui oleh karakter dalam cerita, daripada pembaca itu sendiri.

  1. Plot Twist

Dalam the reveal, mekanisme plot tersebut bisa menyebabkan alur yang tidak terduga atau biasa disebut plot twist. Dalam plot twist, biasanya arah atau tujuan cerita pada awalnya bisa berubah secara tidak terduga, dan menyebabkan keseluruhan alur menjadi sama sekali berbeda. Biasanya hal ini digunakan untuk mempermainkan daya nalar pembaca.

  1. Foreshadow

Teknik alur yang memunculkan unsur-unsur tertentu secara perlahan, dalam bentuk teka-teki atau petunjuk, sehingga akan memainkan peran penting bahkan peran kritis dalam alur yang sedang berjalan. Teknik ini umum dimunculkan dalam beberapa cerita maupun serial televisi yang bergenre fiksi kriminal. Biasanya, sang detektif atau petugas kepolisian, pelan-pelan follow the lead atau bukti-bukti yang muncul dari hasil investigasi secara implisit dan perlahan bahkan bisa jadi berurutan.

  1. Red Herring

Mungkin teknik ini cukup terkenal atau bahkan hampir sebagian besar kisah detektif mengandung red herring. Red herring adalah kondisi di mana penulis mengalihkan perhatian pembaca agar terjadi mislead atau salah menyimpulkan. Hal ini memang tujuan penulis, karena hal yang signifikan atau paling penting, malah tidak terbaca dan tidak tertebak sama sekali.

Istilah red herring bermula dari tradisi di mana anjing pemburu yang masih kecil, dilatih untuk mengikuti aroma ikan herring yang telah digarami dan diasap (makanya jadi berwarna merah). Anjing pemburu tersebut dilatih untuk mengikuti aroma ikan tersebut di sepanjang jalur dan sesekali dibuat bingung dengan munculnya aroma lain.

Pada fiksi kriminal, pembaca akan mencurigai karakter yang sebelumnya pernah melakukan kejahatan, atau deskripsinya memang cocok sebagai preman dan penjahat. Padahal, setelah mengikuti sepanjang cerita, ternyata tokoh antagonis utama dalam cerita malah tokoh yang tidak terpikirkan sama sekali. Contohnya ada dalam serial televisi The Mentalist, di mana kita akan dibuat bertanya-tanya tentang siapa tokoh Red John? Bahkan, penonton bisa mencurigai Teresa Lisbon sebagai Red John (terbukti dengan kemunculan Red John Theories dalam wiki The Mentalist). Contoh lain, misalnya novel Dan Brown, The Da Vinci Code. Kita dibuat mencurigai Bishop Aringarosa sebagai konspirator utama dalam cerita tersebut, padahal sebetulnya dia hanya kaki tangan atau diperdaya oleh antagonis utama.

  1. Unreliable Narrator

Teknik ini menggunakan teknik narator yang tidak bisa dipercaya. Narator utama dalam cerita, diduga telah menutup kebenaran yang utama, bahkan menyebutkannya secara salah dengan sengaja dan dengan sadar. Perkembangan teknik ini pada literatur muncul pada kisah detektif Agatha Christie, yang berjudul The Murder of Roger Ackroyd.

Ada beberapa tipe narator yang tidak bisa dipercaya ini. Menurut William Rigan, ada lima unreliable narrator, yaitu The Picaro (terlalu banyak membual dan hiperbola), The Madman (orang gila atau depresi), The Clown (narator yang tidak serius dan bermain dengan ekspektasi pembaca), The Naive (narator yang persepsinya kurang dewasa dan memiliki perspektif terbatas, dan terakhir adalah The Liar (narator yang sengaja salah mengartikan diri mereka sendiri, juga sering mengaburkan masa lalu mereka yang tidak pantas dan kredibilitasnya dipertanyakan)

  1. Least Likely Suspect

Teknik naratif ini adalah yang paling sederhana, yaitu menunjuk seseorang yang paling tidak bersalah, bahkan paling membantu jalannya investigasi, sebagai tersangka utama. Hal ini didasarkan pada bukti-bukti yang ada seiring jalannya investigasi. Karakternya, biasanya ada jauh di radar kecurigaan, bahkan kadang si korbannya sendiri ternyata bisa berubah menjadi tersangka. Atau malah tersangka adalah anak-anak, nenek-nenek yang kelihatannya tidak bersalah dan punya alibi, narator, atau siapapun yang mungkin menjadi tersangka tapi terlihat innocent.

  1. Discredited Witness

Dalam beberapa cerita detektif, ada tokoh saksi yang mengemukakan siapa penjahatnya di awal. Namun, karena satu dan lain hal, kredibilitasnya dipertanyakan. Karena hal itu, di sepanjang cerita, kita akan menemui tokoh saksi tersebut tidak dipertimbangkan dan tidak dipercaya lagi. Namun, sebenarnya tokoh discredited witness inilah yang justru harus dipertimbangkan. Beberapa contohnya ada pada investigasi kasus yang muncul dalam serial Jepang berjudul Galileo, di mana Yukawa-sensei dan partner dari kepolisian kerap menemui saksi yang omongannya melantur, tapi ia sebenarnya tidak bohong juga.

  1. Cliffhanger

Ini mungkin menjadi teknik naratif yang paling umum dan paling menyebalkan. Sering muncul pada serial televisi bernuansa kriminal. Setiap episode, cerita selalu berakhir menggantung. Hal ini semata-mata bertujuan untuk menarik penonton agar mau melanjutkan serial atau sekuel ke episode berikutnya agar menemukan ending. Sebagai contoh, di beberapa serial televisi seperti Sherlock (BBC), Dexter, dan Breaking Bad, cerita selalu berakhir saat salah satu tokoh melakukan sesuatu yang berbahaya, dibunuh, atau jatuh dari tempat tinggi dan mati (padahal tidak). Sementara itu, kita dibuat bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan tokoh tersebut? Mau tak mau, kita akan melanjutkan ke episode atau part berikutnya untuk tahu kelanjutan nasib tokoh.

Nah, begitulah sembilan plot device yang umumnya ada pada fiksi kriminal. Sebenarnya masih ada banyak, tetapi mungkin akan dibahas pada artikel lain karena sembilan mekanisme ini saja sudah cukup panjang. Semoga dengan contoh-contoh ini, wawasan Anda bisa bertambah dan Anda pun bisa mempraktikkannya di kemudian hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s