Ayu Welirang, Sosok Di Balik Maneno Books

Ayu www.jpg

Tak banyak pelaku industri literasi yang ‘nekat’ untuk mengerahkan tenaga dan koceknya untuk menyasar pasar yang sebenarnya belum begitu populer. Namun bila tak ada yang memulai tentu tidak akan ada yang tahu potensinya. Adalah Ayu Welirang, sosok nekat tersebut yang mengerahkan pikirannya untuk membangun Maneno Books, sebuah penerbit indie yang memprioritaskan genre fiksi kriminal dan spekulatif untuk diterbitkan.

Nah, kira-kira seperti apa cerita dari Ayu Welirang tentang latar belakangnya serta pernak-pernik di balik terbentunya Maneno Books. Yuk, simak wawancaranya di bawah ini.

Ceritain sedikit tentang Ayu Welirang. Sejak kapan menulis, apa saja karyanya, dan bagaimana proses peralihannya belajar menjadi editor?

Saya menulis mungkin dari awal 2008. Dulu awal menyebarkan tulisan saya itu lewat platform Kemudian.com atau biasa saya sebut “si hijau” sama beberapa teman kemudianers regional Bandung. Tulisan-tulisan saya cukup beragam, tapi lebih banyak surealis dan remaja aja, lalu itu pun masih dalam format cerita pendek. Awalnya, saya kenal sama genre-genre yang sadis (hahaha) dan pembunuhan itu ketika diajak kolaborasi cerita keroyokan sama para Kemudianers (terdiri dari pseudoname Alfare, Dadun, someonefromthesky, Mbak Ayu A, dan siapa lagi ya? saya agak lupa). Kolaborasi awal itu dulu ceritanya tentang sebuah universe alternatif, yang memuat para makhluk aneh, mulai dari vampir, penyihir, kuntilanak, dan saya sendiri memilih tokoh Assassin yang terinspirasi dari games Assassin’s Creed, tetapi saya ubah gendernya jadi perempuan.

Karya-karya saya cukup banyak juga, tetapi yang terbit itu baru ‘7 Divisi (Grasindo, 2014), ‘Halo, Tifa ‘(GPU, 2016), ‘Monthly Series Februari: Ecstasy’ (Grasindo, 2015), ‘Rumah Kremasi’ (Maneno Books, 2018), ‘Serapium Punya Cerita’ (Self-published, 2014), dan lain-lain (bisa dibuka di situs ayuwelirang.com untuk yang lainnya). Karya-karya ini rentang genre dan format penulisannya pun macam-macam. Saya mencoba untuk eksplorasi berbagai macam bentuk atau format penulisan novel. Mulai dari yang standar sampai yang aneh-aneh.

Mengenai peralihan sebagai editor, saya rasa semua orang itu awalnya adalah editor bagi naskah mereka sendiri. Hanya saja, kadang sebagai editor untuk naskah sendiri, kita masih kurang tega untuk memangkas kalimat, cenderung untuk menerima bagaimana pun tidak pentingnya kalimat yang ada di dalam naskah kita. Oleh karena itu, pentingnya swasunting atau self-editing sebelum naskah masuk ke penerbit adalah cara awal kita menjadi penjaga gawang terakhir bagi naskah kita sebelum dikirim ke major. Hal ini sering saya praktikkan dan ujung-ujungnya memang membuat diri sendiri kurang puas dengan naskah, sampai ada yang namanya Revisi01, Revisi02, Revisi 2017, Revisi 2018, dan terus berlanjut sampai tahun berikutnya selama naskah belum dikirim ke major.

Namun, saya jadi sadar, bahwa swasunting itu tidak harus melulu sempurna. Karena di penerbit itu, ya ada editor. Jadi, ketika kita berikan naskah, pastilah naskah akan kembali dengan berbagai catatan. Dari sanalah saya tahu, bahwa menjadi editor pun perlu banyak kompromi dan belajar. Maka, saya coba pelan-pelan mengedit naskah secara pro bono dulu ke beberapa teman yang juga menerbitkan. Saya coba hal tersebut untuk belajar menjadi editor naskah orang lain, karena dengan begitu, saya bisa belajar tega dalam memangkas kalimat yang membuat buku jadi tebal. Haha. Sampai sekarang, saya sendiri masih belajar untuk menyunting dengan baik dan terus belajar memperbarui kosakata dalam bahasa Indonesia. Selain untuk diri sendiri, tentu saja pembelajaran ini juga dilakukan demi tercapainya naskah maksimal teman-teman, walau saya belum bisa bilang sempurna juga.

Apa yang ada di benak Ayu ketika pertama kali ingin menggarap sebuah publisher?

Yang ada di benak saya adalah, “Duh, nekat aja lah!” dan “Nah, habis ini ayo cari naskah sebanyak-banyaknya!” Orientasi pertama saya sebenarnya bukan terjualnya buku, tetapi terciptanya buku-buku bagus yang tidak banyak muncul di pasaran. Karena saya ingin membaca buku-buku yang “saya mau”, makanya saya ingin menerbitkan buku-buku yang “saya mau” itu. Sama halnya saat saya menulis, saya menulis hal-hal yang ingin saya baca dan belum pernah saya temukan. Oleh karena itulah, saya memutuskan menjadi jembatan antara pembaca dan naskah itu. Karena, bisa jadi ada juga orang yang kayak saya, kepingin membaca buku yang “dia inginkan” tetapi tidak pernah ada di toko buku.

Kenapa memilih nama Maneno Books. Apa ada filosofinya?

Sebenarnya hampir tidak ada filosofi pada awalnya. Dulu malah saya ingin membuat nama yang benar-benar menunjukkan genre di balik penerbitan saya. Saya mau fokus di genre fiksi kriminal dan fiksi spekulatif, tetapi namanya bingung pakai apa. Akhirnya, yang saya lakukan hanyalah surfing di Google Translate dan mencoba berbagai kata-kata sederhana untuk diterjemahkan. Nah ini dia. Kata-kata. Saya coba untuk mencari terjemahan kata-kata dari berbagai bahasa, lalu saya berencana menambahkan Books. Sesederhana itu. Dan setelah memutar berbagai pilihan bahasa, ada satu terjemahan yang enak didengar. Maneno. Terdengar seperti Ubuntu, sistem operasi favorit saya dan diambil dari bahasa Nguni dan artinya: humanity towards other. Oleh karena itulah saya memutuskan pakai kata Maneno, dan digabungkan menjadi Maneno Books.

Kenapa lebih tertarik mengangkat genre crime, mystery, thriller, atau speculative fiction sebagai genre yang akan dipublikasikan Maneno Books?

Seperti yang saya katakan di pertanyaan nomor 2, sebenarnya saya sangat ingin genre ini banyak muncul dari penulis Indonesia, bukan hanya dari terjemahan. Kita perlu mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan kriminalitas yang terjadi di Indonesia. Entah itu hanya kejahatan ringan, kejahatan keras, masalah psikologis yang mendorong kejahatan, hingga hal-hal lain yang dapat dieksplorasi. Indonesia kan beragam, masa iya sih tidak ada kejahatan yang terjadi? Bukannya mau diromantisir dengan malah dijadikan novel, tapi genre fiksi kriminal ini sebenarnya sedang memunculkan realita yang ada di setiap negara. Realita bahwa di samping mimpi utopis dan cinta-cintaan, ada juga hal-hal yang serius dan luput dari pengamatan kita. Seolah-olah, warga masa bodoh dengan apa yang terjadi di sekitar. Kejahatan-kejahatan itu selalu ada, dan bahkan dekat dengan kita. Hal inilah yang ingin saya cari dan eksplorasi dari tangan-tangan penulis Indonesia. Hasilnya, pasti akan beragam dan menarik untuk disajikan. Seperti fakta, tetapi fiksi. Jadi, semua orang akan dibukakan pada realitas kita semua, bahwa Indonesia tidak serta-merta aman. Banyak juga hal “di balik layar” yang tidak terjamah.

Apa Ayu adalah penggemar novel-novel bergenre detektif? Bisa ceritakan sedikit cerita detektif, crime, mystery, dan thriller seperti apa yang Ayu favoritkan?

Saya cukup menyukai fiksi kriminal dan sering saya imbangi dengan bacaan atau tontonan yang membuat saya tidak terkultivasi. Memang kalau spesifik genre detektif sih saya tidak terlalu banyak membacanya, sebab saya lebih banyak membaca thriller yang bernuansa konspirasi. Mulai dari buku-buku Dan Brown, seri Mortality Doctrine James Dashner (walau ini masuk ke kategori sci-fi dengan bumbu thriller konspirasi), buku-buku dan film-film Alfred Hitchcock, serial Lima Sekawan Enid Blyton, serta tema-teman kehancuran dunia karena suatu kejahatan massal. Saya tumbuh besar di keluarga penyedia buku-buku anak yang utamanya misteri dan petualangan, ya semacam Inspector Gadget, Lima Sekawan, Nancy Drew, Nancy Clancy Super Sleuth, buku-buku RL. Stine / Goosebumps, daaan banyak lagi. Malah, kalau ditanya, apakah baca Sherlock Holmes? Hercule Poirot? Bisa dibilang saya jarang baca yang ikonik itu, sebab lebih banyak baca yang misteri untuk anak-anak. Detective Conan juga dulu sempat baca, tapi karena gore jadi saya nggak mengikutinya sampai selesai.

Oh ya, baru-baru ini juga saya lagi senang baca cerita detektif Inspector Brunswick, The World’s Greatest Cat Detective dan asisten loyalnya Nelson. Seperti gambaran kucing dan anjing yang kurang akur, di buku ini mereka malah akur dan terlibat kasus-kasus unik dan lucu. Cocok buat anak-anak dan dilengkapi ilustrasi lucu-lucu. (Ketahuan banget saya berhati anak-anak. wkwkwk).

Saya juga suka police procedural, yang benar-benar menunjukkan kerja kepolisian dalam memecahkan suatu kasus, terlepas dari masalah-masalah pribadi yang menimpa mereka. Di samping membaca, sebenarnya saya banyak terkultivasi serial Amerika yang bertema cyber terrorism, mulai dari Mr. Robot sampai techno-thriller Jerman berjudul Who Am I.

Jadi, bisa dibilang saya ini cukup banyak menonton dan membaca hal-hal seperti itu hingga akhirnya saya sadar… Lho? Kok penulis luar semua ya? Apakah tidak ada penulis Indonesia modern yang memunculkan buku-buku serupa? Dari sanalah saya tiba-tiba nekat membuat Maneno Books.

Ceritakan sedikit mengenai rilisan-rilisan dari Maneno Books! Apa yang menarik dari tiap rilisan tersebut?

Rilisan Maneno Books di tahun 2018 (awal kami berdiri), belum banyak sih. Baru ada 4 buku yang fix terbit, dan ada 3 naskah masih dalam antrean pengecekan. Bocoran judulnya yaitu Rumah Kremasi, Veranda dan Pembunuhan di Seribu Pintu, 13.01, dan Nostalgia Merah.

Masing-masing naskah punya keunikan dan simbol tersendiri. Namun, saya baru sadar ketika seorang komentator di Facebook Page Maneno Books berkata, “Wah, setelah diobservasi, rupanya sampul buku-buku Maneno Books dominan warna merah!”

Dan saya baru sadar, “Iya juga ya?” Ternyata dari sampul, dominan warna merah untuk simbolisasi makna “darah” yang identik dengan kasus-kasus pembunuhan. Di buku pertama, kumcer Rumah Kremasi, ada banyak cerita tentang kematian yang mind blowing, yang bakal membuat pembaca dibuat jijik sekaligus bertanya-tanya, “Apa yang terjadi?” Sementara di tiga naskah lainnya, kita akan menemukan berbagai teka-teki yang menggiring pada misteri utama.

Lalu, keunikan lain dari naskah kami, ada dua naskah yang akan menjadi serial dan bahkan sudah punya simbolisasi tokoh detektif. Nah, Maneno berharap ke depannya bisa terus mengantar para penulisnya untuk semakin rajin menulis. Intinya adalah itu. Sebab, penerbit tidak akan bisa berkembang tanpa ada penulis yang bisa bergerak sama-sama. Kami juga tidak menerbitkan secara terus-terusan, sebab hanya membatasi per bulan sejumlah 2 – 3 terbitan. Hal ini supaya, naskah yang sedang dipromosikan, masing-masing bisa segera menemukan pembacanya.

Dengar kabar, Ayu dan Maneno Books juga akan merilis beberapa novel detektif klasik yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Darimana idenya dan rilisan apa yang akan mulai digarap?

Mengenai ide, tentu saja saya banyak bertanya pada komunitas-komunitas untuk naskah apa yang belum ada dan perlu diterbitkan. Salah satu komunitasnya adalah Detectives ID, tentu saja.

Kita semua tahu, bahwa Sherlock Holmes sudah menjadi influence bagi pembaca detektif, padahal cerita detektif bukan hanya Sherlock Holmes saja. Kebetulan memang Sir Arthur Conan Doyle masuk daftar kanon 1001 buku yang harus dibaca sebelum mati, maka beliau jadi dibaca di mana-mana dan dijadikan berbagai turunan media, mulai dari buku pastiches, serial teve, film, dan sandiwara radio bahkan teater. Makanya, saya banyak bertanya sama teman-teman di Detectives ID terutama Bang Fadli yang hafal dan sudah khatam banget sama fiksi detektif klasik.

Dari sanalah saya mendapat informasi kalau ada suatu urgensi untuk menerbitkan kisah-kisah detektif Max Carrados, seorang detektif tuna netra yang punya kemampuan deduksi maksimal. Bahkan, Ernest Bramah sang penulis, digadang-gadang sejajar dengan Sir Arthur, dan bedanya, detektif yang ia ciptakan diberikan kekurangan yaitu kebutaan. Dengan kebutaan itulah, kita menemukan sosok detektif sempurna, tapi sebenarnya tidak terlalu sempurna. Apa yang bisa kita dapat dari sosok detektif seperti itu?

Namun, ketika saya baca ceritanya pertama kali, saya merasa, “Ah, ini Max Carrados rupanya sosok yang lebih menyebalkan daripada Sherlock!” Kenapa begitu? Nantikan yah buku terjemahannya.

Bagaimana Ayu menyeleksi naskah mana yang bisa masuk atau naskah mana yang perlu lebih banyak dipertimbangkan?

Menyeleksi naskah adalah tugas yang berat. Sebab, banyak yang menarik dan perlu dipoles. Nah, dari sini saya coba untuk mempertimbangkan naskah yang bisa mendapat polesan minimal, alias memang sudah utuh dan penulisnya hanya perlu revisi kecil serta brainstorming sedikit atas naskahnya. Dengan begitu, jika ada naskah-naskah lain yang menarik, tetapi penulisnya perlu dipoles luar biasa ketat karena memang belum pernah menerbitkan karya fiksi, maka hal ini akan berat bukan?

Jadi, saya memprioritaskan naskah-naskah siap dahulu, sehingga pengerjaannya bisa memakan waktu santai. Sementara, di samping mengerjakan naskah ini, saya juga membuka konsultasi untuk naskah-naskah yang belum siap terbit. Konsultasi ini tentu saja gratis. Anggap saja sebagai ajang bertukar ilmu antara saya dan penulis, karena ada hal baru juga yang bisa saya dapat dari penulis tersebut. Misalnya, ilmu tentang TKP, ilmu penyelidikan, ilmu profiling, ilmu kriminologi, dan lain-lain.

Sungguh, berbagi ilmu dan informasi seputar riset kriminal itu adalah hal yang luar biasa bagi para penulis fiksi kriminal!

Seperti beberapa penerbit lainnya, apakah akan ada permintaan khusus sebagai editor kepada penulisnya, di luar revisi EYD, untuk memperbaiki jalan cerita atau karakter?

Tentu saja ada dan pasti selalu ada, siapapun penerbit dan editornya.. Hanya, bedanya dengan major, tentu saja ada unsur komunikasi atau brainstorming dengan penulis untuk menemukan hal yang menarik atau apa saja yang perlu diperbaiki. Jika jalan ceritanya aneh, tentu tidak akan saklek meminta penulis mengubah besar-besaran, karena saya tahu sulitnya hal itu. Namun, jika ada concern dari penulis yang lebih mudah kalau jalan ceritanya diubah juga, maka hal itu tidak masalah. Intinya adalah, lebih enak bekerjasama dan diskusi dengan penulisnya, karena kadang editor pun tidak melulu tahu hal-hal teknis, seperti nama rumah sakit forensik, jadwal shift kepolisian, dan lain-lain. Nah hal inilah yang harus diterangkan oleh penulis supaya editor pun mengerti, karena biasanya penulis lebih getol risetnya untuk hal ini.

Seperti apa Ayu merekrut tim Maneno Books, seperti layouter, cover desain, proof reader, dan lain-lain?

Tim Maneno Books semuanya masih freelance. Karena kami belum bisa menggaji orang dan masih coba memutar usaha dari gaji kami sendiri sebagai pekerja juga, maka kami mencoba cari teman dekat sebagai desainer sampul, proofreader, layouter, dan editor tambahan di luar saya sebagai editor. Dari sini, selain kami juga memberikan panggung bagi teman-teman dekat, kami juga lebih enak dalam berkomunikasi dan berdiskusi, karena hubungan relasinya profesional santai. Kami tetap membayar mereka, tetapi mereka juga bisa memberi insight lebih karena mereka adalah orang yang kenal dan tahu seperti apa Maneno Books pada awalnya. Hehe.

Setiap jenis usaha, tentu akan ada resiko, khususnya untung dan ruginya. Bagaimana Ayu mengolah setiap resiko yang akan timbul?

Nah! Ini dia pertanyaan horor hari ini. Risiko dalam setiap kegiatan bisnis atau kegiatan usaha tentu ada, baik dalam skala kecil maupun besar. Saya banyak berdiskusi dengan suami sebagai Direktur alias nama CEO yang ikut menjalankan usaha. Sebab semua modal berasal dari simpanan pribadi saya, maka saya berusaha memutarnya sepintar mungkin. Saya biasa mengolah keuangan, mungkin bahkan saya percaya diri untuk jadi Menteri Keuangan wkwkwkwk. Saya tahu cara memutarnya, tetapi buruknya adalah, saya juga seorang big spender. Saya doyan menghabiskan atau menginvestasikan uang untuk hal yang saya sukai. Membuka penerbitan ini adalah salah satu hal yang saya paling inginkan dari dulu. Maka, saya harus siap menerima kerugian ketika terjadi. Masalahnya, apa langkah yang harus ditempuh saat merugi?

Yang pertama, tentu saja cari kemungkinan lain. Sebab, berwirausaha adalah berserah diri pada kemungkinan-kemungkinan anomali. Tiba-tiba rugi, tiba-tiba untung. Tiba-tiba buntung? Sudah pasti. Kemungkinan itu banyak, bisa dari mencari percetakan lebih murah, atau tidak cetak sama sekali tapi pakai format buku digital dan ada gimmick-gimmick khusus dan promosi khusus sehingga bisa ada uang memutar untuk mencetak buku. Selain itu, cari desainer sampul yang harganya masuk akal. Atau, bisa juga dengan membeli artwork para pelukis Blok M, dijadikan format digital dan ditempelkan ke sampul dengan photoshop. Semua kemungkinan itu banyak, karena ada banyak perhitungan atau matriks yang bisa kita kalkulasi.

Selama kita masih bisa bergerak maju dan mengambil risiko itu, tentu saja makin banyak pintu kemungkinan yang akan terbuka. Saya tahu hal ini terdengar klise, tapi itulah hidup. Nggak ada yang pasti, semuanya cuma gambling.

Seperti apa Ayu melihat industri penerbitan di Indonesia saat ini, termasuk penerbitan secara indie?

Penerbitan indie baru-baru ini sedang marak. Banyak pegiat literasi yang bekerjasama dengan penerbit indie? Karena apa? Tentu saja karena mereka melawan hegemoni pasar. Mereka melawan kapitalis. Banyaknya penerbit indie mungkin diawali oleh pemberontakan para pegiat industri penerbitan yang lelah dengan a-b-c-d di penerbitan major yang punya modal lebih besar. Selain itu, penerbit indie muncul karena banyak orang yang ingin mengejar passion mereka pada buku-buku, sebagai contoh adalah penerbit Kakatua yang hasil terbitannya jarang, tapi semua konsisten dan berkualitas. Mereka hanya menerbitkan naskah-naskah terjemahan yang mereka sukai dan saya kagum, sebab hasilnya bagus, walau saya tebak sepertinya pengelola Kakatua hanya segelintir orang.

Ada juga Buku Banana, yang banyak menerbitkan buku-buku kerena dari penulis Indonesia. Mereka bahkan tidak masalah jika si penulisnya menerbitkan naskah setebal 960 halaman (red. Kura-kura Berjanggut oleh Azhari Aiyub). Buku itu sangat menarik, parah, brilian! Sama seperti ketika Buku Banana menerbitkan Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi punya paman Yusi Avianto Pareanom. Dan yang lebih menarik, Kura-kura Berjanggut yang tebalnya 960 halaman itu, menang di Kusala Sastra Khatulistiwa 2018 ini. Itu keren. Sebuah pencapaian dari penerbit indie.

Dan Buku Banana tidak masalah menerbitkan buku setebal itu, selama buku itu bagus. Saya ingin menjadi seperti itu, yang tidak pilih-pilih naskah, tetapi justru membantu penulisnya untuk mencari pembaca.

Saya membayangkan waktu mengirim naskah ke major, beberapa kali bahkan minta dipangkas karena terlalu tebal. Saya tidak menyalahkan penerbitannya juga sih, sebab ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, karena penerbit major juga gambling dengan suatu naskah. Mereka investasi banyak dan ada banyak karyawan yang harus diberi makan. Mungkin karena hal itulah banyak hal yang menjadi pertimbangan mereka.

Bagaimana Ayu mendistribusikan rilisannya agar dapat menjangkau masyarakat luas?

Suatu distribusi penerbitan indie, selain bergantung pada bagaimana penerbit memasarkan, juga tergantung pada bagaimana penulis ikut memasarkan bukunya. Sama saja konsepnya seperti toko buku. Orang tidak akan beli buku itu kalau tidak menarik, atau memang karena tidak kenal sama penulisnya. Ada saja yang membeli buku tidak menarik, tetapi kenal dengan penulisnya. Maka, dalam kasus ini, peran penulis sangat penting dalam proses promosi bukunya. Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk terus membuat bukunya dibicarakan orang. Membuat tanya jawab, membuat talkshow, acara launching, dan lain-lain. Hal ini juga akan terus dibantu oleh penerbit, walau Maneno Books tidak bisa janji banyak.

Namun, Maneno Books akan terus mencari cara agar buku tersebut bisa membaca khalayak luas. Misalnya, dengan cara mencari toko buku indie yang juga mulai marak tersebar di Indonesia. Mengadakan acara bersama komunitas-komunitas pembaca fiksi kriminal, membuka booth di berbagai acara literasi, dan yang pasti terus memperkenalkan buku itu di mana pun, baik dunia virtual maupun dunia nyata.

Menurut Ayu sendiri, bagaimana pendapat Ayu tentang keberadaan Detectives ID?

Keberadaan Detectives ID sangat berpengaruh di kancah literatur kriminal. Selain untuk para penulis, tentu saja komunitas Detectives ID sangat membantu penerbit indie yang fokus pada genre serupa, untuk mencari pembaca. Jika ada info giveaway, hal itu juga disebarkan oleh akun sosial media Detectives ID, sehingga Maneno Books bisa melebarkan sayap ke orang-orang yang tidak follow sosial media kami. Adanya komunitas, dapat membantu para pegiat literatur fiksi kriminal untuk melebarkan sayap. Jadi, kami tidak perlu pusing dengan hal-hal di luar “penerbitan” dan “penulisan”. Kami hanya perlu berkarya dan sisanya akan dibantu oleh komunitas. Kami juga bisa bekerjasama dengan Detectives ID untuk mencari hal-hal yang perlu diperbaiki oleh penerbitan kami. Sangat terbantu lah pokoknya, dengan kehadiran Detectives ID.

Ada pesan khusus untuk para penulis dan pembaca di luar sana?

Untuk para penulis, pesan khusus saya cuma satu: jangan pikirkan hal lain, pikirkan saja bagaimana menulis cerita menarik punyamu dan serahkan urusan penerbitannya pada kami. Seperti kata Ernest Hemingway, “There is nothing to writing. All you do is sit down at a typewriter and bleed.”

Dan bagi para pembaca, Maneno Books sangat menantikan kritik dan saran kalian untuk perkembangan kami. Apa pun, kami akan menerima semua kritik dan saran itu dengan lapang dada. Hal ini demi perkembangan literatur bergenre fiksi kriminal dan pastinya demi perkembangan siapa pun pegiat literatur tersebut, baik penerbit, penulis, komunitas, editor, desainer kaver, dan lain-lainnya. Semoga dengan adanya pembaca kritis seperti Anda sekalian, kami dapat terbang dan bergerak lebih jauh. Banyak agenda yang ingin kami capai, dan hal itu tidak berarti jika tidak ada pembaca di sisi kami.

Akhir kata saya ingin mengucapkan, selamat membaca dan tunggu karya-karya selanjutnya dari Maneno Books!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s