The Bridge: Serial Investigasi dengan “Jembatan” Antar Dua Negara

The Bridge Promotional Posters (Source: Viu’s Blog)

Ada lagi serial kriminal yang dekat dengan Indonesia, yaitu sebuah serial kerja sama antara Malaysia dan Singapura. Serial ini diputar melalui layanan streaming VIU dan sudah dapat disaksikan dengan subtitle Indonesia. Judul serial ini adalah The Bridge, dengan tokoh Megat Jamil (Bront Palarae) dan Serena Teo (Rebecca Lim). Ini adalah salah satu remake dari The Bridge Skandinavia, dengan tokoh Saga Norén (Sofia Helin) dan Martin Rohde (Kim Bodnia).

Premis cerita sangat menjanjikan, dimulai dengan penemuan mayat di Jembatan Tuas–sebuah jembatan penghubung antara Malaysia dan Singapura. Sekitar pukul empat pagi, detektif Megat Jamil dari ICD Malaysia dan Serena Teo dari ICD Singapura, sama-sama berada di TKP karena setengah posisi jenazah berada di yurisdiksi Malaysia dan setengahnya lagi berada di yurisdiksi Singapura.

Serena Teo (Rebecca Lim), ketika itu langsung memaparkan fakta bahwa korban adalah Monica Lee, seorang jaksa terkenal di Singapura. Oleh karena itu, otomatis kasus tersebut harus diambil alih oleh ICD (International Crime Division) Singapura. Megat Jamil yang sudah datang, pura-pura menelepon atasannya dan ia berkata, “Kapan lagi bisa mengerjai orang Singapura?” pada salah satu petugas imigrasi di Jembatan Tuas.

Singkat kata, ia memberikan jenazah tersebut pada ICD Singapura.

Fakta mengejutkan muncul saat Serena Teo tengah menunggu tim forensik mengautopsi. Ternyata bagian kaki yang sebelumnya berada yurisdiksi Malaysia tersebut, bukanlah kaki Monica Lee, sang jaksa. Data DNA pun tidak ditemukan dari basis data Singapura. Mau tak mau, Serena Teo harus kembali berkomunikasi dengan detektif dari ICD Malaysia, Megat Jamil.

Sepanjang menonton serial ini, saya dibuat betah karena dialog antara dua tokoh yang berbeda dari segi budaya, tata bahasa, cara bicara, sampai kebiasaan mereka. Hal ini lumrah terjadi, mengingat keduanya berbeda negara dan kebudayaan. Namun, tokoh Megat Jamil yang diperankan oleh Bront Palarae menjadi tokoh favorit saya di sini. Duetnya dengan Serena Teo (Rebecca Lim), seperti duet antara arch-enemy yang gemar tarik ulur. Megat Jamil digambarkan berjiwa bapak-bapak, mengingat ia telah memiliki 3 anak. Sementara, Serena Teo adalah tokoh wanita karir, single, dan sarkastis dalam bicara. Ia bekerja sesuai prosedur dan tidak setuju dengan cara kerja para detektif Malaysia yang lamban, tapi gemar melawan prosedur.

Kisah yang disajikan juga bukan semata-mata hanya kisah pembunuhan tanpa motif. Tokoh antagonis dalam serial The Bridge, digambarkan telah menyiapkan segala hal untuk membuat dua negara tersebut saling kebingungan. Menjelang pertengahan serial, kita akan mengenal tokoh tersebut dengan sebutan Truth Terrorist. Sang Teroris Kebenaran ini, membeberkan lima fakta dari dua negara, yaitu keadilan yang tumpul, kapitalis yang menguasai jalan hukum, perdagangan anak dan manusia, praktisi hukum korup, dan kekerasan domestik di mana sang lelaki selalu lepas dari jerat hukum.

Mungkin ini pertama kalinya saya menonton serial kriminal lain dari ASEAN, selain Brata yang tayang di HOOQ September 2018 lalu. Serial ini juga menampilkan bagaimana proses pengiriman TKI ilegal ke Malaysia dan Singapura, serta menggambarkan sebuah kegagalan operasi gabungan dua negara yang menjadi salah satu motif utama Truth Terrorist. TJ Lee (sutradara) dan Jason Chong (penulis skenario), berusaha membingkai berbagai ketimpangan sosial yang terjadi antara dua negara, juga dengan negara serumpun yaitu Indonesia.

Di samping konflik dua negara yang melibatkan diplomasi dua tim investigasi, konflik pribadi masing-masing tokohnya juga dieksekusi dengan baik. Megat Jamil (Bront Palarae), digambarkan memiliki konflik kecil di keluarganya, lantaran ia menikah lagi sehingga anak pertamanya harus merasakan memiliki ibu tiri. Sementara itu, Serena Teo (Rebecca Lim), seorang wanita karir yang socially-awkward, hampir tidak pernah mementingkan kehidupan pribadi, tetapi karena ia warga Singapura, hal-hal pribadi semacam seks dapat dilakukan dengan prinsip friends with benefit.

Dua peran agen ICD dari dua negara di ASEIN ini sukses membingkai “Jembatan Tuas” sebagai konsep semiotik untuk merepresentasikan jembatan diplomasi antara dua negara, baik secara kebudayaan, gaya hidup, dan perbedaan sosial. Kasus yang disajikan juga terjadi karena adanya operasi gabungan antara dua negara tersebut, sebagai gambaran lain tentang bagaimana dua negara menyelesaikan kasus yang berpotensi dispute.

Bisa dikatakan serial ini cukup menguras emosi penonton, di samping memacu adrenalin. Karena kalian akan menyaksikan berbagai pengkhianatan negara terhadap para agen penyamaran di ICD Asia Tenggara, juga berbagai kebenaran yang selama ini tak kasat mata. Serial ini dapat dinikmati sekali duduk, karena standar penayangannya sekitar 40 – 45 menit, sebanyak 10 episode. Saat ini, baru layanan streaming VIU saja yang menayangkan The Bridge.

 

Rating: 9/10

(Ayu Welirang)

One thought on “The Bridge: Serial Investigasi dengan “Jembatan” Antar Dua Negara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s