Miguel Angelo Jonathan, Sampaikan Kritik Sosial Dan Lingkungan Dalam Novel Detektif.

Karya fiksi,  dalam hal ini tulisan, bisa menjadi sarana untuk menyuarakan kegelisahan. Khususnya, kritik terhadap sosial yang penulis tersebut lihat di sekelilingnya. Dan hal itu juga bisa disuarakan dalam sebuah novel detektif.

Salah satu yang melakukannya adalah Miguel Angelo Jonathan, seorang penulis muda yang sedang merintis karir menulisnya. Melalui novelnya berjudul ‘Si Pembunuh Elemen,’ mahasiswa Universitas Jakarta tersebut mencoba menceritakan apa yang resahkan melalui dari kaca mata para tokoh di novel tersebut.

Berikut adalah sedikit chit chat dengan Miguel tentang novel ‘Si Pembunuh elemen’ dan hal-hal yang ingin ia sampaikan di dalam novel tersebut.

Ceritain sedikit tentang diri Miguel sebagai penulis. Mulai kapan tertarik menulis dan lain-lain?

Saya mulai tertarik menulis saat duduk di kelas 3 SMA. Waktu itu sebenarnya mau mencoba menulis cerita humor, tetapi lama-kelamaan justru jadi menulis cerita misteri dan thriller. Baru kemudian setelah mulai mengikuti organisasi kajian dan penulisan di kampus, tulisan saya mulai berkembang dari segi tema dan jadi menulis pula cerpen-cerpen mitologi dan sejarah. Saya malah juga jadi sering menulis esai dan liputan.

Kenapa tertarik nulis cerita detektif atau kriminal?

Waktu SMP dan SMA, agak sering membaca buku-buku detektif. Kebanyakan karya S. Mara Gd dan V. Lestari. Buku detektif dari luar tak terlalu tersentuh. Yang pernah saya baca antara lain Mary Higgins Clark, Soji Shimada, dan John Lutz. Waktu mulai sering menulis cerpen, saya jadi tertarik untuk coba membuat cerita detektif di luar menulis cerita tema misteri dan thriller. Cerita detektif berjudul “Burung Dara” jadi cerita detektif pertama saya. Reaksi teman-teman yang membaca, mereka penasaran dan merasa terkecoh oleh narasi yang saya bangun. Di sana saya pikir, asik juga menulis cerita detektif karena bikin orang penasaran dan bertaya-tanya bagaimana mereka akan dibawa di setiap narasi cerita. Jadilah saya akhirnya coba memberanikan menulis novel detektif saya yang pertama. Kebetulan waktu itu sedang sering-seringnya nonton film dan serial kriminal. Jadi lumayan terbantu.

Dari mana konsep awal cerita ‘Si Pembunuh Elemen’ ini muncul?

Konsep awal novel ini sangat dekat dengan film “se7en”. Kalau sudah ada yang membaca novel saya, pastinya bakalan kerasa beberapa alur mengikuti narasi film itu. Tapi, bedanya saya menulis dengan konsep, katakanlah, suatu kritik lingkungan. Waktu itu saya sedang banyak mempelajari filsafat-filsafat timur yang menurut saya menarik. Salah satunya feng shui yang selama ini banyak disalahartikan dan hanya dijadikan suatu pemikiran untuk mendapat keuntungan. Jadilah saya memutuskan untuk menulis novel dengan memasukan pemikiran feng shui ini. Juga sedikit sempilan sejarah etnis Tionghoa di Indonesia meski saya lakukan secara samar, karena dalam novel ini saya tak hendak “berpidato”.

Secara garis besar, tentang apa novel ‘Si Pembunuh Elemen’?

Novel ini bercerita mengenai dua detektif yang berusaha menangkap pembunuh berantai yang cerdik. Pembunuh ini sendiri menyimpan misteri dan kengerian karena dia seorang pemuja alam yang puritan. Ia tidak suka orang-orang yang mencemarkan alam, dan bakalan mengambil tindakan ekstrim untuk menghukum orang yang merusak alam. Plotnya digiring mengikuti perkembangan kasus dan pendekatan pada dua tokoh utama karakter dalam novel. Juga sempilan-sempilan kilas balik mengenai “seseorang” yang tidak diketahui.

Coba ceritain tentang tokohnya sendiri?

Ada dua tokoh utama yang sangat bersebrangan sikapnya. Edward Norton (saya pakai nama ini dari aktor favorit saya), seorang detektif muda yang beringas dengan masa lalu kelam dan cukup buruk, dan Morgan Somer, detektif veteran yang memiliki kepribadian tenang tetapi berusaha menghindarkan masalah jika memungkinkan. Novel ini tidak melulu menceritakan bagaimana perkembangan kasus, tetapi juga pendalaman terhadap tokoh-tokoh ini.

Kenapa tertarik menceritakan seorang pembunuh berseri?

Karena saya mencoba membuat orang-orang yang menjadi korban pembunuh berantai ini sebagai “pesan”. Jadi korban yang ada menyiratkan pesan apa yang hendak disampaikan si pembunuh berantai

Di sini ada banyak sekali cerita yang menyiratkan tema eko kritik. Apa yang sebenarnya ingin di ceritakan dari lingkungan?

Saya termasuk orang yang sebal dengan pencemaran lingkungan yang terjadi. Dari kecil sudah senang menonton film binatang dan dokumentasi lingkungan. Rasanya sedih mendengar pembunuhan hewan dan perusakan alam. Penggambaran si pembunuh berantai yang benci pada perusak alam merupakan semacam pengandaian diri pencinta alam yang sudah kelewat bersabar. Saya pikir dalam tiap lubuk hati yang terdalam para pencinta lingkungan, ada suatu perasaan benci dan ingin menghukum para perusak alam itu jika ada kekuatan.

Di novel ‘Si Pembunuh Elemen’ disebut buku teori Charles Darwin. Sebenarnya buku tentang apa itu, dan apa pengaruhnya dengan apa yang dipikirkan tokoh pembunuh di cerita ini?

Itu buku mengenai teori evolusi makhluk hidup. Menurut Charles Darwin, seluruh makhluk hidup mengalami suatu proses evolusi yang panjang, dan tidak serta merta ada begitu saja. Buku tersebut saya tampilkan dalam novel karena si pembunuh, yang secara tidak langsung digambarkan membaca buku tersebut, sebenarnya ingin menunjukkan bahwa manusia dalam proses evolusinya yang panjang itu telah mewariskan satu hal yang merusak umat manusia, yaitu kebencian. Bagi Si Pembunuh Elemen, evolusi yang membawa manusia ke tahapnya yang tertinggi saat ini justru membawa banyak dampak buruk, seperti peperangan dan pencemaran lingkungan. Oleh karena itulah, baginya, kesadaran manusia yang didapat dari evolusi justru merupakan suatu kesialan. Kita memang menikmati cukup banyak hal dari ratusan dan bahkan jutaan tahun perkembangan manusia di bumi, tapi cukup banyak pula keburukan yang kita dapatkan dari segala perkembangan yang manusia ciptakan. Begitulah pemikiran Si Pembunuh Elemen.

Di novel ini, Miguel terlihat sekali ingin menonjolkan karakter pembunuh yg punya alasan kuat sehingga Kita memahaminya, sementara kita dibuat benci dengan tokoh detektifnya Edward Norton. Memang sengaja dibuat seperti itu kah?

Saya bisa dibilang tipe orang yang lebih merasa simpatik terhadap tokoh jahat (villain), entah kenapa bisa begitu. Tapi, bukan berarti saya menyukai segala bentuk kejahatan yang dilakukan seseorang. Kejahatan kapitalis dan kompromi oligarki tidak memberikan rasa simpati sama sekali, karena dampaknya begitu merusak dan berbahaya. Yang saya maksud rasa simpatik terhadap orang jahat adalah perasaan yang tercipta ketika saya mendapati seorang pembunuh yang, katakanlah, membunuh karena segala yang dimilikinya dirampas seseorang atau sekelompok golongan. Bagi saya mereka adalah “Yang Kalah”, yang terbuang oleh keadaan, dan dipaksa menjadi jahat.

Itulah kenapa saya membuat tokoh pembunuh saya, meski identitasnya tidak kita ketahui dengan jelas hingga akhir cerita, menjadi tokoh yang lebih menonjol daripada hero dalam novel. Bagi saya Si Pembunuh Elemen adalah contoh yang tepat untuk menggambarkan perasaan yang saya jelaskan di atas. Dan untuk Detektid Edward Norton sendiri, saya tidak ada niatan untuk membuatnya jadi tokoh yang dibenci. Justru saya ingin memberikan penggambaran lain mengenai orang-orang yang tidak beruntung dengan keadaan hidupnya. Dibentuk oleh, misalnya, kesalahan orang tua dan pengalaman hidup yang pahit. Saya melihat Norton malah sebagai tokoh yang patut dikasihani, dan tidak harus sepenuhnya dibenci.

Saya juga banyak melihat banyak isu diskriminasi tentang etnis Tionghoa. Bisa ceritain alasan di balik itu semua dan Apa yang ingin di sampaikan?

Kebetulan saya seorang etnis Tionghoa yang merasakan diskriminasi sewaktu kecil. Semakin tumbuh dewasa dan berkembang dalam bacaan membuat saya sadar bahwa ada yang salah atas diskriminasi yang terjadi, bukan saja pada etnis Tionghoa itu sendiri. Ada penyebab, yang besar kemungkinannya memang diciptakan oleh pihak berkuasa dengan sengaja. “Menyempilkan ” cerita mengenai etnis Tionghoa di novel ini hanya usaha kecil saya saja untuk menampilkan cerita rasialisme yang terjadi, selain dari usaha saya yang menulis esai-esai tentang rasialisme dan diskriminasi.

Menurut Miguel sendiri, apa sih yang harus dibenahi dan dihapus dari isu diskriminasi etnis yang terjadi di negeri kita?

Saya pikir yang pertama kali harus diusahakan adalah agar segala informasi dan pengetahuan mengenai etnis yang dimusuhi/dijauhi itu ada dalam pelajaran-pelajaran formal di sekolah. Karena sikap dan perasan membenci terhadap golongan lain itu timbul acap kali disebabkan karena ketidaktahuan terhadap golongan tersebut. Selama ini etnis-etnis minoritas hampir tidak pernah muncul dalam buku sejarah, sehingga begitu banyak anak-anak muda kita yang merasa asing dengan etnis minoritas tersebut. Padahal, Indonesia sejak beratus-ratus tahun merupakan tempat bercampurnya berbagai macam etnis. Jika saja pelajaran formal di sekolah bisa memberikan penggambaran dan informasi yang lebih jelas mengenai etnis-etnis minoritas, kebencian menurut saya sedikit demi sedikit bisa diatasi.

Apa proyek berikutnya nih?

Saya sedang berusaha menulis novel sejarah dan detektif. Tapi agak tertunda karena sedang menjadi pengurus inti organisasi kajian dan penulisan kampus saya. Saya berharap novel ini bisa selesai sebelum pergantian tahun.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s